Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 44


__ADS_3

Adinda : "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah di Kantornya? Atauuu....." Seketika ia ingat kejadian beberapa menit lalu. "Apa Kak Dimas melihatnya?" Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun ia hanya bisa diam dalam pikiran itu.


. . .


Tak beda jauh dengan kelompok lain, semua Ketua memberi arahan juga dan sedikit ilmu serta pengalaman yang sudah mereka peroleh sebelumnya.


Sesekali dalam setiap arahan MBA melirik kearah Humas, dan matanya tertuju kearah gadis berambut hitam panjang berwajah babyface hingga ia terlihat sangat imut dimata para lelaki. Kegiatan itu tak luput dari penglihatan Yayak, Arul bahkan Dimas juga mengetahui hal itu.


Yayak : "Apa kau juga melihatnya Dim? Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa ini yang membuatmu berbeda?" Gumamnya dalam hati. "Kenapa gue jadi mikirin hal seperti ini?" Gerutunya. Yayak kembali menatap kearah kelompoknya. "Oke kalian coba pelajari apa yang saya beri tadi, setelah paham kalian konfirmasi ke saya langsung." Mereka hanya mengangguk. Yayak berjalan kearah Indra.


Indra : "Ada apa loe?" Tanya Indra setelah Yayak berjarak satu meter didepannya. "Ada hubungannya dengan Dia?"


Yayak : "Apa kau juga merasakannya?" Indra mengangguk. "Apa ada masalah di Perusahaan? Atau ada hal yang lain?" Indra langsung menatap Yayak.


Indra : "Maksud loe apa?" Tanya Indra penuh selidik.


Belum sempat Yayak menjawab, Septian sudah mendekat kearah mereka berdua yang kemudian diikuti Ilham juga Amar. Indra dan Yayak menatap mereka heran, pasalnya mereka langsung berwajah serius.


Yayak : "Ada apa dengan kalian bertiga? Kenapa kalian kesini?" Mereka hanya diam saja, namun kemudian Septian membuka suara.


Septian : "Apa yang kalian bicarakan? Ah ya, apa yang terjadi sama Abang gue? Apa kalian tahu sesuatu yang gue enggak tahu?"


Amar : "Apa kalian nyembunyiin sesuatu dari kita bertiga?"


Ilham : "Atau..... Kalian enggak ingin kami tahu dan tetap ingin diam saja?" Lanjut Ilham.


Yayak dan Indra terkejut dengan ucapan Septian. Mereka sempat berfikir bahwa ketiga trio itu tidak menyadari aura Dimas yang sedikit berbeda dari biasanya, tapi ternyata mereka peka dengan sikap Dimas.


Septian : "Jangan kalian anggap gue enggk menyadari perubahan Dia tadi. Gue sadar, hanya saja gue masih ingin diam dan tetap bersikap acuh dengan aura yang tak biasa ini."


"Kita juga!" Ucap Ilham dan Amar secara bersamaan.


Ilham : "Gue sempat berfikir akan langsung bertanya setelah aura Dia yang berbeda, tapi dengan sikapnya yang seperti ini gue yakin dia akan semakin dingin. Makanya gue masih diam dan ya melanjutkan kekonyolan kami." Amar ikut mengangguk.


Amar : "Apa kalian tahu sesuatu mengenai hal ini?" Lanjut Amar berucap. Sedangkan Indra dan Yayak masih tetap diam.


Septian : "Jika kalian mengetahui sesuatu, kasih tahu gue. Karena hanya dia tujuan hidup gue setelah Ayah dan Ibu tiada, apalagi setelah Mama dan Papa meninggal." Ucap Septian dengan melihat Dimas yang tengah mengarahkan anggotanya, bahkan ia tampak biasa saja seperti tak ada beban sedikitpun meski sikapnya masih terlihat dingin.

__ADS_1


Indra, Yayak, Ilham dan Amar menatap Dimas sendu. Pasalnya apa yang Septian ucapkan memanglah benar.


Indra : "Kita bisa bahas ini nanti setelah semua selesai. Sekarang kita selesaikan dulu acara hari ini dan ganti acara untuk malam nanti."


Yayak : "Yaa sekarang kita lanjutkan acara kita, agar semua segera selesai dan kita bisa bahas hal ini." Mereka mengangguk dan membubarkan diri.


Angel langsung menghampiri sang kekasih setelah melihat Yayak kembali pada kelompoknya.


Angel : "Apa terjadi sesuatu?" Ucapnya setelah tak ada jarak.


Yayak : "Tidak ada, hanya saja tadi Indra minta kita kumpul buat bahas hal lain.


Angel : "Hecmmm, apa tentang dia?" Tanya Angel penuh selidik.


Yayak : "Yaa salah satunya tentang itu juga. Udah gih kamu balik ke kelompok kamu dulu, kesian tuh MBA." Angel mengangguk dan kembali pada kelompoknya. "Akbar, sebenarnya apa yang kau bicarakan pada Adinda? Apa hal ini ada hubungannya dengan aura Dimas? Kenapa dia muncul tepat dibelakang kalian?" Gumam Yayak dalam hati.


. . .


Akhirnya malam puncak dikegiatan ini tiba, semua anggota baru bersuka cita karena pada malam ini adalah kegiatan yang sering ditunggu, setelah seharian penuh mereka disibukkan dengan pengarahan juga keilmuan baik itu umum maupun hanya sebatas memberikan wawasan.


Septian : "Bang! Loe makan dulu deh, gue lihat loe tadi enggak makan sedikitpun." Ucapnya.


Yayak : "Iya Dim, mending loe makan dulu sebentar lagi acara puncak dimulai." Tak ada respon dari Dimas.


"Abaaaaaaaaang!" Teriak Amar dan Ilham. Suara mereka sukses membuat Dimas menatap keduanya, namun bukan ekspresi senang melainkan tatapan tajam. "Maaf." Ucap mereka menunduk sambil sesekali melirik kearah Dimas.


Dimas : "Kalian pergilah dulu, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.


Indra : "Dim? Loe ada masalah di Kantor?" Dimas berhenti, dan menatapnya sekilas namun kemudian kembali pada layar didepannya.


Septian : "Apa di Kantor ada masalah besar? Kenapa wajahmu berubah lebih dingin Dim? Atau ada hal yang lain?" Ucap Septian tanpa jeda sedikitpun. Belum sempat Septian melanjutkan, Andre datang dengan wajah dinginnya.


Andre : "Maaf Tuan Muda, semua sudah saya siapkan dan mereka sudah mengerti, besok meeting akan dilanjutkan siang hari selepas dzuhur." Dimas hanya mengangguk paham, sedangkan yang lain hanya menghembuskan nafas dengan kasar karena merasa diabaikan.


Dimas : "Jangan memanggilku dengan sebutan itu jika kita sedang diluar Andre. Kau tahu saya paling tidak suka hal itu." Andre mengangguk. Sedangkan yang lain hanya diam.


Indra : "Hecmmm oke baiklah, sekarang kita ke Aula acara sudah dimulai." Mereka langsung membubarkan diri menuju Aula. "Jika ada sesuatu katakan Dim, karena kami akan selalu ada untukmu." Indra kembali melangkah setelah mengatakan hal itu.

__ADS_1


Setelah mereka tidak lagi disana, Andre langsung menatap Dimas dengan teliti. Terlihat dari wajahnya bahwa ia memiliki pertanyaan yang ingin ia utarakan, namun melihat wajah dingin Dimas membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Dimas : "Apa yang ingin kau tanyakan padaku Ndre?" Tanya Dimas tanpa menoleh. Hal itu membuat Andre terkejut.


Hening. . .


Andre : "Ituuu. . ."


Dimas : "Tentang gadis yang bersama MBA tadi? Apa itu yang ingin kau tanyakan padaku?" Andre terkejut lalu menunduk. "Yaa apa yang kau pikirkan dan apa yang ingin kau tanyakan itu memang benar. . . Aku dan Adinda... memiliki hubungan." DEG. Andre langsung mengangkat kepalanya menatap Dimas.


Andre : "Apakah yang lain mengetahui ini semua?"


Dimas : "Hanya Yayak yang mengetahui hubungan kami, dan sekarang kamu. Hubungan kami memang disembunyikan karena Arul belum siap jika Adinda memiliki kekasih." Dimas melihat Andre yang ingin protes, namun langsung ia katakan... "Kau tidak perlu khawatir, Dia gadis yang baik meski sedikit ceroboh." Dimas menyunggingkan bibirnya.


Andre : "Laluuu.... tentang MBA siang tadi?" Tanya Andre dengan hati-hati. Pertanyaan itu langsung membuat aura Dimas kembali dingin. Andre menyadari perubahan wajah Dimas, dan ia merutuki kebodohannya itu. Dimas tetap diam mengingat kejadian siang tadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah bisa update lagi,,


selamat membaca, dan jaga kesehatan untuk kakak semua,,


Salam hangat dari Author...

__ADS_1


__ADS_2