
Jangan lelah untuk terus bersamaku, jangan lelah dengan sikapku, karena aku membutuhkan sandaran mu untuk tetap menguatkan diriku.
_Dimas Surya Aditama*
Beberapa hari setelah kejadian tak terduga di Restoran itu, semua kembali seperti semula baik di Kampus maupun di SMU Mahakarya tampak semua lancar tanpa ada masalah sedikitpun.
Sebuah notifikasi masuk untuk setiap anggota baru di PPA, bahwasanya akan diadakan sebuah acara bulanan yang tepatnya berada di Universitas yang menjadi pusat PPA itu sendiri.
Mendapat pemberitahuan seperti itu, membuat yang lain mempersiapkan segala sesuatu yang harus disiapkan, mengingat acara tersebut dilaksanakan selama dua hari pada hari Sabtu dan juga Minggu. Apakah itu artinya harus menginap? Ya tentu saja karena itu adalah acara rutin bulanan, sebelum Ujian Akhir dilaksanakan.
Indra : "Bagaimana persiapan acara selanjutnya? Minggu depan kita harus on untuk acara itu?" Ucap Indra disaat para anggota senior berkumpul di bastcamp PPA.
Yayak : "Dari keamanan insha allah siap Ndra, ya tinggal kasih wejangan buat yang muda aja di hari H-nya nanti." Indra mengangguk.
Indra : "Yang lain, gimana?"
MBA : "Kesehatan udah ontime tapi masih ada perlengkapan yang harus disiapkan terutama obat-obatan."
Indra : "Yaa harus segera dilengkapi Bay, karena ini acara rutin bulanan kita, mengingat anggota baru itu banyak kelas IX juga XII yang sebentar lagi ujian jadi harus kita percepat diawal bulan."
Firman : "Ya jangan sampai seperti bulan lalu anak fakultas teknik bikin rusuh setiap acara."
Indra : "Maka dari itu untuk antisipasi kita harus kerja sama, meskipun memiliki bidang sendiri tapi kerja sama yang utama. Lalu, bidang Pangan, Perlengkapan, Humas dan lain-lain?"
Firman : "Konsumsi mah aman sama gue Ndra, percaya aja sama gue."
"Kita semua selalu percaya sama loe!" Jawab Amar dan Ilham diikuti anggota yang lain.
Firman : "Haha bisa aja kalian, urusan makan pasti nomor satu!" Ucap Firman yang akhirnya ikut tertawa.
Agista : "Bidang gue masih ada yang kurang perlengkapan, enggak banyak sih dan bisa dicari di kampus kok. Tapi 3 hari kedepan udah siap semua." Indra menganggukkan kepalanya.
Indra : "Humas dan lain-lain?" Mereka semua menoleh dan mencari ketua dari kedua bidang itu, namun tidak ada tanda-tanda kehadirannya. "Apa Dimas dan Andre belum hadir? Sep, kemana Abang loe?"
Agista : "Iya ih kemana sih Dimas? Gue pengen lihat profit yang dia pake hari ini, hecmm pasti keren deh calon laki gue." Celetuknya. Banyak yang tak suka dengan sikap wanita itu karena ia terkenal dalam mendekati pria kaya, dan kali ini Dimas yang membuatnya penasaran.
Angel : "Enggak usah kebanyakan ngimpi loe Gis, gue enggak ridho kawan gue sama loe. Kalau sampai itu terjadi awas aja loe." Gumam Angel dengan suara pelan namun masih dapat didengar oleh Yayak.
Yayak : "Ssst, jaga bicara kamu jangan sampai dia denger sayang. Biarin aja itu mau dia karena dia belum tahu siapa Dimas." Seketika Angel langsung menatap Yayak dengan tajam, Angel langsung kesal dengan ucapan Yayak itu.
Septian : "Masih sibuk dia, bentar lagi juga dateng tadi dia bilang masih di ruang dekan ngurus skripsinya, Andre udah hubungi gue dia masih cari buku di Perpustakaan." Jawabnya dengan datar setelah melihat tingkah dan mendengar ucapan Agista.
__ADS_1
Andre : " Kalian bisa bahas yang lain jika masih ada anggota yang belum hadir. Untuk loe Agista, jangan ngomongin soal cowok jika disini, jangan jadiin Dimas atau siapaun sebagai mangsa loe selanjutnya." Ucap Andre yang tiba-tiba datang dan dingin, karena terasa dari suaranya yang datar.
Agista : "Halaah loe nih Ndre, loe itu hanya kac*ngnya Dimas, jadi jangan sok akrab deh sama Dimas apalagi sok ngatur dia." Sarkas Agista dengan kesal.
Merry : "Iya loe itu hanya bab*nya Dimas, jadi mending diem aja deh loe!" Jawab Merry dengan senyum meledek.
Septian : "Siapa yang loe bilang sebagai kac*ng?! Memangnya loe itu siapa Abang gue, loe pacar bukan, istri bukan kawan hanya di PPA jadi jangan sok dekat dan akrab dengan kita." Septian langsung bernada tinggi, namun ia masih menahan emosinya mengingat lawan bicaranya seorang wanita. Agista langsung menatap tajam Septian, namun yang ditatap hanya acuh saja namun tetap menatapnya.
Sedangkan yang lain hanya diam karena mereka sudah hafal dengan sifat Septian maupun Agista, mereka tidak akan diam jika sudah berdebat.
Agista : "Inget, yang gue denger loe itu hanya adik angkat Dimas, dan loe juga enggak berhak ngatur dia. Dasar adik angkat aja sok banget enggak tahu diri loe."
Keisya : "Iya ih, kalian berdua itu hanya hidup numpang sama Dimas, secara Dimas itu kan orangtuanya pengusaha Restoran yang terkenal di Indonesia dia juga baik jadi bantuin kalian berdua." Jawab Keisya teman satu geng Agista.
Ctarrrr!! Semua kata-kata yang diucapkan membuat semua anggota yang ada disana terkejut, pasalnya tidak ada siapapun yang berani dan berniat untuk membahas hal itu. Namun hari ini, kata-kata itu keluar dari mulut wanita yang terkenal sebagai ayam kampus.
BRAK!!!! Semua anggota ikut dikejutkan dengan suara gebrakan pintu, bahkan pintu itu retak jika dilihat dengan seksama. Yang membuat mereka semakin terkejut adalah orang yang telah menggebrak pintu itu. lelaki itu tidak lain adalah Dimas.
"Dimas!" Kata mereka hampir bersamaan, ada yang sudah panas dingin, ada yang sudah gemetar, dan ada juga yang sudah takut karena melihat tatapan tajam bak elang dari Dimas, bahkan tatapan itu bagaikan pisau yang langsung bisa membunuh dengan sekali goresan. Bahkan Agista langsung mengubah wajahnya, ia menahan rasa takut.
Dimas melangkah mendekati kumpulan anggota yang lain, semakin dekat terasa dengan jelas mata membunuhnya, bahkan aura dalam ruangan itu seketika berubah mencekam.
Andreas : "Bener banget, aura dia yang biasanya saja udah bikin bulu kuduk gue merinding apalagi yang sekarang."
Raka : "Semua ini gara-gara cewek itu. Awas aja kalau sampai dia ganggu Dimas lagi dan buat masalah lagi, gue kasih dia pelajaran."
Andreas : "Tahan emosi loe Rak, jangan sampai loe diluar kendali. Loe enggak lihat tuh Septian, Andre, Yayak juga Indra bahkan Ilham dan Amar aura mereka langsung berubah dengan ucapan Agista?" Raka mengangguk.
Dimas mendekat dan langsung menghadap pada wanita itu. Bahkan ia tak mengedipkan matanya sedikitpun, tatapannya lurus pada mata Agista, wanita yang telah membuatnya marah dengan semua kata-katanya itu.
Dimas : "Apa yang kamu katakan tadi?!!" Hening, bahkan Agista hanya diam begitupun yang lainnya. "Apa yang kamu katakan tadi?!!" Nada suara Dimas sedikit meninggi dan penuh penekanan.
Agista : "Di.dimas, maksud loe apa? Memang benar kan Andre itu kac*ng loe dan Septian hanya adik angkat loe." Kata Agista dengan terbata-bata namun masih berani menjawabnya.
Dimas : "Siapa yang kamu sebut kac*ng dan adik angkat, hah?!! Mereka maksud kamu?!!" Menunjuk Andre dan Septian. "Ada urusan apa kamu dengan keluarga saya?! Kamu bukan siapa-siapa saya, kamu tidak berhak mengatakan mereka seperti apa yang kamu katakan, kamu tidak mengenal mereka dan kamu juga tidak mengenal saya! Mereka berdua adik saya, mereka berdua saudara saya, mereka berdua keluarga saya. Dan kamu juga kalian berdua!!" Menunjuk Agista dan kedua temannya. "Kalian tidak punya hak sedikitpun dalam hidup saya termasuk hidup keluarga saya! Kalian wanita seharusnya bisa bertutur kata dengan baik dan lembut, yang bisa menjaga perasaan orang lain." Agista tetap diam. "Ingat, jangan pernah kamu menghina keluarga saya termasuk mereka berdua, jangan pernah kamu mengatakan apa yang tidak ingin saya dengar, jika sampai saya dengar kalian mengatakan sesuatu yang sangat membuat saya marah, kalian akan tahu apa akibatnya dan saat itu juga, kamu akan tahu apa yang saya lakukan. Camkan itu baik-baik di kepalamu!!" GLEk! Agista, Merry dan Keisya menelan salivanya dengan susah payah, bahkan ia tidak bisa menjawab ucapan Dimas, suaranya seakan tercekat ditenggorokan.
Semua anggota yang mendengar kata-kata Dimas langsung terdiam, bahkan mereka langsung gemetar mendengar ancaman yang diberikan pada Agista. Banyak yang terkejut bahkan tak tahu jika Dimas bisa bersikap seperti itu.
Setelah kejadian itu Dimas langsung keluar diikuti Andre dan Septian, barulah mereka menghela nafas dengan benar dan bisa bernafas dengan lega. Namun tidak dengan Yayak, Indra, Ilham juga Amar mereka berempat masih menatap Agista dengan tajam. Berbeda dengan Angel dan Shinta yang sudah nampak geram dengan tingkah wanita itu. Yang lainpun juga ikut geram, apalagi yang memang sudah tahu Dimas seperti apa.
"Apa kau sudah puas?!" Suara teriakan itu keluar dari mulut Angel, Yayak langsung terkejut melihat kekasihnya seperti itu.
__ADS_1
Yayak : "Sayang, sudah cukup jangan diperpanjang lagi." Yayak berusaha menenangkan Angel.
Angel : "Apa kamu bilang?! Gue enggak akan terima siapapun nyakitin sahabat gue dengan mulut seperti itu!" Angel semakin emosi. "Loe Agista, jangan pernah loe deketin sahabat gue siapapun itu, jika itu terjadi gue bakalan kasih loe dan geng loe itu pelajaran, bahkan gue robek itu mulut loe!" Angel langsung pergi diikuti Yayak yang khawatir dengan sikap kekasihnya.
Mereka seperti melihat singa betina yang sedang mengamuk. Setelah kepergian mereka berlima, Indra langsung berkata . . .
Indra : "Apa kau puas Agista? Kita disini untuk rapat acara rutin PPA kita, bukan untuk melihat penghinaan yang loe lontarin ke Andre juga Septian. Tapi nyatanya, semua ini sia-sia karena ulah loe dan kedua temen loe itu."
Keisya : "Loe kok nyalahin kita sih Ndra, salahin aja tuh mereka." Dengus Keisya dengan kesal.
MBA : "Jangan nyalahain orang lain, karena memang dari awal kalian yang memancing Septian dan Andre, siapa yang tahu ternyata Dimas dengar apa yang kalian ucapin dan itu sudah keterlaluan, mereka teman kita, kita ini keluarga besar di PPA susah senang kita bersama, jangan pernah kalian ungkit atau ikut campur urusan orang lain apalagi itu urusan pribadi mereka, karena tidak semua orang akan terima jika keluarganya diusik oleh orang lain apalagi dengan hinaan seperti itu." Jelas MBA dengan panjang lebar tidak terlihat emosi sedikitpun, karena ia menahannya.
Indra : "Sudah cukup sampai disini, kita lanjutkan lain waktu. Saya minta segera siapkan semuanya, lengkapi apapun yang belum lengkap." Mereka mengangguk paham. "Satu lagi, untuk kalian bertiga ingat urusin urusan kalian sendiri, jangan ikut campur dengan hidup orang lain terutama kehidupan sahabat saya karena saya tidak akan jamin apa yang dikatakan Dimas akan terjadi atau tidak. Oke kita cukupkan, Go PPA!!!" Teriak Indra sambil mengepalkan tangannya didepan bahunya."
"Go PPA!!!" Jawab mereka bersamaan.
Setelah usai, mereka berhambur keluar namun masih ada juga yang tetap tinggal sekedar untuk bercanda dan membicarakan hal yang baru saja terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk kakak semua . . .
Tetap jaga kesehatan ya . . .
Jangan lupa like, vote dan comment-nya. . .
Salam hangat dari Author,
__ADS_1