
Adinda : "Kak Dimas sudah bangun?"
Yayak langsung menghampiri sahabatnya itu dan menanyakan pertanyaan yang bertubi-tubi sampai-sampai Dimas yang mendengar merasa jengah dengan suaranya, namun berbeda dengan Adinda yang hanya tertawa melihat perdebatan mereka berdua.
Mendengar Adinda yang hanya tertawa dan tidak ikut untuk menghentikan Yayak, Dimas langsung menatapnya dengan mode datar.
Adinda : Glek. Adinda menelan ludahnya dengan kasar. "Mulai deh keluar mode dinginnya." Gumam Adinda pelan namun masih didengar.
Dimas : "Saya dengar!" Kemudian memalingkan wajahnya dari hadapan Adinda.
Sedangkan Adinda hanya menunduk dan Yayak yang melihat sikap Dimas hanya menghela nafas dengan berat.
Yayak : "Loe itu, berhenti bersikap seperti itu didepan Adinda. Sejak tadi dia enggak pergi sampai loe sadar seperti sekarang. Harusnya loe terima kasih karena dia udah ngerawat loe yang sakit ini." Dimas masih dengan mode datarnya menghadap kearah kekasih kecilnya itu namun yang dilihat masih setia menunduk.
Dimas : "Apakah ada sesuatu yang menarik hingga kau masih tetap melihat kebawah?" Celetuk Dimas. "Hei, angkatlah kepalamu Din." Adinda kemudian mengangkat kepalanya menghadap Dimas.
Yayak : "Ceh! Kenapa kau jadi berubah bucin seperti ini?" Yayak langsung mendapat tatapan tajam bak elang dari Dimas. "Kyaaaa! Kenapa kau begitu dingin padaku sedangkan dengannya kau berubah hangat, hah!" Adinda yang mendengar hanya tersenyum. "Apa kau senang sudah membuat raja es Kampus gue cair?" Sarkas Yayak dengan gaya marah yang dibuat-buat.
Dimas : "Berhentilah, kau membuatnya takut dengan sikapmu itu."
Yayak : "Kyaaa! Kau juga membela gadis kecilmu ini? Bahkan kau tidak membelaku saat Angel marah dan menghukumku." Jawab Yayak dengan wajah memelas.
Dimas : "Bahkan kau tau sendiri bagaimana sikap Angel jika sudah marah, aku enggak mau berurusan dengan Ninimu itu."
Yayak : "Ya memang, tapi gue sayang sama dia dan gue lebih baik ngadepin dia daripada manusia kutub kaya loe."
Adinda : "Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Kak Dimas makan bubur dulu ya nanti keburu dingin, setelah itu istirahat lagi." Adinda menyuapi Dimas dengan telaten dan sabar, karena kondisi badan yang masih lemah Dimas memakannya dengan pelan. Namun sesaat kemudian Dimas berhenti. "Kenapa? Apa buburnya terasa aneh? Atau kurang hangat?" Tanya Dinda karena Dimas berhenti mengunyah.
Dimas : "Apa ini bukan bubur buatanmu?" Selidik Dimas, karena dia tahu bahwa rasa dan aroma bubur yang ia makan beda dengan buatan Adinda beberapa hari lalu.
Yayak : "Sudahlah jangan kau bahas itu buatan siapa, yang penting sekarang loe makan dulu. Lagipula memang loe tau pasti apa itu buatannya Adinda atau bukan?" Dimas tetap diam dan tidak menjawab perkataan Yayak, Dia masih setia menatap gadis kecilnya itu.
Dimas : "Apa kau akan tetap diam tanpa menjawab pertanyaanku?"
__ADS_1
Adinda : "Hecmmm ya, ini bukan buatan Adinda ini buatan Bi Arum, tadi Kak Yayak yang bawa kekamar, karena saat Adinda ingin turun Kakak enggak bolehin Adinda." Dimas yang mendengar hanya tersenyum lalu mengacak puncak kepala Adinda.
Dimas : "Hei tenanglah, aku hanga bertanya saja. Apa dia mengganggumu selama aku tidak sadar?" Melirik sahabatnya. Sedangkan Yayak yang mendengar hanya berdecak kesal.
Adinda : "Enggak, Kak Yayak enggak ganggu kok, kita hanya ngobrol biasa." Terang Adinda.
Yayak : "Loe kenapa jadi curiga gitu sama gue? Buat apa gue ganggu dia? Lagipula gue akan mikir dulu sebelum gue ganggu gadis ini."
Adinda : "Kenapa?" Tanya adinda dengan wajah polosnya.
Yayak : "Loe tanya kenapa? Ckck loe tahu Din, dia itu raja es di Kampus yang bahkan dinginnya seperti kutub dan mata elangnya itu bisa bunuh siapa adj yang melihatnya apalagi jika sudah duduk dikursi kebesarannya dan berhadapan dengan para karyawan ataupun client yang susah dan kolot." Dengan memperagakan dan menunjuk bagian tubuh yang ia sebutkan. Adinda hanya tersenyum. "Jadi sebelum gue kena imbas mending gue hindari ini orang, karena gue masih sayang nyawa gue. Gue keluar dulu kalau gitu, kalian ngobrol adja, gue mau cari makan." Yayak melangkah keluar kamar.
. . .
Adinda : "Ini sudah sore sudah jam empat, setelah Kakak makan, Adinda akan pulang. Jadi Kakak harua habisin bubur ini dulu." Namun tidak ada jawaban dati Dimas. "Kak?" Masih hening, kemudian Dimas menatap gadis itu dengan begitu dalam namun tetap diam. Adinda mengusap punggung tangan Dimas.
Dimas : "Pulanglah sekarang." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
DEG.
Dimas : "Tidak." Dimas menggelengkan kepalanya. "Saya udah enggak lapar. Pulanglah sekarang sebelum terlalu sore, karena jika kau pulang telat maka dia akan curiga padamu." Mendengar itu dengan berat hati Adinda menurutinya. Adinda bangun dan membawa nampan berisi bubur yang belum habis ke dapur. Sampai diambang pintu. . .
Adinda : "Nanti setelah sampai rumah Adinda hubungi." Lalu Adinda keluar. Sesampainya dilantai dasar. . .
Yayak : "Kamu mau kemana?" Tanya Yayak yang tiba-tiba muncul dari arah belakang setelah melihat Adinda turun dari kamar Dimas. "Apa dia mengusirmu?" Adinda hanya menggeleng. "Lalu...?"
Adinda : "Sudah sore, jadi Adinda mau pulang Arul pasti sudah menunggu di Rumah. Salam untuk Bi Arum ya Kak, bilangin Adinda pulang." Yayak mengangguk, Adinda melangkah keluar dari rumah besar itu menuju mobilnya.
Yayak : "Sampai kapan kalian akan menjalin hubungan dengan cara seperti ini? Baru jalan minggu ketiga udah bikin dia merasakan sesak, apalagi jika sampai bertahun-tahun." Gumam Yayak dalam hati.
Setelah kepergian Adinda, sesaat kemudian sebuah mobil hitam memasuki pelataran Rumah. Tidak perlu kaget dengan melihat bentuk mobil itu Yayak sudah tahu siapa. Mobil itu berhenti tepat di dekat pintu masuk rumah.
Yayak : "Masih inget rumah loe?" Namun yang ditanya tidak menjawab dan langsung berlari masuk menuju lantai dua, yang tepatnya di kamar Dimas.
__ADS_1
TAK. . . TAK. . . TAK. . .
Krieeeet. Pintu terbuka. Sedangkan Dimas yang melihat siapa orang tersebut hanya diam. Orang tersebut langsung lari menghambur kepelukan Dimas.
Dimas : "Ada apa?" Tanyanya dengan mode datar dan dingin. Namun bukan menjawab, orang itu semakin memeluk Dimas dengan erat.
Yayak : "Duit jajan habis kali Dim, makanya mau minta tambahan duit jajan, benerkan Sep?" Ya orang itu adalah si bontotnya Dimas. "Dasar bontot, enggak pernah berubah loe." Septian hanya bedecak sebal dengan sahabatnya itu.
Septian : "Bang? Abang sakit? Kenapa enggak kabarin gue kalau loe sakit? Abang sakit apa? Kenapa enggak ke Dokter aja sih? Kenapa di Rumah, kita ke Dokter aja ya gue anterin deh, nanti gue yang rawat loe." Celoteh Septian tanpa henti, Yayak yang melihat langsung melempar bantal sofa kearah Septian hingga mengenai kepalanya. "Kyaaaa! Apa yang loe lakuin?"
Yayak : "Loe yang kenapa, dateng-dateng langsung nyelonong masuk tanpa salam, udah gitu langsung meluk Dimas kaya gitu dengan celotehan yang enggak jelas gitu."
Septian : "Gue itu khawatir tau, makanya gue langsung lari ke kamar." Kembali menghadap Dimas. "Apa loe butuh sesuatu? Ehmm makan, minum, obat, buah, atau apa? Gue turutin deh." Dimas yang mendengar hanya jengah. "Jawab donk bang, gue tanya beneran ini."
Yayak : "Lebih baik loe diem, keluar makan terus tidur sono, suara loe buat Dimas nambah sakit tau dan gue juga pengang dengernya." Septian hanya mencebik kesal.
Dimas : "Lebih baik kalian diam, saya ingin istirahat keluarlah." Pintanya dengan nada dingin. Mereka yang mendengar hanya menghela nafas dengan kasar namun tetap menuruti permintaan Dimas untuk keluar.
. . .
Septian : "Meski sakit tetep aja masih dingin." Gerutunya saat sampai diruang keluarga dan langsung mendapat toyoran di kepala dari Yayak.
Yayak : "Lebih baik loe diem. Loe inget ini hari apa?" Selidik Yayak pada Septian yang terkadang lupa hari kematian kedua orangtua Dimas. Septian mengingat-ingat.
Septian : "I.ini... Hari kematian Mama sama Papa." Gumamnya pelan. "Apa karena ini Dimas jadi. . ." Septian menoleh ke Yayak dan langsung dijawab anggukan. "Kenapa gue bisa lupa lagi sih, apa dia sudah baik-baik saja? Apa dia masih trauma seperti dulu?" Selidiknya.
Yayak : "Jadi loe juga tahu tentang trauma Abang loe itu?" Septian mengangguk. "Lalu kenapa loe seperti tidak tahu?" Septian menunduk dengan mode murung.
Septian : "Gue mencoba untuk tidak tahu dan mencoba untuk tetap jadi diri gue, karena gue enggak pengen nambahin beban fikiran Dimas. Apalagi keluarga ini udah begitu baik sama gue, setelah bukap nyokap gue meninggal orangtua Dimas yang jadi keluarga gue dengan mengangkat gue sebagai anak mereka, dan Dimas rela kebahagiaan dan kehangatan keluarganya dibagi buat gue, meskipun terkadang gue memang selalu berontak dengan segala peraturan dia yang sudah ia tetapkan, dia pasti sudah jengah dan muak namun dia tetap perhatian dan selalu memberi gue rasa sayang yang udah lama enggak gue rasain. Jujur gue juga sakit Mama dan Papa meninggal begitu cepat dan dengan cara seperti itu, mereka pergi dan membebankan semua tanggung jawab mereka pada Dimas, ditambah setelah kejadian itu Dimas mengalami trauma hal itu semakin buat gue sakit Yak. Gu.gue enggak ingin dia selalu seperti ini setiap tahun ditanggal ini rasa kehilangan menghantuinya. Gue sayang sama Abang gue. Hanya dia yang gue punya di dunia ini."
Dengan suara serak dan mata berkaca-kaca Septian tidak bisa lagi menahan air matanga. Isak tangisnya pecah dan semakin menjadi saat Yayak memeluknya dengan erat. Tanpa mereka sadari sepasang mata dari lantai dua sedang memperhatikan mereka dan mendengarkan apa yang adiknya itu katakan.
Rasa sakit yang mulai mereda, kembali lagi setelah melihat tangis adik kecilnya itu pecah. Hatinya semakin hancur dan sakit merasakan apa yang adiknya rasakan, selama ini Septian selalu menyembunyikan rasa sakit kehilangan atas kedua orangtuanya yang telah tiada. Dimas sering melihat diam-diam Septian ketika memasuki kamar orangtuanya dan tidur disana meski sekedar melepas rindu.
__ADS_1
Setelah kedua orangtua Septian meninggal, dia diangkat sebagai anak oleh Tuan Aditama dan menjadikannya adik dari anak tunggalnya Dimas. Untuk sekian lama ia tidak merasakan kesedihan lagi karena orangtua angkatnya memberikan kebahagiaan baru untuknya, namun kini ia harus mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya kehilangan kedua orangtua. Meski hanya orangtua angkat, tapi Septian sangat mencintai mereka juga Dimas karena dia rela melakukan apapun agar adiknya itu senang meski harus berbagi kasih sayang orangtuanya.