Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 18


__ADS_3

Dimas : "Bagaimana jawaban pertanyaan saya semalam?"


DEG.


Adinda : "Ternyata Kakak enggak bisa basa-basi dulu ya."


Dimas : "Saya tidak suka basa-basi, saya hanya ingin yang pasti. Jadi bagaimana?" Adinda tampak ragu. "Saya tahu ini terlalu cepat untuk kamu dan ini juga pengalaman pertama saya, mengingat pertemuan kita yang sedikit tidak mengenakan. Tapi terlepas dari itu semua saya serius dengan perkataan saya, saya tidak pernah main-main apalagi soal hubungan dengan wanita karena kedua orangtua saya selalu mengajarkan saya untuk menghargai setiap hubungan." Adinda masih diam. "Saya tidak akan memaksa kamu, karena keputusan ada pada kamu."


Adinda : "Apa Kak Dimas bisa menerima Dinda apa adanya? Termasuk jika hanya kita yang tahu karena Arul, dia belum ingin jika Dinda pacaran? Apalagi setelah Mama dan Papa berpisah."


Dimas : "Backstreet maksud kamu?" Adinda mengangguk. "Saya tidak mempermasalahkan itu, karena saya juga berharap kamu bisa menerima saya apa adanya termasuk dengan sifat saya yang mendapat julukan itu."


Adinda : "Adinda akan berusaha untuk memahami sifat Kak Dimas karena sifat seseorang itu berbeda-beda dan tidaklah bisa diubah sepenuhnya. Lalu tentang Arul?" Tanya Adinda dengan sedikit ragu.


Dimas : "Saya sudah bilang, saya tidak mempermasalahkan itu, saya tahu kenapa kamu bersikap seperti itu mungkin salah satunya karena perpisahan orangtua kalian kan?" Adinda mengangguk.


Adinda : "Adinda hanya tidak ingin Arul merasa tidak diperhatikan lagi dengan kehadiran seseorang dihidup Adinda."


Dimas : "Saya faham, kita jalani dulu saja seperti biasa karena kita juga butuh belajar dan adaptasi dengan hubungan baru kita."


Adinda : "Maaf jika setiap kita bertemu harus selalu sembunyi seperti ini lagi dan lagi." Adinda menunduk sedikit menyesal.


Dimas : "Tidak masalah, dan sekarang tersenyumlah." Adinda mendongakkan kepalanya keatas melihat Dimas dan tersenyum. "Begini baru cantik." Blush wajah


Adinda bersemu merah. Hal itu membuat Dimas gemas dan mengacak puncak kepala Adinda.


Adinda : "Jadi kita jadian?" Tanya Adinda kemudian ia reflek menutup mulutnya dengan tangan. "Oops keceplosan." Gumam Adinda lirih namun masih bisa didengar oleh Dimas. Dimas langsung tersenyum.


Dimas : "Dasar gadis ceroboh. Iya sekarang kita jadian. Ingat tetaplah jadi gadis yang ceria untuk melengkapi hidupku yang dingin ini. Satu lagi, jangan ceroboh didepan laki-laki lain."


Adinda : "Baru jadian sudah posesif." Gerutu Adinda dengan mengerucutkan bibirnya.


Dimas : "Hei saya seperti ini juga untuk kebaikan kamu, saya tidak ingin kamu dimarahi orang lain karena kecerobohan kamu."


Sejak saat itulah mereka menjalin hubungan tanpa diketahui orang lain.


Flashback End. . .


Yayak : "Cinta tidak mengenal syarat Dim, jika ada syarat itu bukan cinta tapi perjanjian."


Dimas : "Gue tahu itu, tapi gue juga enggak ingin dia sedih karena perubahan Adiknya. Dia hanya ingin seseorang menerima dia apa adanya, dan gue menerima itu apapun resikonya meskipun harus sembunyi dari dunia luar. Karena gue juga ingin ada seseorang yang bisa menerima gue dan melengkapi hidup gue dengan sifat gue ini."

__ADS_1


Yayak : "Loe pasti bisa Dim, loe kuat sangat kuat. Gue bahagia jika loe bisa bahagia."


Dimas : "Thanks untuk semuanya Yak, loe memang sahabat gue. Makasih sudah sabar dengan sifat gue." Mereka akhirnya berpelukan, Yayak bahagia karena untuk pertama kalinya setelah orangtua Dimas meninggal ia bisa melihat Dimas yang hangat dengan senyum bahagia.


Setelah menyelesaikan urusan itu, Yayak keluar dari ruang kerja Dimas dan menuju kearah kamar Septian karena ia sering tidur di kamar itu sedangkan Dimas kembali ke kamarnya sendiri dengan perasaan lega karena sahabatnya tidak melarangnya justru mendukung hubungannya dengan Adinda.


. . .


Beberapa hari setelah kejadian itu Dimas kembali melakukan aktivitasnya dan bersikap seperti biasa terhadap siapapun termasuk dengan Yayak. Sedangkan Yayak hanya bisa mendengus pasrah karena sifat Dimas masih sama dan belum berubah. Hanya statusnya yang sudah berubah namun sifat masih tetaplah sama seperti semula.


Di Taman Kampus terlihat seorang laki-laki berjalan menuju kearah pusat PPA. Orang tersebut sudah satu minggu tidak kembali ke Kampus dan tidak bertemu dengan teman-temanya. Saat memasuki bestcamp beberapa rekan menyambut kedatangannya. . .


Yayak : "welcomeback bro!" Mereka berpelukkan. "Gimana kabar loe Bay?"


MBA : "Baik gue, sory deh kerjaan gue harus loe semua yang handle Yak."


Yayak : "Kita sesama keluarga harus saling bantu. Ohya, gimana kerjaan loe di Bandung, udah kelar?"


MBA : "Yaa lumayanlah udah kelar meski belum semua, gue balik karena harus ngurus kuliah apalagi semester depan kita mulai skripsi dan acara PPA gimana kemarin?"


Yayak : "Lancar semua, tenang aja loe terlalu khawatir apalagi ada Angel yang emang dari bidang kesehatan."


MBA : "Iya, tapi gue ketua dibidang itu. Gimana kabar yang lain, Dimas?"


Amar : "Akbaaaaaar!" Teriak Amar karena melihat MBA yang baru datang dan dia langsung memeluknya. "Gue kangen banget sama loe." Memeluk MBA erat.


Ilham : "Jadi gitu loe sekarang." Sambung Ilham dengan nada sewot. "Setelah Akbar balik loe lupa sama gue. Selama ini siapa yang nemenin loe tidur, buatin makan, nemenin loe jalan sampai mandiin loe. Itu gue. Jahat loe ya! Gu. . ." Kata-katanya terhenti.


Amar : "Stop! Loe itu hanya cadangan gue kalau bebeb gue ini enggak disini. Sekarang dia udah balik jadi pergi sono loe, gue enggak butuh." Dengan nada mengejek.


Ilham : "Indraaaaaaaa!"


Indra : "Apa?!" Indra datang dengan Dimas yang ada disisinya. Ilham langsung lari memeluk Indra.


Ilham : "Amar jahat sama gue, hiks." Sedangkan Indra hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah temannya itu begitupun dengan yang lain. "Kenapa loe ketawa, enggak kasian loe sama gue. Ya Allah!" Bruk. Ilham ambruk kelantai sambil menengadah seperti berdo'a. "Aku capek diduain terus, kasih balasan sama Amar Ya Allah, aku enggak bisa diginiin. Sakiiit." Begitulah rengekan Ilham. Sontak hal itu berhasil membuat seisi ruangan tertawa kecuali Dimas.


Amar : "Terserah, sekarang gue mau sama Akbar, loe." Menunjuk. "Jauh-jauh sana."


Ilham : "Bang!" Menoleh pada Dimas dengan wajah memelas. Namun hanya diacuhkan. "Loe! kalian tega sama gue ya." Masih dengan merengek, karena tida ada yang membela Ilham kembali memisahkan Amar dan Akbar.


MBA : "Kasian, sini gue peluk juga." Ilham langsung lari memeluk Akbar.

__ADS_1


Angel : "Najis gue punya temen kaya loe berdua." Celetuk Angel yang baru datang dan melihat adegan itu.


Amar dan Ilham yang mendengar itu langsung menatap Angel tajam lalu menghadap Dimas untuk membelanya.


Dimas : "Gue enggak ikutan?" Jawab Dimas yang seolah tau maksud mereka dan jangan lupa dengan wajah datar dan sifat dinginnya.


"Akbaaaaar!" Teriak mereka berdua kompak merengek pada MBA.


MBA : "Sudah kasian anak gue nangis karena kalian. Loe juga Ngel ikut-ikutan liat nih mereka nangis kan." Angel hanya mendengus kesal lalu merapat pada kekasihnya.


Firman : "Ada apa ini?!" Teriak Firman yang baru datang.


"Loe sayang kita kan Fir?" Tanya Amar dan Ilham dengan wajah memelas.


Firman : "Maksudnya?" Firman yang masih bingung hanya mengangguk.


Amar : "Kalau sayang kita, loe marahin tu Angel sama babang Dimas." Dimas yang duduk disudut ruang mendengar namanya disebut langsung menatap Amar datar. "Tuuuuh kan Babang Dimas jahat, liat tuu mata elangnya." Rengek Amar pada Firman yang langsung paham. Sedangkan Ilham masih betah memeluk MBA.


Firman : "Ckk kalian ini ada-ada saja, inget umur udah tua juga masih bertingkah kaya bocah."


Ilham : "Loe! Ternyata loe sama aja enggak mau belain kita berdua. Akbaaaar." Rengeknya.


MBA : "Ssst udah kalian ini." Akhirnya setelah drama duo kembar itu selesai anggota berdatangan dan mereka duduk untuk membahas kegiatan selanjutnya.


Kita kenalan sama MBA ya kakak...


Muhammad Bayu Akbar yang biasa dipanggil MBA adalah keturunan Indo Jerman, Ibunya asli orang Bandung sedangkan Ayahnya orang Jerman. Sejak usia 10 tahun dia sudah tinggal di Indonesia dengan Neneknya sedangkan orangtuanya tinggal di Jerman. Dia memiliki tinggi 178 cm, berambut hitam berkulit putih dan memiliki kepribadian yang lembut dan penyayang, tidak cukup disitu dia juga jago dibidang kedokteran karena itu dia menjadi ketua kesehatan di PPA. MBA adalah orang kedua setelah Dimas yang menjadi idola Kampus, ketenarannya tidak kalah dengan Dimas karena dengan wajah blasteran dan sifat ramahnya ia dapat menggaet perhatian wanita di Kampus.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam hangat dari Author, jangan lupa like vote dan commentnya,,


__ADS_2