
Amar : "Eeeeh itu mulut kadang memang suka bener deh!" Jawabnya dengan wajah polos. Sedangkan yang lain hanya tertawa, dengan jawaban polos dari Amar.
Ilham : "Tapi kali ini apa lagi yang akan Agista lakukan?" Ilham tampak berfikir.
Amar : "Maksud loe apa sih, jangan mikir yang aneh-aneh deh Ham, ya meskipun Agista memang suka berulah."
Angel : "Kita tetep harus antisipasi jika Agista berulah lagi, kali ini dia sudah membuat Dimas marah tapi tidak ada yang menjamin jika suatu saat nanti dia tidak berulah kembali."
Yayak : "Ditambah Bokap Agista mencoba melawan Aditama Company meskipun dia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya saat ini karena yang dia tahu pemimpinnya sangat misterius hanya beberapa orang saja yang mengetahui termasuk bocah baru itu, dan yang mereka tahu pemimpin Aditama Company adalah Om Pastu." Yang lain ikut mengangguk.
Angel : "Bocah baru? Maksudnya siapa sih Yak? Kalian nyembunyiin sesuatu?" Tanya Angel penuh selidik.
Indra : "Hanya anggota baru yang kemarin ketemu kita di Adi Resto beberapa hari yang lalu."
Amar : "Iya sih cewek bar-bar sama sepupunya juga Arul sama Adinda."
Angel : "Apa mereka bisa dipercaya? Kenapa mereka bisa tahu?"
Yayak : "Awalnya tahu dari MBA tapi kemarin pas ketemu baru mereka semakin tahu meskipun tidak sepenuhnya, agar mereka tidak mencari tahu dengan lebih aja jika mereka mencari tahu entah apa yang akan Septian dan Andre lakukan." Angel mengangguk. "Kecuali jika Adinda, karena saat ini hanya dia yang bisa aku percaya untuk berada disisi Dimas, meskipun aku juga sedikit ragu dengan hubungan semacam ini" Gumas Yayak dalam hati.
Indra : "Oke sekarang kita siapkan semua keperluan kita minggu depan, jangan sampai ada yang terlewat."
Mereka langsung membubarkan diri mereka meski masih satu tujuan yaitu ke kantin untuk mengisi daya setelah rapat ditambah dengan keributan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
. . . .
Disisi lain Agista dan kedua temannya yang sudah berada di taman kampus masih sedikit terkejut terutama Agista, dia masih syok karena Dimas bisa berubah sikap dengan begitu cepat dengan raut wajah yang merah padam, mata elang yang menakutkan, bahkan auranya terasa seperti aura membunuh. Memang ia terkenal dingin dengan julukan di Raja Es, tapi kejadian barusan tidak pernah ia lihat, sekalipun Dimas marah ia hanya diam saja.
Merry : "Gue beneran enggak nyangka deh ternyata selain terkenal dingin dia juga bisa berubah seperti tadi, kalian lihat bahkan mata elangnya seakan ingin mengoyak mangsanya hingga tak tersisa sedikitpun. Ngeri bener gue lihat tuh orang." Ucapnya dengan bergidik ngeri mengingat tatapan membunuh dari Dimas.
Keisya : "Bener banget deh Mer, gue nyampe kaget ternyata sisi lain dari Dimas itu ngeri banget, sumpah! Gue aja masih merinding tau gak, meski didalem tadi gue sok kuat tapi bulu kuduk gue berdiri semua." Seru Keisya menjawab ucapan Merry.
Merry : "Sebenernya sikap itu biasa terjadi tapi kata-katanya yang penuh dengan penekanan yang membuat gue merinding ditambah dengan tatapan tajam miliknya. Walaupun sebenernya memang itu kenyataan sih Andre dan Septian kan hanya saudara angkat Dimas yang numpang hidup." Keisya dan Merry langsung tersenyum remeh dan mengangguk. (Ternyata mereka belum jera!!) Merasa tak ada respon dari Agista, Merry memanggilnya. "Agista, loe baik kan Gis?" Lanjutnya bertanya pada Agista.
Namun Agista masih diam membisu tak menanggapi ucapan dari kedua temannya, ia masih merasa sedikit syok dengan ucapan Dimas yang dibarengi dengan tatapan nyalang dari matanya. Bahkan dia tidak pernah melihat hal itu pada siapapun termasuk pada kedua orangtuanya.
Keisya : "Gis. . . Agista!" Berulang kali Keisya dan Merry memanggil Agista namun tidak ada respon sedikitpun. "Agista!" Agista tersadar.
Merry : "Loe masih bayangin hal tadi? Udah ah jangan pikirin kejadian tadi deh. Biarin aja sih Dimas begitu lagipula loe kenapa mesti takut? Bokap loe itu orang kaya dan keluarga loe juga kaya pasti bisa jaga loe dari raja es itu." Agista hanya tersenyum kecut, dia tahu kedua temannya berusaha membuatnya tersenyum.
Agista : "Kalian ngomong apa?! Masa iya gue takut sama dia, Dimas hanya pengusaha Restoran sedangkan Bokap gue itu bisnisnya se-Indonesia jadi gue bisa jadi apa yang gue mau dan enggak perlu mikirin soal tadi." Ucapnya dengan penuh percaya diri dan tak lupa sikap angkuhnya kembali, meskipun sebenarnya masih sedikit ada rasa takut dalam dirinya namun ia tutupi dengan sikap angkuhnya itu agar tak terlihat oleh orang lain.
Setelah obrolan itu mereka segera melangkah menuji ke parkiran untuk pulang kerumah.
. . . .
Dilain tempat seorang gadis melangkah menuju parkiran dengan wajah sendu, namun seketika berubah karena ada seseorang yang berjalan menuju kearahnya.
__ADS_1
Amel : "Adinda! Kita cabut yuk persiapin perlengkapan buat acara minggu depan." Namun tak ada jawaban. "Hei Adinda Amaralia, loe sehat kan?"
Adinda : "Eh iya Mel, ada apa? Maaf aku lagi sedikit enggak enak badan jadi kurang fokus." Amel hanya mengernyitkan dahinya.
Amel : "Hecmmm loe ada masalah atau apa sih Din, akhir-akhir ini sering banget ngelamun. Loe beneran sakit? Wajah kamu sedikit pucat sejak masuk kelas yadi. Ada yang loe fikirin?"
Adinda : "Enggak kok Mel, mungkin karena kurang istirahat aja terlalu forsir buat persiapan ujian makanya sedikit enggak enak badan." Alasannya kembali, namun Amel tidak ingin memperpanjang pertanyaannya lagi karena ia tahu hal itu tidak akan berhenti sampai disitu saja.
Amel : "Aah udah ah, loe lagi gitu mukanya gue pergi sendiri aja deh." Candanya. "Ohiya tadi gue ketemu Arul dia bakal pulang telat karena lagi pergi sama duo jumpling itu nyiapin peralatan buat acara entar." Adinda hanya mengangguk. "Loe mau ikut gue atau langsung pulang? Gue anter aja gimana, enggak tega gue liat muka pucet loe itu."
Adinda : "Ehmm aku langsung pulang deh kayanya Mel, kamu tenang aja enggak usah diantar soalnya masih mau mampir dulu ke suatu tempat." Amel mengangguk faham.
Amel : "Oke deh, gue duluan ya Din soal acara minggu depan loe tenang aja gue bantuin buat nyiapin semuanya, dan satu lagi setelah sampai rumah kabarin gue jangan sampai enggak, pokoknya harus." Adinda mengangguk dan mengucapkan berterima kasih.
Akhirnya mereka berpisah, Amel segera menaiki mobilnya dan segera meninggalkan pelataran sekolah. Sedangkan Adinda ia masih berdiam ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Adinda langsung melangkah keluar dan mencari taksi, hari ini ia tidak membawa mobil dikarenakan mobil miliknya sedikit bermasalah dan masih harus menginap di bengkel.
Adinda melihat sebuah taksi, ia segera menghentikan taksi itu dan langsung masuk.
Sopir taxi : "Kemana mba?"
Adinda : "Ehmm langsung ke taman di toko buku Amanda ya Pak, saya ingin kesana sekalian ingin cari buku" Sang sopir hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Mobil itu segera menuju ke toko buku Amanda yang berada dipusat kota, toko buku namun terlihat bukan seperti toko buku melainkan sebuah mall karena luasnya tidak seperti toko pada umunya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit akhirnya Adinda sampai ditempat tujuan. Ia segera turun dari mobil itu dan melangkah masuk setelah membayar taksi itu.