
"Maa Paa, apa kalian lihat perubahan Dimas sekarang? Apa kalian bahagia melihat Dimas yang saat ini? Dimas yang kalian kenal dulu sangat dingin bahkan melebihi Papa, meski sekarang masih dingin tapi aku merasa sedikit berubah karena kehadiran gadis itu. Apa aku bisa membuat gadis itu berada disisiku selamanya? Apakah adiknya bisa menerima hubungan kami ini?"
Berbagai pertanyaan mencuat dalam fikiran lelaki tampan itu. Ada rasa khawatir jika nanti tidak direstui, ada rasa takut jika nantinya harus melepas gadis itu pergi. Tapi apapun yang akan terjadi nanti bisa ia pastikan bahwa ia sudah memasrahkan segalanya pada Sang Pencipta. Apapun yang terjadi ia yakin Rabb akan memberkam yang terbaik.
Saat ini perbedaan waktu antara Indonesia dan London 7 Jam jika di London saat ini masih jam 2 dini hari maka di Indonesia saat ini sudah jam 9 pagi. Sudah dipastikan jika saat ini Adinda berada di Sekolah karena kurang dari satu bulan lagi ia akan melaksanakan Ujian Nasional.
Karena sekarang adalah akhir bulan Februari maka perbedaan waktunya adalah GMT+7 namun akan berbeda lagi jika bulan Maret-Oktober maka perbedaan waktu antara Indonesia-London adalah 6 jam.
**Waktu Inggris sama dengan GMT. Dari Oktober sampai dengan Maret (atau musim gugur sampai dengan musim dingin). Perbedaan waktu Jakarta dan London adalah 7 jam jika mengikuti kaidah GMT+7.
Jadi jika di Indonesia jam 8 pagi, maka di london baru jam 1 pagi. tapi jika musim semi sampai dengan musim panas atau tepatnya dari bulan Maret sampai dengan Oktober, maka perbedaan antara London dan Jakarta akan mengikuti kaidah GMT+6 atau yang lebih dikenal dengan British Summer Time (BST).
**Sumber dari suneducationgroup.com
Setelah puas dengan pemandangan langit dan angin malam, Dimas memutuskan kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tubuh tegap nan kokoh itu sedikit merasa lelah karena aktivitas yang ia kerjakan satu minggu terakhir ini. Beruntung masalah di Singapore sudah selesai jika tidak maka ia masih akan terus berkutat dengan kasus disana.
Disaat ia tengah berusaha memejamkan matanya, ponsel yang berada diatas nakas bergetar dan TING!!! Sebuah pesan masuk.
Dimas tersenyum melihat isi pesan itu, sebuah pesan bergambar yang saat ini hadir dilayar ponselnya. Kemudian dering ponsel berbunyi.
Dimas : "Hallo, ada apa kau meneleponku saat ini Andre? Apa kau lupa sudah jam berapa disini?" Ucapnya dengan nada datar.
Andre : "Kau pasti sudah menerima pesanku, itu adalah hadiah untukmu hari ini." Jawabnya dengan kekehan. "Aku tahu disana masih dini hari tapi kenapa kau belum juga tidur? Kau selalu saja seperti itu."
Senyum itu tersungging dari bibir Andre, saat ini ia berada didalam mobil maka siapapun tidak akan tahu ekspresinya saat ini. Namun berubah saat ingat kebiasaan Dimas.
Dimas : "Apa kau sangat kekurangan pekerjaan? Saya memang memintamu menjaga gadis itu tapi bukan berarti kau harus selalu menerorku setiap hari." Kini nada bicara Dimas sedikit kesal.
__ADS_1
Pasalnya setiap hari Andre selalu meneror Dimas dengan cara yang sama yaitu mengirimi photo Adinda.
Saat ini ia mengirim photo Adinda yang sedang dibonceng motor oleh Arul tak lupa senyum yang merekah disana. Photo itu ia ambil pagi ini ketika akan berangkat ke Kampus dan melihat gadis itu berboncengan dengan adiknya, namum karena harus mengurus jadwal meeting dan beberapa file di Perusahaan jadi baru ia kirim sekarang pada sang Kakak.
Andre : "Aku hanya berusaha untuk memberimu semangat, agar kau cepat kembali kesini. Septian dan dua jumpling itu selalu menggangguku menanyakan kapan kau pulang, tapi mereka tidak mau menghubungimu." Kini Andre mengeluh tentang Septian dan juga kembarannya itu. Ya setiap Dimas dinas keluar ketiga trio jumpling itu akan mengganggu Andre dengan berbagai macam cara.
Dimas : "Kau selalu saja mengeluhkan adikmu Andre. Biarkan dia seperti itu, biarkan dia menikmati masa mudanya itu." Jawabnya.
Andre : "Kau selalu saja memanjakan Septian Bang, aku tahu hal ini baik tapi sikapmu itu sudah berlebihan. Jangan terlalu memanjakan dia seperti ini."
Dimas : "Kini kau mengeluhkan sikapku juga Andre? Saya hanya ingin dia bisa segera dewasa dan mengambil tanggung jawab di Perusahaan. Kau sendiri pasti paham bagaimana sifat Septian sebenarnya Ndre." Ucapnya dengan nada serius.
Andre : "Bu.bukan seperti itu. Hanya saja. . ." Kata-katanya terhenti.
Dimas : "Jangan terlalu berfikir jauh. Saya hanya tidak ingin membuat Septian terkekang, bahkan padamu saya juga seperti ini. Fokuskan saja apa yang menjadi mimpi dan harapanmu Andre, saya tidak akan mengekang ataupun menghalanginya begitu juga dengan Septian, karena kalian sudah sama-sama dewasa."
Andre yang sudah mendengar hal itu, ditambah dengan nada bicara Dimas yang serius dan dingin hanya bisa diam. Karena jika sampai dilanjutkan maka dia sendiri yang akan merasakannya. Karena saat ini bisa dipastikan Dimas tengah sangat lelah.
Setelah pembicaraan itu, Dimas kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia kembali berusaha memejamkan matanya, namun kata-kata Andre masih berkeliling dalam fikirannya. Bukan ia tidak mengerti maksud dari Andre, hanya saja saat ini ia sedang berusaha untuk tidak mengekang keduanya. Meski begitu, sifat dinginnya tidak berubah sedikitpun.
* * *
Di Indonesia. . .
Setelah Andre mengakhiri panggilan itu, ia termenung sendiri masih didalam mobil.
"Aku tahu selama ini kau juga tidak membatasi atau mengekang setiap mimpi dan harapanku, tapi memang inilah keputusanku. Bisa selalu berada disampingmu kapanpun kau butuhkan." Gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Kemudian Andre memutuskan untuk melajukan mobilnya menuju Kampus, karena siang ini ia ada jadwal untuk menemui para pembimbing skripsinya. Sesampainya ia di Kampus, ia sudah disambut oleh trio jumpling yang beranggota Ilham, Septian dan Amar.
Ketiga lelaki yang tak kalah tampan dari Dimas itu sejak tadi sudah menunggu kedatangan Andre. Tak ada maksud lain selain menanyakan kapan Dimas akan pulang. Helaan nafas kasar keluar dari hidung mancung Andre setelah melihat ketiga sahabatnya itu.
"Andreeeeeeeeee?!" Teriak mereka dengan kompak, bahkan teriakan itu begitu keras sehingga mengundang para anak kampus yang lain yang memang berada disekitar mereka. Sedangkan Andre, jangan ditanya lagi wajahnya kini sudah berubah dingin. Yaa meski memang wajahnya sudah datar, tapi karena sikap ketiga sahabatnya itu membuat ekspresi Andre semakin dingin dibuatnya.
Septian : "Andreee, kapan Dimas balik? Gue udah enggak sabar pengen oleh-oleh." Ucapnya ketika Andre sudah keluar dari mobil.
Amar : "Alaaaah dari kemarin loe juga bilang begitu. Alasan loe masih saja sama."
Ilham : "Sudah kalian ini sama saja, berharap akan dapat oleh-oleh. Lagipula dia ke London karena tesisnya yang tertunda bukan karena liburan." Kini Ilham yang bersuara.
Amar : "Kita bertiga itu sama saja, jadi jangan sok bijak deh lie Ham."
Begitulah trio jumpling itu, mereka masih saja berdebat dengan masalah yang sama yaitu harapan hadiah yang dibawa oleh Dimas. Andre yang sudah jengah dengan perdebatan ketiganya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Sehingga membuat ketiganya tanpa sadar kebilangan duplikat dari Dimas itu.
Ilham : "Stop!! Kalian ini, lihat Andre sudah hilang." Septian dan Amar langsung melihat ketempat dimana Andre sebelumnya berdiri.
Septian : "Apa Andre hilang ditelan bumi Mar?" Pertanyaan aneh itu muncul dari mulut Septian.
Amar : "Sepertinya bukan hilang ditelan bumi, tapi diam-diam dia memiliki ilmu. Sungguh mencurigakan."
Ilham : "Ya Allah kenapa Engkau memberikan hamba sahabat yang sangat ajaib seperti mereka." Gumamnya dalam hati.
Septian : "Loe sehat kan Ham, kenapa ekspresi loe ini berbeda." Amar juga ikut mengangguk.
Ilham : "Bodo ah bodo amat. Gue pergi aja daripada harus tambah jumpling kaya kalian." Gerutunya kesal dan meninggalkan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Huahaha. . ."
Sedangkan Amar dan Septian langsung tertawa lepas melihat wajah kesal dari Ilham. Pasalnya kedua lelaki ini memang senang sekali mengerjai Ilham, karena dari ketiganya Ilham lah yang lebih sensitif.