Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 49


__ADS_3

Arul : "Ma.maksud Kak Dimas apa?" Ucapnya bingung. Dimas hanya tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tampakkan pada siapapun kecuali pada keluarganya dan juga gadis kecilnya siapa lagi jika bukan adinda.


Dimas : "Kita hanya manusia biasa yang tak luput dari salah maupun dosa baik itu disengaja ataupun tidak. Ingat satu hal, apapun yang kita lakukan dan apapun yang kita dapatkan semua akan kembali pada pemilik-Nya, semua hanya titipan yang Tuhan berikan pada kita termasuk orang yang kita cintai sekalipun. Hal itu yang membuat saya sadar bahwa kita tetap akan kembali ke tanah karena kita hanya hidup sementara semua yang ada disini tidaklah kekal dan juga hanya sebuah titipan termasuk harta maupun nyawa. Jadi tetaplah pada jalurnya, jangan menjauh sedikitpun apapun yang terjadi, karena apa yang kita lakukan pasti ada balasannya."


Arul semakin tertegun dengan cerita Dimas, meski ia tidak mengetahui secara pasti cerita hidup orang yang ada didepannya itu tapi bisa ia pastikan bahwa Dimas pernah berada dititik yang tidak pernah ia bayangkan. Karena dititik itulah Dimas kehilangan kedua orangtuanya sekaligus, kecelakaan yang merenggut orang yang ia cintai. Itulah yang ia ketahui dari cerita sahabtanya.


Arul : "Lalu apa yang Kak Dimas lakukan disini? Ini sudah sangat malam, apa Kak Dimas sedang mengerjakan sesuatu? Atau sedang ada masalah lain?"


Dimas : "Hidup memang terkadang ada masalah tapi itu kembali lagi ke diri kita sendiri, bagaimana kita mengatasinya dan bisa melaluinya dengan sebaik mungkin. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan karena besok harus sudah siap, tapi karena ada acara ini saya harus membagi pekerjaan saya meski harus lembur setiap malam. Masjid adalah tempat yang nyaman untuk saya, maka dari itu saya datang kemari, disini kita bisa menenangkan fikiran kita sendiri, belajar dewasa dari apa yang pernah kita lalui sebelumnya, belajar menerima dan ikhlas."


Arul : "Yaa saat ini Arul sedang belajar untuk dewasa ikhlas dan menerima meski sebenarnya iti sangat susah untuk dijalani. Tapi, apa Kak Dimas tidak lelah harus membagi kesibukan? Arul lihat Kakak sangat sibuk, teman Kak Dimas saja sudah istirahat terlebih dahulu, aku yakin dia pasti lelah."


Dimas : "Dia Andre." Sambil menunjuk lelaki yang sudah tidur nyenyak diatas sajadah berbantalkan tas ranselnya. "Dia adalah Adik pertama saya dan Septian adik kedua saya. Kamu pasti tahu siapa Septian, karena dia yang selalu membuat PPA terlihat hidup. Andre selalu bersama saya kemanapun saya pergi maka dari itu dia terlihat sangat lelah, Karena hal itu saya memintanya untuk istirahat terlebih dulu. Berbeda dengan si bontot yang selalu keluar mencari kesenangan dengan Amar juga Ilham, karena dia mudah bosan untuk menetap pada satu hal." Arul mengangguk paham. "Jika kau ada masalah cobalah untuk memilih apa yang terbaik untuk hidupmu, cobalah untuk tetap tenang dalam segala hal, karena jika kita memilih jalan hanya karena emosi semua akan sia-sia maka dari itu kita harus bisa setenang mungkin dan senyaman mungkin. Baiklah, sekarang kembalilah ke Aula, karena ini sudah sangat malam sebentar lagi subuh dan sudah seharusnya kamu istirahat. Jangan sampai Yayak mencarimu dan membuatmu berada dalam masalah yang akan menyusahkanmu."


Arul mengangguk dan segera bangkit, sebelum ia melangkah ia melihat Dimas terlebih dahulu ada rasa nyaman ketika berbicara dengan seorang Raja Es itu entah apa yang membuatnya merasakan itu tapi memang itulah yang ia rasakan.


Ketika Arul melangkah keluar, Dimas kembali ketempat duduknya semula. Ia kembali pada laptop didepannya dan kembali dengan wajah serius tanpa ekspresi, bahkan sebelum Arul benar-benar sampai di teras Masjid ia melihat perubahan wajah Dimas dengan cepat wajah dingin dan juga datar.


Arul : "Bahkan Kak Dimas kembali pada mode awalnya, mode dingin dan datar dengan julukan Raja Es. Apa dia selalu bersikap seperti itu dengan orang lain? Hidupnya seperti penuh dengan misteri karena tidak banyak orang yang tahu tentangnya." Gumamnya dalam hati.


. . .


Waktu menunjukkan pukul 04:25 menandakan Subuh sudah hampir tiba, namun Dimas masih berkutat dengan layar yang berada didepannya. Ia hanya tidut sebentar untuk mengistirahatkan matanya walau sejenak. Sampai akhirnya Andre terbangun karena merasa ada pergerakan dari benda pipih didekatnya.


Andre : "Euugh!" Lenguhnya dengan suara serak khas bangun tidur. Andre membuka matanya secara perlahan, ia langsung menatap seseorang disampingnya. "Apa kau tidak tidur sama sekali?" Dimas hanya diam. "Hei, jawablah pertanyaanku Dim." Dimas langsung menoleh.


Dimas : "Kau sudah bangun?" Andre mengangguk. "Bukalah matamu, ini sudah hampir subuh, bersiaplah untuk adzan."

__ADS_1


Andre : "Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku Dim. Baiklah aku akan segera bersiap."


Andre langsung bangun dan mengambil air wudhu. Sedangkan Dimas hanya menatap kepergiannya. Setelah selesai ia langsung mengambil tempat untuk melaksanakan dua rakaat shalat sunnah. Hal itu biasa ia lakukan sebelum Subuh. Usai shalat Andre melafalkan doa untuk memohon pengampunan dan memasrahkan urusan dunia kepada-Nya.


Andre segera berbalik menatap seseorang didepannya, ia melihat jam dinding, waktu menunjukan pukul 04:45 saatnya adzan berkumandang, ia kembali berdiri melangkah munuju kearah microphone meluruskan niatnya membaca doa kemudian adzan berkumandang. Dimas langsung membereskan semua berkas dan bangkit untuk mengambil air wudhu. Tak lama kemudian para anggota yang memang seorang Muslim datang ke Masjid untuk melaksanakan kewajibannya.


Amar : "Aah ternyata Andre yang adzan, gue kira si Dimas." Ucapnya ketika sudah didepan Masjid.


Firman : "Mereka memiliki suara yang hampir mirip ketika adzan." Amar terkejut karena ada seseorang disebelahnya, bahkan ia hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh Arya dan Septian. "Kenapa loe?"


Amar : "Kaget gue, gue kira enggak ada manusia deket gue, ternyata kalian udah disini." Sambil mengusap dadanya.


Ilham : "Lagian loe kenapa ninggalin kita, ha? Mau dapat Unta sendiri loe."


Amar : "Sory deh, gue buru-buru kesini pengen denger Dimas adzan eh taunya, si Andre."


Septian : "Iya ih kenapa masih pada disini sih, gue udah enggak kuat nih." Jawabnya tapi masih dengan mata terpejam.


Arya : "Ehmm Sep, mata loe tolong dibuka dulu deh ya, gue enggak mau narik loe kaya tadi lagi. Loe berat banget soalnya." Yang lain terkekeh.


Akhirnya mereka segera masuk ke Masjid, namun sebelum itu ia mengambil air wudhu terlebih dahulu. Setelah selesai barulah mereka berbaris dengan rapi tanpa meninggalkan tempat yang kosong.


Tak lama dari mereka, para anggota baru juga mulai memasuki Masjid. Untuk yang akhwat telah disediakan sendiri dengan pembatas yang membedakan akhwat maupun ikhwan. Setelah menunggu selama sepuluh menit akhirnya suara iqamah berkumandang, dan kali ini Dimas yang melakukannya. Hal itu membuat yang lain terkejut tetapi tidak untuk Andre, karena ia tahu jika Andre yang adzan maka Dimas yang iqamah begitupula sebaliknya.


Semua yang ada di Masjid begitu terpukau dengan suara Dimas yang membuat mereka tenang. Banyak yang menerka-nerka siapa yang mengumandangkan iqamah karena mereka tidak tahu jika itu suara Dimas. Jika mereka tahu siapa yang mereka kagumi maka mereka akan berpikir lagi karena itu adalah Raja Es Nusa Bangsa atau malah sebaliknya.


"Akhirnya bisa dengar suara Dimas." Gumam Yayak, Septian, Amar dan Ilham dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya mereka melaksanakan shalat subuh berjama'ah, kali ini Indra yang ditunjuk sebagai Imam setelah sebelumnya MBA sebagai Imam pada shalat Isya. Shalat kali ini terasa begitu khidmat tanpa ada gangguan sedikitpun termasuk listrik padam. Usai shalat mereka yang akhwat berhambur keluar Masjid, sedangkan para ikhwan ada yang masih tinggal di Masjid dan ada pula yang keluar.


Vania : "Waaah suara siapa tadi ya? Gue penasaran banget sama yang punya itu suara."


Amel : "Bener banget, pokoknya gue harus tahu siapa yang tadi iqamah." Ucap Amel bersemangat.


"Itu suara Bang Dimas." Seketika Amel, Vania dan Adinda yang berada disana langsung menoleh kesumber suara. Orang itu tak lain adalah Adit.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Salam hangat dari Author...

__ADS_1


__ADS_2