
Melinda : "Baiklah Minggu depan kita balik ke Indonesia." Setelah membicarakan perihal kepulangan mereka. Sambungan pun terputus dan mereka diam dengan pemikiran mereka sendiri.
Tak banyak yang mereka lakukan, mereka segera mengurus dan mengatur ulang jadwal mereka untuk Minggu depan, mereka memutuskan untuk pulang bersama dan bertemu di Bandara saat mendarat di Jakarta nantinya.
Arul masih memeluk Adinda dengan erat, dengan suara tangisnya yang belum mereda Arul tetap diam tak berkata sedikitpun. Kini mereka sudah berada dikamar milik Adinda, Ia membawa sang Adik ke kamarnya karena ia takut jika membiarkan Arul sendiri maka kamar itu akan berubah menjadi berantakan. Adinda mengusap dengan lembut punggung adiknya itu, seakan merasakan sebuah ketenangan secara perlahan tangisnya mulai mereda. Tanpa sadar Arul mulai terlelap mendapat usapan halus dari sang Kakak.
"Tidurlah sayang, istirahatkan hati dan fikiranmu untuk sejenak. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kau pikirkan, Kakak tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Saat ini hanya kau dan Kak Dimas yang Kakak punya, jangan sampai semua tentang mereka membuatmu semakin merasakan sakit lebih jauh lagi. Karena Kakak tidak bisa melihatmu menderita seperti ini, cukup sampai disini saja, cukup sudah tidak akan ada lagi yang seperti ini. Kakak janji akan selalu ada untukmu kapanpun dan dimanapun, Kakak sayang kamu, dan Kakak mencintai kamu. Kau harus bahagia sayang." Gumamnya dalam hati, meski masih terisak ia tetap mengusap kepala sang adik dengan lembut sesekali ia mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
Kemudian Adinda beranjak keluar dari kamar tak lupa ia membawa buku dan juga ponselnya. Adinda turun kelantai satu dan melangkah keruang belajar miliknya yang berada tepat disudut ruang keluarga. Namun ia kembali mengingat kebersamaan bersama keluarganya dulu sebelum perpisahan ini terjadi. Diruang itu mereka menghabiskan waktu bersama bermain, belajar dan berkumpul. Ruangan yang dulu digunakan sebagai ruang bermain kini beralih menjadi ruang belajar milik Adinda. Tetapi ia jarang sekali menempatinya karena ia lebih nyaman berada di kamarnya sendiri.
Mengingat semua itu membuat Adinda tersenyum kecut karena pada akhirnya mereka tetap berpisah dengan semua janji yang hanya tinggal janji dan tanpa pernah dibuktikan sedikitpun. Akhirnya Adinda melangkah ke teras belakang rumah, dengan halaman yang luas dengan taman buatan yang di desain oleh Adinda sendiri dan hanya dibantu oleh Arul dan Bi Narti Asisten rumah tangganya.
Bi Narti : "Non mau kemana? Ini sudah jam 9 malam, apa Non Dinda ingin sesuatu?" Mendengar hal itu Adinda membalikan tubuhnya melihat Jam dinding, Arul terlalu lama menangis hingga tak terasa kini sudah malam. Kemudian ia beralih menatap Bi Narti. Bi Narti yang melihat wajah sendu Adinda langsung memeluknya. "Non Adinda kenapa?"
__ADS_1
Adinda : "Bi, apa kami tidak boleh bahagia? Kenapa mereka begitu kejam pada kami, dan Arul hiks... hiks..." Ucap Arul sambil membalas pelukan Bi Narti. "Aku enggak masalah jika mereka berbuat seperti itu padaku, tapi aku tidak ingin Arul ikut merasakannya juga. Sakit saat melihat adik ku seperti itu, ia terlihat sangat menderita karena mereka semua. Aku enggak sangguo lihat dia seperti itu hiks..." Bi Narti masih setia mendengarkan ucapan Adinda.
Bi Narti : "Non... Non Adinda harua sabar untuk semua ini, Bibi tahu bagaimana keadaan kalian hingga sekarang, Bibi juga merasakan apa yang kalian rasakan. Aden sangat terpukul dengan perpisahan Tuan dan Nyonya tetapi dia hanya memendamnya saja dan tidak protes sedikitpun. Aden merasa tertekan, selama ini hanya Nona yang Aden miliki, terlepas dari perpisahan orangtua kalian. Non Dinda harus kuat, demi adik Non sendiri! Non harus bisa bangkit untuk kebahagiaan Aden juga Non. Semua demi kebahagian kalian, jadi Non harus selalu semangat berjuang, jangan lemah Non jangan biarkan mereka puas dengan meninggalkan kalian, buktikan pada Tuan dan Nyonya bahwa kalian itu bisa, kalian tidak lemah!" Ucap Bi Narti masih dengan mengusap punggung Adinda dengan lembut.
Adinda : "Jujur sebenarnya Adinda udah enggak kuat Bi, apa yang mereka pikirkan hingga memutuskan untuk berpisah?! Selama ini Adinda mencoba untuk mengerti alasan mereka, Adinda mencoba untuk memahami semua itu tapi Adinda rasa itu hanya sekedar alasan saja yang mereka buat untuk mendapat kebebasan mereka. Apa mereka tidak memikirkan perasaan Adinda? Perasaan Arul? Mereka berpisah saat Arul, adik aku masih di Sekolah Dasar Bi. Apa Bibi tahu bagaimana perasaan kami saat itu? Sakit Bi tapi tidak mengeluarkan darah sedikitpun dan yaa akan sulit untuk di obati bahkan hanya sekedar dibawa ke dokter akan sangat sulit. Hiks... Kami sudah memohon pada mereka untuk tidak berpisah. Adinda sudah memohon agar mereka memikirkan kembali keputusan itu dan jangan mengorbankan perasaan Arul. Tapi. . . Mereka tetap berpisah dengan mengucapkan seribu kata janji yang tidak berarti hingga saat ini." Adinda masih menangis, bahkan tangisnya semakin kencang jika memikirkan bagaimana perasaan Arul saat itu.
Bi Narti : "Nona harus sabar, harua kuat semua demi Aden. Jangan sampai Nona terlihat lemah karena ketegaran Nona adalah kekuatan bagi Aden. Maka dari itu jangan tunjukan kelemahan Nona kepada siapapun termasuk pada Tuan dan Nyonya, bahkan Aden. Meskipun sebenarnya Aden tahu bahwa Nona mencoba untuk kuat tapi Aden masih percaya kalian pasti bisa menghadapinya. Walau badai menghadang dan berbagai rintangan tepat berada didepan, tetaplah maju dan terus berjuang jangan biarkan kelemahan itu mejadi onggok yang akan membuat Nona semakin terpuruk. Nona harus semangat demi Aden." Ucap Bi Narti memberikan semangat, bahkan beliau terlihat menggebu-gebu karena sangking semangatnya. Adinda tersenyum dan berkata. . .
Adinda : "Terima kasih karena Bibi selalu ada untuk kami, selalu menghibur kami ketika kami sedih bahkan terpuruk. Terima kasih atas semua yang Bibi lakukan untuk kami berdua, Bibi tidak pernah lelah untuk mengurus kami dan terus bersabar bertahan untuk menghadapi sifat dan sikap kami selama ini." Adinda kembali memeluk Bi Narti dengan erat bahkan tidak ada jarak diantara mereka sedikitpun. Bi Narti juga membalas pelukan Adinda karena saat ini itulah yang Adinda butuhkan.
Seorang anak yang seharusnya mendapatkan perhatian, kasih sayang juga cinta yang lebih untuk masa depannya bahkan semua itu seharusnya terjamin, mengingat keluarganya berasal dari keluarga terpandang dan terkenal karena kekayaannya. Terlihat begitu harmonis saat itu dan jauh dari gosip miring bahkan hampir tidak ada sama sekali. Namun apa mau dikata, banyaknya harta melimpah tidak akan menjamin sebuah kebahagiaan terutama untuk keluarganya. Memang kebutuhan secara lahir pasti akan terpenuhi tanpa kekurangan sedikitpun, namun kebutuhan secara batin? Apakah akan terpenuhi sepenuhnya?
Setiap anak hanya membutuhkan perhatian, cinta juga kasih sayang dari orangtuanya. Bukan perpisahan yang akan membuat anak-anaknya mengalami trauma karena perpisahan dan keegoisna kedua orangtuanya. Apa yang sebenarnya mereka cari jika harta sudah banyak, keluarga yang rukun? Kebebasan yang mereka cari, kebebasan untuk pergi keluar tanla ada batasan. Semua itu karena mereka terlalu egois tidak memikirkan perasaan anak-anaknya yang telah menjadi korban.
__ADS_1
Alhamdulillah! akhirnya bisa update lagi...
minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin๐๐
Maaf untuk kakam semua jika Author punya salah dan kesalahn dalam membuat novel.
sekali lagi maaf.
Untuk Kakak semua, selalu jaga kesehatan yaaa!
Jangan lupa like, vote and comment.
Salam hangat dari Author!
__ADS_1