
Adit : "Tentu saja tidak salah, haha. Tetapi kita tetap akan satu Kampus."
Amel : "Maksud loe kita satu Kampus?"
"Nusa Bangsa!!" Jawab Vania, Geraldi dan Adit secara kompak. Mendengar hal itu, Amel langsung mendengus kesal. Sedangkan yang lain langsung tertawa melihat wajahnya.
Amel : "Hei kalian bocah, jangan ikut tertawa."
Alvin : "Meski usia kita masih muda, tetapi badan kita jauh lebih besar dari Kakak."
Amel : "Yaa karena kalian itu bongsor, jadi wajar badan kalian besar. Bahkan itu namanya pemborosan."
Nauval : "Pemborosan? Kami ini rajin menabung, bahkan untuk jajan saja kami belajar hemat."
Azriel : "Ya benar itu, kita ini memang lelaki penghemat." Alvin dan Nauval mengangguk setuju sedangkan Arul hanya diam menyaksikan.
Amel : "Jelas saja kalian ini pemborosan, kalian tidak kasihan sama yang punya badan kecil?" Mereka mengernyit bingung. "Kalian tahu kenapa mereka punya badan kecil?" Mereka kompak menggeleng.
Azriel : "Mungkin karena itu sudah keturunan dari keluarganya Memel."
Nauval : "Atau karena mereka memang kecil dan punya gen yang berbeda."
Amel : "Jawaban kalian salah." Sergahnya dengan cepat.
"Lalu?" Tanya mereka kompak, sedangkan Geraldi dan lainnya nampak menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut gadis itu.
Amel : "Itu karena jatah badan mereka sudah kalian ambil, itulah kenapa badan mereka masih tetap kecil." Jawabnya tertawa puas melihat wajah melongo adik juniornya itu. Seketika mereka sadar.
"Tidak ada hubungannya!!!" Jawab ketiganya kompak. Sedangkan yang lain ikut tertawa.
Adit : "Sumpah gue hampir saja masuk perangkap." Ucapnya sambil tertawa.
Mereka langsung tertawa bersama seperti tidak ada beban sedikitpun.
Amel : "Tapi beneran kalian lanjut ke Nusa Bangsa?" Mereka menangguk bersama. "Waaah gagal donk gue jauh dari kalian semua, kecuali Adinda. Gue juga lanjut kesana." Cicitnya kemudian yang lain kembali tertawa.
Geraldi : "Sudah nikmati saja jika kita harus satu Kampus. Kita ini memang ditakdirkan untuk bersama dan tak terpisahkan."
__ADS_1
"Loe aja kali, kita enggak!" Jawab semuanya dengan kompak. Sedangkan Geraldi hanya terkekeh mendengar itu.
Adinda : "Loe lihat itu Din? Teman loe yang satu ini memang sepertinya sedikit berkurang, enggak mau gue dekat dia. Loe lanjut kemana? Gue ikut loe saja deh." Tanyanya dengan mata berbinar.
Adinda yang sejak awal fokus dengan bukunya, kini beralih menatap Amel. Sesaat Amel menunggu jawaban Adinda masih dengan mata berbinar.
Adinda : "Aku. . . Melanjutkan ke Nusa Bangsa." Jawabnya dengan sesal. Jederrrr!!! Amel yang mendengar langsung lemas. "Maaf jika tidak sesuai dengan ekspektasimu Amel."
Yang mendengar itu langsung tertawa puas, termasuk Adinda dan Arul.
Azriel : "Wuahaha!! Niat awal ingin mengikuti Kak Dinda, tapi sekarang kembali lagi. Memang kalian itu tidak akan terpisah." Ucapnya sambil tertawa.
Amel : "Hei bocah tengil, berani sekali kamu ketawa seperti itu. Jauh-jauh deh loe dari gue, hus sana." Jawabnya sambil mengibaskan tangan, kemudian menatap Adinda. "Loe serius lanjut ke NB Din? Bareng sama mereka lagi donk?" Adinda mengangguk. "Ya Allah harus dengan mereka lagi? Gue bosan Dinda, kenapa harus mereka lagi sih, gue kan ingin yang baru." Rengeknya.
Adinda : "Meski ada yang baru, yang lama jangan dilupakan bukan?" Jawaban Adinda membuat Amel mendengus.
Geraldi : "Sudahlah, terima saja kenapa sih Mel, mungkin ini memang sudah nasib loe." Ucapnya dengan senyum yang tak surut.
Adit : "Lagian, loe juga Mel. Kenapa sih pengen banget jauh dari kita semua. Nanti jauh-jauh loe rindu lagi."
Amel : "What!! Fitnah baget loe Dit, yang ada loe yang akan rindu sama gue. Secara gue ini kan primadonanya Mahakarya." Yang mendengar itu langsung bergaya seakan muntah.
Alvin : "Sory deh Kak, Alvin, Nauval sama Azriel pilih Kak Dinda saja. Jadi maaf maaf saja." Amel langsung menatap tajam, namun kemudian mengerucutkan bibirnya.
Adit : "Tolong itu bibir dikondisikan ya Mel, gue kuncir itu pakai karet tahu rasa. Bisa dipastikan itu bibir semakin maju." Amel mendelik.
Amel : "Adinda!!" Teriaknya, sedangkan si empunya nama langsung menutup telinga, tapi tetap menatap Amel. "Lihat mereka." Adinda mengernyitkan dahinya.
Adinda : "Kenapa dengan mereka?"
Amel : "Aah loe mah sama aja, loe belain mereka." Adinda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Hemmm, oke. Lagian yah siapa juga yang akan rindu sama kalian semua, gue engga pernah merasa seperti itu." Belanya pada diri sendiri.
Vania : "Yang benar? Terus siapa yang setiap liburan selalu bilang . . . Gue rindu sama kalian, kangen kumpul lagi. Kapan sih liburan ini berakhir, gue bosan di Rumah terus. . ." Mendengar itu, Amel langsung memelototkan kedua bola matanya.
Amel : "Kyaaaaa!!! Vania, loe! Awas loe yah." Amel langsung beranjak dari duduknya dan mengejar Vania yang sudah terlebih dahulu lari
Akhirnya mereka kejar-kejar bagaikan anak kecil yang rebutan mainan. Sedangkan yang lain hanya melihat hal tersebut sebagai tontonan gratis yang menghibur, sebelum Ujian dilaksanakan minggu depan.
__ADS_1
Geraldi : "Ziel?!" Azriel menoleh. "Kok loe mau sih punya sepupu se-bar bar dia." Adit dan Vania yang mendengar langsung menatap Azriel, menunggu jawaban dari bocah SMP itu.
Azriel : "Hecmm sebenarnya gue juga enggak mau Kak, tapi yah mau bagaimana lagi sudah terlanjur terdaftar dari sana. Gue juga kan lahirnya belakangan dari dia, coba gue lahir duluan pasti gue bakal bilang ke Tante buat enggak lahirin itu orang. Yaa dan juga. . ." Kata-katanya terhenti karena kedua temannya.
"Karena terpaksa!!!" Jawab Alvin dan Nauval dengan kompak.
Hal itu semakin membuat mereka tertawa terbahak. Tak terkecuali Azriel maupun Arul yang sejak tadi hanya diam.
Adit : "Waaah parah banget kalian bertiga. Angan sampai itu Amel dengar, jika dia dengar kalian pasti langsung dapat hukuman." Mereka langsung bergidik membayangkan.
Adinda : "Sudah-sudah kalian ini selalu saja seperti itu. Untung saja Amel masih sama Vania, jika dia dengar kalian tahu rasa. Sekarang fokus sama buku kalian, kita berkumpul karena belajar untuk Ujian. Ini hanya mainan saja, kalian berdua juga udah tua ngajain yang tidak baik." Omelnya pada Geraldi dan Adit.
Alvin : "Hal yang seru jangan sampai terlewat donk Kak." Jawaban itu langsung diangguki Nauval, Geraldi maupun Adit.
Geraldi : "Lagian gue juga belum tua Dinda, kita saja masih seumuran. Masih fresh, kecuali Pak Bondan tu. Baru sudah tua."
Adit : "Benar banget tuh." Celetuk Adit.
Adinda : "Kalian berdua ini sama saja, sudah mau lulus tapi tetap saja seperti bocah." Gerutu Adinda pada kedua temannya.
Melihat Adinda yang sudah mendekati tingkat kekesalan, Geraldi dan Adit langsung tersenyum kikuk.
Geraldi : "Baiklah, kami tidak akan seperti itu. Jadi tolong wajahmu kembali seperti semula." Mohonnya pada Adinda.
Adit : "Please Din, jangan seperti itu mukanya." Kini giliran Adit yang berbicara.
Melihat wajah Adinda yang masih sama membuat Geraldi dan Adit gelagapan. Dia tidak ingin gadis cantik itu kembali sedih apalagi kesal dengan mereka.
Alvin, Nauval, Azriel dan Arul yang sudah mengetahui kedekatan 5 anak manusia itu hanya terkekeh. Karena memang begitulah Gerladi dan Adit jika sudah berhadapan dengan Adinda.
Seketika wajah Adinda kembali menghangat dan tidak dingin seperti sebelumnya. Sedangkan Gerladi dan Adit langsung lega.
Adinda : "Berjanjilah jangan seperti itu lagi, baaimanapun memang seperti itulah Amel. Yaa meski terkadang sering bar bar." Ucap Adinda tersenyum tipis.
Geraldi : "Baiklah gue sama Adit janji, tapi enggak janji juga jika Amel sudah berlebihan." Jawabnya dan menujukkan deretan gigi putihnya, begitu pula dengan Adit.
Adinda : "Kalian ini, selalu saja seperti itu." Adinda menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ya Geraldi, Adit, Vania, Amel dan Adinda telah berteman sejak awal masuk SMP. Mereka bersahabat hingga saat ini, dan akan berlanjut hingga kuliah maupun kehidupan selanjutnya. Gerladi dan Adit sangat menjaga ketiga gadis yang ada disisi mereka itu, karena bagi mereka ketiga gadis itu adalah mutiara yang harus dijaga dan dilindungi. Sehingga jika salah satu dari gadis itu sedih, mereka akan mencari de untuk menghibur kesedihan itu. Seperti halnya dengan kehidupan Adinda dan kedua orangtuanya yang berpisah. Itu sudah mereka ketahui sejak awal, meski mereka hanya mendengar dan tahu dari Amel.