Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 66


__ADS_3

Tak berselang lama sebuah getaran mendarat pada ponsel yang kini digenggam oleh Andre. Sebuah panggilan vidoe call . Tertulis nama Bontot dilayar, Andre langsung menggeser tombol berwarna hijau. Belum sempat ia mengucap salam, Septian langsung berteriak yang membuat Andre menjauhkan ponselnya seketika.


Septian : "Abaaaaaaaaaaang!" Teriaknya dengan kencang membuat seseorang disebelahnya langsung memukul kepala Septian dengan kesal. Orang itu tak lain adalah Ilham dan Amar.


Amar : "Apa loe lahir dari toak Masjid Sep? Kenapa loe selalu saja berteriak seperti itu?!" Dengusnya kesal.


Ilham : "Memang kebiasaan itu bocah, kalau bukan karena Dimas dan Andre udah gue buang loe ke Masjid yang butuh toak." Ucap Ilham tak kalah kesal, sedangkan Septian hanya acuh dan melirik tak senang pada keduanya. "Apa loe lihatin kita kaya gitu? Gue colok loe." Lanjutnya.


Septian : "Kalian sensi banget sih sama gue." Dengusnya dan kembali menatap ponsel. "A**baaaang kenapa loe tega sama gue? Loe mau photo sama Andre, tapi sama gue kenapa enggak?! Lalu kalian kenapa enggak pamit dulu ke gue, harusnya loe berdua pamitan jadi gue bisa antar ke Bandara, lah ini salam aja enggak langsung kirim foto. Kalian berdua memang menyebalkan." Andre yang melihat tingkah kekanakan Septian langsung tertawa terbahak membuat seseorang diseberang sana mendengus kesal.


Andre : "Kali ini gue yang menang, dan loe hempas aja sana." Kata Andre sambil meneruskan tertawanya. "Loe lihat disebelah gue ini siapa? Dialah Dimas Surya Adhitama yang baru saja foto sama gue, daripada sama loe yang berisik banget." Ucapnya dengan penuh penekanan sambil merangkul bahu Dimas. Aksinya itu semakin membuat Septian merasa sangat kesal dan cemburu.


Septian : "Awas aja kalian berdua, dan loe Bang kenapa tega sama gue hiks... benar-benar tega kalian berdua." Ucapnya pura-pura sedih.


"Enggak usah drama loe!" Teriak Amar juga Ilham dan kini ditambah dengan Yayak yang baru datang bergabung. Hal ini semakin membuat Andre tertawa puas karena tidak ada yang membela Septian. Sedangkan Dimas masih tetap sama pada sikapnya.


Yayak : "Loe itu kebiasaan kalau ditinggal dinas keluar pasti tingkah loe kaya bocah. Bosen gue lihatnya Sep." Dengus Yayak pada Septian. Sedangkan Ilham dan Amar ikut mengangguk tanda setuju.


Septian : "Abaaaaang loe tega sama gue, lihat tuh Yayak ngatain gue. Emang loe tega apa kalau gue dijahilin sama sahabat loe ini. Sakit hati dedek Bang." Rengeknya, sedangkan Dimas hanya memggelengkan kepala saja.


Dimas : "Cahya." Panggilnya tegas. Sedangkan Yayak yang dipanggil langsung bersikap acuh.


Yayak : "Baiklah gue nyerah deh, dia memang adik kesayanganmu Dimas Aditya. Kau selau saja memanjakan kedua adikmu ini, yang pertama duplikat loe banget yang datar juga dingin sedangkan yang kecil ini selalu seperti bocah TK." Balasnya dengan sedikit kesal. Sedangkan Septian langsung tersenyum senang. "Jangan senang dulu loe ya, ini kesempatan gue buat hukum loe karena kedua Abang loe yang datar itu enggak disini." Yayak tersenyum puas melihat wajah Septian.


Septian : "Kau lihat Dim, sahabat loe ini memang benar-benar menakutkan. Pokoknya setelah loe pulang nanti loe harus bawain gue oleh-oleh yang banyak terus harus ajak gue liburan ke Korea atau ke Jepang." Racau Septian pada Dimas setelah ponsel Andre dihadapkan kearah sang Abang, begitulah si bontot ketika ia ditinggal untuk kunjungan kerja, layaknya bocah yang meminta mainan pada Ayahnya ketika ditinggal untuk dinas keluar.


Dimas : "Saya tidak bisa janji, karena setelah ini saya akan langsung ke London untuk urusan tesis dan hanya Andre yang pulang ke Indonesia." Penjelasan Dimas membuat Septian mengerucutkan bibirnya yang semakin membuat Andre tak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Andre : "Udah loe tenang aja, nanti saat gue pulang gue bawain itu patung air mancur jadi setiap pagi loe enggak perlu tuh mandi, loe langsung aja disiram pakai air karena gue kasian sama Bi Arum harus bangunin bocah yang susah kaya loe itu"


Septian : "Andreeee! Heh oke awas aja loe kalau balik pokoknya gue marah." Mendengar itu Andre hanya tersenyum saja. "Yaudah deh udah dulu ya gue mau balik nih, soalnya malam ini gue pulang ke rumah. Ehmm dan ya jaga diri kalian baik-baik disana, Bang selalu jaga kesehatan jangan sampai telat makan ya." Kini suara Septian terdengar serius namun jika ditelisik lebih jauh lagi akan ada aura sendu disana. Meski Dimas maupun Andre menyadari hal itu tapi mereka tetap berusaha untuk tersenyum


Setelah Septian memutuskan panggilannya, Andre menyimpan kembali ponsel itu dibalik jas hitamnya dan membuka berkas yang ia bawa tanpa berniat untuk istirahat sedikitpun.


Tak berbeda dari Andre, Dimas juga melakukan hal yang sama namun apa yang Dimas pelajari jauh lebih banyak dari apa yang dipegang oleh Andre. Karena ia harus mempersiapkan segala keperluannya untuk cabang yang sudah tersebar di berbagai kota maupun negara.


Setelah lebih dari 1 jam di udara, Jet pribadi itu segera mendarat di Bandara Internasional Changi Singapura. Setelah turun dari jet, Dimas dan Andre langsung menuju Apartemen mewahyang berada di pusat kota dengan diantar oleh sopir pribadinya di Perusahaan.


* * *


Sedangkan dilain tempat, Adinda yang memang sudah memasuki rumah 1 jam yang lalu itu masih berdiam diri didalam kamar. Ia tidak ingin beranjak dari tempat ternyamannya itu, dengan masih setia pada benda pipih miliknya yang menampakkan sebuah gambar lelaki dengan senyum yang merekah. Foto itu tak lain adalah foto Dimas yang ia ambil saat mereka belum berpisah sebelumnya.


Setelah perdebatannya dengan sang Mama ketika ia baru pulang tadi, kini Adinda benar-benar tak ingin beranjak karena saat ini menurutnya hanya Dimas yang bisa membuat hatinya tenang, maka dari itu hanya ini yang bisa lakukan memandang foto Dimas.


Flashback On...


Bi Narti : "Wa'alaikumussalam Non, Alhamdulillah Non sudah pulang. Belum Non, Aden belum kembali sejak tadi siang." Ucapnya sedikit menunduk karena ia tidak tega melihat wajah Adinda yang sendu.


Adinda : "Baiklah, kalau begitu Dinda masuk ke kamar dulu ya Bi." Ucapnya dengan senyum mencoba bersikap tegar. Bi Narti mengangguk, dan Adinda segera melanjutkan langkahnya namun langkah iti terhenti karena suara seorang wanita yang baru saja turun dari lantai dua. Orang itu tak lain adalah Melinda.


Melinda : "Sayang, kamu baru saja pulang? Kamu dari mana saja sih, kok baru pulang?" Ucapnya dengan lembut untuk memperbaiki sikapnya siang tadi.


Adinda : "Adinda tadi ada urusan diluar, maaf jika Dinda baru pulang." Ia ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti kembali...


Melinda : "Baiklah, sekarang kamu masuk ke kamar terus istirahat ya. Oh iya apa kamu sudah memutuskan untuk ikut Mama?" Adinda langsung memdongak dan menatap mata wanita yang pernah melahirkannya itu.

__ADS_1


Adinda : "Apa maksud pertanyaan Mama? Apa Adinda pernah berkata ingin ikut salah satu dari kalian?" Kini emosi Adinda yang kembali mencuat setelah ucapan Mamanya tersebut.


Melinda : "Iya donk sayang, kamu dan Arse harus ikut Mama ke Jerman karena lingkungan disana bagus untuk kalian berdua, jadi kalian harus....." Kata-katanya terhenti oleh Reyhan.


Adinda : "Stop Ma, Adinda dan Arul tidak ingin ikut ke Jerman karena disinilah kami bisa hidup. Mungkin diawal kami merasa terbuang tapi setelah 5 tahun kami mulai terbiasa." Jawabnya yang kini sudah sedikit meredam emosi.


Melinda : "Tidak bisa seperti itu sayang, kalian harus ikut ke Jerman." Kini Melinda sedikit emosi karena penolakan dari Adinda.


Reyhan : "Apa yang kau lakukan Melinda?!" Ucapnya dengan tegas, tatapan tajamnya memyalang melihat Melinda. "Kita sudah membicarakan hal ini, jangan memaksa anak-anak untuk mengikutimu karena mereka punya keputusan sendiri dan kau sudah setuju tentang itu." Kini suaranya sedikit rendah namun penuh penekanan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Salam hangat dsri Author untuk kakak semuanya😊😊


__ADS_2