
Mentari Cafe . . .
Hening, itulah yang terjadi diantara kedua sejoli yang duduk dipojok dalam Cafe itu, tidak ada percakapan yang keluar diantara mereka. Sampai suara seorang pelayan membuyarkan keheningan itu.
Pelayang MC : "Maaf Mas sama Mbaknya, mau pesen apa?"
Dimas dan Adinda : "Lemon tea!" Jawab mereka kompak, yang kemudian diangguki oleh pelayan tersebut.
Adinda : "Kenapa kakak juga pesen itu? Kak Dimas ngikutin Dinda?" Dimas hanya diam tidak menjawab, hanya wajah datarnya saja yang masih kentara disana. "Dasar es balok!" Gumam Dinda yang mendapat tatapan tajam dari Dimas.
Setelah lima menit menunggu, pesanan mereka akhirnya sampai yang diangguki oleh Dimas dan dibalas senyum oleh Dinda.
Dimas : "Hari ini kamu ikut saya ke... "Kata-katanya terpotong oleh Dinda."
Adinda : "Kemana? Aku enggak punya banyak waktu, aku harus segera pulang karena Adik aku pasti sudah menunggu di Rumah."
Dimas : "Kamu tidak hanya ceroboh tapi juga cerewet!" Adinda hanya diam mendengar itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Ikut saya untuk ambil mobilmu di Bengkel." Hanya dijawab anggukkan oleh Adinda.
Setelah menghabiskan minuman, mereka langsung keluar dari Cafe dan segera menuju keparkiran untuk masuk ke mobil. Tidak ada obrolan yang tercipta dari keduanya, hanya keheningan saja dan sesekali Dimas melirik Adinda yang tengah melihat keramaian diluar jendela. Hampir tiga puluh menit mereka diperjalanan dan setelah lima menit akhirnya mereka sampai dibengkel tempat mobil Adinda berada.
Pak Haris : "Pak Dimas sudah sampai? Mau diambil sekarang mobilnya?"
Dimas : "Pak Haris kan saya sudah bilang, panggil Mas saja jangan Pak karena saya belum setua itu." Jawab Dimas dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Pak Haris adalah pemilik bengkel langganan Dimas sejak masih SMU dulu, ia adalah orang Jawa yang datang ke Ibu Kota untuk membuka usaha bengkel, dua tahun ia membuka usaha semua lancar namun setelah itu ia mendapat musibah karena sebagian dari bengkelnya terbakar karena arus pendek listrik. Pada saat itulah Dimas membantu Pak Haris untuk membangun usahanya kembali. Maka dari itu beliau sangat menghormati Dimas karena berkat bantuan yang ia berikan Pak Haris dapat mempertahankan usaha bengkelnya sampai sekarang.
Adinda : "Ternyata dia juga bisa hangat, tapi kenapa dia selalu bersikap dingin padaku apalagi muka datarnya itu." Gumam Adinda dalam hati.
Senyum hangat yang dikeluarkan oleh Dimas membuatnya penasaran, karena ia selalu bersikap dingin padanya. Lanjut ke Dimas dan Pak Haris...
Pak Haris : "Saya tetap harus menghormati Sampeyan Pak, karena jika tidak ada Sampeyan mungkin bengkel saya sudah tutup karena bangkrut dan saya tidak bisa menafkahi keluarga saya lagi." Kenang Pak Haris pada saat bengkelnya terbakar.
Dimas : "Sudah, mulai sekarang Bapak panggil saya Dimas saja jangan ada embel-embelnya Pak. Karena saya lebih muda dari Pak Haris." Jawab Dimas yang kemudian dianggukki oleh Pak Haris. "Kamu segera lihat mobilmu itu!" Menoleh pada Adinda.
Adinda : "Hecmm mulai deh mode dinginnya keluar." Gumam Adinda.
Dimas : "Saya dengar yang kamu katakan."
Pak Haris : "Kalian pacaran yah?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Pak Haris.
Dimas : "Bapak bercanda kan, mana mungkin saya punya pacar apalagi seperti gadis ceroboh itu."
Adinda : "Siapa sih yang mau pacaran sama es balok kaya Kak Dimas." Jawab Dinda pada Dimas. "Hehee enggak kok, Pak Haris ini ada-ada saja."
Pak Haris : "Kalian ini, saya juga pernah muda seperti kalian. Dulu saya dan ibu juga seperti kalian tapi lama-lama kami saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Cinta itu datang karena terbiasa seperti pepatah jawa itu witing tresno jalaran seko kulino. Maka dari itu saya doakan Kalian juga seperti itu."
Mendengar hal itu baik Dimas maupun Adinda hanya tersenyum kikuk, karena tidak mungkin mereka akan berdebat dengan orang yang lebih tua dari mereka. Kemudian Dimas langsung membayar administrasinya ke kasir.
__ADS_1
Dimas : "Kalau begitu, saya ambil mobilnya ya Pak, terima kasih dan sukses selalu untuk usahanya."
Pak Haris : "Iya Mas Dimas, Kalian juga hati-hati dijalan. Untuk Mbaknya juga hati-hati ya jika ada kejadian seperti ini lagi langsung saja datang kebengkel Bapak."
Adinda : "Iya Pak, sekali lagi terima kasih."
Dimas : "Pak Kami pamit dulu ya, sudah jam segini."
"Assalamu'alaikum" Salam mereka berdua bersama. Kemudian mereka masuk kemobil masing-masing, Adinda pulang kerumah dan tak lupa ia membawa kue yang dibawa oleh Dimas tadi. Sedangkan Dimas kembali ke Kampus karena akan ada rapat di PPA.
.
.
.
.
.
Untuk kita semua, mari jaga kesehatan dan jalankan aturan Pemerintah.
Cuci tangan menggunakan sabun, dan hindari keramaian.
__ADS_1
Salam hangat dari Author...