
Arya : "Apa kau tahu?" Andre menatap Arya. "CEO dari dyt.corp adalah sosok orang yang misterius, sama seperti Dimas."
"Shekar juga mengatakan pemilik Dyt.corp bernama Park Logan Lee. Sedangkan sang CEO asli bernama Kim Joon Ditya."
Andre : "Kim Joon Ditya?" Gumamnya pelan. "Siapa lelaki itu? Kenapa aku baru mengetahui Perusahaan ini sekarang?"
Arya : "Karena saking misteriusnya, Perusahaan ini menutup segala akses mengenai bisnis di dunia luar. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui Perusahaan ini. Satu hal lagi, tidak ada yang tahu sosok Tuan Kim Joon. Sekalipun karyawannya sendiri."
Andre : "Aku harus menyelidiki tentang orang ini. Kenapa firasatku mengatakan dia sangat mirip dengan Dimas?" Gumamnya dalam hati. "Baiklah, thanks untuk semuanya. Masalah id itu biar aku yang mengurus." Arya mengangguk lalu beranjak dari ruang itu.
.
.
Sore hari di Mansion Utama Adhitama. Semua orang sudah berkumpul, banyak yang datang dari mereka adalah para sahabat maupun anggota PPA yang memang mengetahui siapa Dimas sebenarnya.
Amar : "Wooaaah sudah ramai saja ini tempat." Semua mata menatap Amar. "Gimana, kangen sama gue enggak?"
Azriel : "Yailah Bang, baru juga beberapa jam masa iya sudah kangen." Ejeknya yang membuat Amar langsung mendelik.
Amar : "Eeh jumpling, bisa diem enggak loe?! Masih junior juga." Ucapnya kesal.
Yayak : "Lah kalian itu kan memang sama-sama jumpling." Amar langsung memberi tatapan tajam pada Yayak. "Apa loe? Itu mata minta dicolok, hah?! Amar langsung memberengut.
Amar : " Kyaaa! Loe ya Yak, awas aja gue aduin loe ke Abang gue. Oh iya, Ilham kemana kok enggak kelihatan sih itu bebeb gue."
Amel : "Idiiih, jijik gue dengernya."
Amar : "Eh elu ya bocah lampir, diem aja deh."
Amel : "Lah gimana gue punya telinga Bang, masa gue disuruh diem." Ucapnya sambil mengerucutkan bibir kedepan.
Adit : "Itu bibir dikondisikan dong Mel, minta dicium loe?" Amel mendelik.
"Noh si Geraldi siap." Ucapnya sambil terkekeh. "Wadaaauuu, sakit woy. Ini kepala gue sudah difitrahin." Ucapnya pada si pelaku yang tidak lain adalah Geraldi.
Ilham : "Itu si cewek satunya belum dateng?" Tanya Ilham yang baru datang dari arah dapur.
Adit : "Cewek? Siapa Bang? Diantara kita hanya Memel, Dinda, sama Vania."
Geraldi : "Kalau maksud Abang Vania, dia masih belum balik. Katanya sih lusa baru balik kesini. Kalau Adinda masih belum sampai." Ilham mengangguk mengerti.
Indra : "Bagaimana sudah sampai semua?" Mereka menggelengkan kepala. "MBA masih dijalan, barusan dia kirim pesan masih di unit sebelah."
Amar : "Aah, kembaran gue akhirnya muncul juga." Ilham memutar matanya jengah. "Lah, bentar ngapain dia di unit sebelah?"
Shinta : "Saudara dia ada disana, kebetulan Om Akbar memang punya Mansion di sebelah. Baru beberapa bulan sih." Amar mengangguk.
Yayak : "Oh iya, karena acara hari ini hanya pengajian. Bagaimana kalau kita yang cowok stand by disini? Sekalian kumpul-kumpul malem." Mereka mengernyitkan kening.
__ADS_1
Azriel : "Waah oke tu Bang, gue ikut deh. Bosan juga di Rumah, kebetulan besok weekend jadi gue ikut. Kalian bertiga, bagaimana?" Menatap Arul, Alvin dan Nauval.
Nauval : "Hecmm, boleh deh. Sekali-kali jumpling junior ikut si Boss." Alvin mengangguk setuju. "Loe bagaimana, Rul?"
Amar : "Eeeh tunggu. Siapa yang loe maksud si Boss?" Tanyanya menyelidik.
Alvin : "Lah si Abang dong, kan kita hanya junior. Sedangkan jumpling senior Abang." Amar mendelik tak percaya, hanya kawanan Azriel cs yang berani mengatakan itu.
Azriel : "Arul, bagaimana?" Tanya Azriel tanpa mempedulikan perdebatan jumpling junior dan senior.
Arul : "Aku tunggu Kakak dulu, bagaimana nantinya. Lagipula aku belum tahu hasil check up hari ini." Putusnya, Azriel yang mengerti hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Yayak : "Ini yang punya Mansion pada kemana sih? Dari tadi belum muncul juga."
Ucapan Yayak langsung mengalihkan perhatian mereka. Tak berselang lama...
Pastu : "Kalian sudah sampai? Apa sudah datang semuanya?" Tanya Pastu saat menuruni tangga dari lantai dua.
Indra : "Belum semua Bang. MBA masih di Unit sebelah, Firman masih menemani Adinda untuk check up. Sedangkan yang lain memang tidak mengetahui siapa Dimas sebenarnya, jadi hanya seperti biasanya yang ikut kesini." Pastu mengangguk mengerti.
Pastu : "Memang gadis itu sedang sakit apa? Kenapa dia harus check up?"
Tanya Pastu yang memang belum mengetahui pasti. Karena ketika di Pemakaman beberapa bulan lalu ia hanya mendengar sekilas tanpa bertanya lebih lanjut, ditambah masih dalam kondisi berduka.
Indra : "Eeh, ehmm beberapa bulan lalu Adinda sempat operasi Bang. Jadi dia harus sering check u**p satu bulan sekali ditemani Firman."
Amel : "Adinda waktu itu operasi karena syok Kak." Jawab Amel dengan wajah sendu. "Syok hypovolemik." Lanjutnya pelan yang membuat Pastu terkejut.
Pastu : "Hypovolemik? Kenapa gadis itu bisa terkena hal semacam itu?" Tanyanya. "Bukankah dia terlihat sehat, juga tidak ada hal yang membuat ia syok. Orangtuanya bahkan sudah berbaikan." Ucapnya dalam hati.
Amel : "Karena kepergian Kak Dimas, Kak." Jawabnya pelan namun masih bisa didengar.
Pastu tersentak mengetahui itu, ia langsung menatap Arul yang menunduk dengan wajahnya yang sendu.
Sedangkan tanpa mereka sadari Amar menggenggam tangan seseorang, berharap genggaman itu dapat menyalurkan menguatkan. Genggaman itu langsung dibalas senyum manis sang empunya tangan.
Yayak : "Om, Septian, Andre sama Arya kemana? Aku tadi lihat Arya diteras." Tanya Yayak mengalihkan pembicaraan.
Pastu : "Dia masih ada di Ruang kerja Andre. Septian masih di Kamar, kamu masuk ke sana saja. Segera ajak dia turun."
Amar yang sudah tak menautkan jarinya langsung menarik Ilham saat mendengar perintah. Merek melangkah menuju tangga untuk ke Kamar Septian.
Angel : "Lah itu dua anak, kebiasaan deh langsung kabur sekalinya denger perintah seperti itu."
Tak berselang lama MBA sampai di Mansion, di ikuti Firman dibelakangnya yang masih mengendarai mobilnya saat memasuki pelataran Mansion Adhitama.
Brak!
Firman langsung menutup pintu mobil, diikuti Adinda yang baru keluar dari dalam.
__ADS_1
Firman : "Bay, baru sampai juga loe?" MBA mengangguk. "Gue kirain sudah datang semua dan gue paling akhir, ternyata..."
MBA yang melihat Adinda menganggukkan kepalanya untuk menyapa.
MBA : "Harusnya sih bareng sama mereka, tapi mesti ke Unit sebelah dulu." Firman mengangguk mengerti. "Adinda gimana hasil check up-nya?" Tanyanya sambil menatap Adinda.
Adinda : "Alhamdulillah bagus Kak." MBA mengangguk.
MBA : "Syukurlah, semoga bisa cepat sembuh dengan cepat. Apalagi syok hypovolemik ini benar-benar harus memperhatikan keadaan tubuh kita sendiri. Kamu harus menjaganya dengan baik, jangan sampai kejadian kemarin terjadi lagi." Adinda tersenyum mengangguk. Sedangkan Firman hanya memperhatikan MBA yang memberikan perhatian pada adiknya.
Yayak : "Waah, akhirnya kalian sampai juga. Sebentar lagi mulai nih." Ucapnya.
"Sorry kita telat." Jawab Firman dan MBA bersamaan.
Indra : "Apa semua sudah selesai?" Kedua lelaki itu hanya mengangguk.
MBA dan Firman langsung ikut bergabung dengan para lelaki, sedangkan Adinda langsung disambut oleh Amel yang memang sudah menunggunya.
Amar : "Ayoo jumpling bontot buruan, semua sudah ada dibawah. Jangan lama-lama donk." Amar menyeret Septian.
Septian : "Kalian berdua kenapa sih, gue masih mau dikamar. Ganggu tahu gak kalian tuh." Gerutunya kesal karena dipaksa kedua sahabatnya.
Ilham : "Lagian loe ya, udah tahu kita bakalan ada acara. Eeh loe malah semedi dikamar, kan sue emang." Kini Ilham yang menggerutu.
Arya : "Kalian, sedang apa?" Arya menatap ketiga jumpling itu dengan tatapan absurd.
Bagaimana tidak, posisi mereka benar-benar tidak enak dipandang mata. Septian berpegangan erat diujung pintu, sedangkan Amar dan Ilham menariknya dengan cara merangkul pinggang Septian.
Ketiganya menatap Arya yang baru keluar dari ruang kerja Andre. Ketiganya langsung mengikuti arah mata Arya, seketika mereka sadar.
"Kyaaaaaaa!!!" Teriak mereka bertiga teriak bersamaan.
Septian : "Kalian mau ngapain gue?! Gue masih normal ya, gue enggak mungkin suka sama pisang!" Ucapnya bergidik.
Ilham : "Enak aja loe, gue juga enggak mungkin makan sesama pisang. Gue 100% masih normal!"
Amar : "Gue juga normal!!"
Ketiganya saling mengumpat dan bergidik.
Arya yang melihat kehebohan itu hanya memutar matanya jengah. Ia meninggalkan para jumpling itu yang masih heboh berdebat.
Hingga akhirnya ketiganya tersentak dengan suara dingin seseorang.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Ketiganya mengarah ke sumber suara.
"Abaaaaaaang?!" Sekali lagi mereka berteriak dengan kompak.
Orang yang tidak lain adalah Andre itu hanya menatap datar. Lelaki itu langsung meninggalkan mereka. Tak ayal ketiga jumpling itu akhirnya mengikuti langkah Andre.
__ADS_1