
Universitas Nusa Bangsa. Aula PPA. . .
Indra : "Apa Senior yang lain sudah berkumpul?"
MBA : "Semua sudah berkumpul." Jawabnya.
Septian : "Tunggu dulu. Andre belum datang karena dia masih ada jadwal dengan Pembimbing Skripsi. Lalu Dimas juga masih sibuk di Restauran cabang, sudah lebih dari satu minggu dia belum balik." Mereka yang memang tahu kehidupan Dimas langsung mengangguk tanda mengerti. Namun bagi mereka yang tidak mengetahui Dimas sebenarnya hanya akan diam dan memandang dengan takjub atas pencapaiannya dalam bidang kuliner.
Yayak : "Baiklah, bisakah kita mulai sekarang? Gue masih ada jadwal kelas 1 jam lagi."
Indra : "Oke. Ehmm diantara kalian pasti sudah ada yang tahu kenapa kita harus berkumpul dan mungkin juga ada yang belum tahu. Beberapa hari yang lalu Pak Septa selaku Pembina PPA telah menerima pengajuan acara kita selanjutnya dan ternyata Beliau memberikan persetujuannya hari ini. Acara itu akan dilaksanakan di Puncak, Jawa Barat. Bagaimana menurut kalian?"
Angel : "Yah gue setuju saja sih. Tapi bagaimana dengan anggota yang lain, terutama anggota baru kita?"
Shinta : "Benar, kami setuju. Tetapi kita juga harus memikirkan segala resikonya, jika kegiatan itu akan dilaksanakan di Puncak dalm waktu dekat lebih baik kita tunda."
Agista : "Maksud loe apa bilang begitu Shin? Disini gue ketua bidang perlengkapan, jadi semua harus tersusun dengan baik. Gue enggak mau ada yang belum lengkap."
Merry : "Iya ih, loe itu jika ingin kasih usul yang benar donk Shin, janan asal seperti itu." Keisya yang satu geng dengan mereka ikut mengangguk.
Sedangkan anggota yang lain menatap mereka dengan jengah.
Shinta : "Jadwal ulang kegiatan kita selanjutnya. Karena anggota kita yang baru masih banyak yang sekolah ditambah diantara mereka sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional. Jangan sampai karena kegiatan ini membuat mereka tidak fokus dengan Ujian itu, sekarang juga sudah mulai try out dan akan Ujian Sekolah. Jadi kita harus benar-benar memikirkan itu jangan karena senang akan ke Puncak malah membuat anggota lain merasa terbebani." Jelasnya panjang lebar.
"Setuju!!!" Jawab Angel, PJ, Rara dan Mara dengan kompak.
Indra : "Oke. Usulan diterima. Nanti akan saya konfirmasi dulu dengan Pak Septa dan untuk panitia kita tetap memakai sistem yang sama dengan sebelumnnya. Tetapi Pembina menginginkan sedikit perubahan dalam struktur kita hari ini." Mereka yang mendengar langsung mengernyitkan dahinya. "Untuk ketua pelaksana kegiatan ini MBA karena saya hanya memberikan saran saja dan ya untuk ketua perlengkapan akan digantikan oleh Raka seterusnya, ini langsung Pembina yang mengatakannya."
"What!!" Agista dan kedua temannya sangat terkejut mendengar hal itu. Sedangkan yang lain ada yang terkejut ada pula yang hanya acuh saja.
Keisya : "Kenapa harus diganti? Kenapa seperti itu Ndra, ini tidak adil." Protesnya tak setuju.
Merry : "Kenapa harus diganti sih?! Kenapa loe enggak protes."
Indra : "Saya sudah sampaikan jika perubahan ini harus mengumpulkan anggota lain terlebih dahulu, tetapi Beliau tidak ingin dibantah. Kalian pasti tahu bagaimana Pak Septa." Jelasnya pada trio kampus itu.
Agista : "Tapi gue tetap enggak terima! Main merubah saja, gue yang akan bilang sendiri pada Pak Septa."
Angel : "Jika kalian tidak terima ya sudah gih silahkan bertemu Pak Septa saja." Ucap Angel dengan sinis. Sedangkan ketiga gadis itu semakin kesal.
Kemudian Agista dan kedua temannya itu langsung berdiri dan beranjak meninggalkan Aula PPA, mereka memutuskan untuk melangkah keruangan Pembina PPA. Sedangkan Raka yang notabennya dipilih hanya mengedikan bahunya tanda tidak ingin tahu.
__ADS_1
Yayak : "Sayaaaaang." Panggilnya dengan lembut.
Angel : "Apa?! Loe juga ingin protes gue bicara seperti itu?" Sarkasnya. Sedangkan yang lain haya terkekeh.
Yayak : "Mulai mode on deh" Gumamnya dalam hati. "Bukan begitu, tapi jangan menambah masalah dulu. Aku enggak mau kamu bermasalah dengan mereka lagi." Jelasnya dengan hati-hati. Sedangkan Angel hanya mendengus kesal.
Angel : "Loe kenapa diam saja Rak?" Tanya Angel mengalihkan pandangannya dari Yayak dan ia melihat Raka hanya diam.
Raka : "Hecmmm enggak ada, hanya saja gue bingung kenapa itu orang minta dan pilih gue jadi ketua di bidang perlengkapan. Padahal Om Septa tahu kalau gue itu paling malas jika harus terikat." Ya Pembina PPA yang bernama Septa Muriya itu tak lain adalah adik dari Mama Raka.
PJ : "Yah mugkin saja Pak Septa sudah sadar dan terbuka hatinya, maka dari itu Beliau memilih ulang ketua dibidang perlengkapan."
Raka : "Meski seperti itu tetap harus sesuai dengan prosedur yang sudah ada donk. Tidak bisa seperti ini, kalian kan juga tahu bagaimana sikap Agista."
Shinta : "Tidak perlu khawatir tentang itu. Apapun yang akan terjadi nantinya keputusan tetap ada pada Pak Septa dan pembina lainnya." Yang lain ikut menangguk membenarkan.
MBA : "Jadi bagaimana kelanjutan rencana kegiatan kita ini? Memang benar kegiatan ini menarik tapi tetap harus dengan anggota baru, anggota baru sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional berarti kita tetap harus menunggu mereka selesai dengan hal tersebut termasuk untuk ketua bidang perlengkapan, kita juga harus menunggu."
Andre : "Tetap ikuti aturan saja, biarkan mereka melaksanakan Ujian Nasional dahulu baru rencanakan kembali." Ucap Andre tiba-tiba, sedangkan yang lain melihat kesumber suara.
Yayak : "Loe sudah selesai Ndre?" Tanya Yayak. Andre hanya mengangguk.
Septian : "Andre! Kebiasaan deh loe sama saja seperti Dimas." Sedangkan Andre hanya terkekeh, yang lain hanya tersenyum melihat sikap hangat Andre yang sangat jarang keluar.
Indra : "Yang jelas untuk saat ini panitia tetap diposisi yang sama seperti sebelumnya kecuali ketua pelaksana dan ketua bidang perlengkapan. Lalu untuk ketua bidang Humas, bagaimana Arya? Mengingat saat ini Ketua kalian itu sedang tidak ada ditempat." Lanjutnya.
Arya : "Untuk soal itu nanti gue coba hubungi ketua dulu."
Septian : "Coba saja jika bisa, jika dia merespon gue traktir loe makan di Kampus." Tantangnya pada Arya dengan kesal, karena ia sendiri tidak pernah direspon oleh Dimas.
Ilham : "Bilang saja setiap loe hubungi, dia kagak pernah respon." Ledek Ilham yang membuat Septian bertambah kesal.
"Kadanh suka bener! Hahaa" Jawab Amar dan Yayak dengan kompak. Yang lain tertawa dan Septian langsung mengerucutkan bibirnya.
Andre : "Sudah jaga itu bibir." Septian menatapnya tajam sedangkan Andre hanya acuh saja.
Indra : "Sudah. Kalian ini kebiasaan. Lanjutkan Arya jangan tertawa terus." Arya langsung berhenti menahan tawanya.
Arya : "Oke gue lanjutin lagi nih ya. Jika memungkinkan tetap dengan sistim yang sama seperti sebelumnya. Tetapi karena ini di Puncak, Dimas memberi saran supaya posisi kita disana berada dilingkungan warga sekitar tidak harus berdekatan karena kita juga memiliki privasi sendiri, dan agar tidak terlalu jauh juga jika harus bersosialisasi. Selain itu, kegiatan juga bisa lebih kondusif apapun yang akan kita perlukan bisa terjangkau, seperti keperluan dapur. Karena disamping bisa interaksi dengan warga sekitar kita juga bisa membantu mereka dalam memasarkan berbagai hasil pertanian mereka sendiri. Aah, dia juga ingin selama kita berada disana diadakan sebuah kelompok belajar tidak apa meski kecil asal ada semangat dari setiap anak disana. Jadi untuk siapapun yang memiliki buku bacaan anak bisa dibawa dalam kegiatan nanti, dan Dia juga akan membawa sedikit buku bacaan sebagai tambahan belajar." Jelasnya dengan panjang lebar tanpa jeda sedikitpun. Sedangkan mereka yang mendengar tertegun dengan penjelasan dari waka Humas itu.
Ilham : "Kau mendapat ide darimana Ar, dan siapa Dia yang loe maksud?"
__ADS_1
Amar : "Iya ih benar banget ide loe bisa kita terapkan untuk kegiatan seterusnya. Jadi tidak hanya didalam ruangan dan berujung membosankan."
Arya : "Itu semua gagasan dari Dimas sendiri." Jawabnya.
"Dimas?!" Jawab mereka kompak.
Andreas : "Bukannya loe tadi bilang akan menghubungi dia dulu."
MBA : "Apa dia sudah mengetahui tentang rencana kegiatan ini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya...
Semoga sehat selalu..
__ADS_1