
Septian : "Halo Om?" Jawab Septian ketika ponselnya bergetar. "Ada apa Om menghubungiku?"
Om Pastu : "Segeralah pulang, tapi setelah dari Kampus langsung ke Bandara jangan pulang ke Rumah. Om dan Andre saat ini menuju Bandara." Ucap Pastu diseberang sana.
Septian : "Baiklah, aku langsung kesana sekarang. Kebetulan aku sudah keluar Kampus." Mereka lansung memutus panggilan.
Mobil yang Septian tumpangi langsung membelah keramaian di jalan raya, bahkan ia tidak peduli dengan berbagai seruan orang yang begitu memekakan telinga.
Kini Septian sudah sampai di Bandara, ia segera masuk setelah memarkirkan Mobilnya.Ia terus berjalan untuk mencari keberadaan dua makhluk yang sedang menunggunya saat ini.
Septian : "Om, apa Jetnya sudah siap? Bukankah kita berangkat satu jam lagi?" Tanya Septian yang sudah dekat dengan Pastu.
Andre : "Kita harus segera berangkat sekarang Sep, saya tidak ingin terlambat sampai disana." Jawab Andre dengan nada serius.
Om Pastu : "Oma sudah mengerahkan anak buah Opa untuk mencari keberadaan Dimas." Septian mengernyit.
Septian : "Opa sudah meninggal, bukankah seharusnya Organisasinya di bubarkan?"
Om Pastu : "Opa kalian masih hidup." Septian dan Andre terkejut.
"Maksud Om apa?!" Tanya Andre dan Septian hampir bersamaan.
Pastu masih terdiam dengan ingatannya mengenai sang Ayah. Hingga kini saat sudah berada di Jet pribadinya, Pastu masih tetap diam belum ada tanda untuk menjelaskan pada dua keponakannya yang sudah tidak sabar itu.
Septian : "Om, maksud omongan Om tadi apa? Opa masih hidup? Bagaimana mungkin Opa masih hidup, mayatnya saja sudah dikuburin."
Andre : "Apa Om serius dengan ucapan Om tadi?" Kini Andre yang bertanya.
Om Pastu : "Kenapa hari ini kalian seperti anak kecil yang tidak sabar membeli jajan sih." Ucapnya kesal. "Yaa Opa kalian memang masih hidup, mungkin saat ini orang tua itu sedang memaki diriku yang tidak bisa menjaga cucunya dengan baik."
Andre : "Bagaimana mungkin Opa masih hidup? Apa Dimas juga sudah tahu ini?" Gumamnya namun masih bisa didengar.
Om Pastu : "Abang kalian sudah tahu tentang hal ini." Andre dan Septian menoleh. "Malahan dia tahu lebih dulu karena dia yang menyelidiki semuanya sampai ke akar."
Septian : "Bukankah Dimas tidak pernah ke Perancis? Kapan dia mengurus semuanya?"
Andre : "Apa mungkin saat perjalanan ke Jerman?" Pastu mengangguk. "Apa karena dia sudah tahu, jadi dia memutuskan untuk segera terbang ke Jerman?" Sekali lagi Pastu mengangguk.
Om Pastu : "Bahkan Shekar juga belum mengetahui hal ini. Hanya Dimas, aku, Oma, Asisten pribadi dan para pekerja Blue Mansion yang tahu."
*Blue Mansion, Mansion megah yang dimiliki oleh Keluarga Arthur.
__ADS_1
"Apa kalian lupa siapa Dimas? Dia adalah keturunan dari Keluarga Arthur dan Adhitama. Keluarga terpandang, dihormati dan disegani."
Septian : "Yaa gue tahu, bahkan karena kebesarannya itu membuat Abang gue selalu diburu karena dia pewaris tunggal. Gue enggak suka seperti ini, gue pengen kita hidup normal seperti yang lainnya." Gumamnya.
Andre : "Tapi bagaimana mungkin Opa bisa lolos dari kecelakaan itu?"
Om Pastu : "Orang yang meninggal dalam kecelakaan 2 tahun lalu itu adalah Sopir pribadi, sebelum kecelakaan itu Opa sudah merasa janggal dengan kondisi Mobilnya. Apalagi Mobil dalam kondisi baru saja diperbaiki, maka sebelum itu terjadi Opa lompat dari Mobil. Namun sayang Sopir itu gagal keluar dari sana karena kakinya yang terjepit, setelah Mobil itu menabrak pembatas jalan."
"Opa langsung mencari bantuan setelah para musuhnya mendatangi lokasi, diikuti oleh para warga disana. Beruntung Opa memiliki teman baik didekat situ dan Opa meninggalkan kartu identitasnya. Makanya langsung muncul berita jika Opa meninggal, para musuh Opa langsung keluar ke Publik untuk menggeser kepemimpinan."
"Salahkan mereka yang senang dan merasa puas setelah itu, hingga lupa jika Opa masih memiliki anak serta cucu yang pintar. Makanya Perusahaan tetap aman hingga sekarang, malah para penghianat yang kelabakan."
Septian : "Aku senang Opa akhirnya selamat. Tapi, aku juga takut jika Opa memaksa Dimas untuk menetap di Jerman ataupun Perancis. Aku enggak suka jika Opa berubah jadi pemaksa, aku ingin Abang ku itu aman."
Andre langsung mengacak puncak kepala Septian, apa yang ditakutkan Septian itu juga sama dengannya, tapi dia tidak mungkin mengatakan itu didepan keturunan asli Arthur.
Andre : "Sebentar lagi kita akan mendarat, bersiap-siaplah dan lakukan sesuai rencana kita." Septian langsung mengangguk.
Sedangkan Pastu hanya memandangi dua lelaki beda usia beberapa bulan tersebut. Dia tahu ketakutan mereka, namun mereka tetap berusaha tenang. Dia juga tidak menyangka dua bocah yang diangkat anak oleh kedua Kakaknya itu memiliki hati seperti ini, kepeduliannya begitu besar untuk Dimas.
Selang 3 jam kini akhirnya mereka sampai di Seoul Incheon International. Kedatangan mereka bertiga disambut oleh Nona Wang dan Angga selaku Sekretaris ketiga Dimas setelah Arya dan Bu Maya.
Angga : "Selamat Sore Tuan Pastu." Salamnya dengan membungkukan kepalanya. Pastu menganggukan kepalanya.
Mereka berlima langsung memasuki Mobil. Septian yang bisanya senang ketika sampai di Korea, kini ia hanya terdiam fokus dengan benda pipih miliknya.
Ponsel keluaran terbaru yang baru ia miliki beberapa bulan lalu, benda itu ia dapatkan setelah merengek pada Dimas. Dasar si bontot yang manja!
Benda itu baru ia keluarkan sekarang, karena hanya disaat genting seperti inilah benda itu ia pergunakan dengan baik.
Andre : "Kau mendapatkan sesuatu dengan benda itu?" Septian menggeleng tanpa menoleh.
Septian : "Belum ada perkembangan sejak tadi, aku sudah mengumpulkan berbagai laporan satu bulan ini tapi belum ada hasilnya. Firman juga mengerahkan anak buahnya untuk mencari lokasi keberadaan Dimas." Ucapnya serius. "Ndre?" Andre menoleh. "Apa Dimas baik-baik saja disana? Apakah dia akan kembali?"
Om Pastu : "Kalian berdua tenanglah, yakinlah tidak akan terjadi apa-apa pada Dimas." Ucap Pastu yang sejak tadi mendengarkan mereka.
Septian langsung melihat kearah luar jendela, ia melihat lalu lalang berbagai macam kendaraan yang berada didepannya. Perlahan Septian dan Andre menghela nafas hampir bersamaan, berulang kali dua lelaki tampan itu melakukannya. Mereka saat ini tengah gelisah.
#Indonesia
Sementara dilain tempat, tepatnya di seberang Negara, seorang gadis tengah duduk ditaman belakang rumahnya. Setelah ia pulang dari Kampus, bersih-bersih dan menyiapkan keperluan untuk makan malam. Ia langsung duduk menetap dibangku taman belakang, tidak ada yang berani mendekatinya termasuk Arul.
__ADS_1
Ya gadis itu tak lain adalah Adinda entah apa yang gadis itu lakukan namun dari yang Arul lihat, Kakaknya itu hanya duduk termenung menatap langit malam dengan pandangan kosong. Bahkan untuk makan malam saja, Kakaknya itu melewatinya dan masih setia duduk disana, bersandar dibangku itu.
Dengan perlahan Arul mulai melangkah mendekati Adinda.
PUK..
Tidak ada reaksi dari gadis itu. Adinda masih setia memandangi langit malam.
Arul : "Apa langit itu lebih indah dari taman ini?" Adinda menoleh kesumber suara, lalu kembali menatap langit.
Adinda : "Yaa langit itu malam ini terlihat lebih indah, namun juga kosong karena tak ada satupun bintang yang mendekati bulan. Semua terasa menjauh dan tak bersama." Jawabnya.
Arul : "Apa Kakak masih mengingat tentang dia dan belum bisa melupakan dia?" Adinda hanya tersenyum.
Adinda : "Tidak ada manusia yang sempurna dek, termasuk Kakak. Maaf." Ucapnya pelan.
Arul : "Apa kehadiran Kak Akbar tidak bisa menggantikan lelaki itu? Bahkan ini sudah lebih dari dua bulan setelah kejadian itu, apa semua itu tidak ada artinya? Dia juga baik dan tulus pada Kakak, apa Kakak tidak bisa melihat itu?" Ucapnya dengan keras.
Arul langsung melihat Kakaknya yang hanya diam membisu, bahkan tidak terlihat sedikitpun niat untuk menjawab ucapan Arul.
"Apa sebegitu susahnya untuk melupakan lelaki itu? Tidak ada niatkah untuk menjawab pertanyaanku walau hanya satu kalimat?" Gumam Arul dalam hati.
Drrtt... Drrttt...
Adinda : "Ya halo, Assalamu'alaikum. Ada apa Kakak meneleponku?" Arul yang berada disebelahnya langsung melihat Adinda.
Firman : "Wa'alaikumussalam. Apa maksud pertanyaanmu itu Mara? Apa aku harus ada alasan untuk menghubungimu?" Ucapnya kesal.
Adinda : "Karena tidak biasanya Kak Rangga menghubungiku."
Firman : "Tidak ada, aku hanya merindukan adikku saja. Apa kau sudah makan? Tadi Mama bilang belum sempat menghubungimu."
Adinda : "Aah.. eh, ehmm iya aku sudah makan. Bilang saja ke Tante kalau aku juga Arul baik-baik saja disini."
Firman : "Ehemm, Mara?" Adinda hanya berdehem sebagai jawaban. "Apa kamu masih menunggu kabar darinya?"
Adinda yang mendengar itu langsung terpaku, sedangkan Arul yang melihat Kakaknya langsung menatapnya intens.
"Heuft. Dengarkan aku baik-baik Mara, aku memang belum mendapat kabar secara pasti tapi Shekar baru menghubungiku kalau saat ini mereka masih kehilangan jejak Dimas. Tidak ada yang tahu penyebabnya, karena Shekar tidak memberitahu alasan pasti. Berdo'alah semoga dalam waktu dekat kita segera mendapat kabar, karena saat ini Andre juga Septian sudah berada disana." Jelas Firman.
Adinda : "Apakah dia akan segera kembali kesini? Kembali bersama kita? Aku tidak apa jika akhirnya tidak bersama dengannya, tapi bukan berarti dia harus hilang tanpa jejak seperti ini. Apa dia anggap dirinya itu petualang yang bisa pergi kemanapun menyusuri hutan? Apa dia tidak memikirkan orang lain yang mengkhawatirkannya?!" Ucapnya dengan suara tinggi, airmatanya sudah tak bisa dibendung.
__ADS_1
"Ke.kenapa semuanya harus terjadi seperti ini. Kenapa dia tidak bisa dihubungi sama sekali?! Sebenarnya ada apa? Hiks.. Kenapa dia menghilang dengan cara seperti ini?" Tangisnya sesenggukan.