Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 123 Jawaban Untuk Arul_


__ADS_3

Arul : "Bisa kita bicara Kak?" Tanyanya berwajah datar. Ia langsung berjalan ke taman diikuti Firman dibelakangnya.


Firman : "Ada apalagi?" Tanyanya to the poin tanpa basa basi. "Jangan bicarakan tentang hubungan mereka berdua Arse." Arul mengernyitkan dahinya. "Jangan berwajah seperti itu didepanku."


Arul hanya diam, bahkan Firman yang sejak tadi menggerutu tidak jelas juga ikut terdiam menunggu kata-kata yang siap keluar dari mulut bocah dingin itu. Entah kali ini apa yang ingin dia bicarakan.


Arul : "Apa aku salah ingin mereka berpisah?" Ucapnya tiba-tiba memecah keheningan malam. Firman mengernyit bingung.


Firman : "Huh sok bingung loe Fir." Ucapnya dalam hati. "Ehemmm, maksud kamu apa?"


Arul : "Jangan berpura-pura seperti itu didepanku Kak." Ucapnya tegas. "Bahkan Kakak lebih tahu." Firman menghela nafas.


Firman : "Sekarang aku ingin tanya padamu, apa kamu sudah lebih baik dari sebelumnya? Maksudku emosimu?" Hening, tidak ada jawaban apapun dari Arul. "Bagaimana?"


Arul : "Yaa, sedikit baik dari kemarin." Jawabnya.


Firman : "Hecmm, apa alasan kamu ingin mereka berpisah? Sedangkan kamu sendiri belum tahu seberapa dalam hubungan mereka."


Arul : "Aku tidak tahu, tapi aku merasa kecewa. Kecewa karena dibohongi oleh Kakak sendiri, bukankah dia sendiri yang yang bilang, dia yang menajariku untuk tidak bohong. Tapi nyatanya dia sendiri yang melakukan itu."


Firman : "Bukan karena kamu akan merasa sendiri atau tidak diperhatikan oleh Mara? Atau, karena kamu memang telah memilih Akbar untuk jadi pendamping Kakakmu?" Arul langsung menoleh pada Firman, hal itu membuatnya terkekeh. "Hecmmm sepertinya aku tahu jawaban kamu. Apa yang membuat kamu atauu alasan kuat apa yang kamu punya sehingga memilih Akbar? Apa dia benar-benar lelaki yang Adinda inginkan?"


Arul : "Alasan utamaku hanya satu, aku tidak ingin perhatian Kakak berkurang ataupun hilang setelah ia pacaran. Untuk Kak Akbar, itu baru pemikiranku saja." Jawabnya beralasan.


Firman : "Itu bukan hanya pemikiran Arse, tapi kamu memang ingin hal itu."


Arul : "Memang apa salahnya jika aku ingin Kak Akbar bersama Kak Dinda? Tidak ada yang salah bukan? Aku juga memiliki hak untuk memilih laki-laki yang tepat untuk mendampingi Kakak, untuk menjaga dan melindungi dia."


Firman : "Yaa memang itu semua benar, tidak ada yang salah dan kamu memang memiliki hak terhadap Kakakmu itu. Tapi, cobalah kamu tempatkan posisi kamu pada Amara. Lagipula meski ia menjalani hubungan dengan Dimas, rasa sayang juga perhatiannya padamu tidak berkurang sedikitpun."


Firman menghela nafas dengan perlahan, mencoba mengontrol emosinya.


"Aku pernah bertanya-tanya kenapa Dimas mau memenuhi syarat yang Amara berikan, padahal itu tidak menguntungkan untuknya. Tapi aku tidak dapat jawaban itu, karena aku tidak bertanya pada Dimas. Aku menempatkan posisiku sama dengan Azriel yang berpura-pura tidak tahu tentang hubungan mereka, karena Mara hanya sebatas bicara jika benar dia memiliki hubungan dengan Raja Es itu."


Firman menceritakan awal mula ia mengetahui hubungan keduanya, dari ia yang tidak sengaja dengar Adinda menyebut nama Dimas.


"Tidak salah jika kamu ingin Akbar disisi Mara, dia juga lelaki yang baik selama aku kenal dengannya. Meski popularitas MBA di Kampus satu level dibawah Dimas, tapi ia Pangeran Kedokteran yang paling disegani di Fakultasnya. Kamu tidak salah memilih dia Arse, tapi coba kamu lihat dari sisi Amara apakah lelaki yang kamu pilih cocok, dan bisa membahagiakan Kakakmu. Aku tidak ingin memihak siapapun disini, karena baik kamu, Mara, Dimas maupun MBA sama-sama dekat dengan hidupku. Apa yang terbaik untuk kalian itulah yang aku dukung, meski akan ada hati yang terluka nantinya."


Arul : "Tetapi Kak Akbar terlihat perhatian juga sayang ke Kakak, aku bisa lihat itu." Ucapnya masih keukeuh dengan pendapatnya.

__ADS_1


Firman : "Apa kau tidak bisa melihat hal itu pada diri Dimas?" Arul hanya diam. "Dimas lelaki super dingin yang tidak sedikitpun terjamah oleh wanita, bisa aku pastikan itu, tapi lihatlah ketika Mara pingsan rasa khawatirnya lebih tinggi Arse. Sedikitpun ia tidak pernah bersikap seperti itu pada siapapun, termasuk pada kami semua dia bahkan hanya cuek saja dan sekedar menyemangati. Bukankah hal itu juga bisa kamu nilai jika dia perhatian dan sayang pada Mara?" Tanyanya penuh penekanan.


Hening, keduanya sama-sama terdiam. Arul yang ditanya pun belum menjawab, ia masih memilih diam karena ia juga belum tahu apa yang harus ia katakan saat ini. Kemudian. . .


Arul : "Jika dia menyayangi Kakak, kenapa saat Kakak terluka sebelumya dia diam saja bahkan tidak menunjukkan rasa perhatiannya?"


Firman : "Siapa yang akan tahu tentang musibah itu Arse? Juga, siapa yang tahu Dimas khawatir atau tidak, perhatian atau tidak. Meskipun ada keinginan untuk semua itu, tapi apakah dia bisa? Tidak Arse, dia tidak bisa melakukan itu semua ia terikat syarat yang Mara ajukan padanya. Jika sudah seperti itu, apa yang harus ia lakukan? Dia menghargai syarat yang diberikan padanya,tangannya ingin menggapai namun ia dipaksa untuk tetap diam. Rasa sayang Mara padamu masih begitu besar Arse, dia tidak akan mengurangi perhatiannya padamu meski Dimas hadir dalam hidupnya."


"Aku tidak akan memaksa, karena baik kamu maupun Mara. Kalian berdua sama-sama adikku, MBA temanku, Dimas sahabatku. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Sudah malam, ini sebaiknya kamu kembali ke kamar karena untuk kemanan Andre sudah mengurusnya."


Arul : "Kenapa kemanan malam ini Kak Andre yang mengrusnya?


Firman : "Karena esok kita sudah harus kembali ke Jakarta, jadi Andre yang mengurus hal ini menuruti Tuan Mudanya." Arul mengernyitkan dahinya. "Dimas yang memerintahkan adiknya itu untuk kemanan malam ini, ia tidak ingin anggota yang lain bertambah lelah hanya karena tuga yang diberikan. Intinya dia orang yang bertanggung jawab selama kegiatan kita disini, di Villa ini. Seperti yang kau tahu, dia pewaris Adhitama dan ini merupakan Villa milik keluarganya. Masuklah sekarang, mereka semua sudah membubarkan diri."


Firman langsung beranjak menemui para sahabatnya yang masih berada di gazebo taman bersenandung ria, tertawa terutama ketiga jumpling itu. Arul yang melihat itu semua langsung memutuskan kembali ke Villa, karena jam menunjukkan pukul 11.50 malam.


*Gazebo taman...


Amar : "Malam terakhir acara nih, kita mau main apaan?"


Ilham : "Bener banget, bosen gue dari kemarin gabut dah gabuuuutt."


"Kita memang masih SMA!" Jawab Amar dan Ilham bersamaan.


Angel : "SMA, Suka Makan Aja maksud loe?"


"Betul bangeeeet, hahaa." Jawab mereka kompak tak terkecuali Firman yang baru ikut bergabung.


Indra : "Kalian itu tidak pernah jauh dari makanan."


Septian : "Bagaimana kita bisa jauh dari makanan Ndra, kita punya chef handal, kita juga punya Pengusaha Restoran ternama bahkan setiap makan dikasih gratisan. Sungguh! Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"


Firman : "Nikmat melihat wajah loe yang harus didustakan." Celetuk Firman yang membuat mereka kembali tertawa.


Shinta : "Jaga mulut kalian, ini sudah sangat malam." Ucap Shinta mengingatkan.


Amar : "Waaah, bebeb Shinta. Makasih loh sudah perhatian." Indra mendengar itu langsung melempar sandal kearah Amar.


BUAK!!

__ADS_1


Ilham : "Kyaaaaa! Loe kalau mau ngelempar libat-lihat donk Ndra, masa gue juga loe jadiin sasaran." Gerutunya kesal.


Indra : "Sory, khilaf gue ini. Lagipula kalian selalu bersama jadi wajar loe juga kena."


Amar : "Huahaa cocok dah. Sudah nikmati saja semua ini, karena kita takkan pernah terpisahkan." Ucapnya sambil merangkul.


Ilham : "Idiiih, ogah gue. Enak aja loe, gue mah masih normal." Jawabnya sambil bergidik.


Disaat mereka sedang tertawa bersama, Andre datang menghampiri oara sahabatnya.


"Ehemmm." Mereka langsung melihat kesumber suara.


"Abaaaaaaaang!!" Teriak ketiga jumpling itu.


Shinta : "Itu mulut apa toak Masjid sih, gue gibeng loe bertiga baru tahu rasa. Dibilang sudah malam juga." Omel Shinta.


Septian : "Beuuuuh, Yayang Shinshin taringnya sudah keluar." Setian langsung bersembunyi dibelakang Andre.


Ilham : "Ogah juga gue deket-deket sama Mama Shinta, kalau gue diterkam bisa habis gue mana belum punya bini lagi." Amar mengangguk mengikuti. Shinta mendelik tajam.


Amar : "Tuuuuhkan, matanya dikondisikan donk Shin, ukeee👌"


Andre : "Tolong kalian membubarkan diri, karena ini sudah lewat tengah malam." Ucapnya datar tanpa menanggapi sikap mereka.


Septian : "Yaaah, kok udahan sih Ndre. Baru jam segini, lewat dikit." Amar dan Ilham mengangguk.


Andre : "Maaf, tapi ini sudah masuk perintah." Jawabnya masih datar.


"Perintah siapa?" Tanya mereka hampir bersamaan, seakan lupa siapa Boss dari Andre.


Andre langsung menunjuk dengan sudut matanya mengarah kearah balkon. Disana ada seseorang yang masih mengawasi kegiatan mereka sejak tadi.


Angel : "Waduuuh, itu Abang gue kan ya?" Trio jumpling dan Shinta langsung mengangguk.


Shinta : "Angel, ayo kita kembali ke Villa. PJ dan Rara pasti sudah menunggu." Angel mengangguk dan mengikuti langkah Shinta.


Andre : "Silahkan membubarkan diri." Ucap Andre sekali lagi.


Ketiga jumpling itu langsung mengambil langkah seribu. Ketiganya berlari sekencang mungkin untuk menghindari mata tajam Dimas. Sedangkan, Indra, Yayak juga Firman masih berada disana.

__ADS_1


__ADS_2