
Amel : "Eeh ada Bang Yayak?" Sapanya pada Yayak. "Oh iya Bang, masih lama enggak sih didalam?" Ucap Amel ketika melihat Yayak sudah dekat dengan keduanya. Adinda langsung menoleh dan menunduk pada Yayak tanda hormat pada yang lebih tua.
Yayak : "Kalian masih menunggu yang didalam untuk keluar?Ehmm mungkin sebentar lagi, kalian nunggu Arul sama Azriel?" Keduanya mengangguk. Keduanya mengangguk. "Hecmm oke, oh iya Dek Din bisa bicara sebentar?"
Amel : "Cieee sih Abang mainnya dibelakang. Awas nanti ketahun Mba Angel loh. Hihii"
Yayak : "Gue cuma ingin bicara sebentar terkait ide dia pagi tadi, jangan mikir yang aneh-aneh loe ya. Apalagi sampai ngadu sama Angel."
Amel : "Ettdah tahu aja gue mikir kesitu Bang." Ucap Amel terkekeh. "Yaudah buruan gih nanti keburu Arul keluar, bisa berabe kalau Arul lihat Adinda berdua sama cowok." Yayak yang mendengar hanya terkekeh, sedangkan Adinda mengangguk dan langsung mengikuti langkah Yayak kearah taman.
Sesampainya mereka ditaman, terdapat sebuah bangku dan disudutnya ada sebuah pohon besar yang rindang, membuat siapapun akan terbuai jika angin menerpa dedaunan itu.
Yayak : "Duduklah Din." Katanya setelah ia mendaratkan pantatnya dibangku taman tersebut. Adinda pun mengangguk dan langsung duduk disebelah Yayak.
Hening. . . Hanya ada angin yang membuat rambut keduanya melambai.
Yayak : "Udara yang segar ya Din." Ucapnya tiba-tiba.
Adinda : "Eh, i.iya Kak udaranya segar." Jawabnya.
Yayak : "Terkadang apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat itu tidak sama dengan kenyataannya. Sama seperti hubungan kalian, terlihat biasa saja, baik-baik saja tapi akan tampak berbeda jika menelisik lebih jauh lagi didalamnya." DEG. Adinda terperanjat dengan ucapan Yayak. Yayak melihat Adinda sekilas lalu menatap kearah langit. "Apa kalian dalam masalah?" Tanyanya to the point. Adinda masih terdiam, menunduk. Wajahnya tampak sayu.
Adinda : "Aku bahkan tidak tahu Kak, hubungan ini membuatku seakan terbang keawan karena kasih sayang Kak Dimas, ya meski sikap dinginnya tidak hilang."
Yayak : "Yaa itu memang sifat aslinya." Ucapnya sedikit tersenyum. "Lalu apa masalah kalian sebenarnya? Kau tahu Din, Dimas adalah orang yang sangat susah untuk didekati oleh wanita. Semua teman, terutama kami berharap dia bisa bahagia dalam hal apapun. Jika kalian ada masalah cobalah untuk saling bicara meski sebentar." Hening.
Adinda : "Apa aku salah jika tidak terbuka soal keluargaku padanya?" Yayak yang fokus menatap langit langsung menoleh pada gadis disebelahnya itu. "Aku hanya tidak ingin menambah beban orang lain Kak, keluargaku tak sempurna seperti yang lain. Kedua orangtua kami bercerai saat kami masih sangat muda, saat itu aku masih SMP sedangkan Arul masih Sekolah Dasar. Kebahagiaan kami direnggut dengan paksa, dengan alasan bahwa itu adalah yang terbaik untuk kami semua tanpa mereka bertanya bagaimana perasaan kami sebenarnya. Hingga saat ini rasa kecewa kami semakin bertambah, bahkan hal itu membuat sikap Arul mulai semakin dingin." Adinda mendongak menatap langit mencegar air mata yang akan tumpah. "Apa Kak Dimas akan menerima itu?"
Yayak : "Saya sudah bilang, apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataan." Ucapnya mulai serius. "Jika dia tidak menerima kamu, mana mungkin dia menerima syarat kamu yang kurang masuk akal itu." Mendengar itu Adinda langsung terkejut. "Gue tahu hubungan kalian ini ada syarat yang bahkan egk masuk akal menurut pemikiran gue, tapi Dimas menerima hal itu. Masalah keluarga loe, bahkan Dimas bisa saja mencari tahu tentang keluarga loe secara rinci Din, tapi dia tidak melakukannya karena gue yakin dia pasti berharap loe akan cerita ke dia. Sebaiknya loe cerita semuanya, apa yang loe rasain apa yang loe harapin. Karena hal itu yang membuat hubungan semakin erat Din, kepercayaan adalah kunci dalam hubungan." Adinda menunduk. "Gue memang enggak berhak ikut campur dengan hubungan kalian, tapi sebagai sahabat, gue enggak pengen sahabat gue merasakan sakit Din. Dia itu anak tunggal dan setelah orangtuanya tiada dia hanya hidup dengan kami. Kamu wanita pertama yang memang dekat dengan dia bahkan memiliki hubungan seperti sekarang. Jadi selesaikan masalah kalian secepatnya, karena kita tidak tahu apa yang ada didepan kita nantinya."
Adinda : "Aku akan berusaha memberi pengertian pada Arul tentang ini Kak, meski sebenarnya sedikit ada rasa ragu."
Yayak : "Setiap hubungan yang dibutuhkan adalah kepercayaan Din, termasuk dalam hubungan kalian. Itu adalah kunci suatu hubungan yang baik. Tentang adik kamu, gue harap semua bisa saling mengerti dan saling menerima. Sekeras apapun batu jika semakin lama terkena air maka semakin lama pula ia akan terkikis, begitu juga dengan hati Arul Din. Segera selesaikan masalah kalian. Satu hal lagi, tolong kamu hargai perasaan Dimas, karena kami sangat menyayangi dia, kami mencintai dia. Gue tahu hubungan kalian itu masih jadi rahasia, tapi kalian juga harua saling menjaga perasaan. Gue harap loe ngerti maksud gue ini." Yayak langsung menghela nafas dengan kasar setelah memberikan berbagai uneg-uneg yang ingin ia katakan.
__ADS_1
Anggota lain kini sudah keluar dari Aula, ada yang langsung pulang ada juga yang masih mengobrol. Angel dan Shinta yang sudah diluar Aula melihat dua makhluk ciptaan Tuhan tengah duduk ditaman, entah apa yang mereka bicarakan begitu fikir Angel.
Sadar telah diperhatikan, Yayak langsung bangun meninggalkan Adinda yang terdiam. Semakin dekat, Yayak melangkah menghampiri sang kekasih hati. Sedangkan Adinda langsung berdiri dan kembali bersama Amel karena ia melihat sang Adik sudah berjalan kearah yang sma dengannya.
Angel : "Sayaaaang apa kau tengah bermain es denganku?" Tanya Angel ketika Yayak sudah didekatnya. Sedangkan Yayak hanya tersenyum mendengar itu. "Lihatlah Shin, bahkan masih bisa-bisanya dia menunjukan watadosnya itu." Ucapnya sedikit kesal.
Shinta : "Sabarlah, Jangan emosi dul Angel. Kamu kaya enggak tahu Yayak saja sih."
Yayak : "Sayang kamu sudah keluar? Sudah selesai ya?" Tanya Yayak tanpa rasa bersalah.
Angel : "Apa kau ingin bermain-main denganku Cahya? Apa kau ingin bermain es dibelakangku? Mentang-mentang ada daun muda yang tua dilupain."
Yayak : "Sayang tenanglah, ini tidak seperti yang kamu fikirkan."
Amar : "Udah sikat aja tuh si Yayak. Gue dukung loe Ngel pokoknya mah."
Shinta : "Kyaaa! Loe jangan jadi tukang komppr ya Mar."
Indra : "Loe tadi panggil dia apa Amar?" Ucap Indra dengan penuh penekanan.
Amar : "Waah pawangnya udah keluar lagi, ****** gue sekarang." Gumamnya pelan, namun masih bisa didengar.
Ilham : "Gue denger yang loe bilang ya Mar." Ejek Ilham seakan memberi ancaman. Sedangkan Indra langsung mendekati Shinta dengan posesif.
Amar : "Kyaaaaaa! Loe berani ancem gue?! Oke, malam ini loe tidur diluar." Ilham yang mendengar itu terkejut. Pasalnya memang beberapa hari ini dia menginap ditempat Amar.
Ilham : "What!! Loe tega sama gue." Amar tak bergeming. "Ndra, Yak, gue nginap tempat kalian deh ya? Firman, Arya." Mereka tetap diam namun juga menertawakan wajah Ilham.
Amar : "Rasain tuh, makanya jangan coba berhianat sama gue, apalagi sampai selingkuh, itu akibatnya." Ucapnya bangga.
Ilham : "Sayaang Amar, maafin aku deh ya
Janji gue enggak begitu la. . ." Ucapannya terhenti karena sebuah teriakan.
__ADS_1
Angel : "Kyaaaaaa! Dasar Jumpling kalian ini *** ya, jijik gue." Angel bergidik. Sontak ucapan itu membuat Amar dan Ilham menatapnya tajam.
Yayak : "Apa kalian?! Itu mata mau dicolok pakai sapu, hah?!"
"Akbaaaaaaar!" Teriak mereka memanggil MBA. Namun bukan MBA yang menjawab melainkan sebuah benda melayang mendarat dikepala mereka.
BUAK! Seseorang memukul mereka. Seketika mereka menatap pelakunya, sedangkan sang pelaku sudah kabur terlebih dahulu.
"Bontoooooooooottt! Awas loe yaa!" Ya pelaku itu adalah Septian. Amar dan Ilham langsung berlari mengejar sahabatnya itu. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihatnya.
Sementara Arul sudah sampai tepat didepan Amel. Saat itu juga Adinda sudah kembali.
Amel : "Akhirnya gue enggak sendiri lagi, loe lama banget deh Din ngobrol sama Bang Yayak."
Adinda : "Iya maaf Memel. Oh iya Adek sudah selesai? Ayo kita pulang."
Amel : "Wah parah loe, giliran Arul sudah disini langsung ajak pulang aja. Mentang-mentang tadi disamperin Kagan. Pengen cepat telponan ya?" Amel menaik turunkan kedua alisnya.
.
.
.
.
.
.
.
Salam hangat dari Author. . .
__ADS_1