Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 60


__ADS_3

Semua yang ada disana diam ketika Arul mengeluarkan segala unek-unek yang ada dihatinya. Tangis Adinda pecah saat itu juga, ia semakin sakit merasakan apa yang adiknya rasakan. Bi Narti dan Pa Diman yang ada didapur ikut menangis mendengarkan suara pilu dari anak usia 15tahun itu. Mereka adalah saksi kehidupan dari kedua anak Adam dan Hawa itu selama ini, tangis yang selalu mereka dengar hampir setiap malam menjadi saksi betapa sakit dan sedihnya Arul dan Adinda setelah perpisahan kedua orangtuanya.


Arul : "Saya tekankan sekali lagi, saya kecewa dengan kalian, dan yaa saya mohon jangan dekati kakakku, jangan coba sakiti kakakku lagi. Aku tidak apa jika Mama melupakan kami tapi satu hal yang harus Mama ingat jangan pernah membentak atau bicara kasar pada Kakakku. Karena selama ini hanya Kakak yang ada untukku, hanya dia yang selalu memberikanku semangat, memberikanku perhatian, pengertian, kasih sayang. Hanya dia yang selalu berjuang untuk tetap berada disisiku, hanya Kakak yang menyayangiku selama ini. Lalu dengan seenaknya Mama datang lalu memarahi Kakak?" Arul tersenyum miris dengan kisah hidupnya. "Keluarga ini dari awal memang sudah tidak sempurna, hehe. Tidak layak disebut dengan keluarga apalagi menjadi keluarga harmonis, keluarga yang dipenuhi dengan kasih sayang juga cinta, semua itu bulshit! Semua hanya omong kosong saja."


Setelah semua itu, setelah Arul mengeluarkan emosinya ia segera naik kelantai dua, ia masuk kekamar mengambil jaket dan kunci motor dinakasnya. Ia keluar, saat ditangga ia berpapasan dengan Adinda.


Adinda : "Sayang? Kamu mau kemana Dek? Luka kamu belum Kakak obati, ayo masuk ke kamar Kakak obati dulu ya lukanya."


Arya : "Arse? Kamu mau kemana? Obati dulu lukamu itu."


Namun Arul seakan menutup telinga, ia tidak mempedulikan lukanya itu, ia langsung turun dengan wajah dingin dan datarnya ia memasuki garasi menaiki motor, menyalakannya dan mengendarai entah kemana. Sedangkan Adinda yang mengerti sikap Adiknya hanya bisa diam, karena saat ini Arul hanya ingin sendiri dan tidak ingin diganggu sama sekali oleh siapapun.


Adinda masuk ke kamarnya meninggalkan kedua orang dewasa yang masih tetap diam, bahkan mereka hanya diam ketika melihat Arul keluar dari rumah, tidak niat sedikitpun dari keduanya untuk menghentikan langkah Arul. Sementara di kamar Adinda mengambil ponselnya, ia mencari sebuah nama yang tersimpan disana...


TUT..... TUT......


Adinda : "Hallo? Hiks... hiks... Apa bisa kita bicara sebentar? Hanya sebentar, kasih Adinda waktu."


....... : "Yah hallo? Apa kau sedang menangis? Apa terjadi sesuatu?" Ucap seseorang diseberang sana.


Adinda : "Ehmm tidak, Aku hanya ingin melihatmu saja, dan ini hanya kelilipan kok." Ucapnya terbata-bata sambil mengusap air matanya. Karena ia tidak ingin Dimas mengetahuinya.


........ : "Hecmm, baiklah kita bertemu di taman biasa." Putusnya.


Adinda : "Baiklah, Adinda akan segera kesana sekarang." Adinda langsung menutup panggilan, ia bersiap untuk keluar. Sebelum melangkah keluar, ia mengusap sisa air mata yang baru saja menetees. "Ah kenapa mata ini masih berair, aku sudah membasuhnya. Tuhan jangan biarkan aku menangis didepannya." Gumamnya dalam hati. Kemudian ia turun, tak lupa ia menggunakan jaket dari seseorang yang ia hubungi sebelumnya. Sesampainya dilantai dasar...


Arya : "Adinda? Kamu mau kemana, biar Om antar saja yah."


Adinda : "Tidak usah Om, Adinda hanya ingin ke toko buku saja. Mah, Pah... A.adinda pamit dulu ya, assalamu'alaikum." Setelah mengatakan itu ia langsung keluar dan memasuki taksi yang sebelumnya telah ia pesan. "Pak kita ke toko buku pusat kota yah." Sang sopir mengangguk dan menjalankan kemudinya.


Sampailah Adinda di toko buku Amanda. Setelah membayar taksi, ia melangkahkan kakinya masuk menuju taman, sebuah bangku yang berada disudut taman, dengan gubuk kecil yang membuatnya nampak asri. Ia melangkah kearah sana, disana sudah ada seseorang. . .

__ADS_1


Adinda : "Apa Kakak sudah lama menunggu?" Tanya Adinda, dan orang itu seketika membalikan tubuhnya dan sedikit tersenyum tipis karena sedari tadi hanya fokus pada berkas yang akan ia bawa. "Apa Kak Dimas marah sama Dinda?" Ya orang tersebut adalah Dimas Aditya.


Flashback On. . .


Andre : "Ini sudah pukul 14:15, semua persiapan untuk keberangkatan sudah selesai." Dimas mengangguk.


Dimas : "Baiklah. Apa semua berkas juga sudah siap Andre?"


Andre : "Sudah Tuan Muda. Semua sudah siap, hanya tinggal berkas untuk keberangkatan Anda ke Oxford University."


Dimas : "Semua itu sudah saya persiapkan, jadi kita tinggal berangkat saja." Ketika mereka sedang membicarakan tentang file kantor, ponsel Dimas bergetar. Drrtt.... Drrrtt.... Dimas melihat layar ponselnya, tertera nama gadis ceroboh disana, Dimas langsung menggeser tombol hijau.


Adinda : "Hallo? Hiks... hiks... Apa bisa kita bicara sebentar? Hanya sebentar, kasih Adinda waktu." Dimas yang terkejut dengan suara Adinda ia langsung berwajah serius.


Dimas : "Yah hallo? Apa kau sedang menangis? Apa terjadi sesuatu?" Ucap Dimas.


Adinda : "Ehmm tidak, Aku hanya ingin melihatmu saja, dan ini hanya kelilipan kok." Ucapnya sedikit terbata.


Adinda : "Baiklah, Adinda akan segera kesana sekarang." Mereka mengakhiri panggilan.


Andre yang melihat wajah serius Dimas langsung bertanya.


Andre : "Apa terjadi sesuatu yang serius Tuan?" Tanya Andre sedikit takut.


Dimas : "Tidak ada Andre. Oh iya, saya akan keluar untuk beberapa waktu. Tolong kamu handle yang ada disini, saya akan segera kembali." Andre mengangguk dan Dimas langsung mengambil jasnya lalu melangkah keluar dari Kantor.


Andre : "Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu? Bahkan setelah kejadian kemarin ia masih bisa bersikap biasa saja." Gumamnya ketika Dimas sudah benar-benar keluar dari ruangan.


Flashback Off . . .


Adinda : "Assalamu'alaikum.... Apa Kakak sudah lama menunggu?" Tanya Adinda, dan orang itu seketika membalikan tubuhnya dan sedikit tersenyum tipis karena sedari tadi hanya fokus pada berkas yang akan ia bawa. "Apa Kak Dimas marah sama Dinda?"

__ADS_1


Dimas : "Wa'alaikumussalam... Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Dimas mengernyitkan dahinya. "Apa saya terlihat marah padamu?"


Adinda : "Bu.bukan begitu maksud Adinda, hanya saja Adinda merasa Kakak sedikit berbeda. Sejak acara kemarin hingga pagi tadi aura Kak Dimas terlihat lebih dingin." Dimas masih tetap diam, setia mendengarkan gadis cerobohnya bicara.


Dimas : "Tidak ada, saya hanya sedang memikirkan pekerjaan saja." Ucapnya mencoba untuk tenang karena ia kembali mengingat kejadian saat MBA bersama Adinda. "Apa kau begitu susah untuk jujur padaku Dinda?" Ucapnya dalam hati. Sedangkan Adinda kembali memikirkan ucapan Yayak tadi, sekaligus memikirkan masalah keluarganya.


Adinda : "Apa Kak Dimas memiliki banyak waktu hari ini? Ehmm a.aku ingin punya sedikit waktu untuk bersama dengan Kak Dimas." Ucapnya sedikiy takut.


Dimas : "Ehmm saya hanya memiliki waktu sampai ashar tiba, karena setelah itu saya akan berangkat ke Singapore untuk kunjungan kerja selama dua hari, bari setelah itu harus ke London untuk tesisku." Hening sesaat. "Apa terjadi sesuatu di rumahmu?" Adinda tersentak, kemudian ia teringat ucapan Yayak yang mengatakan bahwa tanpa ia cerita, Dimas bisa tahu tentang keluarganya.


Adinda : "Apa aku harus cerita dengannya saat ini?" Ucapnya dalam hati, tanpa ia sadari air mata yang sudah ia simpan rapi kini kembali hadir, Dimas laangsung mengusap ketika ia melihat itu.


Dimas : "Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, tapi aku harap kamu bisa jujur padaku Din. Karena dalam hubungan kejujuran juga kepercayaan itu penting." Mendengar hal itu, Adinda langsung menangis.


Adinda : "Hiks, ma.maaf jika Adinda tidak cerita pada Kak Dimas. Ma.maaf jika Dinda sudah membuat Kakak tidak nyaman."


.


.


.


.


.


.


.


Salam hangat dari Author...

__ADS_1


Maafkeun baru update dan maafkeun jika sedikit🙏


__ADS_2