Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 62


__ADS_3

Vanya : "Ehmm yah siapa ya? Ada perlu apa kesini?" Ucapnya mencoba menormalkan ekspresi wajahnya.


Arul : "Bo.boleh aku masuk? Aku ingin bertemu dengan Om Rahmad." Pintanya.


Vanya : "Oh, o.oke. Mari masuk, kebetulan Papa sudah pulang dari Kantor." Vanya membuka pintu dengan lebar dan segera masuk diikuti oleh Arul. "Silahkan duduk dulu, itu kebetulan Papa sama Mama diruang keluarga. "Papa ini ada tamu yang cariin nih Pah." Teriaknya, kemudian Rahmad dan istrinya berjalan keruang tamu yang diikuti oleh Firman.


Randa : "Sayaaaang? Jangan teriak seperti itu enggak sopan itu namanya, kebiasan kamu ini, tuman." Ucapnya pada Vanya.


Firman : "Yaah namanya juga udah kebiasaan hidup di hutan Mah, jadi yang seperti itu deh."


Vanya : "Kyaaaaa! Mamaa lihat tuh Kak Rangga ngatain Vava orang utan." Adunya.


Firman : "Ettdah ini bocah. Siapa yang ngatain kamu seperti itu sih Dek. Telinga dipakai donk, kamu dulu waktu pembagian telinga enggak ikut yah? Pantas saja masih kurang pendengaran." Vanya yang kesal langsung memukul Rangga. "Aww sakit Vanya, lepasin enggak. Kalau enggak uang jajan kamu Kakak potong setengah, eeh emm bukan setengah tapi enggak ada jatah uang jajan." Mendengar hal itu Vanya langsung berhenti dan menatapnya dengan tajam.


Vanya : "Mama lihat tuuuh." Sambil menunjukkan wajah melasnya.


Randa : "Kalian ini kebiasaan deh, sudah berhenti jangan diterusin lagi. Kamu juga Rangga, jangan menggoda adikmu seperti itu, kalian ini kalau jauh katanya rindu, giliran sudah dekat seperto anjing sama kucingnya Pa Shaleh saja."


Vanya : "No Mama. Itu sih biar Kak Rangga aja. Kalau Vava mah ogah." Firman mendengua kesal. Sedangkan Randa hanya terkekh melihat tingkah kedua anaknya itu.


Disaat mereka bertiga tertawa, berbeda dengan Rahmad yang hanya diam. Ia terkejut dengan siapa yang datang untuk mencarinya, melihat Rahmad yang hanya diam Randa dan kedua anaknya menatap kepadanya dan tamu yang datang.


Terkejut itulah ekspresi yang ada pada wajah Randa juga Firman. Terlebih Firman yang baru kali ini bisa melihat dengan dekat wajah adik sepupunya, sedangkan Randa langsung khawatir dan panik ketika melihat sosok Arul ditambah dengan luka yang ada pada sudut bibirnya.


Randa : "Ya Allah sayang." Randa langsung menghampiri Arse dan mengusap bibirnya. "Apa yang terjadi nak? Kenapa bibir kamu terluka seperti ini, dan ini kenapa bisa sedikit robek? Apa kau baru saja ikut tawuran dijalan, apa kau punya musuh? Vanya cepat ambil kotak obat." Ucapnua dengan panik, sesangkan Arul sedikit terkejut pasalnya ia tidak tahu jika bibirnya itu sedikit robek pantas saja sangat perih, begitu fikirnya.


Vanya : "Ini Mah kotak obatnya." Vanya menyerahkan kotak obat itu pada Randa.


Rahmad : "Arse? Apa yang terjadi, kenapa bisa terluka seperti ini? Apa kedua orangtuamu sudah tahu? Kamu harus terus terang pada mereka tentang apapun meski seperti ini mereka juga harus tahu." Randa yang mendengar malah kesal.


Arul : "Arse tidak apa-apa kok Om, Tante. Tadi Arse enggak sengaja terjatuh jadi gini deh, ini juga hanya luka kecil saja." Namun seketika ia meringis karena Randa yang sedikit menekan luka itu.


Randa : "Kau bilang luka kecil? Robek dan berdarah seperi ini luka kecil!" Sungutnya marah. "Enggak mungkin luka jatuh seperti ini, jangan bohongi Tante yah, katakan sama Tante siapa yang membuat wajah tampanmu seperti ini, biar Tante kasih dia pelajaran, berani sekali dia kurang ajar dengan keluarga Wijaya!" Sungutnya dengan menggebu dan tatapan tajamnya, Firman, Arul dan Vanya yang melihat itu hanya bergidik ngeri.


Firman : "Rangga ngeri lihat Mama, jadi sudah jangan seperti iti wajahnya." Vanya juga mengangguk setuju.

__ADS_1


Randa : "Jadi kalian seperti itu dengan Mama? Lihat saja uang bulanan kalian Mama potong."


Vanya : No! Mama jangan donk, jatahnya Kak Rangga aja yang dipotong punya Vanya jangan." Rengeknya. "Kakak ih." Kesalnya.


Firman : "Kenapa jadi gue yang disalahin sih? Mamaaaa...." Panggilnya dengan manja, namun Randa hanya diam. Melihat itu Arse terkekeh.


Rahmad : "Arse katakan pada Om siapa yang melakukan ini, Om percaya kamu tidak memiliki musuh. Ehmm ingat kamu juga harus memberitahu orangtuamu, biar mereka segera kembali kesini."


Randa : "Kenapa kau membahas tentang mereka disini sih Mas, biarkan saja mereka disana dan tidak kembali kesini. Jika mereka tidak ingin merawat kedua anaknya, biar aku saja yang merawat Arse juga Amara karena aku masih sanggup." Ucapnya dengan ketus.


Rahmad : "Bukan begitu Ma, bagaimanapun juga mereka tetap orangtua Arse dan Amara."


Randa : "Iya aku tahu, tapi jika mereka tidak berniat untuk mengurus anaknya lebih baik mereka berdua jadi anak aku saja." Rahmad hanya menggelengkan kepala. Ya memang begitulah sifat Randa jika menyangkut soal anak-anaknya meski Arul dan Adinda bukanlah anak kandung, bagi hidupnya keduanya adalah anak kandungnya sendiri.


Vanya : "Oke, bisakah kalian menjelaskan padaku siapa dia, dan apa hubungan kita dengan dia?" Semua orang langsung menatap Vanya.


Randa : "Sayang, ini Arse anaknya Om Reyhan dan Tante Linda, apa kau lupa?" Vanya mengangguk mencoba mengingatnya. "Arse, dia ini Vanya dan yag yang itu Rangga. Apa kau ingat dengan mereka." Arse sedikit terkejut dengan keberadaan Firman disana, pasalnya sejak kedatangannya tadi, dia tidak begitu memperhatikan lelaki itu.


Rangga : "Rangga sudah tahu kok Ma, karena sejak kemarin kami bersama." Semua menatap Firman. "Ternyata Arse ikut PPA, Amara juga ikut jadi secara enggak langsung kami sudah saling bertemu yaa meskipun Rangga sedikit ragu apa benar mereka itu kedua adikku."


Randa : "Jadi anak Mama ini jadi tukang masak? Padahal di rumah jarang sekali masakin Mama." Ucap Randa dengan sinis.


Firman : "Bukan tukang Mama, emang Rangga ini pekerja bangunan apa. Rangga ini chef handal loh." Ucapnya membanggakan diri.


Vanya : "Chef? Hecmmm sudah bagus disebut tukang tuh Kak." Vanya langsung tertawa. sedangkan Firman hanya mendengua kesal pada adiknya itu.


Rahmad : "Sudah tidak apa yang penting anak-anak Papa memiliki keahlian semuanya. Oh iya Rangga, kamu tolong jaga Arse dan Amara ketika di organisasi karena bagaimanapun juga mereka berdua ini adik kamu. Itu juga berlaku untuk kamu Vanya, kalian juga harua saling menjaga satu sama lain." Firman dan Vanya mengangguk.


Randa : "Baiklah sekarang Arse kamu lebih baik mandi dulu ya nak, kamu bersih-bersih di kamar Rangga saja. Nak bawa adikmu masuk ke kamar, biarkan dia mandi dan istirahat dan yah ambilkan dia baju kamu yang masih baru. Mama akan menyiapkan makan untuk nanti malam terlebih dahulu, karena ada Arse jadi Mama akan masak makanan yang enak." Ucapnya penuh senang. Rangga kemudian berjalan ke kamar diikuti Arse, sedangkan Vanya juga ikut kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Setelah kepergian ketiga anaknya itu, Randa sedikit termenung. Entah apa yang ia fikirkan saat ini, namun jika dilihat dari wajahnya sepertinya ia tengah memikirkan Arse dan juga Amara ditambah luka yang ada disudut bibir Arse membuat Randa semakin penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Rahmad yang melihat istrinya melamun langsung mendekatinya dan menepuk bahu sang istri dengan lembut.


Rahmad : "Hei, ada apa sayang? Tadi bilang ingin siapin makanan untuk nanti malam, kok malah melamun sih. Apa yang kamu fikirkan?"


Randa : "Eh, enggak kok Mas. Hanya saja aku masih penasaran dengan luka yang dimiliki Arse, itu luka baru Mas dan aku yakin itu bekas tamparan seseorang." Jawabnya kemudian diam.

__ADS_1


Rahmad : "Jangan terlalu berfikir jauh Ma, siapa tahu itu memang benar sehabis jatuh kan. Sudah Mama tenang saja."


Randa : "Bagaimana mungkin Mama hanya diam, Mama sangat yakin ada sesuatu yang Arse sembunyikan. Apa mereka berdua sudah kembali ke Indonesia?" Tanya Randa tiba-tiba.


Rahmad : "Mereka siapa maksud kamu Mah?" Tanyanya pada sang istri.


Randa : "Siapa lagi jika bukan Reyhan dan Melinda. Apa mereka berdua sudah kembali?" Rahmad langsung tersentak dengan penjelasan sang istri. "Jika mereka benar kembali, apa ini ada hubungannya dengan kepulangan mereka?" Gumamnya pelan. "Mas, sebaiknya kamu selidiki tentang hal ini. Aku tidak ingin kedua anakku itu semakin sakit, dan jika luka itu ada hubungannya dengan mereka aku akan membuat mereka menyesal." Ucapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Rahmad sedang memikirkan perkataan sang istri, apa benar kedua orangtua Arse sudah kembali, begitu fikirnya.


Rahmad : "Baiklah, Papa akan menyelidiki tentang hal ini, jadi kamu tenang saja dan jangan lupa siapkan makanan kesukaan Arse Ma, dia pasti akan senang." Randa mengangguk senang dan bangkit lalu berjalan menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam hangat dari author😄😄


__ADS_2