
Randa : "Siapa lagi jika bukan Reyhan dan Melinda. Apa mereka berdua sudah kembali?" Rahmad langsung tersentak dengan penjelasan sang istri. "Jika mereka benar kembali, apa ini ada hubungannya dengan kepulangan mereka?" Gumamnya pelan. "Mas, sebaiknya kamu selidiki tentang hal ini. Aku tidak ingin kedua anakku itu semakin sakit, dan jika luka itu ada hubungannya dengan mereka aku akan membuat mereka menyesal." Ucapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Rahmad sedang memikirkan perkataan sang istri, apa benar kedua orangtua Arse sudah kembali, begitu fikirnya.
Rahmad : "Baiklah, Papa akan menyelidiki tentang hal ini, jadi kamu tenang saja dan jangan lupa siapkan makanan kesukaan Arse Ma, dia pasti akan senang." Randa mengangguk senang dan bangkit lalu berjalan menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan.
Setelah kepergian istrinya, Rahmad memutuskan untuk melihat keadaan Arse dikamar Rangga. sesampainya ia didepan kamar Rangga, Rahmad membuka pintu itu secara perlahan karena pintu tidak dikunci.
Firman : "Arse, sekarang kamu mandilah dulu, ini ada baju gue rasa pas dibadan loe karena sepertinya badan kita hampir sama."
Arul : "Ehmm baiklah Bang, aku mandi dulu ya." Arul segera mengambil handuk dan juga baju yang ada di ranjang. Namun langkahnya terhenti karena ucapan Firman.
Firman : "Hei, jangan formal seperti di PPA karena kita ini keluarga. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Kakak sama seperti Vanya, karena kamu juga adikku." Tanpa disangka, Arul yang memang selalu dingin dan datar langsung menghambur memeluk Firman dengan erat. "Hei, mana Arse yang gue denger dari anak-anak terkenal datar dan dingin seperti di PPA?" Arse hanya terkekeh dan Firman langsung membalas pelukannya tak kalah erat. Sungguh pemandangan yang sangat hangat jika dilihat.
Arul : "Terima kasih karena Kak Rangga dan keluarga masih mau menerima aku dan juga Kak Dinda. Andai mereka juga sehangat ini pada kami, dan tidak mengacuhkan kami sejak lami, kami tidak akan seperti ini." Kini ucapan itu membuat Firman tertegun.
Firman : "Apa maksud dari ucapannya? siapa maksudnya mereka? Atau jangan-jangan Tante Linda dan Om Rey sudah kembali? Luka ini, apakah karena..." Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Hingga tepukan dibahunya menyadarkan lamunannya. "Baiklah sekarang kamu mandi dulu, lihatlah wajah kamu sudah berantakan seperti ini, dan ya hati-hati dengan lukamu ini." Sambil menunjuk sudut bibir yang terluka, Arul mengangguk dan langsung ke kamar mandi.
Rahmad yang melihat kejadian itu membuat hatinya mencolos dan tercecer. Bagaimana mungkin anak seusianya sudah harus mengalami yang namanya broken home yang memang sungguh rumit seperti ini, hatinya seakan tersayat melihat keponakannya mengusap sudut matanya. Rahmad memutuskan menutup pintu itu dengan pelan, dan kemudian melnjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya yang berada disudut lantai dua.
* * *
Kini tiba saatnya Adinda dan Dimas berpisah, karena waktu sudah menunjukan 15:30 adzan sudah berkumandang di seantero kota. Adinda langsung menatap wajah kekasihnya itu, ada guratan lelah pada wajahnya, namun semua itu seakan tertutupi dengan kharisma dan ketampanannya. Dimas yang menyadari hal itu langsung menoleh pada Adinda.
Dimas : "Hei gadis ceroboh, apa aku terlalu tampan hingga kau tak ingin berpaling dari wajahku ini?"
Adinda : "Ya." Jawabnya dengan reflek, hal itu membuat sebuah senyum terbit di bibir Dimas. Adinda langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan tangan. "Eeh, ehmm maksudnya tadi bukan begitu Kak." Dimas mengangkat alisnya.
Dimas : "Hecmm baiklah, saya memang tidak setampan itu." Jawabnya sok kecewa. "Sudah ashar, Andre sudah jalan kesini. Sebelum itu aku akan mampir ke Masjid dan langsung berangkat." Namun Adinda masih diam. "Hei kenapa diam saja, hem?"
__ADS_1
Adinda : "Eh, e.enggak kok Kak. Kak Dimas sudah akan berangkat?" Dimas mengangguk. "Apa Dinda boleh mengantar?" Cicitnya pelan namun masih bisa didengar. Hal itu membuat Dimas menautkan kedua alisnya.
Dimas : "Hecmm bukan saya tidak memperbolehkan, tapi hubungan kita memang seperti ini. Walau sujujurnya Andre sudah mengetahuinya, tapi tetap biarkan seperti ini. Saya tidak ingin kamu merasa was was maupun kurang nyaman berhubungan denganku." Mendengar hal itu Adinda langsung mengangkat kepalanya. "Aku tidak akan lama Dek, aku akan usahakan untuk segera selesai. Satu hal lagi, aku mohon kamu bisa menjaga hati kamu saat jauh dariku, aku tidak ingin orang lain masuk dalam hubungan kita ini." Ucapnya tegas dengan kembali mengingat kebersamaan Dinda dengan Akbar kemarin.
Adinda : "ehemmm baiklah. Maaf jika hubungan ini harus berjalan seperti ini." Ucapnya menunduk. "Adinda akan jaga hati Dinda untuk Kakak, aku harap Kakak juga begitu." Ucapnya kembali dan kini ia menunjukkan senyum manisnya yang memang membuat laki-laki mengagumi kecantikannya. Dimas langsung mengangguk.
Dimas : "Semoga tidak semakin banya lelaki yang mendekatimu." Harapnya dalam hati. "Baiklah, sekarang kau ingin kemana? Biar saya antar pulang ya." Adinda mengangguk setuju. Dimas langsung meraih ponsel dalam sakunya dan melihat layar itu, sebuah pesan masuk dari Andre yang mengatakan bahwa ia telah sampai di tempat parkir toko tersebut. Akhirnya mereka berjalan beriringan.
Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Hal tersebut dikarenakan wajah Dimas yang terlalu tampan ditambah tubuh tinggi, tegap dan kokoh serta berkharisma tampak berwibawa karena pakaian kantornya. Taman itu memang akan terlihat ramai jika sore hari, meski taman ini berada dihalaman belakang toko buku namun ini termasuk tempat favorit para muda mudi yang ingin berduaan meski hanya sekedar jalan-jalan saja karena taman ini termasuk taman yang memiliki banyak spot untuk berfoto.
Dimas dan Adinda kini sudah sampai di parkir toko, pada saat itu juga Andre sudah siap dengan gaya kantornya, balutan kemeja dan jas yang menempel ditubuhnya, wajah yang tampan tidak kalah dengan Dimas. Andre langsung berjalan menghampiri Dimas dan Adinda.
Andre : "Apa Anda sudah ingin berangkat Tuan Muda?" Tanya Andre dengan sopan.
Dimas : "Apa kau lupa saat ini kita dimana Andre? Saya sudah sering katakan padamu." Ucapnya dengan dingin. Sedangkan Adinda hanya menunduk meski sedikit terkejut dengan sikap Andre yang begiti sangat formal, namun ia berusaha diam karena ia takut akan membuat Dimas semakin kesal. "Kita antar Adinda ke rumahnya dulu baru berangkat ke Bandara." Andre mengangguk.
Masih didalam mobil, sopir yang fokus pada jalannya. Andre sesekali melirik kebelakang melalui kaca mobil, tampak Dimas dan Adinda hanya berdiam diri Adinda yang melihat keluar jendela sedangkan Dimas fokus dengan file yang ada di ponselnya, namun kedua tangan sejoli itu saling bertautan dan saling menggenggam erat satu sama lain.
Hingga tak terasa mobil telah sampai didepan rumah bernuansa klasih sederhana dengan halamam luas dan terdapat pohon besar disudut halaman itu. Ketika Adinda akan membuka pintu mobil, tangannya ditahan oleh genggaman Dimas. Adinda melihat genggaman itu dan menatap Dimas.
Adinda : "Ada apa Kak?" Sambil melihat mata Dimas. Dimas menghela nafas.
Dimas : "Apa kau akan pergi begitu saja?" Adinda mngernyitkan dahinya. "Hecmmm baiklah jika inginmu begitu." Adinda semakin bingung.
Adinda : "Apa yang Kak Dimas inginkan." Tanyanya pelan. Namun Dimas hanya diam, dan tak bergeming. Adinda menghela nafas. "Hecmm mulai lagi dinginya." Gumamnya dalam hati.
Dimas : "Hei aku memang dingin dan datar." Ucap Dimas seakan tahu apa yang Adinda fikirkan.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Salam hangat dari Author😄😄
__ADS_1