
Tibalah Andre ditempat Parkir, dimana mobil yang biasa ia kendarai terpampang disana. Arya yang memang sebelumnya mengikuti langkahnya kini berhenti tepat dibelakang lelaki dingin itu.
Andre : "Bagaimana hasilnya?" Tanyanya langsung.
Arya : "Maaf. Sepertinya ada yang mencoba untuk menutupi akses disana." Andre mengernyit.
Andre : "Menutupi akses disana?" Arya hanya berdehem. "Alamat id nya?"
Arya : "dyt." Jawabnya sedikit ragu.
Andre : "Dyt?" Gumamnya pelan, kedua tangannya ia masukan kesaku celana. Sedangkan matanya terpejam seakan mengingat sesuatu.
DEG!
Seketika Andre mengingat sesuatu dengan id tersebut. Andre langsung membuka mata dan bergegas masuk menghampiri kuda besi miliknya, meraih alat pintar yang selalu menemani ia bekerja sekaligus hadiah dari Dimas.
Arya : "Andre? are you oke?" Tanyanya ragu karena melihat wajah Andre yang sedikit tegang.
Andre : "Apa benar? Jika memang benar kenapa dia tidak kembali?" Gumamnya pelan. "Arya, bisakah kamu meminta Shekar untuk meretas id ini?" Arya memandang heran. "Katakan saja jika saya butuh data pemilik id ini."
Arya : "Baiklah, saya akan mengatakan padanya. Tapi jika dia tidak mene_"
Andre : "Jika itu terjadi infokan pada saya, saya yang akan mengurusnya." Putus Andre tanpa mendengarkan perkataan Arya.
Arya langsung mengundurkan diri dari hadapan Andre, setelah sebelumnya berpamitan padanya.
"Jika memang kamu masih ada, kenapa kamu tidak kembali? Apa alasanmu melakukan semua ini Bang? Semoga apa yang aku rasakan ini memang benar, aku tidak ingin membuat Pastu kecewa dengan keyakinanku." Ucapnya berharap dalam hati.
Flashback On...
Pastu melihat sekeliling kamar itu, ia tidak melihat keberadaan Andre. Bahkan di ranjang pun ia juga tidak melihat. Langkahnya menuju kamar mandi, tidak ada orang yang ia cari, walk in closed juga tidak ada.
Hanya pecahan kaca yang berserakan disana, dan bercak darah yang masih tertempel diujung pecahan kaca itu.
Kemudian matanya menatap pintu balkon yang tirainya melambai disapu angin. Angin masuk melalui pintu itu, yaa pintu itu terbuka.
Pastu : "Apa yang sedang kau lakukan, Andre?" Andre menoleh pada lelaki itu. "Tanganmu berdarah, kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini? Jangan lakukan hal bod*h Andre." Perintahnya tegas.
Andre hanya menanggapi itu dengan tersenyum tipis namun tetap berwajah datar dan kembali menatap laptopnya. Matanya fokus hanya pada layar itu saja.
Sesekali Andre menghela nafas kasar, dan kembali berkutat dengan benda itu.
Andre : "Om, boleh saya meminta satu hal?" Andre mendongak menatap Pastu. Pastu mengangguk.
Pastu : "Apa yang kau inginkan?" Andre menghirup udara sabanyak mungkin seakan udara disana akan habis.
Andre : "Aku ingin tinggal disini untuk beberapa waktu, dan izinkan aku untuk menyelidiki semua ini." Ucapnya tegas tanpa ragu.
Pastu : "Apa yang kamu katakan Andre? Tidakkah kamu lihat bagaimana orang suruhan Opa menemukan jenazah Dimas? Om tahu, baik kamu maupun Septian belum menerima semua ini. Tapi Om mohon jangan bersikap seperti itu Andre, kasihan Dimas jika melihat kalian tidak menerima kepergiannya."
Andre : "Aku hanya ingin meyakini hal yang memang harus aku yakini. Untuk hal ini, aku tidak bisa meyakini apalagi kepergian Dimas. Maaf, Andre enggak bisa percaya sebelum semuanya terbukti."
Pastu menghela nafas dengan kasar. Baginya lebih baik menasehati Si bontot daripada Andre karena menasehati Andre sama saja berbicara dengan Dimas si Raja Es.
Pastu : "Kamu obati dulu luka itu, dan fikirkan kembali keinginan kamu ini Andre. Om akan keluar dulu untuk mengurus jenazahnya."
Andre hanya diam tidak menanggapi. Sedangkan Pastu langsung beranjak dari sana setelah mengusap puncak kepala Andre.
__ADS_1
Flashback End...
.
.
.
Sementara itu ditempat yang berbeda Firman sedang duduk berdua dengan Adinda. Entah apa yang mereka fikirkan, sejak tadi kedua Kakak beradik itu hanya berdiam diri tidak berniat untuk saling berbicara.
Firman : "Are you oke, Amara?" Tanya Firman memecah keheningan.
Sedangkan Adinda masih tak bergeming, matanya masih menatap taman yang luas. Yang tidak hanya dipenuhi tanaman namun juga para manusia yang berlalu lalang disana.
"Kamu terlihat kurus setelah operasi beberapa bulan lalu. Seharusnya kau makan yang banyak agar kembali seperti semula. Jaga kesehatan Mara, karena kesehatanmu itu penting." Ucapnya lagi.
Adinda : "Apakah dia saat ini sudah bahagia disana?" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan, bahkan tidak menjawab ucapan Firman.
DEG!
Firman terasa dicubit dengan pertanyaan Adinda. Karena ia sendiri belum meyakini sahabatnya itu pergi.
Firman : "Di sana dia pasti bahagia Mara, percayalah akan hal itu." Hening lagi.
Adinda : "Apa ini mimpi? Aku masih belum percaya jika lelaki dingin itu benar-benar sudah pergi. Terasa begitu cepat dan singkat pertemuan kami hingga akhirnya harus dipisahkan dengan cara seperti ini."
Firman : "Gue sebenarnya menolak untuk percaya jika dia sudah pergi, tapi semua memang mengarah ke sana. Kakak harap kamu bisa menerima semua ini, jangan sampai kejadian beberapa bulan lalu terulang." Mohonnya pada Adinda. "Mengenai tatapan tajam Andre?" Tanyanya pelan.
Adinda menghela nafas.
Adinda : "Sebenarnya aku enggak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Tatapan tajam Kak Andre juga Kak Septian seakan menusuk. Mereka seperti memiliki dendam Kak."
"Tatapan tajam Andre, gue yakin ada hal besar yang ia lakukan. Untuk Septian, sepertinya bocah bontot itu masih belum menerima sikap Arse saat di Puncak."
Hening lagi, mereka kembali dengan pemikiran mereka sendiri.
"Mengenai Arse?" Ucapnya ragu.
Adinda menatap Firman, lalu pandangannya kearah bawah. Kedua tangannya memilik ujung baju yang ia kenakan.
Adinda : "Sejak kejadian itu dan setelah kepergian Kak Dimas, Arul sedikit berubah." Firman mengernyitkan dahinya. "Dia tidak secerewet dulu ketika di Rumah. Cenderung melakukan semuanya sendiri, tidak banyak bertanya seperti biasa."
Firman : "Semoga ada keajaiban yang datang menghampiri kita. Heuft, gue masih berharap semua ini hanya mimpi." Adinda hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum lembut namun terlihat sendu.
Mereka menatap hamparan manusia yang lalu-lalang disekitarnya.
Adinda : "A.aku sungguh merindukan dia, hikss." Ucapnya pelan namun masih bisa didengar.
Firman yang mendengar itu langsung memeluk tubuh sang adik. Tidak ia hiraukan pandangan setiap orang yang melihat mereka dengan pandangan mengintimidasi.
Saat ini yang ia inginkan adalah membuat adiknya ini nyaman juga tenang.
Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang melihat keduanya.
Arul yang baru saja tiba dengan ketiga sahabatnya melihat sang Kakak langsung berhenti melangkah.
Azriel : "Hei, ayo kita harus segera masuk ke basecamp Rul. Kalau tidak Bang Yayak pasti mengaum." Arul masih diam tidak menanggapi.
__ADS_1
Alvin dan Nauval yang tidak mendapati suara langkah sahabatnya, menoleh kebelakang. Seketika kedua sahabat itu langsung mengikuti arah pandangan Arul begitupun Azriel.
Mereka berempat melihat wajah sendu Adinda, tidak perlu mencari tahu ada apa. Karena mereka yakin hanya satu hal yang membuat wanita itu sedih, tidak lain tidak bukan adalah kepergian Dimas.
Lelaki dingin yang memiliki julukan Raja Es di seantero Kampus. Entah darimana seorang Adinda gadis yang terkenal lembut dan tidak dekat dengan lelaki itu bisa jatuh hati pada lelaki dingin Nusa Bangsa.
Sungguh mereka sama sekali tidak mengerti.
Alvin : "Kau ingin menemui mereka?" Arul menatap Alvin sekilas lalu menggelengkan kepalanya.
Nauval : "Sudahlah, lebih baik kita langsung masuk saja." Ajaknya. "Percayalah semua akan baik-baik saja." Arul hanya diam mendapat tepukan dari Nauval.
Alvin dan Nauval melanjutkan langkah mereka. Sedangkan Azriel masih menatap Arul.
Azriel : "Cukup kita jadikan ini sebagai pelajaran, semoga masih ada keajaiban." Ucapnya sok bijak.
Arul yang mendengar itu hanya tersenyum dengan samar.
Keempat sahabat itu langsung melanjutkan langkah mereka untuk menuju ditempat dimana para tetua PPA berada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah akhirnya bisa update lagi. Sekali lagi maafkeun enthor nyak.🙏
Selamat berpuasa untuk Kakak semuanya, maafkeun jika enthor banyak salah terutama jika jarang update.😔😔
.
Percayalah Kakak semua, enthor sedang mengusahakan untuk selesaiin masalah pribadi yang sungguh menguras esmosi.
Sekali lagi, maaf. Semoga dimaafkeun.
Happy Ramadhan untuk Kakak semua. Semoga kita semua berhasil melaksanakan kewajiban puasa tahun ini dengan baik.
.
__ADS_1
.
Salam hangat dari enthor...