
Reyhan : "Melinda?!" Panggil Reyhan, "Jaga ucapanmu pada Adinda! Adinda?" Adinda langsung menoleh pada sang Papa. "Kamu harus memberi contoh yang baik untuk adik kamu ya sayang." Ucapnya dengan lembut, karena ia tahu Putrinya ini tidak bisa menerima perlakuan kasar seperti suara sang Mama. Sedangkan Adinda kini berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Arul yang mendengar sang Mama seakan menyudutkan Adinda langsung tidak terima.
Arul : "Hentikan! Jangan pernah menyudutkan Kakak atau berteriak pada Kakak ku! Kalian tidak berhak menyudutkan Kak Dinda, kalian tidak punya hak apapun!" Kini emosi Arul sudah tidak terkendali. "Apa hak kalian terhadap kami?! Kalian sudah tidak memiliki hak itu setelah kalian memutuskan untuk berpisah!"
PLAK!! Sebuah tamparan mendarat ke pipi Arul. Bekas tamparan yang merah dan sudut bibir yang berdarah sungguh kontras dengan wajah Arul yang berkulit putih.
Reyhan : "Melinda!" Teriak Reyhan pada mantan istrinya itu.
"Arul!" Teriak Arya dan Adinda hampir bersamaan. Sedangkan Arul hanya menyunggingkan bibirnya meski sedikit perih. Adinda langsung menghampiri sang adik.
Arya : "Mbak! Apa yang kau lakukan? Kau menyakiti anak mu sendiri! Kali ini kau benar-benar keterlaluan Mbak." Sarkas Arya pada Melinda.
Reyhan : "Arse, kamu tidak apa sayang?" Ucap Reyhan yang masih lekat menatap Putranya. "Kau keterlaluan Melinda!" Kini Reyhan menatap mantan istrinya dengan tajam. Sedangkan Melinda kini melihat tangan kanannya, tangan itu masih gemetar, tangan yang membuatnya tega menyakiti sang Putra.
Sedangkan Adinda, air mata yang ia tahan kini tumpah ketika melihat sudut bibir sang Adik sedikit berdarah, ia diam namun sesenggukan karena hal ini. Ia segera mengusap bibir adiknya menghilangkan noda darah dengan jarinya.
Arul : "Kakak enggak perlu menangis, ingat jangan pernah menangis karena mereka. Air mata Kakak lebih berharga dari apapun, jangan sedih ini hanya luka kecil kok, Kakak kan tahu Arul kuat ini hanya hal sepele, jadi jangan pernah Kakak menangis hanya karena sebuah tamparan yang tidak ada apa-apanya." Ucap Arul mencoba tersenyum didepan Adinda.
Arya : "Arul, lebih baik kalian masuk ke kamar. Adinda kamu segera obati luka adikmu dulu yah." Pinta Arya pada sang ponakan.
__ADS_1
Arul : "Biarkan Arul disini dulu Om, Arul ingin menyampaikan sesuatu yang seharusnya sudah Arul sampaikan sejak lama, sesuatu yang seharusnya mereka dengar sejak awal." Jawabnya menolak permintaan Arya. Arul menghela nafas dengan kasar, ia menatap kedua orangtuanya. "Arul kecewa sama Mama, Arul juga kecewa sama Papa. Arul kecewa dengan kalian berdua." DEG. Kata-kata Arul langsung membuat hati Melinda dan Reyhan teriris, apa kedua anaknya membencinya begitu fikir mereka.
Melinda : "Apa maksud kamu sayang? Ingat kami ini orangtua kamu. Apa yang kamu butuhin sekarang, apa yang kamu mau nak, kami pasti akan memenuhi semuanya."
Arul : "Apa yang kami butuhkan, apa yang kami mau? Haha. Kenapa pertanyaan itu tidak Mama tanyakan dari awal sebelum kalian memutuskan untuk berpisah?!"
Melinda : "Papa dan Mama bekerja untuk kamu untuk Kakak kamu, kami berkarir untuk kalian. Kami pasti akan memenuhi segala keinginan kalian." Ucapnya terjeda.
"Sekarang Mama hanya ingin kalian ikut Mama ke Jerman karena Mama tidak ingin kalian berubah seperti sekarang ini. Jangan melarang Mama untuk berbicara kasar pada Kakak kamu jika dia berbuat salah maka Mama wajib memberitahu dia. Mama tidak suka Arse!" Ucapnya dengan tegas. Sedangkan Adinda hanya menunduk mengusap air mata yang sudah kabur dari pelupuk matanya, Arul yang mendengar itu hanya tersenyum miris.
Reyhan : "Jaga ucapanmu Linda! Apa kau lupa? Adinda tidak bisa mendengar kata kasar dari orang lain!" Ucapnya meninggi, Melinda yang seakan lupa dengan hati Putrinya kini tersentak karena ia baru ingat dan langsung menatap Putrinya "Apa kau lupa dengan Putrimu sendiri Linda?" Reyhan hanya menggelengkan kepalanya. "Adinda, Arse lebih baik kalian masuk ke kamar sekarang."
Ketika Melinda akan berjalan kearah Adinda, langkahnya terhenti karena ucapan Arul...
"Mama tidak tahu penderitaan kami selama ini, Mama tidak tahu perjuangan kami, Sekarang Mama bilang akan membawa kami ke Jerman? Setelah itu meninggalkan kami untuk mengejar karir Mama? Apa itu hal yang baik untuk kami berdua? Kenapa yang ada difikiran kalian hanya karir dan materi? Kami hanya butuh kasih sayang, kami ingin seperti keluarga lainnya yang normal! Selalu diperhatikan orangtua, ditemani, selalu memiliki waktu untuk keluarga, materi yang kalian cari tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan kami, semua itu tidak bisa digunakan untuk membeli waktu dan kebersamaan kami." Ucapnya terhenti, ia menghela nafasnya pelan mencoba untuk menahan emosi yang akan membuatnya semakin hilang kendali.
Adinda : "Arul, sudah ya Dek, sekarang kita keatas, luka kamu harus segera diobati." Adinda berusaha membujuk sang Adik.
Arul : "Tidak Kak, semua harus selesai hari ini juga." Ucapnya menolak Adinda. "Kalian memutuskan bercerai tanpa bertanya dulu pada kami, kalian memutuskan berpisah tanpa memikirkan bagaimana perasaan kami. Memberikan janji yang bahkan selama ini tidak kalian tepati, sebuah janji yang kalian umbar pada anak usia 11tahun dan 13tahun. Janji untuk sering kembali, janji untuk selalu memberi perhatian juga kasih sayang dan bodohnya kami selalu percaya dengan ucapan dan janji kalian. Kalian anggap kami ini apa?!"
__ADS_1
Adinda : "Arul, sudah hentikan! Kakak mohon jangan dilanjutkan lagi." Arul tak mengindahkan, dia kembali bicara mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Arul : "Kami ini bukan barang yang bisa kalian tukar, yang bisa kalian beli dengan materi yang kalian cari, kami bukan barang yang bisa kalian pindahkan karena angel yang tidak bagus, kami bukan pajangan yang bisa kalian abaikan, kami ini hanya anak-anak yang butuh perhatian dan kasih sayang dari orang sekitarnya terutama dari kedua orangtuanya. Kami tidak butuh materi yang banyak! Untuk apa banyak harta, banyak materi jika kebutuhan batin kami tidak terpenuhi? Kalian selalu sibuk dengan urusan kalian, kalian selalu mengabaikan kami setiap kami menghubungi kalian, selalu dan selalu itu alasan kalian, masih dengan alasan yang sama. . . sibuk kerja, sibuk rapat, sibuk karena perjalanan. Lalu kapan kalian ada waktu untuk kami?! Kapan kalian memperhatikan kami jika kalian selalu mengabaikan kehadiran kami, kapan kalian mempedulikan kami? Jika hanya untuk hidup seperti ini, jika hanya untuk diabaikan seperti ini lebih baik dari awal kalian tidak melahirkan dan membesarkan kami!" Ucapnya meninggi, kembali Arul menghela nafas. "Kalian tidak pernah menghubungi kami sedikitpun jika bukan kami yang menghubungi kalian. Bahkan hampir dua tahun kalian tidak kembali, sudah selama itu kalian tidak bersua, lalu untuk apa kalian pulang kesini?! Untuk apa kalian kembali?" Ucapnya dengan suara lemah. "Untuk apa kalian pulang kemari jika untuk bertengkar seperti ini?!" Lanjutnya.
Semua yang ada disana diam ketika Arul mengeluarkan segala unek-unek yang ada dihatinya. Tangis Adinda pecah saat itu juga, ia semakin sakit merasakan apa yang adiknya rasakan. Bi Narti dan Pa Diman yang ada didapur ikut menangis mendengarkan suara pilu dari anak usia 15tahun itu. Mereka adalah saksi kehidupan dari kedua anak Adam dan Hawa itu selama ini, tangis yang selalu mereka dengar hampir setiap malam menjadi saksi betapa sakit dan sedihnya Arul dan Adinda setelah perpisahan kedua orangtuanya.
Arul : "Saya tekankan sekali lagi, saya kecewa dengan kalian, dan yaa saya mohon jangan dekati kakakku, jangan coba sakiti kakakku lagi. Aku tidak apa jika Mama melupakan kami tapi satu hal yang harus Mama ingat jangan pernah membentak atau bicara kasar pada Kakakku. Karena selama ini hanya Kakak yang ada untukku, hanya dia yang selalu memberikanku semangat, memberikanku perhatian, pengertian, kasih sayang. Hanya dia yang selalu berjuang untuk tetap berada disisiku, hanya Kakak yang menyayangiku selama ini. Lalu dengan seenaknya Mama datang lalu memarahi Kakak?" Arul tersenyum miris dengan kisah hidupnya. "Keluarga ini dari awal memang sudah tidak sempurna, hehe. Tidak layak disebut dengan keluarga apalagi menjadi keluarga harmonis, keluarga yang dipenuhi dengan kasih sayang juga cinta, semua itu bulshit! Semua hanya omong kosong saja."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Salam hangat dari Author😄😄