
Tiba-tiba terdengar suara Indra yang memberikan informasi. . .
Indra : "Baiklah karena sudah malam, kita istirahat. Untuk bidang keamanan kalian giliran jaga ya." Semua mengangguk. "Yang lain jika masih ingin disini kami tidak melarang tapi usahakan harus kembali seperti semula. Yak kondisikan untuk malam ini."
Yayak : "Beres Ndra!" Jawab Yayak mengacungkan ibu jarinya.
Firman : "Apakah Amara sudah kembali ke bestcamp, apa dia dan Arse baik-baik saja?" Gumamnya dalam hati. Hal itu tak lepas dari Shinta sahabat Angel.
Shinta : "Apa kau baik-baik saja Fir? Kenapa kau terlihat cemas?"
Firman : "Aah enggak, gue cuma lagi mikir makanan buat besok aja apalagi besok hanya setengah hari dan tidak full." Jawabnya mengalihkan pertanyaan Shinta.
Shinta : "Tenanglah, semua pasti beres ditambah anggota baru juga tidak banyak yang rewel soal makanan." Firman mengangguk.
Semua pembicaraan mereka tak lepas dari penglihatan Indra, Indra selalu memperhatikan Shinta. Jika ditanya apakah Indra memiliki rasa dengan Shinta jawabannya tentu iya, karena Shinta adalah wanita yang berpikiran dewasa dan dia juga lembut dan hangat.
Kemudian sebagian anggota membubarkan diri mereka masing-masing. Bahkan juga masih ada yang tinggal disana. Khusus yang putri istirahat di bestcamp PPA sedangkan yang putra istirahat di Aula tepatnya disudut Aula karena sudah disiapkan oleh para senior.
Agista : "Huh gue capek banget nih, gue pengen tidur sekarang." Kedua sahabatnya mengangguk setuju. Mereka langsung kembali ke bestcamp dan langsung tertidur.
Sementara itu ketika Adinda hendak keluar Arul memegang tangannya. Adinda berbalik pada yang empunya...
Adinda : "Kenapa dek? Kamu ingin sesuatu?" Arul masih diam. "Kenapa jadi diam sih?"
Arul : "Arul ingin bicara sebentar, boleh?" Adinda yang bingung dan penasaran langsung mengiyakan. Mereka keluar Aula dan melangkah menuju taman dekat Masjid.
* * *
Sementara diluar Aula, Azriel sudah keluar dari toilet dan ingin berjalan menuju Aula. Saat hendak melewati taman dekat tempat parkir kendaraan anggota PPA ia melihat Dimas dan Andre sedang berbicara serius terlihat dari wajah mereka yang tanpa ekspresi.
Azriel mencoba mendekat untuk menyapa keduanya, namun langkahnya terhenti ketika Andre menyebut nama Adinda.
__ADS_1
Azriel : "Apa yang mereka bicarakan kenapa menyebut nama Kak Adinda?" Gumamnya pelan. Ia kembali fokus mendengarkan pembicaraan Dimas dan Andre.
Andre : "Apa Anda benar baik-baik saja Tuan?"
Dimas : "Apa maksudmu Ndre? Apa kau melihat ada yang aneh padaku?"
Andre : "Bu.bukan begitu tapi ketika gadis itu dan Anda diatas panggung, saya merasa ada yang berbeda. Apa Anda tak bahagia bisa bernyanyi dengan Adinda?"
Dimas : "Apa saya harus laporan padamu terlebih dahulu? Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk Angel dan yayak meski aku tahu apa maksud Yayak melakukan hal itu. Tapi itu terserah padanya saja. Untuk soal Adinda..." Hening, Dimas tampak menghela nafas perlahan seperti mencoba untuk menahan lelah yang sudah menumpuk ditambah kejadian barusan yang membuat MBA semakin memperhatikan gadisnya. "Soal Adinda, biarkan tetap seperti ini. Jika hal ini yang dia inginkan aku tidak akan memaksa hubungan ini. Lagipula Arul pasti juga merasakan MBA menaruh hati pada kakaknya karena ia juga memperhatikan sikap MBA. Aku hanya akan mempertahankan sesuatu yang ingin aku pertahankan, jika dia ingin aku bertahan maka aku akan bertahan tapi jika tidak maka aku tidak akan memaksa." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Andre : "Tapi bagaimana dengan hati Anda? Bukankah hal itu juga sakit? Kenapa harus ada cinta sembunyi jika hal itu tidak membuat keduanya bahagia? Anda dan dia sudah berapa lama? Kenapa hubungan ini tidak di publish? Kenapa harus sembunyi?"
Dimas : "Aku bahagia jika dia bahagia Ndre, masalah hati tidak ada yang tahu kapan akan sakit karena siapapun tidak akan tahu karena meski sakit tidak nampak berdarah. Kami sudah berjalan dua bulan, dan bulan ini bulan ketiga sebentar lagi dia lulus hal itu akan membuatnya mengenal lebih dunia luar. Aku tidak akan memaksakan kehendaku dan bersikap egois Ndre, karena diantara kami masih ada Arul. Dia masih butuh kasih sayang dari Adinda, tapi jika kehadiran MBA bisa membuatnya nyaman aku akan mengalah karena hubungan kami bergantung pada Arul. Satu hal lagi, jangan memanggilku dengan sebutan itu, apa kau sudah lupa? Saya tidak ingin mendengar hal itu lagi." Dimas melanjutkan langkahnya kearah Masjid.
Hal itu membuat Andre terkejut, bahkan Azriel yang sedari tadi disana juga ikut terkejut. Andre langsung menunduk setelah mendengar ucapan Dimas.
Andre : "Kenapa kau selalu mengorbankan hatimu dan hidupmu? Kenapa kau mengorbankan cintamu untuk dia yang baru saja hadir dalam hubunganmu dengannya? Kenapa kau menerima hubungan dengan syarat seperti ini? Apa kau bahagia Dim? Aku hanya ingin kau bahagia, selama ini kau selalu berkorban untukku juga untuk Septian, kau selalu ada dan memenuhi kebutuhan kami tanpa memikirkan masalahmu sendiri. Sekali saja aku minta, cobalah untuk egois dan hiduplah sesuai dengan apa yang kau inginkan." Ungkapnya, hal itu membuat Dimas berhenti dan berkata. . .
Dimas : "Kenapa hari ini kau menjadi cerewet seperti Angel?" Hening, Andre hanya diam menunggu jawaban. "Ini hidup yang kuinginkan, kau dan Septian adalah adikku terlepas dari status kalian yang sebenarnya. Aku tidak bisa egois hanya karena cinta Ndre, aku tidak ingin karena cinta malah membuat orang lain sakit terutama untuk Arul maupun Adinda. Ingatlah satu hal, kehidupanku saat ini karena kalian, kau juga bontot bagaimanapun aku akan menjaga kalian dan menjaga apa yang di amanahkan Mama dan Papa. Sekarang istirahatlah, saya akan ke Masjid menyelesaikan semuanya." Ucapnya kembali dingin.
Andre : "Pah, Ma? Apa kalian lihat? Dia sudah semakin dewasa. Dia mengurus kami, dia mengurus Andre dan Septian, dia juga menjaga dan melindungi kami seperti keluarganya sendiri bahkan dia selalu membela kami layaknya kami anak kecil yang selalu butuh pembelaan. Dia mengurus Perusahaan dengan sangat baik, bahkan sekarang menjadi pesat dibawah pimpinannya, dia orang baik. Andre mohon katakan pada Tuhan untuk selalu menjaga Dimas, karena kami sangat menyayangi dirinya melebihi diri kami sendiri." Setelah panjang lebar ia berbicara, ia mengusap air matanya dan berdiri melangkah menuju Masjid untuk menemani Dimas disana.
Azriel yang melihat semua itu langsung melangkah menuju bangku yang sebelumnya ditempati oleh Andre, ia berfikir mencerna setiap ucapan yang terlontar dimulut keduanya.
Azriel : "Apa hidupmu selalu seperti ini Bang? Aku kira kehidupanmu selalu dipenuhi kebahagiaan terlepas dari kehilangan orang tuamu, tapi ternyata dibalik sikap dinginmu itu kamu selalu mempertahankan apa yang harus kau pertahankan. Selama ini kau bekerja keras untuk keluargamu meski mereka bukan saudara sedarahmu tapi kau tidak membedakan mereka sedikitpun. Kau orang yang tangguh Bang, aku akan mendukungmu dengan Kak Adinda." Ucapnya dengan penuh semangat, kemudian ia berdiri dan berlari menuju Aula karena ia yakin pasti temannya sudah menunggu karena ini sudah malam dan waktunya untuk istirahat.
* * *
Sementara itu Adinda dan Arul baru sampai di taman area Masjid, mereka duduk dibangku yang sudah tersedia disana. Arul duduk disebelah sang kakak, ia menatap bintang yang seakan kembali menatap padanya. Setelah puas dengan pemandangan langit ia menunduk lalu menatap Adinda yang kini tengah menunggu apa yang akan diucapkannya.
Arul : "Apa Kakak ada hubungan dengan Kak Akbar?" DEG! Adinda nampak terkejut.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading....
__ADS_1
Salam hangat dari Author untuk kakak semua....
😄😄😄