Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 134 Sahabat Adinda..


__ADS_3

Arul : "Sejak kejadian itu Kakak jadi lebih diam tidak seperti biasanya. Memang dia tetap menyiapkan keperluanku setiap harinya, ceria juga tertawa. Tapi pancaran matanya itu sangat berbeda dari sebelumnya, seakan tidak ada pancaran bahagia disana. Apa Kakak juga bersikap seperti itu dengan kalian?"


Geraldi : "Kami memang ada niatan berkumpul sebelumnya, tapi selalu saja formasi tidak lengkap. Untuk Adinda, jujur saja gue belum hubungi dia sejak dari Villa bahkan di grub saja jarang dari kami menyinggung hal itu. Sikap dia di grub juga sedikit berbeda, dia sudah jarang membalas pesan kami."


Arul : "Sudah berbagai cara aku lakukan, tapi hasilnya tetaplah sama. Aku merasa jika Kakak sekarang terasa jauh, sejak kejadian di Villa tiga minggu lalu. Bahkan aku juga meminta Bang Akbar untuk main ke Rumah hanya untuk menghibur atau berbicara tentang PPA dengan Kakak tapi hasilnya nihil, Kakak hanya berbicara seperlunya saja lalu diam." Ucapnya diakhir kalimat.


Geraldi : "Kamu menghubungi Bang Akbar? Apa enggak salah kamu kasih tahu tentang kondisi Adinda padanya?" Arul mengernyitkan dahinya. "Maksud gue, loe enggak salah bilang ke dia? Kenapa bukan ke Bang Dimas?"


Arul mengepalkam tangannya ketika mendengar nama itu. Geraldi yang menyadari itu langsung menghela nafas pelan, karena menghadapi bocah ini tidak bisa dengan emosi.


"Jangan emosi dulu. Loe enggak bisa terus menerus bersikap seperti ini sama Dinda, karena bagaimanapun juga hati dia sudah terikat dengan lelaki dingin itu. Jangan gunakan emosi Rul, tapi gunakan perasaan kamu. Adinda itu Kakak loe sendiri, belum tentu apa yang menurut loe atau menurut kita baik itu akan baik juga untuk dia. Jikapun memang dia menerima, itu hanya karena keterpaksaan bukan ketulusan."


"Apa kami tega, melihat orang yang sangat kamu cintai itu melakukan permintaan kamu karena terpaksa?" Hening, Arul hanya diam. "Enggak Rul, bahkan gue dan yang lain tidak akan tega melihat itu. Kami sayang sahabat kami, kehadiran Adinda itu pelengkap dalam persahabatan kami."


"Jujur saja, gue enggak tahu apa yang buat kamu enggak setuju Bang Dimas dengan Adinda. Gue juga cukup terkejut, apalagi dengan leluasanya loe memberi bogeman ke wajah tampan Bang Dimas bahkan dia tidak membalas sedikitpun. Dia menerima hal itu, dia menerima pukulan kamu tanpa niat melawan balik. Itu sungguh wow buat gue, padahal kita tahu sendiri seperti apa keluarga Adhitama. Loe sungguh berani." Ucapnya dengan terkekeh. kemudian berwajah serius.


"Biarkan dia memilih lelaki yang bisa membuatnya bahagia, karena buat gue itu sah sah aja selama Adinda merasa nyaman dan senang dengan lelaki itu. Cobalah kamu buka hati kamu, bukalah mata kamu dan lihatlah wanita itu, lihatlah dia. Dia itu Kakak kamu. Lihatlah, apa dia senang ketika Bang Akbar berada didekatnya, atau hanya bersikap biasa saja. Dari sana kamu bisa melihat semuanya."


PUK...


"Seperti yang Bang Firman bilang, jangan terbawa emosi terlebih dulu, redam emosi kamu dan mulailah bicara dari hati ke hati. Gue yakin saat ini Adinda berada di posisi yang sulit, sulit untuk memilih antara kamu yang memang adiknya maupun Bang Dimas yang mengisi hatinya. Meski baru beberapa bulan tapi hal itu benar-benar membekas dihati."


Setelah panjang lebar Geraldi berbicara, Arul hanya terdiam saja. Namun tangannya masih mengepal sempurna meski tidak setegang tadi karena dia sudah sedikit mengendurkan kepalan erat tangannya itu.


Flashback End...


"What?!! Lalu hasilnya?" Tanya mereka serempak ketika Geraldi selesai menceritakan pertemuannya. Geraldi hanya menggelengkan kepalanya saja. Karena setelah itu Arul hanya diam, entah apa yang dia fikirkan saat itu.

__ADS_1


Amel : "Sebenarnya gue setuju aja sih dia berhubungan dengan Bang Dimas, yaa meskipun dia itu lelaki dingin. Tapi gue merasa tenang ketika Adinda berada didekat lelaki itu sama halnya ketika dia pingsan saat di Villa. Gue lihat ketulusan dari mata Bang Dimas." Vania mengangguk setuju.


Restu : "Lalu untuk Bang Akbar? Apa pendapat loe mengenai dia?"


Vania : "Gue ngesipin Adinda sama Bang Akbar sih, soalnya dia tipe cowok yang hangat. Tapi gue juga ngesipin Bang Dimas, meski dingin."


Adit : "Lalu jawaban loe yang mana?! Loe ngesipin mereka berdua sama Adinda, lah emang Dinda mau punya dua suami?" Ucap Adit dengan kesal.


Vania : "Laah gimana donk, habisnya mereka berdua itu sama-sama ganteng. Hehee." Mereka yang disana memutar bola matanya jenuh.


Geraldi : "Bukan soal ganteng atau tidaknya, tapi soal nyaman dan rasa bahagianya. Loe punya hidup enggak usah banyak plin plan deh Van, emang loe mau berada disituasi seperti ini? Apalagi dua cowok."


Vania : "Ogah gue mah Ger, hidup sendiri aja kadang belum bisa bener. Masa harus disuruh milih antara dua cowok terkenal."


Amel : "Oh iya, gue baru ingat. Apa kalian juga tahu kalau Bang kutub itu enggak ada di Jakarta?"


Restu : "Bang Dimas maksud loe?" Amel mengangguk. "Jangan suka ganti nama orang, kalau Bang Andre tahu bisa berabe hidup loe." Amel yang mendengar itu cengengesan.


Amel : "Kapan loe ketemu sama Bang Yayak? Perasaan hidup loe enggak pernah kemana-kemana deh Ger." Geraldi mendelik.


Geraldi : "Masa iya gue pergi harus laporan ke loe dulu Mel." Ucapnya kesal. "Gue enggak sengaja ketemu di Mall pas keluar sama Adit, dia lagi nemenin Kak Angel." Vania, Restu dan Amel hanya ber "Oh" ria saja.


Adit : "Hecmmm gue hanya berharap Adinda mendapat yang terbaik setelah ini. Semoga saja masalahnya segera selesai, dan dia kembali seperti semula." Ucapan Adit itu langsung di angguki para sahabatnya.


#Perpustakaan Nusa Bangsa


Adinda saat ini masih berada di Perpustakaan seperti yang ia ucapkan tadi. Setelah ia mendapatkan buku yang menarik hatinya, ia langsung mencari tempat bangku kosong disana.

__ADS_1


Ketika ia sedang fokus membaca setiap lembar buku itu, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.


"Adinda?" Panggil orang itu yang belum Dinda ketahui karena belum menoleh. "Adinda?" Adinda menoleh.


Adinda : "Eh, i.iya Kak?" Orang itu tersenyum manis padanya.


"Kamu sedang apa disini? Baca buku apa sampai serius seperti itu?" Tanya orang tersebut.


Adinda : "Aah, ini aku baca buku untuk jurusan aja. Kakak sendiri sedang apa disini?"


"Aku lagi cari buku umum, karena di Perpustakaan Fakultas buku itu belum ada. Jadi harus ke Pusat dulu untuk mastiin buku itu." Adinda mengangguk paham. "Kamu sendiri? Dimas para sahabat dan bodyguard kamu?" Adinda mengernyit bingung. "Maksud aku Geraldi, Adit sama siapa itu namanya, ah iya sih Restu."


Adinda : "Ooh, mereka ada di Taman. Aku kesini sendiri, sekalian ingin lihat-lihat aja. Kak Akbar juga sendiri?" Yaa orang itu tak lain adalah Muhammad Bayu Akbar.


MBA : "Iya sendiri aku mah, yang lain males ke Kampus. Nanti ke Kampus waktu sudah musim Ospek katanya, tapi kalau anak PPA lagi kumpul di Basecamp. Nenangin fikiran katanya." Adinda tersenyum tipis disana.


"Kapan kamu berbalik padaku Din? Apa hati kamu memang sudah sepenuhnya untuk Dimas, hingga aku tidak ada celah sedikitpun untuk masuk kesana? Apa yang membuat kamu masih bersikeras mempertahankan Dimas?"


"Dim, gue ngaku kalah untuk urusan hati. Loe selalu diatas gue, loe beruntung bisa mendapatkan hati gadis ini. Tapi kenapa loe enggak memperjuangkan dia di depan Arul? Kenapa loe menyerah disaat gadis ini sudah sepenuhnya memilih loe." Ucapnya dalam hati.


"Apa kalian masih berhubungan hingga sekarang?" Tanya MBA pelan namun masih terdengar.


Adinda yang semula fokus kini matanya beralih pada lelaki tampan di depannya. Bukannya tak mengerti, tapi saat ini hatinya masih merasakan sesak disana. Ia menghela nafas pelan untuk menetralkan hatinya yang sesak, kemudian Adinda menggeleng.


Adinda : "Tidak, setelah itu kami tidak berhubungan sama sekali. Pernah Adinda mencoba menhubungi dia, tapi tidak ada jawaban hingga sekarang." Jawabnya pelan.


MBA : "Apa hati kamu masih sepenuhnya untuk dia Din? Apa tidak ada celah sedikitpun untuk orang lain masuk?"

__ADS_1


Adinda terdiam, lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Bohong jika dia menjawab tidak, tapi jika dia menjawab iya apakah lelaki itu akan kembali lagi padanya?


Adinda : "Maaf Kak." Ucapnya lalu menundukkan kepala. MBA hanya tersenyum, hatinya sedikit sakit mendengar jawaban dari gadis pemilik hatinya itu. Yaa hatinya memang tertaut untuk Adinda.


__ADS_2