Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 24


__ADS_3

Tepat pukul duabelas siang semua kelompok itu membubarkan diri karena waktu sudah menunjukan jam istirahat dan akan segera masuk waktu dzuhur. Sebelum adzan berkumandang, Dimas sudah keluar tanpa melihat gadis kecilnya sedikitpun hal itu membuat Adinda sedikit tidak enak hati pasalnya kediaman Dimas saat ini karena kesalahpahaman yang terjadi.


"Maaf..." Gumam Adinda pelan saat melihat Dimas semakin menjauh hingga punggungnya menghilang dibalik gedung yang berada didekat kantor.


Yayak : "Ndra loe liat Dimas enggak?"


Indra : "Gue enggak lihat, mungkin dia sudah keluar lagipula sebentar lagi sudah adzan mungkin dia ke masjid, coba loe tanya Andre."


Yayak : "Andre!" Teriaknya memanggil orang kepercayaan Dimas. "Loe lihat Dimas?"


Andre : "Sepertinya dia sudah keluar, mungkin di masjid." Jawabnya datar.


Ilham : "Andre please deh ya, loe enggak usah ngikutin Abang gue itu, sikap loe datar banget sih."


Amar : "Kalian itu kembar, sama-sama datar, sama-sama dingin dan sama-sama cuek. Tapi dia lebih ngeri dari loe, bener deh sumpah gue kagak bohong." Andre hanya diam tak menjawab.


Angel : "Kalian sadar enggak sih sikap Dimas sedikit beda, seperti sedang ada masalah." Ucap Angel tiba-tiba ia kemudian ikut bergabung dengan temannya. "Apa dia ada masalah di kantor Ndre?"


Andre : "Tidak ada. Yang gue tahu kerjaan kantor sudah diselesaikan kemarin."


Septian : "Woi! Pada ngapain kalian semua?! Lagi mau adain acara ya?" Teriak Septiap yang jalan mendekat, melihat hal itu Angel langsung mencubit lengan Septian saat ia sudah dekat hingga dia mengaduh kesakitan. "Aww! Sakit tau, loe kenapa sih?! Yak! Lihat nih cewek loe main nyubit aja." Adunya dengan nada kesal. "Ohya, Dim.mas kemana ya gue enggak lihat?"


Yayak : "Berapa hari loe enggak balik ke rumah?" Selidik Yayak yang melihat tingkah beda dari Septian.


Septian : "Ehmm baru_ dua hari kok belum seminggu Yak, tenang aja deh."


Andre : "Sering-seringlah pulang, berilah dia perhatian walau sedikit jangan keseringan kabur, loe boleh bebas dia juga enggak melarang asal loe inget rumah aja." Celetuk Andre secara tiba-tiba.

__ADS_1


Ilham : "Loe masih jarang balik Sep?" Septian hanya nyengir kuda menatap teman-temannya.


Tak berselang lama suara adzan berkumandang, suara itu menggema disetiap sudut sekolahan. Andre yang sadar dengan suara muadzin itu langsung keluar menuju Masjid, yang beberapa menit kemudian diikuti oleh yang lainnya.


"Abang gue adzan untuk pertama kalinya setelah mereka meninggal." Gumam Septian dalam hati senang. Kemudian ia berjalan keluar.


Indra : "Akhirnya gue bisa denger suara ini, lagi. Setelah sekian lama dan baru hari ini." Yayak ikut mengangguk senang sedangkan yang lain hanya diam karena mereka tidak mengetahui dengan pasti siapa muadzin itu.


Ilham : "Loe kaya enggak pernah denger orang adzan sih Ndra."


Amar : "Iya malahan gue setiap hari denger orang adzan." Namun Indra tak menjawab dan hanya diam, dia ingin meresapi suara itu karena dia tidak akan tahu lagi kapan suara itu akan menggema kembali.


"Setelah sekian lama, tuan muda ku akhirnya kembali azdan. Tapi apakah saat ini dia sedang gelisah?" Gumam Andre dalam hati.


Tak banyak yang tahu tentang Dimas dan Andre kecuali Yayak, Septian dan Indra. Sedangkan teman yang lain hanya tahu bahwa Andre sama dengan Septian yaitu sama-sama saudara Dimas bahkan tak banyak yang tahu jika Dimas adalah anak dari Surya Aditama. Hanya beberapa anggota PPA yang tahu termasuk MBA. Sedangkan yang lain hanya tahu bahwa Dimas adalah anak pengusaha restoran.


Setelah selesai melaksanakan shalat mereka berhambur keluar untuk mengisi batreinya dengan penuh karena mereka baru akan pulang setelah ashar tiba dimana lagi jika bukan dikantin. Kecuali Dimas yang masih setia berdiam diri di dalam masjid seperti sedang mencari ketenangan untuk hatinya.


"Paa. . . Maa. . . Hari ini Dimas adzan untuk menenangkan hati Dimas. Untuk pertama kalinya setelah kalian tidak ada Dimas kembali masuk ke Masjid untuk bersuara mengeluarkan kerinduan Dimas terhadap kalian. Apa kalian tahu yang membuat hati Dimas gelisah? Gadis kecil itu membuat hati Dimas gelisah. Muncul rasa takut kehilangan dari diri Dimas jika adiknya tak menyetujui hubungan kami. Selama kami menjalin hubungan, kami hanya bisa bersembunyi jujur Dimas tidak ingin terus seperti ini tapi entah kenapa Dimas menurutinya begitu saja ketika ia mengajukan hal ini. Maa. . . Dimas rindu kalian." Menyeka air matanya. "Dimas butuh kalian. Bagaimana bisa kalian meninggalkan tanggung jawab yang begitu besar pada Dimas? Kenapa kalian tidak menunggu Dimas siap terlebih dahulu, kenapa kalian pergi begitu saja tanpa pamit dulu? Apa kalian tidak tahu bagaimana hancurnya Dimas mengetahui kalian tiada dengan cara seperti itu? Apa yang harus Dimas lakuin agar Dimas bisa meluapkan semua perasaan Dimas pada kalian?" Gumam Dimas dalam dalam lamunanya dengan masih setia menundukan kepalanya, bahkan ia tak menyadari ada orang yang masih setia memperhatikan dan menunggunya.


PUK. . . Seseorang menepuk pundaknya dan menghentikan lamunannya. Dimas yang merasakan hal itu langsung menoleh.


"Apa Anda baik-baik saja, tuan?" Tanya orang tersebut.


Dimas : "Sudah berapa kali saya katakan, jangan panggil saya dengan sebutan itu." Mode dingin dan datar.


"Maaf tapi saya tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya."

__ADS_1


Dimas : "Apa maksud kamu?" Dengan nada sedingin mungkin.


"Saat Anda mengalami alergi dan tra.trauma itu kembali." Jawabnya dengan ragu. "Saya tidak ingin kecolongan untuk ketiga kalinya. Saat Anda alergi, Anda melarang saya untuk datang ke rumah dengan alasan acara PPA dan ketika Anda trauma saat itu saya harus keluar kota untuk melaksanakan tugas dari tuan Pastu selama tiga hari." Ucapnya dengan nada menyesal.


Dimas : "Kau tenang saja, aku baik-baik saja Andre, sekarang kembalilah dan istirahatlah karena ini sudah saatnya istirahat. Ah, dan ya terimas kasih." Ya orang yang sejak tadi berbicara dengan Dimas adalah Andre, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada tuannya itu. "Dan ya, jangan bersikap formal jika kita disini, bersikaplah seperti yang lainnya." Andre mengangguk.


Andre : "Apa kau tidak ingin makan sesuatu? Bi Arum memberi laporan pagi ini kau tidak makan."


Dimas : "Kenapa kau selalu percaya dengan kata-kata dia. Aku sudah makan pagi tadi." Dengan nada kesal.


Andre : "Apa kau yakin? Karena aku tidak ingin mendapat omelan lagi dari Om Pastu karena telah lalai hingga kau sakit seperti kemarin."


Dimas : "Apa kau sedang mengaturku?! Kau ingin aku pecat?!" Jawabnya dengan tatapan tajam, hal itu berhasil membuat Andre bungkam namun juga tersenyum, pasalnya ia tahu bahwa Dimas hanya mengancam dan tidak akan serius untuk memecat Andre bahkan hal itu sudah sering terjadi saat mereka berdebat. "Pergilah, aku ingin sendiri." Katanya dengan datar. Andre kemudian meninggalkan Dimas di dalam Masjid seperti permintannya tadi.


Saat Andre melangkah keluar, ia melihat seorang gadis yang sedari tadi masih didalam masjid itu yang tepat berada dibelakang Dimas yang tengah merenung. Andre terus memperhatikan gadis itu, tanpa sadar sebuah tangan menepuk bahunya hingga membuatnya terlonjak kaget. PUK. . .


"Apa yang kau lakukan? Apa kau masih punya urusan denganku?" Tanya orang itu dengan mode datar.


Andre : "Maaf." Andre menundukkan kepalanya.


"Ada apa?". Tanya orang itu.


Andre : "Itu ada seseorang yang daritadi masih disini dan tidak beranjak kemanapun." Menunjuk kearah yang dimaksud.


"Adinda" Gumam orang tersebut. "Dia masih disini, untuk apa? Ini sudah waktunya untuk makan siang."


Andre : "Bukankah itu gadis yang berada dikelompok Anda?" Anda yang dimaksud adalah Dimas. Sedangkan Dimas yang mendengar kata terakhir yang terlontar dari mulut Andre, membuatnya geram dan menatap maniak Andre dengan tajam sepertk elang.

__ADS_1


__ADS_2