
Firman saat ini sudah ada di Kamar, tepatnya kamar yang ia tiduri bersama Arya, Indra juga MBA. Saat ini yang ia lakukan hanyalah berjalan mondar mandir, entah apa yang ia fikirkan karena wajahnya terlihat bingung.
Untuk sesaat Firman berada dijendela kamar, melihat keadaan sekitar. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang sejak tadi ia cari, Firman langsung keluar untuk menemui orang tersebut.
Firman : "Apa yang sedang kau lakukan disini, Shekar? Sejak kemarin aku mencarimu." Tanyanya setelah berada dihalaman bersama Shekar. Shekar hanya terkekeh.
Shekar : "Untuk apa kau mencariku? Saat ini aku masih banyak pekerjaan." Shekar menghela nafas. "Aku mendengar saat ini Yoosung mulai bergerak karena mereka merasa tidak terima kedua putrinya diperlakukan dengan buruk selama disini, tolong ikuti kemanapun Dimas pergi. Meski mereka tidak tahu siapa CEO Adhitama tetap saja harus waspada." Diam. "Aku sudah memberitahu Andre juga Dimas termasuk Ucle Pastu, mereka terkejut kecuali Dimas. Tapi aku yakin saat ini Dimas sedang membuat rencana untuk pihak Yoosung. Oh iya, aku juga mendengar jika disini ada seseorang yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Tuan Lee." Firman terkejut
Firman : "Maksud loe siapa disini yang masih berkerabat dengan mereka?"
Shekar : "Agista." Jawabnya tegas juga lantang. "Dia masih saudara jauh dari Tuan Lee."
Firman : "Apakah Dimas dan Andre sudah tahu?" Shekar mengangguk.
Shekar : "Tapi tenang saja, perempuan itu tidak berbahaya untuk Dimas. Malah sebaliknya, Dimaslah yang berbahaya untuk perusahaan orangtuanya yang ada di Surabaya." Jelasnya.
Kedua lelaki itu terus berbicara, baik it tenang bisnis maupun hal lainnya. Bahkan Fiman sendiri belum sadar jika para anggota yang lain sudah membubarkan diri untuk berkeliling.
Firman : "Huaaaaaa!! **** gue, semua ini gara-gara. Gue telat ikut keliling, Bang Pastu dan Pak Septa pasti bakal hukum gue ini." Geruunya dengan kesal sambil mengacak rambutnya. "Gue pergi dulu." Firman langsung lari meninggalkan Shekar.
Shekar : "Dasar orang aneh, untung saja gue enggak tinggal disini."
Oke, kita tinggalkan permbicaraan absurd mereka. Kita kembali pada kisah Dimas dan Adinda.
Andre : "Bang, sejak kemarin aku lihat MBA dekat dengan Arul. Apakah mereka benar-benar sudah dekat?" Tanya Andre dengan tiba-tiba yang membuat Dimas berhenti melangkah.
Dimas : "Kenapa kau menanyakan hal itu padaku? Tanyakan langsung pada Akbar." Ucapnya datar.
Andre : "Aku hanya sebatas tanya saja, mungkin saja kau sudah mendekati Arul terlebih dahulu." Jawabnya pelan.
Dimas menghela nafas, adiknya ini memang tidak bisa melihat Dimas kesulitan terutama masalah hati. Dia orang pertama yang akan melakukan apapun untuknya.
Saat ini mereka tengah mengunjungi Rumah ke enam dimana Rumah itu merupakan salah satu milik pegawai yang bekerja di Villa Adhitama.
Dimas : "Jangan bahas hal itu disini Andre, dan saya sedang tidak ingin membicarakan itu."
"Kak Dimaaas!" Teriak seorang anak kecil berusia 11 tahun yang kini menginjak kelas 5 di Sekolah Dasar. Andre dan Dimas menoleh.
__ADS_1
Andre : "Deni, kamu ada di Rumah?" Deni mengangguk dan langsung melangkah mendekati Dimas.
Dimas : "Hei jagoan, bagaimana sekolahmu selama ini, hem?"
Deni : "Semuanya baik, sebentar lagi aku masuk SMP jadi Kak Dimas harus membantuku belajar." Ucapnya dengan semangat.
Andre : "Kami sedang sangat sibuk, jadi tidak akan sempat mengajarimu." Ucapnya sinis.
Deni : "Aku tidak bicara dengan Kak Andre tapi Kak Dimas, jadi Kakak diam saja. Sssttt." Andre yang mendengar itu langsung mendelik dibuatnya. Berani sekali bocah ini padanya, ternyata selain Septian masih ada yang membuat dirinya kesal. "Dimana Septi? Aku tidak melihatnya. Apa dia tidak ikut?" Ketika Andre akan menjawab, ternyata ada sebuah teriakan dari arah belakang.
Septian : "Nama gue Septian, bukan Septi! Dasar bocah t****k. Apa selama kau sekolah tidak diajari sopan santun, hah!"
Yaa saat ini Septian sudah menyusul keduanya bersama Yayak, Amar juga Ilham, dimana lagi jika bukan di Rumah Deni.
Deni : "Tapi tetap saja, nama Kakak itu ada Septi-nya. Jadi terserah aku." Mereka yang mendengar itu mendelik tidak percaya.
Ilham : "Waaah, enggak sangka gue. Ternyata ada juga lawan yang sebanding sama kalian berdua." Melihat Andre juga Septian.
Amar : "Yaah meski masih bocah, tapi tidak apa." Tambahnya.
Yayak : "Tetap saja kamu masih bocah, Deni." Ucap Yayak.
Dimas : "Kalian, sudah hentikan." Ucapnya memperingati. "Den, kamu panggil Ibu sama Ayah ya, Kakak ingin kunjungan dengan yang lain." Deni mengangguk dan langsung lari masuk ke dalam Rumah.
Amar : "Heran gue sama dia, nurut banget sama loe Dim." Yayak, Septian, dan Ilham ikut mengangguk setuju. Sedangkan Andre dan Dimas hanya diam tidak menanggapi.
Mang Ujang : "Eeh, Aden kesini nyak. Hayuk masuk atuh, maaf rumahnya kecil."
Yayak : "Tidak apa Mang, kita masih tetap nyaman kok."
Septian : "Iya Mang, yang penting mah Mamang masih betah tugas di Villa."
Mang Ujang : "Hiss, Aden mah. Jelas Mamang teh betah atuh disana. Si Deni juga sering bantuin, yang lain juga."
Andre : "Mang, kebetulan saya datang kesini bersama Abang. Niat awal ingin berkunjung berdua tapi ternyata ber-enam." Yang lain mendelik. "Ehemm, saya mewakili Om Pastu datang kesini untuk menyerahkan ini ke Mamang." Andre menyerahkan sebuah amplop keatas meja.
Mang Ujang : "Ini teh naon atuh? Aden jangan seperti ini, Mamang malah ngerasa tidak enak atuh Den. Sekolah Deni saja sudah Den Dimas yang tanggung, masa yang lain juga harus Aden. Maaf pisan ini Den, Mamang tidak bisa menerimanya."
__ADS_1
Septian : "Mang, terima saja. Mamang tahu sendiri Om Pastu seperti apa juga Abang seperti apa. Jadi diterima saja nyak." Ucapnya penuh harap.
Mang Ujang langsung memandang anak muda didepannya, terutama ketiga anak muda yang notabennya adalah majikannya.
Mang Ujang : "Baiklah Mamang terima, pokokna mah terimakasih pisan ini teh. Maaf jika Mamang banyak merepotkan."
Dimas : "Sebagai gantinya, tolong Mamang selalu bertugas di Villa selama saya tidak datang kesini. Tolong Mamang jaga peninggalan mereka Mang."
Mang Ujang yang memang tahu bagaimana Dimas sejak kecil langsung mengangguk mantap tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Kedua matanya nampak berkaca karena mengingat kebaikan mendiang Adhitama dan sang Istri serta bagaimana Dimas terpuruk karena kepergian orangtuanya.
Mang Ujang : "Aden yang sabar nyak, insha allah Tuan dan Nyonya bahagia disana. Mereka bahagia melihat Aden hidup dengan baik. Percaya sama Mamang." Dimas tersenyum mengangguk.
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan tawa canda yang trio jumpling lakukan, termasuk dengan keberadaan Deni yang membuat mereka kesal sekaligus gemas bersamaan.
Selepas dzuhur mereka kembali ke Aula untuk istirahat dan makan bersama. Tampak disebuah taman sepasang manusia tengah berbicara disana, orang itu tak lain adalah Dimas juga Adinda. Mereka memutuskan bertemu untuk sekedar melepas penat.
Adinda : "Apa Kakak sudah makan siang?" Hening, Dimas masih diam memperhatikan wajah Adinda. "Jawab donk Kak, kalau belum Kakak harus makan. Ayo, kita juga harus segera masuk kedalam nanti ada yang lihat kita disini." Dimas masih setia dengan diamnya, entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.
Mengingat cerita Arul beberapa hari lalu, dan juga melihat perhatian MBA pagi ini membuatnya terganggu.
Adinda berdiri untuk menarik tangan Dimas. Namun tertahan karena Dimas yang masih diam. Adinda kesal, dia langsung mengerucutkan bibirnya.
Dimas : "Jangan berwajah seperti itu ditempat umum Dinda."
Adinda : "Lagian kenapa juga Kakak bersikap dingin seperti ini? Ayo kita harus segera masuk, sore nanti masih ada kegiatan sampai malam dan humas dapat jadwal didalam." Berusaha menarik Dimas, namun tak berhasil karena tenaga yang kalah jauh. "Sebenarnya apa yang Kakak fikirkan? Apa urusan Kantor?" Dimas menggelengkan kepala. "Lalu urusan apa?" Tanyanya penasaran.
Dimas : "Hanya sedang memikirkan hubungan kita saja." Jawabnya datar.
DEG!!
Ada apa lagi ini? Begitu fikir Adinda. Suaranya terasa tercekat untuk menjawab ucapan Dimas.
Adinda : "Ma.maksud Kak Dimas. Ap.pa?" Dimas diam, masih setia diam memandang wajah cantik gadis cerobohnya. "Baiklah, kita lupakan itu. Sekarang ayo kita masuk nanti ada yang lihat kita disini."
Adinda melangkah terlebih dahulu, mencoba untuk mengatur nafasnya akibat ucapan Dimas. Namun langkahnya terhenti karena ucapan Dimas yang sialnya lagi-lagi membuatnya terkejut dan membuatnya sesak didalam sana.
Dimas : "Apa lebih baik kita sudahi saja hubungan ini?" Ucapnya pelan namun masih terdengar ditelinga Adinda.
__ADS_1