
Indra : "Kebetulan Bang Dimas ada kesibukkan sendiri hari ini, jika ada yang bertanya kenapa weekend tetap sibuk? Ya karena memang itulah kegiatannya, karena menurutnya tidak ada hari untuk libur walau hanya sebentar. Tapi bukan berarti dia tidak beristirahat, karena kami yang disini akan memaksanya untuk ikut." Kali ini Indra yang menjawab.
"Betul bangeeet, haha." Jawab ketiga jumpling dengan kompak.
Yayak : "Hei bocah, nanti temui saya. Ada hal yang ingin aku bicarakan."
Angel : "Apa kamu ada masalah dengannya Yak?" Tanya Angel yang sejak tadi bersiskusi dengan Shinta.
Yayak : "Tidak, ini hanya hal yang biasa saja. Karena kami sering tak sengaja bertemu ketika diluar, jadi ada diskusi sedikit." Angel hanya ber-oh ria saja. "Bagaimana?" Matanya menatap Azriel yang belum menjawab.
Azriel : "Ooh, oke"👌 Yayak hanya mengangguk.
Mata Yayak kini melihat temannya yang juga sudah menaruh hati untuk Adinda, siapa lagi jika bukan MBA. Ternyata MBA sudah menghampiri kelompok Humas setelah memberi arahan pada kelompoknya sendiri. Arya yang melihat sikap MBA hanya diam saja.
Yayak : "Sepertinya loe harus bersaing dulu dengan Dimas Bar, sekarang saja dia sudah mencoba untuk mendekati Adind**a Dim, nah loe masih saja sibuk dengan Perusahaan." Matanya kini beralih pada Arul. "Bahkan saat ini Arul juga sedang mengawasi lelaki yang mendekati Kakaknya. Harusnya kamu datang hari ini." Saat ini mata Yayak menatap ketiga orang beda usia disana diantara orang yang ada dihadapannya.
MBA : "Hei dek Din." Adinda hanya mengangguk. "Apa kamu mengalami kesulitan untuk persiapan nanti?" Adinda, Arya maupun lainnya mengernyit, termasuk Adit yang satu bidang dengan Adinda.
Adit : "Kami semua disini sama Bang, ada yang sulit dan ada juga yang gampang." Jawab Adit sekenanya, dia seperti sedang antisipasi melihat ada yang mendekati sahabatnya.
MBA : "Haha iya juga ya semuanya sama. Ehmm, apa perlengkapan kesehatan sudah didiskusikan juga?" Arya mengernyit bingung, untuk apa menanyakan hal itu jika ada bidang kesehatan yang tak lain dia sendiri ketuanya.
Adit : "Abang tenang saja, semua perlengkapan Adinda nanti aku, Gerald dan Restu yang akan mencari. Karena kami yang bertanggung jawab dengannya, Vania juga Amel." Jawabnya lagi. Arya hanya terkekeh dalam hati mendengar jawaban dari Adit.
MBA : "Yaa sebaiknya memang kalian membantu karena kalian terlihat dekat." MBA langsung pergi dari kelompok itu dan mengitari kelompol lain untuk menanyakan hal yang sama. Bahkan Arul sejak tadi sudah memperhatikan sikap MBA pada kakaknya.
Arya : "Yaa benar yang dikatakan tadi, meskipun ada bidang kesehatan kalian tetap harus ada alat kesehatan tersendiri terutama obat pribadi kalian. Ehmm ya, dan kamu Adit jangan lupa perlengkapan kesehatan Adinda." Adit langsung mengangguk sedangkan Adinda hanya tersenyum. "Jangan terlalu posesif sama Adinda." Celetuknya dan didengar oleh yang lain, terutama yang satu kelompok.
Adit : "Bukan posesif Bang, tapi mawas diri." Bisiknya yang membuat Arya terkekeh.
__ADS_1
Arya : "Baiklah kita lanjutkan lagi apa yang harus dilengkapi dan dilakukan selama disana."
Arya langsung menjelaskan apa saja yang harus dibawa selama disana, terutama perihal kesehatan mengingat Puncak adalah tempat yang dingin dan akan berakibat fatal jika ada yang memiliki alergi dingin.
Disaat mereka sedang bercengkerama membahas kegiatan selama di Puncak. Terdengar suara yang menggelegar dan mengagetkan para penghuni Aula.
"Selamat siang semuanyaaaaaa, Go PPA!!!" Teriaknya dengan kencang. Para penghuni disana langsung mencari sumber suara itu.
Angel : "Firmaaaaaaaan!! Bisa enggak loe kalau enggak teriak-teriak." Kini suara Angel yang mendominasi.
Yayak : "Busettt dah itu Nini gue keluar deh aura Macannya." Alvin dan Nauval yang mendengar itu hanya terawa. "Kalian berdua enggak usah ketawa, tahu gue kalau itu cewek Nini gue sendiri. Kalian akan tahu jika jiwa Macannya sudah keluar, gue aja ogah lihatnya."
Alvin : "Eeh kok malah curhat." Celetuk Alvin.
Angel : "Yayaaaaak!!" Panggilnya dengan tajam. Sedangkan Yayak hanya nyengir kuda.
Firman : "Jangan seperti itu loe, nanti Yayak kabur kita semua yang susah karena dengerin suara loe lagi mewek."
Angel : "Jumpliiiiiing!! Awas kalian yah, gue aduin loe bertiga ke Abang gue." Ancamnya. Ketiganya langsung terdiam, dia tidak ingin berhadapan dengan Abangnya Angel yang tak lain Abang mereka sendiri, yaitu Dimas. "Hecmm takut kan loe." Ucapnya sinis.
Setelah semua selesai, mereka langsung membubarkan diri karena waktu yang sudah siang dan waktunya dzuhur. Ketika yang lain memasuki kantin untuk makan siang, Yayak langsung memanggil Azriel untuk menemuinya. Keduanya duduk berdua dibangku taman.
Yayak : "Duduk sini Ziel." Suruhnya pada Azriel. Azriel langsung duduk disana.
Azriel : "Ada apa Bang? Maaf bukannya apa-apa tapi sudah siang laper gue." Yayak hanya terkekeh.
Yayak : "Tenang, nanti gue yang traktir loe deh." Azriel mengangguk cepat. "Loe tahu kenapa gue suruh kesini?" Azriel menggelangkan kepalanya.
Azriel : "Kalau gue tahu juga kenapa aku tadi mesti tanya coba Bang." Yayak hanya diam.
__ADS_1
Yayak : "Hecmm, loe tahu tentang Adinda dan Dimas?" Azriel yang awalnya melihat kearah Aula langsung menoleh mendengar itu. "Sepertinya kamu benar tahu ya?" Azriel mengangguk. "Sejak kapan?"
Azriel : "Sejak kegiatan pertama di Nusa Bangsa, bahkan sebelum itu juga sudah tahu." Yayak cukup terkejut mendengar pengakuan dari Azriel.
Yayak : "Selama itu? Apa pertanyaan kamu tadi untuk membuat Adinda. . ."
Azriel : "Yaa, pertanyaanku tadi salah satu cara untuk membuat Kak Dinda sedikit tenang, karena aku tahu dia merasa sedikit khawatir karena Banh Dimas enggak hadir."
Yayak : "Apa dia sendiri yang mengatakan hubungannya dengan Dimas?"
Azriel : "Hahaa ya enggak mungkinlah Bang, masa Kak Dinda ngomong sama gue daripada sama Arul. Waktu itu karena ada urusan, gue keluar rumah nah pas mau pulang enggak sengaja gue lihat mereka berdua ditaman meski aku kira itu Arul, tapi ternyata Bang Dimas. Awalnya sih gue kaget, kok bisa kutub es seperti Bang Dimas dekat dengan seorang wanita dan wanita itu Kakaknya pangeran es juga. Karena mereka terlihat begitu dekat, bahkan sangat dekat, penuh canda tawa, kehangatan. Tidak ada sikap dingin maupun datar dari Bang Dimas, pokoknya itu sisi lain dari Bang Dimas ketika bersama Kak Dinda. Lalu dari sana gue langsung berfikir kalau mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar senior dan junior." Jelasnya.
Yayak : "Loe enggak ada niat untuk memberitahu yang lain? Terutama Arul." Azriel menggeleng. "Kenapa begitu?"
Arul : "Hidup Arul dan Kak Dinda sudah berat sejak perpisahan orangtuanya Bang, yaa meskipun aku enggak tahu pasti karena apa dan Arul pasti merasakan sakit. Jika dia tahu Kak Dinda memiliki kekasih, maka bukan hanya Arul yang sakit tapi juga ketiganya. Bahkan meski nantinya juga mereka akan tetap sakit jika rahasia ini terbongkar, tapi paling enggak Kak Dinda bisa merasakan cinta dari lelaki seperti Bang Dimas. Hehe sungguh konyol bukan jawabanku, padahal aku bukan siapa-siapa mereka tapi aku sudah anggap Kak Dinda seperti Kakak aku sendiri."
Yayak : "Yaa bukan hanya Arul yang akan merasakan sakit, tapi Dimas dan Adinda juga akan merasakan sakit." Jawabnya pelan.
Azriel : "Apa menurut Abang, Bang Dimas akan memilih untuk pergi?"
Yayak : "Kenapa loe tanya seperti itu ke gue? Dan kenapa loe punya fikiran itu?"
Azriel : "Enggak sih, hanya saja sifat Arul dan Bang Dimas itu sama. Sama-sama dingin dan datar, tapi lebih dingin Bang Dimas. Apa mereka berdua bisa dekat? Sedangkan Arul saja belum menginginkan Kak Dinda memiliki kekasih, dan juga Bang Akbar saat ini mulai mendekati Kak Adinda dan hal pertama yang dilakukan pasti mendekati Arul terlebih dahulu."
Yayak : "Haaah, gue bahkan bingung harus menjawab apa dan harus bagaimana dengan hubungan mereka berdua. Dimas terlampau dingin, tapi semua itu tidak membuatnya egois jadi dia pasti akan memikirkan dengan baik apa yang harus dilakukan. Meski harus pergi dari Adinda dan membiarkan Arul untuk memilih pasangan yang baik untuk Kakaknya." Jawabnya lemah. "Apa kau tahu Ziel, Dimas lebih memilih Arul daripada kekasihnya sendiri karena menurutnya Arul adalah hal yang terpenting untuk hidup Adinda, dan bukan yang lain."
Azriel : "Bang Dimas mengatakan itu? Sungguh?" Yayak mengangguk. "Kenapa hubungan mereka bisa serumit ini." Yayak hanya tersenyum lalu mengacak puncak kepala Azriel.
Yayak : "Tapi gue bangga sama loe, karena meski loe tahu hubungan mereka. Loe tetap setia dengan keduanya, bahkan loe ikut mendukunh hubungan Adinda dan Dimas. Terima kasih karena loe sudah perhatian dengannya." Azriel mengangguk cepat. "Baiklah, sekarang ayo gue traktir loe di Kantin."
__ADS_1
Kedua lelaki berbeda usia itu langsung beranjak dan melangkah menuju kantin dimana tempat itu merupakan pusatnya makanan di Mahakarya. Dengan wajah gembira Azriel mengikuti langkah Yayak.