Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 69


__ADS_3

Setelah mendapat kirimin alamat dari Arul, Adinda langsung bergegas keluar dari Masjid setelah merapikan mukena kedalam lemari penyimpanan. Namun sebelum itu tak lupa ia ucapkan rasa syukurnya karena Allah telah menunjukkan keberadaan adiknya.


Sedangkan jauh di Negeri orang sana, seseorang tengah gelisah menanti kabar karena sejak tadi semua pesan yang ia kirim belum juga terjawab satupun. Orang itu tak lain adalah Dimas yang kini tengah berusaha fokus dengan berbagai file Perusahaannya.


_Skip....


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit akhirnya Adinda sampai ditempat tujuan. Sebuah gedung yang tidak asing baginya, karena dulu setiap akhir bulan ia akan datang kesini untuk mengunjungi Kakak dari Mamanya yang tak lain adalah Rahmad Wijaya.


Adinda langsung menekan bel yang berada diluar pagar, sebelumnya pihak security sudah diberitahu bahwa Adinda akan datang, jadi setelah gerbang terbuka ia langsung dipersilahkan masuk kedalam. Tak jauh dari tempatnya berjalan, nampak seorang anak laki-laki tampan berusia 15 tahun yang sangat ia khawatirkan karena kepulangannya ia tunggu.


Arul : "Kakak!" Semakin dekat, akhirnya Adinda bisa melihat jelas wajah adiknya itu, tamparan tadi siang masih sangat jelas teringat dan bekasnyapun masih terlihat lebam meski sudah diobati. "Kakak jangan nangis lagi yah, Arul baik-baik saja." Ucapnya sambil memeluk Adinda.


Arul yang memang lebih tinggi membuat Adinda mendongak untuk melihat luka disudut bibirnya itu, ada perasaan sakit yang menjalar dihatinya. Rasa sakit yang ia rasakan lagi setelah mengingat tamparan keras itu menyambar pipi sang adik.


Adinda : "Apa ini sakit, hem?" Ucapnya sambil mengusap sudut bibir Arul dengan lembut. "Apa Tante yang sudah mengobati lukamu?" Masih tidak ada jawaban karena Arul memperhatikan wajah Adinda dengan lekat.


Arul : "Apa sejak tadi Kakak menangis? Wajah Kakak terlihat sembab, mata Kakak juga sedikit bengkak. Apa mereka masih bertengkar lagi?" Bukan menjawab tetapi Arul malah mengalihkan pertanyaan dari kakaknya.


Adinda : "Hei jangan mengalihkan pembicaraan, jangan menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lagi." Adinda mencebik kesal, hal itu membuat Arul tersenyum melihat wajah kesal dari Adinda.


Arul : "Kakak tenang saja, luka ini sudah sembuh, sudah diobati oleh Tante. Jadi Kakak jangan khawatir lagi, dan ya jangan memikirkan mereka lagi. Biarkan saja mereka bertengkar sesuai dengan keinginan mereka, lagipula Arul juga tidak ingin ikut Mama ke Jerman maupun ikut Papa ke Belanda. Arul mencintai Indonesia, meski belum pernah keliling Nusantara, tapi Arul sudah nyaman disini dan mereka tidak bisa merubah keputusan Arul ini." Jelasnya panjang lebar. "Satu hal lagi, tolong janji dengan Arul jika Kakak tidak akan menangis lagi seperti ini, wajah Kakak akan merah dan jelek jika bengkak seperti ini." Adinda yang mendengar langsung memukul lengan sang Adik.


Mereka saling berpelukan bagaikan teletubies, sebuah film anak pada masa dulu. Tak jauh dari mereka berdiri, terdapat dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan kedua anak manusia itu. Ada rasa haru dalam hati mereka, namun juga ada rasa kecewa yang menyayat hati yang baru saja mereka dapati.


Randa : "Pa, apa Papa mendengar itu? Mama yakin bukan hanya Mama yang mendengar semuanya tapi Papa juga." Ucapnya pada sang suami. "Apa benar yang Mama dengar, jika luka disudut bibir itu ulah dari adik tersayangmu itu. Jika sampai benar itu semua, Mama tidak akan tinggal diam."


Rahmad : "Mama harus tenang Ma, biarkan mereka menyelesaikan semuanya sendiri. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan keluarga Melinda maupun Reyhan. Kita lihat dulu bagaimana kedepannya, jika memang sudah diluar batas dan mereka berdua kembali terlantar maka Papa sendiri yang akan turun tangan." Ucapnya yang kini dengan tatapan tajam, namun seketika lembut saat menatap istrinya.


Randa : "Tapi ini sudah keterlaluan, apa kedua anak itu pantas diperlakukan seperti ini? Mereka berdua anak yang manis, kebahagiaan mereka harus direnggut dengan paksa karena keegoisan orangtuanya. Sejak lama Mama sudah diam dengan pertengkaran dan perpisahan mereka, tapi sekarang Mama tidak akan tinggal diam lagi. Mulai saat ini biar Mama yang mengurus Arse dan Amara, jika sampai Linda tetap kekeuh ingin membawa mereka ke Jerman maka Mama akan membuatnya tidak akan bisa lagi berada disini apalagi sampai berani membawa mereka." Ucapnya panjang lebar dengan suara tegas penuh penekanan.

__ADS_1


Rahmad yang mendengar itu hanya bergidik ngeri, pasalnya Amaranda ketika SMA dulu adalah wanita tegas dan keras, ia juga sedikit tomboy saat SMA dulu, ia mendapat sabuk hitam saat SMP maka tidak salah jika Randa dulu jago taekwondo mengingat sabuk yang ia pegang sangat tinggi, meski dulu tomboy tapi setelah menikah dan memiliki anak ia berubah lebih feminim namun bukan berarti keahlian dari taekwondonya berubah dan melemah. Mengingat dulu Randa pernah membuat tiga orang siswa babak belur sekaligus karena ketahuan memalak seorang siswi lain, membuat Rahmad semakin bergidik dan menggelengkan kepalanya seraya melupakan kejadian yang sudah lebih dari 25 tahun silam.


Rahmad : "Ma sudah, tenangkan diri kamu. Mereka tidak akan pergi kemanapun, Papa akan pastikan itu semua." Ucapnya berusaha menenangkan istrinya itu.


Randa : "Baiklah jika Papa sudah bicara seperti itu, Mama pegang ucapan Papa. Tapi jika tidak sesuai dengan ucapan Papa maka bersiaplah menerima hukuman dari Mama." Ucapnya dengan seringai bak Singa betina. "Adinda!" Panggilnya tanpa melohat reaksi dari sang suami. Kedua anak yang masih dihalaman itu menoleh kesumber suara. "Ayo masuk, Tante sudah menunggu kamu sejak tadi." Pintanya tanpa melangkah sedikitpun dan membiarkan kedua anak itu melangkah maju kearahnya. Seketika Randa langsung memeluk Adinda dengan erat ketika sudah tidak ada jarak diantara mereka. "Tante rindu sama kamu sayang." Ucapnya dengan tersenyum.


Adinda : "Mara juga rindu sama Tante." Ucapnya dengan membalas pelukan hangat itu.


Randa : "Sudah lama Tante enggak lihat kamu, sekarang kamu sudah dewasa sudah semakin cantik, tapi cantiknya itu nurun Tante ya bukan nurun Mama kamu." Ucapnya sedikit sinis dan hal itu membuat Adinda terkekeh. "Sini Arse juga ikut peluk Tante donk, Tante kan juga pengen peluk kalian seperti ini." Arul langsung berhambur.


Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Rahmad dan kedua anaknya yang baru keluar dari dalam rumah. Melihat pemandangan langka seperti itu membuat mata Rahmad maupun Randa berkaca-kaca, sungguh ini adalah kehangatan yang selalu ingin mereka berikan pada dua ponakannya itu. Sementara Firman dan Vanya tertegun melihat mata kedua orangtuanya yang sudah siap untuk tumpah.


Vanya : "Baiklah, sekarang hentikan dulu drama keluarga tubiessnya, ini sudah semakin malam." Ucapan Vanya memecah keharuan diantara Randa, Adinda dan Arul.


Rahmad : "Baiklah, sekarang ayo masuk kerumah. Amara kamu harus menginap disini, meski niat kamu hanya untuk menjemput adikmu, tapi karena kamu sudah terlanjur masuk kesarang Singa berarti harus menginap." Ucapan Rahmad membuat yang lain terkekeh.


Firman : "Ya Papa benar, rumah ini memang sarang Singa dan kami berdua adalah anak dari Singa itu." Ucapnya sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Vanya : "Bukankah tadi Papa yang bilang bahwa rumah ini adalah sarang singa?" Kini Vanya ikut bersuara mendukung ucapan kakaknya.


Randa : "Sudah-sudah kalian ini selalu saja seperti itu, kamu Rangga jangan menggoda Papa seperti itu, tuman kalian ini. Nanti auman Papa keluar dan jika sudah keluar maka bisa-bisa rumah ini langsung rubuh." Kalimat terakhir dari Nyonya Wijaya itu sukses membuat yang lain tertawa tak terkecuali Adinda dan Arul. Sedangkan Tuan Wijaya itu langsung memberengut kesal seperti bocah kecil.


Kemudian mereka masuk kedalam rumah dengan berbagai canda dan tawa karena wajah Pak Rahmad yang masih belum berubah.


Ketika penghuni lain sedang asik bersenda gurau, tiba-tiba. . .


Drrttt..... Drrttt.....


Sebuah getaran dari dalam tas Adinda. Adinda langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira siapa ya yang menghubungi Adinda, kedua orang tuanya atau Dimas?


Kuy pantengin terus kisah Adinda dan Dimas.


Maaf belum bisa up banyak dan crazy up😔

__ADS_1


Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya😊


__ADS_2