Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 113 Apa Kau Memiliki Kekasih?


__ADS_3

Mama Ivanka : "Oke. Baiklah Mama berhenti, tapi awas sekali lagi kalian berulah. Kalian tidak boleh makan selama satu minggu, uang tabungan kalian Mama potong 80%" Ancamnya yang membuat Andre dan Septian menatap wanita cantik itu dengan cepat. "Kenapa, apa masih kurang hukuman Mama?"


Andre dan Septian hanya menggeleng pasrah. Sedangkan Dimas dan Papanya hanya menggelengkan kepala melihat ketiga orang didepannya melakukan drama keluarga.


Flashback End. . .


"Apa kau sedang memikirkan mereka Bang?" Dimas yang memejamkan mata kini membuka matanya dan beralih menatap kesumber suara.


Dimas menatap orang tersebut lalu kembali memejamkan kedua matanya.


"Sama, aku juga merindukan mereka, merindukan tempat ini. Lalu sekarang aku merindukan kamu juga kebersamaan kita." Ucapnya pelan. Kali ini ia tidak membuka kedua matanya, dan hanya fokus memejamkan mata mencari ketenangan.


Dimas : "Masuklah dan istirahat Sep, ini sudah malam. Meski tugas jagamu masih tiga jam lagi, isilah energi untuk nanti."


Ya orang tersebut adalah Septian, ia memasuki taman keluarga dan melihat Dimas yang duduk ditempat favoritnya sejak dulu. Bangku berlatar pohon besar nan rindang yang juga terdapat ayunan serta beberapa tiang yang menjadi tempat ternyaman untuk lampu disana.


Septian : "Apa kau sudah makan? Kau terlihat sedikit kurus." Tanyanya lagi mengalihkan ucapan dari Dimas.


Dimas : "Kebiasaan." Gumamnya dalam hati. "Apa kau masih menganggapku Kakak? Jika iya, apa kau tidak ingin mendengarkan aku?" Ucapnya dingin. Septian meneguk salivanya.


Septian : "Baiklah aku akan istirahat sebentar lagi. Jadi izinkan aku disini menemanimu meski hanya sebentar." Ucapnya memohon.


Dimas menghela nafas pendek, namun kemudian ia mengangguk setuju dengan permintaan sang adik.


Septian : "Aku sangat rindu dengan kebersaam kita dulu. Tapi sekarang lihatlah Andre, dia malah sibuk didalam bersama Yayak dan lainnya." Gerutunya kesal.


Dimas : "Gunakan waktumu untuk hal yang penting, jangan memikirkan hal lain apalagi sampai kabur seperti dulu." Septian langsung melengos setelah mendengar hal itu. "Saat ini aku masih berada di NB, tapi setelah lulus dan wisuda nanti aku pasti akan stay di Kantor. Jadi tolong kamu rubah sikap kamu yang sering bertingkah, setelah ini jadilah lelaki dewasa Sep karena bukan hanya Andre yang harus ada di Perusahaan tapi kamu juga dan tidak selamanya pula aku akan terus berada disamping kalian." Ucapnya panjang lebar memberikan petuah.


Septian masih terdiam dengan ucapan dari Dimas. Tidak biasanya Dimas bersikap santai seperti itu, menurutnya sikap Dimas yang dingin lebih baik daripada santai karena bisa dipastikan dari sikap santainya itu mengandung arti lain yang serius.


Septian : "Aku akan berusaha semampuku Bang, jadi loe tenang adj jangan khawatirin gue."


Dimas : "Di dunia ini tidak ada seorang Kakak yang tidak khawatir dengan adiknya." Jawab Dimas sekenanya. "Termasuk juga saya, tidak hanya padamu tapi juga pada Andre. Bagaimanapun kalian berdua itu adik saya." Septian menunduk mendengarkan itu.

__ADS_1


Septian : "Apa kau memiliki kekasih?" Tanya Septian dengan tiba-tiba.


Dimas yang mendengar itu tersentak dan kemudian menormalkan kembali wajahnya yang terkejut.


Dimas : "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Dimas mengernyitkan dahinya.


Septian : "Gue hanya sekedar tanya saja. Mungkin saja hidup loe akan berwarna setelah memiliki kekasih, ya kan? Jadi enggak datar dan lempeng gitu." Jawabnya enteng tanpa melihat mata sang Abang yang sudah menatapnya dengan tajam bak elang.


Dimas : "Masuklah kedalam, ini sudah semakin malam. Sebentar lagi kau akan berjaga."


Setelah mengatakan itu Dimas langsung beranjak dari bangku taman yang ia duduki sebelumnya. Meninggalkan Septian dalam diam yang hanya memandang punggung tegap miliknya.


Septian : "Kapan loe akan kembali hangat sih Dim, gue rindu loe yang dulu." Gumamnya pelan.


Sementara ditempat lain, Arul dan juga para sahabat masih ada di taman tempat mereka semula berkumpul.


Amar : "Abaaaaaang?! Loe darimana sih, gue daritadi nungguin di Aula."


Yaa saat ini Dimas memang berdekatan dengan mereka karena langkah menuju Villa dua harus melewati taman umum terlebih dahulu.


Ilham : "Tega bener jawaban loe itu Bang, enggak kesian nih sama kawan bontot." Sambil melirik Amar yang berada disebelahnya.


Azriel : "Abang darimana?" Tanya Azriel mencairkan suasana.


Amar : "Jangan sok kenal deh loe sama Abang gue, Raja Es ini kalau loe lupa Ziel." Jawab Amar ketus.


Azriel : "Memang kenapa? Gue kan hanya tanya Bang, lagian gue disini cuma sebentar ini soalnya yang masuk keamanan bukan gue."


Ilham : "Eeeh ini bocil dikasih tahu. Huuusss sana loe masuk saja nanti dicari MBA." Azriel langsung pergi dengan menghentakkan kakinya.


Dimas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd anak muda dihadapannya itu.


Arul : "Ehmm, Kak Dimas boleh aku bicara sebentar?" Alvin, Nauval, Amar dan Ilham melihat kesumber suara. Berani sekali orang itu mengajak Dimas bicara, begit fikir mereka.

__ADS_1


Dimas melihat kearah anak muda yang tak lain adik dari gadis cerobohnya.


Dimas : "Bukannya saya tidak mau, tapi ini sudah malam. Gunakan waktumu untuk tugas nanti, kita bisa bicara esok hari." Jawab Dimas.


Keempat lelaki yang tadi melihat Arul, kini bergantian melihat kearah Dimas. Seorang lelaki kutub bisa bicara baik pada orang lain? Sungguh hal langka, itulah yang mereka fikirkan saat ini.


Arul : "Hanya sebentar, aku hanya ingin memastika sesuatu saja. Setelah itu aku tidak akan meminta lagi dan akan ku lanjutkan esok hari, bagaimana?"


Alvin : "Keluar deh keras kepalanya." Gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh Dimas dan Arul. Dimas hana tersenyum tipis.


Ilham : "Ini sudah malam, benar kata Dimas kalian lebih baik gunakan waktu untuk mengisi energi karena malam pertama ini kalian ikut tugas bersama kami." Amar mengangguk setuju.


Amar : "Udah deh, jangan keras kepala Rul. Esok saja curhatnya." Arul masih diam menunggu jawaban dari Dimas.


Dimas menghela nafas perlahan. Menghadapi orang lain yang memiliki sifat mirip dengannya memang tidak mudah, ditambah orang itu masih muda dan juga keras kepala. Dia adik dari kekasihnya, sungguh saat ini dia harus mulai menghadapi lelaki tampan dihadapannya.


Dimas : "Baiklah, saya terima. Tapi tidak lama, tidak lebih dari 20 menit." Arul masih diam.


Arul : "Ehmm aku akan bicara dan memulainya. Tetapi akan mengakhirinya setelah selesai." Dimas diam, ternyata menghadapi Arul memanh tidak mudah butuh kesabaran.


Dimas langsung berbalik arah menuju ketaman keluarga. Meski sebelumnya dia baru keluar dari sana dan berbicara dengan Septian. Arul mengikuti dari belakang.


Septian : "Bang, loe balik?" Ucapnya dengan antusias, namun langsung meredup setelah melihat bocah SMP dibelakangnya. "Loe ikut kemari, untuk apa?"


Dimas : "Masuklah kedalam Septian. Jangan membuat Pastu marah." Ucapnya dingin dan datar. Septian mencebik dan langsung pergi dari mereka. "Masuklah dan carilah tempat dimana kau nyaman."


Arul melangkah masuk taman dan duduk dibangku yang terdapat ayunan serta pohon rindang diatasnya. Tempat favorit Dimas. Dimas ikut duduk disebelahnya.


Arul menghela nafas secara perlahan, seakan bingung akan memulai darimana.


Dimas : "Apa kau sedang bingung ingin berbicara apa?" Arul langsung menatap Dimas. "Katakan apa yang ingin kau katakan, ingat saya tidak memberi waktu lama padamu meskipun kau ingin waktu yang lama."


Arul terdiam sesaat, ia melihat bintang malam sebelum mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Arul : "Apa Kak Dimas saat ini memiliki seorang kekasih?"


__ADS_2