Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 15


__ADS_3

Sekitar tiga puluh menit Adinda menempuh perjalanan akhirnya ia sampai dihalaman depan Rumah yang ia tuju, Rumah bergaya klasik sederhana namun mewah (Nah loh sudah sederhana tapi mewah macam mana bentukny tu ya🤔 Ok skip..) Adinda segera turun dari mobil dan segera menuju arah pintu masuk dan menekan bel yang berada disudut atas.


Ting... Tong... (Anggap saja suara bel ya kakak)


Krieeeeett. Pintu pun terbuka, dan nampaklah si pemilik Rumah.


??? : "Masuklah, Bibi masih keluar sama Pak Anwar." Adinda hanya mengangguk dan melangkah masuk dengan tetap menatap seseorang yang ada didepannya. "Mau minum apa?"


Adinda : "Ehmm air biasa aja." Orang tersebut langsung kedapur. Setelah mengambilkan minum ia meletakan dimeja yang kemudian langsung diminum oleh Adinda. "Kak Dimas masih sakit?" Benar, orang yang menghubungi dan yang Adinda kunjungi adalah Dimas.


Dimas : "Saya baik-baik saja."


Adinda : "Berhentilah bersikap dingin dan berwajah datar." Namun Dimas hanya tersenyum.


Dimas : "Baiklah aku tidak akan dingin dan datar, tapi ingat hanya saat kita berdua saja. Jika diantara kita ada orang lain sikapku akan kembali seperti semula." Adinda langsung mengangguk pertanda setuju. "Apa kau tidak ingin memelukku?" Wajah Adinda langsung bersemu merah. "Hei, kenapa wajahmu seperti tomat?"

__ADS_1


Adinda : "Wajah Adinda enggak seperti tomat Kak!." Jawab Adinda sambil mengerucutkan bibirnya, Dimas yang melihat itu langsung dibuat gemas.


Dimas : "Kemarilah, duduk disebelahku. Aku janji enggak akan bertindak lebih apalagi hal yang dilarang Agama kita." Adinda langsung duduk disebelah Dimas. Seketika Dimas langsung memeluk Adinda. "Biarkan seperti ini, sebentar saja Dek." Adinda langsung mengelus kepala Dimas dengan lembut dan sayang.


Adinda : "Apa Kakak sudah makan dan minum obat?" Dimas hanya menggelengkan kepala. "Kenapa belum? Kakak harus segera menghabiskan obat itu agar alerginya sembuh."


Dimas : "Aku enggak laper, aku hanya butuh kamu dan aku ingin sakit saja supaya kamu perhatian seperti ini." Seketika Dimas mendapat cubitan dipinggangnya. "A.awh sakit sayang." Sambil mengelus pinggangnya. "Jika aku tambah sakit kan kamu akan semakin lama kupeluk." Mendengar kata sayang, wajah Adinda memerah, Dimas yang melihatnya langsung mencubit pipi itu. "Hahaa wajahmu kembali memerah."


Adinda : "Enggak, wajah Dinda e.enggak merah dan jangan cubit pipiku lagi Kak." Dimas yang melihat sifat Adinda hanya tertawa. "Adinda buatin bubur ya, setelah itu Kakak harus makan dan minum obat." Adinda melapas pelukan itu, Dimas yang melihat Adinda beranjak dari pelukannya hanya pasrah.


Dimas : "Sudah selesai?" Adinda mengangguk. Dimas langsung memakannya setelah selesai Adinda menyerahkan obat untuk diminum.


Adinda : "Hore selesai!" Adinda teriak senang, Dimas yang melihat itu bahagia karena melihat senyum dan juga perhatiannya terlepas dari syarat yang diajukan gadis itu terkait hubungan mereka saat ini. "Sini aku cuci dulu didapur, setelah ini Adinda akan pulang." Dimas yang mendengar kalimat terakhir langsung ikut beranjak masuk mengikuti gadis itu.


Dimas : "Harus sekarang ya pulangnya?" Ucap Dimas dengan kepala menunduk namun Adinda tidak menjawab dan masih mencuci mangkuk. Setelah selesai barulah ia menghadap Dimas.

__ADS_1


Adinda : "Kak, aku harus pulang ini sudah sore sudah hampir jam lima. Arul pasti sudah menunggu di Rumah."


Dimas : "Hemm baiklah, segeralah pulang." Dimas langsung berjalan keruang tamu.


Adinda : "Balik lagi deh muka datarnya, huh." Gumam Adinda dalam hati. Adinda mengikuti Dimas dan segera mengambil tasnya. "Adinda pulang dulu, kalau sudah sampai rumah nanti Adinda kabari." Dimas kembali bersikap dingin.


"Heuft! Baiklah Adinda pulang dulu, jaga kesehatan Kakak kalau sudah sehat aku kasih hadiah terus aku ceritain kegiatan hari ini." Dimas mengangguk kemudian Adinda meminta tangan Dimas untuk bersalaman lalu keluar dan memasuki mobilnya. "Assalamu'alaikum." Mobil itu melaju keluar dari halaman rumah.


Dimas langsung menutup pintu dan berjalan menuju ruang kerjanya kembali berkutat dengan laptop dan berkas serta email yang dikirim oleh Omnya.


Disaat ia sedang fokus pada pekerjaan, Handphone yang berada disudut meja bergetar dan ada pesan masuk melalui aplikasi whatsaap-nya. "Adinda sudah sampai di Rumah" begitulah isi pesan itu. Dimas yang melihatnya hanya tersenyum dan kembali fokus pada laptopnya. Adzan maghrib berkumandang, Dimas langsung menutup laptopnya dan mengambil air wudhu saat ia hendak masuk keruang shalat dia mendemgar seseorang masuk kedalam Rumah. Dimas yang melihat siapa orang itu kembalu keruang shalat.


Dimas : "Mandilah dan shalat." Orang itu hanya mengangguk.


Setelah melaksanakan shalat maghrib Dimas keruang keluarga membawa laptop kesayangannya. Sesaat ia melihat seseorang yang turun dari lantai dua.

__ADS_1


Dimas : "Kamu masih ingat Rumah?"


__ADS_2