
Firman : "Apa maksud kamu dengan ucapan itu? Melupakan semuanya?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Arul. "Melupakan Dimas dan menerima MBA, itu maksud kamu?" Arul langsung menatap Firman.
Arul : "Yaa mungkin itu juga salah satunya. Aku ingin dia melupakan masalah kemarin, dan memulai semuanya dari awal lagi dengan hal baru yang bisa membuatnya lebih bahagia."
Firman : "Apakah semudah itu melupakan orang yang kita cintai Arse? Tidak mudah melakukan semua yang kamu inginkan. Apa kamu melihat wajah sendunya tadi? Apa dengan wajah seperti itu dia bisa memulai hidupnya yang baru? Dengan suasana baru dan juga... kekasih yang baru? Apa dia bisa?"
Arul diam, suaranya tercekat disana. Seolah apa yang ingin dia ucapkan hasilnya akan tetap sama.
"Tidak Arse, dia tidak bisa melakukan itu semua. Aku hanya ingin bilang, cobalah kamu bicara dari hati ke hati dengan Mara. Karena bagaimanapun juga kalian itu kakak beradik, tidak akan baik jika kalian tetap berselisih ataupun saling mendiamkan. Dimas menerima permintaanmu demi kebahagiaan Mara jadi jangan membuat dia kecewa. Aah, sebentar lagi kalian harus mempersiapkan pendidikan yang baru, Amara masuk kuliah sedangkan kamu masuk SMU. Kalian harus fokus untuk semua itu. Aku balil dulu, gue harus ke Kantor. Jaga diri kalian baik-baik ya."
* * *
Tak terasa setelah tiga minggu menunggu, kini adalah pengumuman kelulusan, sudah bisa ditebak ke enam sahabat itu lulus juga para junior mereka yang tak lain para jumpling. Para junior itu langsung masuk SMU di Yayasan yang sama, jadi mereka tidak perlu lagi bingung untuk melanjutkan kemana.
Sedangkan berbeda lagi dengan para lulusan SMU, banyak dari mereka yang melanjutkan ke Luar Kota bahkan Luar Negeri. Namun Adinda dan sahabatnya memilih melanjutkan di Nusa Bangsa, sesuai dengan rencana mereka sebelumnya. Saat ini mereka tengah berada di taman Nusa Bangsa, mereka baru saja menyerahkan berkas untuk kelengkapan pendaftaran kuliah di Kampus ternama itu.
Restu : "Huaaaah gue kangen banget sama kalian!" Teriak Restu yang baru saja mendatangi mereka.
Amel : "Settdah itu anak kuliah disini juga? Bosen bangt deh gue disini."
Vania : "Sudaaah, nikmati saja. Kita ini memang tidak terpisahkan." Jawabnya yang juga diangguki oleh Geraldi dan Adit.
Restu : "Kalian itu seharusnya menyambut kedatangan gue, bukannya asik sendiri."
Adit : "Mohon maaf nih ya, Anda siapa ya? Maaf saya baru lihat Anda sekarang?"
Geraldi : "Bener dek Dit, kayanya gue juga baru lihat dia deh. Apa kita pernah bertemu?"
Restu yang mendengarkan itu lansung mencebik, kemudian.. Pletaak!! Adit dan Geraldi meringis sakit karena sentilan Restu.
Restu : "Apa kalian sudah ingat gue siapa? Atau loe berdua mau gue kasih lagi, hem?"
Adit : "Ampuun Suhu, kami sekarang sudah ingat." Ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya.
Amel : "Kalian iti kebiasaan deh ya kalau ketemu. Oh iya, loe ambil jurusan apa disini?" Tanyanya menatap Restu.
Restu : "Loe tanya sama gue Mel?" Amel mendelik, sedangkan Restu hanya terkekeh. "Haah, gue ambil Managemen. Mami gue minta gue masuk kesana."
__ADS_1
"Dasar anak Mami!" Ucap Geraldi, Adit, Amel dan Vania dengan kompak.
Restu : "Itu tandanya gue itu anak yang berbakti, enggak kaya kalian yang suka pergi."
Vania : "Yaak, setidaknya kita ketika main enggak di teleponin untuk pulang."
Mereka yang mendengar itu langsung tertawa, pasalnya orangtua Restu memang protektif dengannya. Sampai ketika dia keluar malam jika sudah lewat jam sepuluh tidak pulang, maka sang Mami yang akan turun tangan.
Geraldi : "Gue masuk fakultas kedokteran, bisa ketemu Bang Akbar gue disana."
Adit : "Gue Bisnis Managemen saja, sesuai dengan otak gue aja deh." Ucapnya sambil terkekeh.
Amel : "Yak, gue, Vania sama Dinda juga masuk disana. Bisnis Managemen, lagipula banyak Anggota PPA yang disana."
Adinda : "Temen-temen maaf yah, aku ke Perpustakaan dulu. Aku tadi sempat lihat buku bagus disana, kalian bisa pulang duluan." Ucap Adinda ditengah-tengah pembicaran sahabatnya.
Adit : "Perlu kita temenin enggak? Atau sama Memel juga Vania aja kesananya." Amel dan Vania mengangguk.
Adinda : "Enggak perlu Adit, kalian tenang saja. Aku bisa sendiri kok. Aku duluan yah, kalian hati-hati pulangnya." Ucapnya tersenyum lalu berlalu pergi meninggalkan sahabatnya.
Mereka hanya menatap punggung gadis itu yang terus menjauh, hingga tak terlihat dibalik gedung yang bersebelahan dengan Fakultas mereka.
Geraldi : "Apa hubungan mereka tidak bisa diperbaiki lagi? Gue enggak sanggup lihat Adinda seperti itu."
Vania : "Gue enggak tahu Adinda akan berubah seperti sekarang. Sebenarnya gue masih enggak nyangka dia bisa pacaran sama Raja Es itu, secara mereka berdua terlihat acuh jika ketemu."
Amel : "Iya gue ingat banget saat mereka awal ketemu. Mereka perang mata, tapi setelah itu gue enggak tahu lagi." Amel menghela nafas. "Gue hanya pengen Adinda kembali seperti dulu." Ucapnya lemah sambil menunduk.
Geraldi : "Jika kita bisa melakukan sesuatu untuk mereka, pasti gue akan lakuin."
Adit : "Apa yang akan kita lakukan untuk hubungan mereka Ger? Loe tahu sendiri bagaimana sifat Arul, sekali tidak tetap tidak. Rasa kecewanya terlalu besar.
Geraldi : "Tidak bukan berarti selamanya tetap begitu Dit. Gue yakin suatu saat nanti Arul akan menerima Bang Dimas, dan soal Bang Akbar. Sebenarnya dia lelaki yang baik, dia juga cocok dengan Dinda tetapi yang namanya hati tidak bisa untuk dipaksakan."
Restu : "Gue rindu dia yang ceria tersenyum lebar seperti dulu." Para sahabatnya mengangguk setuju. "Apa Arul dan Adinda masih bersitegang?" Celetuknya.
Amel : "Sudah enggak, tapi yaah gitu. Adinda masih tetap sama, dia sekarang lebih pendiam dan sering menyendiri." Jawabnya lemah.
__ADS_1
Geraldi : "Beberapa hari lalu Arul nemuin gue di Kafe Mama." Amel dan yang lain langsung menatap Geraldi.
Adit : "Untuk apa Arul nemuin loe disana? Enggak biasanya dia nemuin salah satu diantara kita seperti itu."
Geraldi : "Dia hanya duduk manis saja, dan yaa bicara tentang Adinda."
Vania : "Apa yang dia bicarakan tentang Kakaknya? Apa dia bicara tentang perubahan Adinda?" Geraldi mengangguk.
Geraldi : "Yaa salah satunya itu. Dia bilang sejak kejadian itu Adinda menjadi pendiam, dia memang ceria tapi wajahnya tetap terlihat sendu, matanya tidak memancarkan kebahagiaan seperti sebelumnya."
Flashback On...
Arul memasuki sebuah Cafe yang memang terkenal karena tempatnya juga minumannya. Tempat itu tak lain adalah milik orangtua Geraldi.
Arul : "Maaf mas, Kak Geri nya ada disini enggak?" Tanya Arul pada seorang pelayan.
Pelayan : "Ooh iya Mas, kebetulan Mas Geri baru saja sampai disini. Ada perlu apa ya?"
Arul : "Tolong panggilin ya Mas, bilang saja Arul datang kesini." Pelayan itu mengangguk lalu undur diri.
Tak berselang lama, datanglah lelaki itu dari arah ruang pimpinan.
Geraldi : "Sory buat loe nunggu lama Ar." Arul mengangguk. "Kamu mau minum apa?"
Arul : "Arul minum coffelatte aja Kak." Geraldi tersenyum mengangguk.
Geraldi : "Sari, tolong buatin coffelate dua untuk saya dan adik saya ya." Pelayan itu mengangguk lalu undur diri. "Ada apa ini? Tumben banget kami kesini?"
Arul : "Hanya ingin kesini aja sih Kak, Azriel sama yang lain masih sibuk di Rumah." Jawabnya. "Oh iya, Kak bisa kita bicara sebentar? Jika Kakak enggak sibuk."
Geraldi menautkan kedua alisnya. Ada angin apa lelaki muda ini berbicara panjang lebar, bahkan auranya sedikit hangat. Fikirnya.
Geraldi : "Gue ada waktu kok, loe tenang aja. Memangnya apa yang mau kamu bicarain?"
Arul : "Mengenai Kak Adinda." Geraldi yang sedang fokus pada ponselnya langsung menatap Arul setelah mendengar itu. "Apa setelah kejadian di Villa itu, kalian sering bertemu atau berkumpul dengan yang lain?"
Geraldi menjawab dengan gelengan kepala. Karena nyatanya memang mereka tidak berkumpul, jika berkumpul pun formasi tidak lengkap.
__ADS_1
Geraldi : "Kenapa? Apa ada masalah dengan Kakakmu itu?" Arul menghela nafas kasar.
Arul : "Sejak kejadian itu Kakak jadi lebih diam tidak seperti biasanya. Memang dia tetap menyiapkan keperluanku setiap harinya, ceria juga tertawa. Tapi pancaran matanya itu sangat berbeda dari sebelumnya, seakan tidak ada pancaran bahagia disana. Apa Kakak juga bersikap seperti itu dengan kalian?"