
Dimas : "Kamu bisa duduk disana, jika lelah dan lenganmu terasa sakit kau bisa kembali kestand dan istirahat disana." Ucapnya panjang lebar.
DEG. . .
Adinda yang terkejut langsung meraba lengannya yang kemarin sempat terluka.
Adinda : "Bagaimana dia bisa tahu?" Gumamnya dalam hati sambil menatap manik biru hazel milik Dimas.
Dimas : "Tidak perlu berfikir saya mengetahui itu darimana, yang jelas sekarang kamu pulihkan dulu saja luka itu." Ucapnya masih dengan wajah datar.
Adinda : "Maksud Dinda, bu.bukan seperti itu Kak." Ucapnya gugup.
Dimas : "Tidak apa Din, tapi lain kali jangan sampai seperti itu lagi, jangan ceroboh lagi." Ucapnya yang kini mulai bernada hangat. "Duduklah saja disana atau kembalilah ke stand belajar, saya bisa handle ini sendiri." Putusnya dan langsung kembali bercengkerama dengan warga.
Adinda : "Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan, bagaimana aku memperbaiki ini semua?" Gumamnya dalam hati, matanya tak henti menatap Dimas.
Seketika ia teringat ucapan Dimas beberapa waktu lalu tentang memperjuangkan hubungan ini. DEG! Matanya kini menatap punggung Dimas yang tampak kosong itu.
Adinda : "Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya Tuhan, kumohon jangan biarkan sesuatu terjadi." Gumamnya pelan.
Disisi lain, ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Entah apa yang mereka fikirkan tentang sepasang manusia yang kini berada didekat gerbang masuk Villa itu.
*Camp Keamanan_
Alvin : "Lihat deh Rul Kak Dinda sama Bang Dimas, cocok ya mereka?" Ucapnya sambil menepuk bahu Arul. Nauval yang mendengar juga mengangguk setuju.
Nauval : "Bener banget Vin, mereka kelihatan serasi. Yang satu dingin, yang satu kalem."
Arul : "Maksud kalian, apa?" Tanyanya dingin. Alvin melepas tangannya dari bahu Arul.
Alvin : "Hecmmm itu mata kenapa tajam banget sih Rul, gue sama Nauval hanya bicara saja. Itu pendapat kita berdua."
Yayak : "Kalian ini meributkan apa sih, daritadi bicaranya ngelantur. Sudah kalian lanjutkan tugas kalian dulu." Ketuga jumpling junior itu mengangguk. "Apa yang terjadi dengan mereka berdua, kenapa hawanya sedikit berubah dingin seperti ini. Arul, apa dia tidak setuju dengan hubungan mereka berdua?" Gumamnya dalam hati, matanya menatap sepasang manusia yang saat ini tengah berinteraksi.
*Camp Kesehatan_
Amel : "Kagan lihatin siapa sih?" Tanyanya, namun MBA masih diam. Mata Amel mengikuti arah mata MBA. "Ooh Bang Es sama Adinda toh yang dilihatin. Ehemm, kalau suka bilang suka sama Dinda Kak." Seketika MBA sadar.
__ADS_1
MBA : "Kamu tadi bicara apa Mel?"
Vania : "Abang kenapa liatin mereka seperti itu? Abang naksir sama Dinda?" Selidiknya.
Amel : "Biar adj kenapa sih Van, biar Adinda itu punya pacar biar enggak sama Arul terus."
Angel : "Memang gadis itu belum punya kekasih?" Celetuk Angel.
Vania : "Adinda itu banyak pawangnya Kak Angel, termasuk itu anak." Menunjuk Geraldi dengan dagunya.
Angel : "Ooh, dia pawang gadis itu. Sejak kapan mereka pacaran?"
Amel : "Bukan pacaran Kak, tapi memang Adinda itu banyak pawangnya. Ada Arul, Geraldi, Adit, juga Restu. Alvin dan Nauval juga iya, para lelaki itu adalah bodyguard kita bertiga. Meski kita bukan bangsawan." Jelasnya dengan kekehan.
Azriel : "Bang Akbar jangan deketin Kak Adinda dulu, karena kalian belum tahu siapa pawang dia sebenarnya."
"Maksudnya?!" Ucap mereka kompak, termasuk Amel juga Vania.
Amel : "Maksud loe apa bicara begitu Ziel?" Selidik Amel pada sepupunya itu.
Azriel : "Gue enggak bisa jelasin, jadi biarkan saja waktu yang menjawab ini semua. Yang penting gue sudah bilang." Setelah mengatakan itu Azriel pergi dan ikut berkumpul dengan Geraldi yang saat ini mengobati luka bocah kecil yang sempat terjatuh.
MBA : "Kenapa ini terasa seperti misteri hati? Seperti cinta segitiga saja, padahal aku belum maksimal mendekati Arul." Gumamnya pelan.
Pastu dan Septa yang saat ini memantau kegiatan juga tak luput memperhatikan Dimas juga Adinda.
Pastu : "Riya! Kamu tahu gadis itu?" Septa langsung melihat arah mata Pastu.
Septa : "Kenapa dengan gadis itu? Dia ini anggota baru dari Mahakarya, dia masuk humas bersama Dimas, Arya juga lainnya." Jelasnya.
Pastu : Hcmm, cantik." Ucapnya tanpa sadar. Septa yang mendengar it langsung mendelik.
Septa : "Loe enggak bermaksud deketin dia kan? Jangan **** deh loe, inget usia." Pastu menatapnya tajam.
Pastu : "Jaga bicaramu Riya!!" Dengusnya kesal. "Gue hanya tanya saja.
Septa : "Sory deh, gue kira loe naksir itu gadis SMU, lagian loe bilang dia cantik. Oh iya, Dimas itu siapa loe?" Tanyanya serius.
__ADS_1
Pastu : "Dimas itu, keponakan gue. Termasuk Septian juga Andre dan Shekar." Septa yang mendengar itu terkejut.
Septa : "Maksud loe mereka berempat itu anaknya Bang Tama?"
Pastu : "Dimas anak kandung Bang Tama dan Kakak gue Ivanka. Sedangkan Andre, Shekar dan Septian itu anak angkat mereka. Sory jika loe barutahu, mungkin selama ini yang loe tahu mereka bertiga itu saudara kandung dan dari keluarga biasa tapi Dimas itu sebenarnya anak tunggal dari Surya Adhitama Ri." Jelasnya memberitahu.
Septa : "Ja.jadi Dimas itu pewaris Adhitama Company?" Pastu mengangguk. "Sumpah enggak sangka gue, pantas saja setiap gue searching itu keluarga Adhitama selalu nihil hasilnya. Gue bener-bener enggak tahu jika loe ini adik ipar seorang Adhitama, pengusaha besar yang memiliki kerajaan bisnis disetiap penjuru dunia karena yang selalu loe bilang keluarga loe itu keluarga sederhana dan hanya pengusaha biasa. Loe juga enggak bilang nama lengkap Kakak loe. Ternyata sahabat gue ini berasal dari keluarga konglomerat, haah jadi minder gue."
Pastu yang mendengar penuturan dari sahabatnya itu hanya terkekeh, pasalnya wajah Septa ketika kesal itu sungguh membuatnya terhibur, apalagi mereka sudah lama tidak bersua selama beberapa tahun karena kesibukan mereka.
Pastu : "Enggak usah lebay deh lo Ri. Maaf jika dulu gue enggak jujur sama loe, loe tahu sendiri seberapa banyak orang yang mengincar Adhitama Company. Karena hal itu, gue sembunyikan tentang ini semua, gue hanya ingin melindungi apa yang seharusnya dilindungin." Septa menepuk pundaknya tersenyum.
Septa : "Tapi gue tetap bangga sama loe Pas, meski loe itu dari keluarga yang super wowo, loe tetap hamble dan ya sederhana meski sedikit misterius, tapi loe sahabat terbaik gue." Kini tepukkan itu berubah menjadi sebuah rangkulan.
Pastu hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.
Pastu : "Apakah gadis itu yang tempo hari dibicarakan Andre dan Shekar?" Gumamnya dalam hati.
Hari ini diakhiri dengan senyum puas dari setiap anggota, pasalnya mereka merasa senang karena bisa membantu warga juga karena kegiatan yang berjalan lancar.
* * *
Rencana awal kegiatan hanya lima hari bertambah satu hari menjadi enam hari berada di Puncak. Dan kini sudah hari ketiga mereka disana, jadwal hari keempat ini adalah kunjungan disetiap rumah warga khususnya warga lingkungan Villa itu.
Perjalanan hanya menempuh waktu sepuluh menit karena rumah yang saling berdekatan.
Indra : "Baiklah, pagi menjelang siang ini kita fokuskan untuk para warga sekitar Villa saja, bersyukur selama kita disini setiap acara berjalan dengan lancar."
Shinta : "Khusus yang perempuan, tolong ya dampingi para lelaki ketika menemui warga."
MBA : "Benar, jadi kita harus berbagi tugas. Kita menyesuaikan bidangnya saja atau bisa bersilang antara bidang satu maupun lainnya."
Yayak : "Untuk keamanan, tolong tetap stay di Villa saja karena bagaimanapun juga kita harus bertugas disini." Bidang keamanan langsung mengangguk.
Dimas dan Andre baru masuk kedalam Aula tengah, semua mata menatap kearahnya. Melihat pemandangan yang sering mereka lihat, dua lelaki dingin yang saling berbicara dan entah sedang membicarakan apa.
Andre : "Maaf kami terlambat." Ucapnya melihat kearah Indra, namun ia juga melangkah kearah Firman dan membisikkan sesuatu. "Kalau begitu saya dan Dimas permisi terlebih dahulu, kami akan kebawah duluan." Indra, MBA, Yayak hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Kedua lelaki dingin tapi tampan itu langsung berlalu dari Aula. Keduanya langsung menemui warga yang memang jadwalnya hari ini kunjungan.
Firman : "Dimana Shekar, sejak kemarin aku belum melihatnya. Apa yang dia lakukan sebenarnya?" Gumamnya dalam hati. "Maaf, gue balik ke kamar sebentar ada yang harus gue ambil dulu." Firman beranjak dari sana dan langsung melangkah menuju kamarnya.