
Septian : "Yaa senjata itu sungguh ajaib, bukan hanya harganya saja yang murah meriah tapi rasanya juga sangat mantap dan membuat tubuh kita langsung merah seperti tomat yang sudah matang." Geraldi, Adit dan juniornya semakin penasaran senjata apa yang ampuh dan murah itu.
Azriel : "Senjata model apa itu Bang? Apa Mama punya yah"🤔 Ucapnya sambil mengingat.
Alvin : "Senjata apa yang murah meriah tapi rasanya mantap Bang?" Mereka yang mengerti hanya menahan tawa melihat wajah bingung juniornya.
"Gagang sapu!!!" Jawab Yayak, Firman, Septian dan Ilham dengan kompak. Mereka yang mengatakan itu langsung tertawa, namun berbeda dengan juniornya yang masih bingung.
1 detik....
2 detik....
3 detik.... Mereka langsung tertawa bersama.
Nauval : "Wah bener banget tuh, itu senjata paling ampuh saat dirumah, dan hanya Emak-emak yang punya itu senjata.
Azriel : "Yaa senjaa itu sungguh antik dan unik, hanya di warga +62 yang punya." Sambung Azriel yang semakin menambah riuh. Bahkan para pengunjung semakin memperhatikan meja panjang yang ditempati anak muda disana.
Adit : "Gue juga pernah jadi korban senjata itu. Sungguh mantap rasanya."
"Sama, kita juga!!" Mereka tertawa bersama. Namun bisa dipastikan hanya Arul yang tidak pernah merasakan itu.
Para wanita dan Arul hanya menggelengkan kepalanya meliht tingkah para lelaki beda usia didepan mereka.
Indra : "Hanya Dimas yang bisa meluluhkan Mani dengan cepat." Celetuk Indra tiba-tiba. Mereka mengangguk setuju.
Geraldi : "Kenapa hanya mereka berdua Bang? Apakah ada sesuatu hal?"
Indra : "Tidak ada, mereka berdua dan kami itu sama. Hanya saja memang aura Dimas jauh menonjol dari kami semua. Sedangkan Andre, dia adalah si duplikat jadi auranya tak jauh berbeda dari Dimas."
Ilham : "Bahkan orangtua kamipun bisa luluh dengan kehadiran Dimas dan Andre."
Amar : "Bener banget, entah kenapa hanya dia dan Si duplikat yang bisa. Bahkan jika mereka datang ke Rumah gue serasa jadi anak tiri. Sungguh itu Nyokap gue berasa enggak adil bener dah sama gue. Sebenarnya siapa sih anak kandungnya tuh."
Yayak : "Mungkin saja anak kandung Mani itu Dimas sama si duplikat itu, dan loe hanya dipungut karena kasihan.
Amar : "Hecmmm apa iya yaa." Ucapnya tampak berfikir. Semua yang ada disana tertawa puas namun ada juga yang menggelengkan kepalanya
Amel : "Dasar pada enggak waras apa yah." Ucapan Amel itu langsung terdengar ditelingan Amar dan yang lainnya. "Kenapa kalian semua lihatin gue?"
Amar : "Maksud loe apa ngomong seperti tadi."
Amel : "Tau deh, ogah gue ikut campur. Nanti gue dikira enggak waras lagi. Cukup kalian saja yang seperti itu, jangan ajak kita orang."
Geraldi : "Jangan begitu loe Mel, nanti lama-lama bisa suka."
Ilham : "Bener banget, awas jangan benci dulu gue takut nantinya kalian saling cinta."
"ENGGAK MUNGKIN!!" Jawab Amel dan Amar dengan kompak.
Adit : "Nah kan kompak banget."
Yayak : "Kayanya bakal jadi beneran nih. Nanti gue kabarin Mani deh, kita bilang sebentar lagi dapat menantu."
Azriel : "Wuahahaa bener tuh Bang, nanti biar gue bilang ke Mama kalau Memel sudah dapat calon menantu idaman." Amel dan Amar yang mendengat itu dengan kompak menatap mereka tajam. "Daaah tuu matanya tajam bener."
Amel : "Semua ini itu gara-gara loe ya Kak." Ucap Amel dengan ketus.
Amar : "Kenapa loe salahin gue sih, yang ada itu loe yang duluan." Amel menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Amel : "Enak saja, kalau bukan karena loe terus karena siapa. Masa karena gue." Lanjutnya tak mau kalah.
Amar : "Ya iyalah karena loe, coba kalau loe itu enggak bar-bar."
Mereka semakin berdebat, bahkan pengunjung lainpun melihat kearah mereka semua. Ada yang bilang mereka berisik, namun tak sedikit pula yang mengatakan bahwa mereka itu pasangan yang unik karena meski bertengkar tetap terlihat romantis.
Sedangkan mereka yang satu meja dengan keduanya hanya menjadi penonton saja. Karena drama ini sangat langka untuk mereka, dan belum pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya PPA. Disaat Amel ingin bersuara, tangannya sudah dicekal oleh seseorang disebelahnya yang tak lain adalah Adinda.
Adinda : "Meeel, stop sudah. Kamu ini perempuan loh jangan seperti itu."
Amel : "Tapi Din, kan dia duluaaan..." Rengek Amel pada Dinda.
Adinda : "Sudah hentikan, sebentar lagi waktu dzuhur. Jadi stop jangan bertengkar, oke.👌
Amel langsung terdiam setelah mendapat teguran dari Adinda. Meski ia masih kesal tapi jika Adinda sudah bicara maka dia harus segera diam, karena dia kapok jika harus mendapat ceramah dari sahabatnya itu.
Vania : "Akhirnya si Ibu Negara berbicara. Ketika Ibu Negra sudah berkata maka lakukanlah. Jadi diem deh tu." Celetuk Vania yang terkekeh.
Adinda : "Vaaan, sudah donk jangan mulai lagi. Kalian juga..." Ucapnya memperingati Adit, Geraldi, Azriel juga Alvin dan Nauval.
"Baik Ibu Negara." Jawab mereka kompak. Kekompakan mereka dan sikap mereka yang patuh pada Adinda menjadi pemandangan tersendiri dimata para senior PPA disana. Karena pasalnya mereka langsung patuh hanya dengan ucapan gadis itu.
Termasuk Firman yang notabennya Kakak sepupu Dinda. Dia baru mengetahui hal tersebut.
Firman : "Kenapa kalian patuh banget sama Amara? Eeh, maksud gue sama Adinda."
Azriel : "Abang enggak tahu aja jika Kak Dinda sudah marah. Kita semua pasti kena amukannya." Alvin dan Nauval mengangguk setuju, namun berbeda dengan Arul.
Arul : "Tapi di Rumah tidak pernah marah." Ucapnya tiba-tiba.
Alvin : "Itu karena loe adiknya, coba kalau bukan pasti sama seperti kita."
Azriel : "Aaah iya, gue ingat!" Teriak Azriel. Lalu dia mendapat pukulan dilengannya. "Oops sory. Gue ingat kita pernah dihukum bersihin Sekolah pas hari libur, karena tugas tidak kita kerjakan."
Arul : "Memang ada apa? Apa ada yang salah?" Tanyanya tanpa dosa. Sedangkan ketiga sahabatnya mendengus kesal dan juga geram.
Alvin : "Jelaslah loe enggak kena hukuman, loe kan adiknya dan loe juga sudah kerjain itu tugas. Pakai tanya ada apa, sok lupa loe." Arul yang mendengar langsung tersenyum.
Arul : "Sory, kan aku enggak ada maksud seperti itu. Hehee."
Nauval : "Untung loe adiknya Kak Dinda." Arul langsung terkekeh.
Ilham : "Eh, ternyata loe bisa senyum juga ya ternyata?"
Arul : "Bisa kok Kak, hanya jarang saja ketika kumpul seperti ini."
Geraldi : "Dia itu memang mahal bicara Bang. Hanya disaat tertentu saja."
Indra : "Sifat yang hampir sama dengan Dimas." Yayak mengangguk setuju.
Septian : "Tapi tetap saja lebih ngeri Abang gue sifatnya." Jawab Septian tanpa mengalihkan matanya dari ponsel, karena ia sedang memainkan games.
Yayak : "Yaaah kalau soal itu sih, pasti sudah jelas beda jauh."
Adit : "Memangnya Bang Dimas semengerikan apa sih Bang? Gue perhatiin sejak tadi kalian selalu bahas soal itu."
Indra : "Tidak ada, itu hanya sifat yang memang sudah dimiliki Dimas sejak dulu."
Yayak : "Wajar saja jika ngeri, karena dia punya mata yang tajam. Septian kan adiknya, jadi wajar juga jika dia bicara seperti itu." Jelasnya.
__ADS_1
Vania : "Memang iya sih, kelihatan banget Bang Dimas itu dari matanya juga." Mereka mengangguk setuju.
Disaat mereka sedang berbincang, Andre dan Dimas keluar menghampiri meja itu. Sedikit melirik kearah gadis cerobohnya, pandangan mereka sempat bertemu namun kemudian Dimas segera memutusnya dan menatap Septian.
Dimas : "Malam ini pulanglah ke Rumah utama dulu, saya masih ada meeting selepas dzuhur." Septian menoleh ke sumber suara.
Septian : "Hecmm baiklah, apa kau akan pulang telat lagi hari ini?"
Dimas : "Saya usahakan untuk pulang cepat."
Septian : "Apa Andre juga akan ikut ke Kantor denganmu?" Dimas mengangguk sekilas. "Gue akan sendiri lagi donk Bang." Keluhnya namun juga membujuk.
Andre : "Enggak usah manja." Jawabnya singkat dan datar. Septian langsung mencebik kesal.
Dimas : "Kamu bisa mengajak Ilham dan Amar jika memang ingin." Sedangkan si empunya nama yang mendengar itu langsung berbinar.
"Serius loe Bang?" Tanya Ilham dan Amar dengan semangat. Dimas mengangguk.
"Loe enggak undang kita?" Ucap Yayak dan Firman.
Dimas : "Apa pernah saya tidak mengundang kalian? Bahkan meski tidak diundang sekalipun kalian tetap akan datang. Datang tak diundang pulang tak diantar."
Firman : "Kyaaaaaa! Loe ya Dim, sumpah kenapa gue punya sahabat kaya loe sih, loe kira kita jaelangkung apa." Dimas hanya bersikap acuh padanya.
Yayak : "Sabar Bang, ini cobaan." Jawabnya dengan nada seolah sedih. Dimas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Dimas : "Baiklah, saya duluan. Permisi sebelumnya. Ehmm, jangan lupa mampir dulu ke Masjid sebelum pulang." Ucapnya sambil mengacak puncak kepala Septian. Kemudian ia melangkah keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
🌺salam hangat dari author untuk kakak semua...