Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 58


__ADS_3

Reyhan dan Arya nampak geram dengan sikap Melinda. Sebelum Arul dan Adinda menjawab, Reyhan terlebih dahulu menyela.


Reyhan : "Apa yang kau lakukan?! Hentikan sikapmu itu Linda!" Ucapnya sedikit meninggikan suara.


Arya : "Mbak enggak bisa ambil keputusan seperti itu. Apa alasan Mbak melakukannya? Karena lingkungan sekitar itu maksudnya? Setiap lingkungan berbeda Mbak, semua tergantung pada diri mereka sendiri. Mba enggak bisa seperti ini." Jawab Arya dengan tegas.


Melinda : "Aku tidak butuh saran dari kalian, aku hanya butuh pendapat dari anak-anakku." Jawabnya dengan ketus.


* * *


Ditempat lain, tepatnya Adhitama Company Dimas baru saja sampai di Perusahaan pada pukul 13:15. Lima belas menit sebelum meeting dimulai. Dimas turun dari mobil, semua karyawan menyambut Dimas dengan hormat tak ada yang berani menyapa karena mereka tidak ingin membuat mood dari Boss dingin itu berantakan seperti sebelumnya.


Dimas memasuki lift khusus CEO, seketika pintu lift tertutup. Karyawan yang berada disana langsung menghela nafas dengan lega karena melihat sang Boss telah naik keatas, pasalnya mereka memang tak tahan jika berhadapan langsung dengan Boss dingin itu.


"Akhirnya si Boss masuk juga. Gugup banget gue takut ada kesalahan." Ucap seorang wanita yang menjadi Resepsionis.


"Bener banget, mana wajah Pak Boss serem banget lagi. Tampan sih, tapi auranya itu loh berrrr dingin banget, apalagi Pak Andre juga seperti itu." Kata seorang staf yang masih di Resepsionis.


"Mereka itu tampan, tapi auranya sangat mematikan. Kalau ada kesalahan sedikit saja beuhhh langsung kena omelan, terus kalau berhadapan dengan client mata elang itu langsung muncul." Mereka mengangguk.


"Sudah kalian bubar, lanjutkan pekerjaan kalian. Jangan gosipin Pak Boss lagi, kalau sampai Tuan Andre atau Mas Septian dengar kalian bisa saja langsung dipecat." Ucap security yang memang sudah lama mengabdi di keluarga Adhitama.


Mereka langsung bergidik dan segera membubarkan diri melanjutkan pekerjaan.


Sementara Dimas kini sudah sampai dilantai 21, lantai itu memang lantai khusus untuk CEO.


Dimas : "Apa semua sudah didalam Angga?" Tanya Dimas pada sekretarisnya.


Angga : "Sudah Tuan Muda, Pak William dan yang lainnya sudah berada didalam." Dimas mengangguk dan melangkah masuk keruang meeting yang diikuti oleh Andre.


*Disini sekretarisnya laki-laki ya, Dimas tidak suka jika memiliki sekretaris perempuan karena banyak dari mereka yang hanya mementingkan dandanan wajahnya saja dengan pakaian yang ketat, ya meski tidak semua seperti itu.


Kuy lanjuuut....


Semua berdiri ketika Dimas dan Andre memasuki ruangan. Badan atletis yang kokoh dan tegap itu menunjukkan sikap wibawanya, wajah yang tampan tak lupa juga aura dingin dengan tatapan elang yang mematikan seakan siap mencabik mangsanya.


"Selamat siang Tuan Muda Dimas." Ucap mereka serempak. Dimas mengangguk dan segera duduk yang diikuti oleh semua orang yang hadir di ruang itu.

__ADS_1


Andre : "Pak Will silahkan sampaikan apa yang sudah disiapkan." Ucap Andre tanpa ingin basa basi Kemudian Pak William segera menyampaikan maksudnya.


Pak William : "Apa yang akan saya sampaikan Tuan Muda pasti sudah mengetahui. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa ada seseorang yang menggelapkan dana Perusahaan yang ada di Singapore, orang tersebut melakukannya dengan cara memindahkan setiap database yang masuk dari keuangan ke file yang ada dikomputernya. Setelah diselidiki ternyata dia tidak hanya sekali melakukan hal ini, dan ini sudah yang ke tiga kalinya dengan jumlah yang begitu besar."


Dimas : "Apa yang membuat orang itu melakukan hal tersebut? Apa gaji yang kita tawarkan diawal kurang untuknya?" Setelah mendengar penjelasan Pak William kini giliran Dimas yang bersuara.


Pak Agus : "Sebenarnya tidak kurang sama sekali Tuan, bahkan itu sudah sangat berlebihan. Hanya saja sepertinya ada dalang yang membuat orang itu melakukannya." Jawab Pak Agus dengan sedikit terbata karena tatapan tajam dari Dimas.


Dimas : "Apa masalah seperti ini bisa kalian tangani dengan cepat? Apa kalian tidak pernah meneliti lagi karyawan kalian yang ada disana? Kenapa hal seperti ini terjadi dan sudah berulang kali? Apa kalian tidak bisa menjalankan tugas kalian?" Ucapnya dengan begitu tenang seolah tidak ada masalah yang terjadi. "Jika kalian tidak bisa melakukannya, katakan pada saya saat ini juga." Lanjutnya kembali, dan... hening. "Kalian bisa langsung angkat kaki dari Perusahaan saya saat ini juga." DEG! Semua yang ada didalam ruangan itu langsung tersentak mendengar penuturan Dimas.


Wajah yang begitu tenang seolah tanpa beban, namun penuturannya begitu penuh dengan penekanan membuat semua yang ada didalam bergidik dengan sendirinya.


Pak William : "Bu.bukan begitu, kami masih ingin bekerja dengan Tuan Muda jadi tolong beri kami kesempatan, karena pelaku sudah tertangkan dan dalang dari ini semua sudah ditemukan titik terang, kemungkinan dalang dari ini semua adalah Pak Chandra Winata. Karena setelah kejadian ini terungkap beliau langsung menghilang, siang ini kami mendapat kabar bahwa beliau berada di Beijing."


Dimas : "Ini kesempatan terakhir untuk kalian, jika sampai hal ini tidak selesai dan masih saja berlanjut maka silahkan angkat kaki dari Adhitama Company." Setelah mengatakan itu Dimas langsung berdiri dan melangkah keluar menuju ruangannya. Sementara di ruang rapat. . .


Pak Aksa : "Ya Allah aura Tuan Muda Dimas sungguh mencekam, bahkan lebih mencekam dari Almarhum Pak Surya."


Pak Agus : "Benar sekali, bahkan Tuan Andre juga mencekam. Mereka memang masih muda, tapi dengan kepemimpinan Pak Dimas Perusahaan ini berkembang dan maju dengan pesat."


Pak William : "Maka dari itu, kita harus bekerja dengan ekstra dalam hal ini. Kita harus segera menemukan Pak Chandra, jika sampai tidak ketemu maka kita harus menerima konsekuensinya. Astiana, apa kau sudah menyiapkan tiket untuk kembali ke Singapore?"


Pak Aksa : "Baiklah, lebih baik kita menyiapkan keperluan untuk ke Singapore, karena kita harus segera menyelesaikan semua ini. Pak Dimas juga pasti akan memantau projek bangunan untuk taman hijau disana."


Pak Agus : "Saya sudah menghubungi pihak sana tentang kunjungan Pak Dimas, dan mereka akan segera menyiapkan keperluan lainnya."


Kemudian mereka memutuskan untuk segera keluar dari ruangan dan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan.


Sedangkan diruangan Dimas...


Dimas : "Jam berapa kita berangkat Andre?" Tanya Dimas ketika sudah mendaratkan badannya dikursi kebesarannya itu.


Andre : "Kita harus ke Bandara pukul 15:00 Tuan, karena sekitar pukul 16:25 pesawat akan segera lepas landas." Dimas mengangguk paham dan langsung melanjutkan pekerjaannya. "Apa kepala Andra sudah membaik?"


Dimas : "Kau tidak perlu khawatir Andre, saya baik-baik saja. Kembalilah bekerja." Andre mengangguk dan segera undur diri. "Angga! Jika ada yang mencari Tuan Muda langsung kabari saya, saya akan keruangan dulu."


Angga : "Ba.baik Tuan, saya akan melaksanakannya." Sambil mengangguk. Andre melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


* * *


Kembali ke kediaman Setiawan, dimana lagi jika bukan keluarga Adinda dan Arul.


Mereka masih bertengkar di meja makan, mereka tidak sadar bahwa kedua anak muda itu sudah geram, terlebih Arul yang sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Apa tidak ada tempat lain untuk berdebat fikir mereka berdua.


KLONTEEEEEENG!! Arul membanting garpu kepiringnya. Seketika langsung membuat ketiga orang dewasa itu berhenti, dan menatap kesumber suara.


Arul : "Apa kalian tidak bisa menghargai makanan disini?! Apa kalian tidak bisa berhenti sejenak, dan tidak bertengkar lagi?! Jika kalian tetap ingin bertengkar jangan disini, carilah tempat lain!" Ucap Arul yang sudah muak dengan pertengkaran mereka.


Adinda : "Arul!" Ucap Adinda dengan tegas. "Kakak tidak mengajari kamu untuk tidak sopan seperti ini Dek. Kakak mohon kendalikan emosi kamu." Mohon Adinda pada sang Adik sambil mengusap bahu Arul. Meski sebenarnya ia juga takut jika Arul lepas kendali, tapi saat ini hanya ini yang bisa ia lakukan.


Arul : "Apa Arul harus diam ketika mereka membuat keributan seperti ini? Arul capek kak, Arul butuh ketenangan. Apa kalian akan selalu bertengkar, saya mohon hargai saya dan juga Kakak saya disini apalagi ini di meja makan yang memang masih dalam kondisi makan siang, apa kalian tidak memiliki waktu lain? Untuk apa kalian kembali jika hanya untuk bertengkar seperti ini?" Ucapnya dengan suara tinggi.


Melinda : "Arse?!" Kini Melinda yang meninggikan suaranya. "Jaga suara kamu, jangan meninggikan suaramu didepan orangtua. Mama tidak pernah mengajari kamu seperti ini! Adinda?" Kini Melinda menatap Adinda yang diam dengan tajam. "Apa ini yang kamu ajarkan pada adik kamu?! Kamu itu seorang kakak berikan contoh yang baik untuknya bukan membuat dia seperti ini." Ucapnya tegas.


Reyhan : "Melinda?!" Panggil Reyhan, "Jaga ucapanmu pada Adinda! Adinda?" Adinda langsung menoleh pada sang Papa. "Kamu harus memberi contoh yang baik untuk adik kamu ya sayang." Ucapnya dengan lembut, karena ia tahu Putrinya ini tidak bisa menerima perlakuan kasar seperti suara sang Mama. Sedangkan Adinda kini berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Arul yang mendengar sang Mama seakan menyudutkan Adinda langsung tidak terima.


Arul : "Hentikan! Jangan pernah menyudutkan Kakak atau berteriak pada Kakak ku! Kalian tidak berhak menyudutkan Kak Dinda, kalian tidak punya hak apapun!" Kini emosi Arul sudah tidak terkendali. "Apa hak kalian terhadap kami?! Kalian sudah tidak memiliki hak itu setelah kalian memutuskan untuk berpisah!"


PLAK!! Sebuah tamparan mendarat ke pipi Arul. Bekas tamparan yang merah sungguh kontras dengan wajah Arul yang berkulit putih.


.


.


.


.


.


.


.


Diusahakan Up setiap hari Kakak, hecmm semoga bisa๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ

__ADS_1


Salam hangat dari Author๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


__ADS_2