Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 117 Apa Dia Lelaki yang Baik Untuk Kakak?


__ADS_3

Adinda : "Sebenarnya apa yang sedang Kakak fikirkan? Apa urusan Kantor?" Dimas menggelengkan kepala. "Lalu urusan apa?" Tanyanya penasaran.


Dimas : "Hanya sedang memikirkan hubungan kita saja." Jawabnya datar.


DEG!!


Ada apa lagi ini? Begitu fikir Adinda. Suaranya terasa tercekat untuk menjawab ucapan Dimas.


Adinda : "Ma.maksud Kak Dimas. Ap.pa?" Dimas diam, masih setia diam memandang wajah cantik gadis cerobohnya. "Baiklah, kita lupakan itu. Sekarang ayo kita masuk nanti ada yang lihat kita disini."


Adinda melangkah terlebih dahulu, mencoba untuk mengatur nafasnya akibat ucapan Dimas. Namun langkahnya terhenti karena ucapan Dimas yang sialnya lagi-lagi membuatnya terkejut dan membuatnya sesak didalam sana.


Dimas : "Apa lebih baik kita sudahi saja hubungan ini?" Ucapnya pelan namun masih terdengar ditelinga Adinda.


Adinda membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Dimas. Ada yang sesak tapi bukan dasi, ada yang terores tapi tak terlihat. Didalam sana terasa sesak, sakit, perih namun tak berdarah sedikitpun. Jantungnya berdetak tak karuan, Adinda mencoba menahan laju air matanya yang sudah siap meluncur. Berusaha mengatur nafas setenang mungkin.


Adinda : "A.appa maksud ucapan Kakak?! Ke.kenapa Kakak bicara seperti itu?" Tanyanya dengan bibir yang bergetar. Dimas masih diam. "Ke.kenapa Kakak mengatakan itu? Apa yang membuat Kakak bicara seperti itu?!" Tanyanya sedikit meninggi.


Dimas menghela nafasnya dengan kasar. Ia sungguh tidak sanggup melihat wajah sedih kekasihnya, bahkan ia tidak pernah membayangkan perkataan itu akan meluncur dari mulutnya. Dimas menggelengkan kepala.


Dimas : "Tidak ada, saya hanya asal bicara saja." Hening. "Baiklah, mari kita masuk kedalam, waktu sudah semakin siang dan kamu juga harus istirahat yang cukup. Nanti akan terlihat orang lain jika kita masih disini, terlebih jika itu Arul." Ucapnya dengan tersenyum lembut sambil menyembunyikan kegundahan hatinya.


Kini Adinda yang diam, matanya melihat Dimas yang saat ini ada didepannya. Ia masih mencari kebenaran lewat mata hazel Dimas, kenapa lelaki itu berbicara sesuatu hal yang ia takuti? Bahkan dia belum siap akan ucapan ini, apa yang membuatnya melakukan hal itu?


Dimas : "Ayo kita masuk ke Villa, kamu harus istirahat agar lenganmu cepat membaik." Dimas mengusap puncak kepala Adinda sebelum melangkah pergi.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat interaksi keduanya disana. Orang itu sempat terkejut dengan hal itu, bagaimana mungkin kedua orang itu bisa sedekat ini? Apalagi salah satu dari keduanya begitu dekat, bahkan sangat dekat karena sudah bersama sejak kecil. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan? Fikir orang itu yang tak lain adalah Arul.


Arul yang berniat ingin istirahat di taman diurungkan niatnya karena melihat dua sejoli yang tengah berinteraksi disana. Arul akhirnya duduk dibangku sudut taman.


Arul : "Mereka tampak dekat, bahkan begitu sangat dekat. Apa mereka ada hubungan, atau hanya kebetulan saja? Kak Dimas terlihat begitu hangat meski aura dinginnya masih terasa, bahkan untuk pertama kalinya aku melihat sikapnya ini pada seorang wanita." Gumamnya pelan setelah melihat dua orang disana membubarkan diri.


PUK!

__ADS_1


Seseorang menepuk pundaknya, yang membuat si empunya menoleh kebelakang.


Arul : "Eeh Kak Rangga, ada apa?" Firman mengernyitkan dahinya.


Firman : "Seharusnya gue yang tanya, kamu sedang apa disini? Apa kau sedang melihat sesuatu Ar?" Tanyanya menyelidik. Pasalnya ia tadi sempat melihat Dimas dan adiknya keluar dari taman sebelum mendekati Arul.


Arul : "Aah, enggak kok Kak. Arse enggak sedang lihat apa-apa. Oh iya, apa Kakak sudah istirahat?" Firman mengangguk. "Bisa Arse bicara sebentar?"


Firman : "Bukankah sejak tadi kamu sudah berbicara, Arse?"


Arul : "Yaak! ini masalah lain, bukan tentang hal biasa saja." Kilahnya. Firman langsung duduk dibangku sebelah Arul.


Firman : "Apa yang ingin kau bicarakan? Aah iya gue inget, sejak disini loe deket banget sama sih Akbar. Dikasih apa loe sampai luluh sama Pangeran Kedokteran, hem?"


Arul : "Tidak ada, kami hanya dekat biasa saja seperti anggota lainnya." Hening, Arul melihat deretan bunga warna warni dihadapannya. "Apa menurut Kakak, Kak Akbar itu lelaki yang baik?" Firman mengangguk. "Apa dia lelaki yang tepat untuk Kak Dinda?"


Firman menghela nafasnya, begitu terus berulang kali.


Arul : "Diaa perhatian dengan Kakak, kejadian Kak Dinda kemarin itu dan pagi tadi membuat aku merasa bahwa Kak Akbar lelaki yang baik untuk Kak Dinda. Meski awalnya aku menolak hal itu, tapi melihat Kakak yang selalu ada dan mikirin Arse selama ini itu membuatku berfikir kembali jika Kakak enggak bisa selamanya memikirkanku terus menerus, dia juga harus menguus dirinya sendiri." Jelas Arul.


Firman : "Pagi tadi? Maksudnya saat kegiatan kunjungan rumah warga?" Arul mengangguk. "Coba katakan, ada kejadian apa tadi pagi sampai membuat seorang Pangeran Setiawan ingin lelaki itu menjadi kekasih sang Kakak?" Godanya, namun juga dengan tatapan serius.


Arul menceritakan kejadian kemarin ketika Adinda terjatuh dan ditolong oleh MBA hingga perhatian yang sudah ia berikan pada Adinda. Pagi tadi MBA kembali melihat luka dilengan Adinda sebelum keberangkatan dalam kunjungan warga, ia memastikan kembali luka itu apakah sudah mendingan atau malah lebih parah dan syukurlah luka itu sudah mulai membaik.


Perhatian MBA pada Adinda membuat Arul sedikit was-was namun juga ikut memperhatikan sikap lembut itu.


Firman : "Jadi pagi ini MBA sudah selesai merawat luka Amara?" Arul kembali mengangguk. "Lalu esok dan seterusnya, bagaimana?" Arul hanya mengedikkan bahunya. "Apa hanya itu alasan kamu ingin MBA bersama Amara?" Arul terdiam. "Apakah kamu sudah bertanya dengan Mara?" Masih tetap diam. "Baiklah aku tidak akan memaksa kamu untuk banyak bicara Ar, aku hanya berharap yang terbaik untukmu juga Mara."


Arul : "Apa Kakak juga melihat Kak Dinda bersama Kak Dimas tadi?" Firman mengernyitkan dahinya. "Aku tadi melihat mereka berdua keluar dari taman, apa mereka memiliki hubungan?" Kini tatapannya mengarah pada Firman.


Firman : "Kenapa kau bertanya padaku? Seharusnya kau bertanya pada Mara, Arse bukan padaku." Jawabnya kesal karena merasa diintimidasi oleh tatapan mata Arul. "Lebih baik kita segera masuk ke Villa, sebentar lagi sore. Gue juga mesti nyiapin makan malam." Firman langsung beranjak setelah mengatakan itu.


* * *

__ADS_1


Kini tepat di Villa perempuan nampak heboh, Agista dan kedua sahabatnya tengah heboh membahas make up keluaran terbaru. Angel dan sahabatnya juga membahas hal itu dan membahas drama Korea terbaru sedangkan para junior ada yang ikut nimbrung namun ada juga yang istirahat di kamar, sama halnya dengan Adinda dan kedua sahabatnya. Meski beda bidang tapi mereka tetap satu kamar.


Vania : "Din, luka loe sudah sembuh?" Adinda mengangguk.


Adinda : "Yaa, sudah mulai mengering Van, kamu tenang saja."


Amel : "Sory ya karena bantuin gue loe harus terluka Din." Ucapnya menyesal.


Adinda : "Tidak apa Mel, namanya sahabat jadi harua saling membantu." Vania mengangguk dan kemudian memeluk Adinda diikuti Amel.


Vania : "Din, gue boleh tanya?" Adinda mengangguk. "Muka loe kelihatan sedih setelah masuk tadi, loe baik kan Din?" Adinda diam menetralkan wajahnya. Amel mengurai pelukkan.


Amel : "Kyaaaa! benar mata loe juga terlihat sedikit merah. Loe habis nangis?" Selidik Amel menatap wajah Adinda dengan mata kucingnya.


Adinda : "Kalian ini, aku baik i'm fine oke. Kalian tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu."


Amel : "Oke, kita percaya. Oh iya Van, anterin gue ke Villa sebelah yuk."


"Mau ngapain?" Tanya Vania dan Adinda.


Amel : "Cieeee, kompak amat Buuuk. Hehee. Ini nih si Tante tadi tanya ke gue, kok Gerald enggak bisa dihubungi."


Vania : "Baiklah, oke kita langsung meluncur kesana. Din, loe istirahat adj deh ya kita kesebelah dulu." Adinda mengangguk.


Kedua perempuan itu langsung melangkah keluar kamar meninggalkan Adinda sendiri. Tak berselang lama, air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah begitu saja.


Adinda : "Hiks, Tuhan kenapa sakit sekali. Terasa perih, terasa sesak disini." Ucapnya sambil memukul dadanya dengan pelan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, a.apa ucapan itu hanya sekedar ucapan biasa atau memang. . . Hiks hiks."


TOK. . . TOK. . .


"Adinda, tolong keluar sebentar yah. Humas dan senior lain ada kumpulan di Aula tengah." Teriak seseorang dari luar kamar.


Adinda : "Aah i.iiya Kak. Sebentar, aku siap-siap dulu." Ucapnya. Adinda langsung melangkah ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah selesai ia langsung keluar menuju Aula.

__ADS_1


__ADS_2