
Dimas : "Baiklah, saya duluan. Permisi sebelumnya. Ehmm, jangan lupa mampir dulu ke Masjid sebelum pulang." Ucapnya sambil mengacak puncak kepala Septian. Kemudian ia melangkah keluar.
Septian yang mendapat perlakuan seperti itu langsung tertegun. Pasalnya memang Dimas tidak sering melakukan hal itu, hanya sesekali jika dia sedang merasa sedikit khawatir dengan suatu hal. Untuk saat ini apa yang sedang ia khawatirkan. Begitu fikirnya.
Adit : "Apa mereka berdua itu kembar?" Celetuk Adit memecah keheningan.
Yayak : "Yaa mereka memang kembar jika dilihat dari belakang, tapi jika dilihat dari depan mereka akan sangat berbeda, hanya sifat mereka yang hampir sama." Adit mengangguk setuju.
Indra : "Baiklah kita cukupkan dulu sampai disini, karena ini sudah masuk dzuhur. Tapi sebelum itu panggil dulu waitersnya untuk menghitung semua makanan ini."
Yayak langsung memanggil seorang pelayan untuk membacakan bill yang harus dibayar mereka semua.
Amar : "Berapa Mbak semuanya? Sekalian sama mereka anak sekolah itu."
Pelayang : "Maaf Mas, semua yang sudah dipesan sudah dibayar oleh Tuan Muda." Jelasnya. "Baiklah saya permsi dulu." Namun langkahnya terhenti...
Geraldi : "Termasuk pesanan kami juga Mbak?" Pelayan itu langsung mengangguk dengan senyum ramah.
Pelayan : "Benar Mas, semua yang dipesan khusus meja keluarga ini sudah dibayar oleh Tuan Muda."
Adit : "Maksud Mbak Tuan Muda siapa?" Kini Adit bertanya.
Pelayan : "Tuan Muda Adhi, eh maksud saya Tuan Muda Dimas." Jawabnya memperjelas. Kemudian pelayan itu langsung mengangguk dan melangkah pergi.
Ilham : "Sudah jangan terkejut seperti itu, ini memang sudah biasa terjadi."
Nauval : "Memangnya Resto ini milik Bang Dimas ya? Kok pelayan tadi menyebutnya Tuan Muda."
Amar : "Yaa Adhi Resto ini milik Dimas." Jawabnya. "Termasuk Mall ini." gumamnya dalam hati.
Adit : "Beneran Bang Resto ini milik Bang Dimas?" Tanyanya lagi tak percaya.
Mereka yang notaben sahabat Dimas mengangguk dengan mantap.
Indra : "Baiklah kita cukupkan siang hari ini. Kita ke Masjid dulu baru kembali ke Kampus dan berkumpul lagi nanti malam." Yang lain mengangguk.
Geraldi : "Ehmm Bang, boleh tidak jika kapan-kapan kita kumpul lagi seperti ini?" Tanyanya sebelum beranjak keluar.
Yayak : "Boleh saja. Kapan-kapan kita rencanakan." Geraldi tersenyum senang.
Mereka langsung beranjak keluar dari Restoran tersebut. Indra dan para sahabatnya langsung keluar dari Mall untuk segera ke Masjid sebelum kembali ke Kampus.
__ADS_1
Sedangkan Geraldi dan yang lainnya memutuskan untuk pulang. Geraldi mengantarkan Adinda dan Arul terlebih dahulu baru mengantar Vania dan yang terakhir Amel karena mereka masih satu komplek perumahan jadi Amel menjadi yang terakhir, begitu juga dengan Adit yang mengantarkan para juniornya.
Saat masih didalam mobil. . .
Geraldi : "Gue masih enggak nyangka Resto itu milik Bang Dimas."
Amel : "Memangnya kenapa?" Tanya Amel yang fokus memandang keluar jendela.
Geraldi : "Yaa tidak sangka saja itu milik Bang Dimas, jangan-jangan itu Mall milik dia juga lagi." Celetuknya.
Amel : "Yah mana gue tahu Ger, tapi ya setahu gue memang Kak Dimas itu pemilik Resto itu." Jawab Amel sekenanya, karena tidak mungkin ia jujur jika sudah tahu tentang siapa Dimas. Meski ia hanya tahu sekilas tapi peringatan dari Andre sebelumnya tidak mungkin diabaikan.
Geraldi : "Hecmmm. Gue kira apa yang diceritakan oleh Bang Akbar dulu itu hanya bualan ternyata Bang Dimas benar anak konglomerat Adhitama." Celetuknya. "Oh iya, apa kau lihat sikap Bang Dimas tadi? Sumpah gue baru lihat itu orang dengan mata dingin seperti itu. Apalagi tatapan matanya itu tajam banget. Nyalang banget itu mata kaya elang, sampai merinding gue. Bahkan adiknya sendiri saja bisa digituin, apalagi orang lain."
Amel sedikit tertegun. Kemudian ia ingat cerita MBA saat mereka awal mula satu kelompok.
Amel : "Iya juga ya, gue baru ingat jika dulu Kagan pernah cerita soal itu." Ingatnya. "Hemm bener banget, gue juga baru ini lihat mata elang Kak Dimas. Apalagi tatapan matanya itu seperti ingin menguliti musuhnya saja." Amel bergidik. Meski ia tahu siapa Dimas, namun baru sekarang ia melihatnya secara langsung.
Geraldi : "Jangan sampai deh kita berurusan sama dia Mel. Ngeri gue, sumpah! Tapi hmm dia juga baik sih sama kita, buktinya kita bisa makan gratis. Hehee."
Amel : "Kalian ini para lelaki, kalau soal makanan gratis pasti nomor satu." Jawabnya dengan ketus.
Yaa saat ini mereka sudah sampai di depan Rumah Amel. Amel langsung turun setelah mendengar hal itu."
Amel : "Thanks ya Ger." Ucapnya, sedangkan Geraldi hanya hanya menunjukkan o3 pertanda oke.👌
Geraldi langsung tancap gas pulang ke Rumah yang tak jauh dari Amel. Amel langsung masuk ke Rumah sebelum sang Mama mengeluarkan jurus ampuhnya dalam berbicara.
Selama dalam perjalanan Geraldi masih nampak tidak percaya jika Dimas adalah anak dari Surya Adhitama. Dulu ia berfikir jika MBA hanya menggertak saja, tapi setelah mendengar Pelayan itu tidak sengaja mengatakan "Tuan Adhi" ia baru percaya. Bahkan Andre yang katanya hanya tangan kanan Dimas, tenyata adik angkat Dimas.
* * *
Sedangkan ditempat lain Adit telah mengantar Alvin dan Nauval karena mereka satu komplek perumahan. Kini giliran Azriel.
Adit : "Ziel, loe percaya Resto itu milik Bang Dimas." Azriel menoleh mengernyit bingung. "Yaa maksud gue, gue enggak nyangka itu milik dia. Apalagi kita digratisin tadi." Jelasnya.
Azriel : "Yaah aku mah percaya saja Bang, karena memang itu nyatanya. Bang Yayak juga tadi sudah jelasin juga. Mungkin kita digratisin karena kebetulan kita bareng sahabatnya." Adit mengangguk-anggukan kepalanya.
Adit : "Iya sih, bener juga loe. Tapi mata nyalang itu. Gue sampai merinding."
Azriel : "Ya sudahlah Bang, biarkan saja. Yang penting kita baik sama dia."
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai. Kini Azriel turun dan masuk ke Rumah, sedangkan Adit langsung tancap gas pulang ke Rumah.
* * *
Kini Adinda dan Arul sudah selesai melaksanakan shalat dzuhur. Adinda segera keluar dari kamar menuju keruang baca yang berada disudut lantai satu. Sedangkan Arul masih berada di kamar, mungkin sedang istirahat begitu fikir Adinda. Namun ternyata salah, tak berselang lama Arul masuk keruang baca itu dan mengambil buku namun bukan buku untuk ujian melainkan buku cerita rakyat.
Keduanya sama-sama fokus dengan buku mereka. Jika Arul fokus dengan cerita rakyat, berbeda dengan Adinda yang fokus dengan novel miliknya yang belum sempat ia baca. Ketika sedang fokus...
Arul : "Apa Kakak masih khawatir dengan Kak Dimas?" Dinda yang mendengar nama itu langsung menatap sang adik.
Adinda : "Kak Dimas? Maksudnya apa sih Dek?" Tanya Adinda yang memang bingung.
Arul : "Arul perhatikan, Kakak terlihat khawatir dengannya. Apa kalian memiliki hubungan?" Tanyanya to the point. Adinda langsung terkejut. Apa yang harus ia jawab?
Adinda : "Saat ini, Kakak ingin fokus dengan ujian Dek. Jadi jangan bertanya soal itu." Ucapnya dengan berusaha tenang. Sedangkan Arul hanya menghela nafas.
Arul langsung menutup bukunya, mengembalikan buku itu ke raknya lalu menatap sang Kakak dengan serius. Namun sejurus kemudian ia mendekat dan memeluk wanita yang sangat mencintainya itu.
Arul : "Biarkan seperti ini dulu Kak. Arul rindu saat-sat seperti ini. Jangan pergi dulu, jangan memiliki kekasih dulu. Jika memang Kakak ingin, tolong biarkan Arul siap terlebih dahulu." Adinda yang mendengar itu langsung mendongak, ia tak ingin sang adik melihat air matanya tumpah.
Adinda langsung mengusap punggung Arul dengan lembut. Hingga membuat Arul begitu merasakan ketenangan.
Adinda : "Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Sore nanti kita akan bermain ditaman dengan bunga-bunga yang ada disana. Karena mereka sudah merindukan tuannya."
Arul mengurai pelukannya dan menatap sang Kakak dengan intens. Kemudian ia mendekatkan wajahnya dan bibirnya kekening Adinda. Cup. Arul mencium kening sang kakak dengan penuh kasih sayang.
Arul : "Arul sayang banget sama Kakak." Ucapnya setelah mengecup kening Adinda. Ia langsung beranjak dari pelukan itu dan keluar dari ruang baca karena ia ingin istirahat siang.
Selepas kepergian Arul. Air mata Adinda luruh seketika. Ia meremas dadanya yang terasa sedikit sesak karena permintaan sang adik. Disatu sisi ia ingin mempertahankan lelaki itu, tapi disisi lain adiknya juga penting. Ia harus membicarakan ini dengan Dimas, putusnya.
Menjelang sore hari Adinda keluar dari ruang baca setelah menghabiskan waktunya untuk membaca novel.
Arul : "Kakaaaak!" Panggil Arul ketika melihat Adinda akan menaiki tangga. "Kakak baru keluar?" Adinda menangguk. "Apa kita jadi berkebun sore ini?"
Adinda : "Iyaa, kenapa? Apa kau tidak mau, hem?" Ucapnya pelan seolah sedih.
Arul : "Eeeh jadi donk Kak. Baiklah ayo kita siapkan semuanya. Jadi Kakak jangan sedih lagi yah." Pintanya pada sang kakak. Adinda tersenyum mengangguk.
Adinda : "Tapi sebentar lagi waktu ashar tiba, kita shalat dulu baru kebelakang." Arul mengangguk senang.
Adinda langsung mengacak puncak kepala Arul dengan sayang. Karena sangat jarang adiknya ini bersikap manja seperti sekarang.
__ADS_1