Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 154 Buka Bersama 1


__ADS_3

Ditya : "Jangan mengumpatku, Logan jika kau tidak ingin Kekasihmu itu pergi darimu."


Logan : "Kyaaa!! Jangan berani-beraninya kau membawa Siena dalam hal ini." Pekiknya kesal. "*Jika *kau tidak ingin, Perusahaan mu menjadi milikku". Lanjutnya dalam hati, yang langsung ditatap tajam oleh Ditya.


Ditya : "Ambil saja jika kau ingin Perusahaan ku itu." Setelah mendengar itu, Logan langsung pergi dengan menghentakkan kedua kakinya, jangan lupakan wajahnya yang kesal karena lagi dan lagi Sahabat sekaligus Bossnya itu tahu apa yang ia pikirkan.


Logan : "Terimakasih, tapi saya masih sayang nyawa saya!" Ucapnya sebelum benar-benar pergi.


Sedangkan Ditya hanya tersenyum tipis namun tak terlihat, dan kembali dengan wajah dingin dan datarnya.


.


.


.


Lusa setelah hari itu...


Firman : "Pak Andre ada?" Tanya Firman pada resepsionis di Adhitama Company.


Resepsionis : "Ada. Apa Tuan sudah membuat janji dengan beliau?" Firman hanya mengangguk sebagai jawaban. "Baik silahkan langsung keatas."


Firman langsung melangkah kearah lift khusus diikuti juga oleh Azriel, dimana mereka berdua memang sudah diminta untuk menghadap Andre.


Azriel : "Bang, puasa nih jadi jangan berantem yah, jangan sampai puasanya batal karena kalian berperang apalagi sudah tengah hari begini, dan..." Minta Azriel dengan sedikit khawatir.


Firman : "Kenapa kamu bicara begitu?" Tanya Firman sedikit heran langsung memotong perkataan Azriel.


Azriel : "Takut aja gue, masa gue harus jadi saksi kalau ada tragedi berdarah. Bayangkan saja kedua penerus Perusahaan besar yang bersahabat ternyata saling punya dendam." Jawabannya dengan nada bercanda. Sedangkan Firman hanya memutar bola matanya malas.


Firman : "Kita lihat saja nanti, jika itu terjadi loe yang mesti jadi saksinya." Jawabnya yang membuat Azriel melebarkan kedua matanya seolah hal itu akan terjadi. Sedangkan Firman merasa puas sudah mengerjai junior nya itu.


Ting...

__ADS_1


Kedua lelaki beda generasi itu sampai dilantai 26, lantai CEO dan dilantai itu pula ruangan Andre juga Septian. Benar meski Septian seperti itu, dia tetap memiliki ruangan sendiri. Begitulah Adimas Surya Adhitama, sesayang itu dia pada adik-adiknya hingga tidak ingin dibeda-bedakan meski mereka tidak sedarah.


Bu Maya : "Aah Tuan Firman, anda sudah ditunggu oleh Tuan Andre di dalam." Firman mengangguk sebagai jawaban.


Cklek!!


Mendengar suara pintu terbuka, Andre langsung mengalihkan pandangannya pada dua lelaki beda generasi itu.


Glek..


"Berasa masuk kandang singa gue" Batin Azriel, sedangkan Firman hanya berjalan santai menuju sofa meski belum dipersilahkan oleh sang pemilik ruangan dia langsung duduk.


Andre : “Kalian ingin minum apa?” Tanyanya basa-basi.


Firman : “Langsung saja, loe mau ngomong apa sama kita berdua?” Andre hanya tersenyum tipis namun juga sedikit menyeringai melihat ekspresi dari wajah sahabatnya itu. Firman bukanlah seseorang yang suka basa-basi jika dalam keadaan seperti ini. Kini pandangannya beralih pada lelaki muda yang tidak lain adalah Azriel.


Azriel : “Wait. Abang tidak akan memakan ku kan?” Andre dan Firman mengernyit. “Kenapa kalian lihat gue seperti itu? Salah memang?” Lontarnya dan jangan lupakan wajahnya yang sok polos.


Firman : “Apa yang baru saja kau katakan, hah?!” Pekiknya dengan jengkel mendengar perkataan Azriel.


Andre : “Langsung saja, apa yang kalian selidiki beberapa hari ini?” Pertanyaan itu langsung mengalihkan perhatian Firman dan Azriel yang sedang berdebat, tak lupa suara dinginnya langsung mendominasi.


Firman : “Hanya...” Matanya menatap dalam mata Andre, dan menatap Azriel. “Hanya urusan buka bersama dan acara rutin, karena PPA akan mengadakan acara bukber di Adi Resto.” Jawaban itu membuat Azriel bernafas lega, meski belum sepenuhnya.


Namun berbeda dengan Andre, mendengar pengakuan Firman membuat ia semakin menatap penuh selidik pada Sahabat dan juga rekan bisnisnya itu. Apa Firman lupa jika dirinya itu tidak berbeda jauh dari sang Kakak? Ya, sepertinya Firman melupakan fakta itu. Seakan Dimas benar-benar sudah pergi dari kehidupan mereka.


Andre : “Ingat jangan mencoba untuk membohongi ku atau membodohi ku Firman, jangan lupa jika saya juga sama dengan Dimas.”


Firman : “Oh ****... Kenapa gue bisa lupa dengan hal ini. Tidak, jangan sampai Andre tahu apa yang gue cari.”  Umpatnya namun hanya dalam hati.


“Gue bisa jamin apa yang gue bilang ini benar Ndre, memang apa yang gue dan bocah ini cari sih? Kurang kerjaan banget.” Lanjutnya dengan nada sinis menatap Azriel.


Andre beranjak mendekati Firman, Firman langsung mendongakkan kepalanya sedikit mundur ketika Andre mendekatkan kepalanya.

__ADS_1


Andre : “Jika sampai saya mendapatkan apa yang sedang kamu cari, saya harap kamu tidak akan menyesal dengan proyek kita, dan ya... Jangan coba untuk menyelidiki apa yang tidak seharusnya kamu selidiki, apapun itu termasuk Mr.Ditya.” Bisiknya tepat ditelinga Firman.


“Kalian bisa pergi dari sini, saya harap kamu pikirkan apa yang baru saja saya katakan Tuan Muda Wijaya.”


Firman : “Oke.” Jawabnya singkat. “Ouh iya loe jangan lupa datang di acara kita nanti, loe ingat kan nanti buka bersama bareng anak-anak yang lain, sekaligus musyawarah untuk acara rutin tengah Ramadhan. Jangan sampai loe terlambat apalagi tidak datang. Kita berdua balik dulu, karena masih ada urusan yang lain sekalian persiapan nanti.” Ucapnya lalu melangkah keluar dari ruangan Andre, begitu pula Azriel yang sedari tadi hanya diam.


Andre langsung mengarahkan pandangannya ke jendela besar yang terdapat pemandangan gedung Pencakar langit diluar sana. Menatap ke depan berharap apa yang ia dan sahabatnya cari benar-benar nyata.


Dia tidak bodoh hingga harus percaya apa yang Firman katakan, dia juga bukan anak kemarin sore yang dengan mudah bisa dibohongi dan bisa dirayu dengan sebungkus permen lollipop berkarakter kaki yang berwarna merah menyala itu.


.


.


.


Sedangkan diluar Gedung Adhitama Company, kedua lelaki beda generasi itu langsung bernafas dengan lega tidak segugup saat dipuncak gedung ini.


Azriel berbalik, kepalanya menengadah dan matanya menatap jendela tepat dilantai yang dihuni oleh Andre, kemudian beralih ke ukiran nama besar Perusahaan itu “Adithama Company“ sebuah Perusahaan besar yang bahkan saking besarnya hingga ke penjuru Asia bahkan Eropa dan kini merambah ke Negeri Paman Sam.


Tidak ada yang tahu memang dibalik nama besar itu tersimpan sebuah derita karena rasa kehilangan, kehilangan satu-satunya penerus tahta, satu-satunya Putra Mahkota. Karena yang mereka tahu penerus Kerajaan itu adalah lelaki dingin yang tidak tersentuh yang saat ini sedang dalam perjalanan entah kemana dan digantikan oleh adiknya untuk sementara. Begitulah kabar yang tersiar dikalangan para Pebisnis, meski sebagian dari mereka mempercayai jika Pewaris Tahta itu kini sudah tiada.


Firman : “Apa yang sedang loe lihat?” Tanya Firman ketika sudah berada di dalam Mobil. Tatapannya beralih pada juniornya yang sejak tadi diam memandang keluar jendela, lebih tepatnya memandang Gedung tinggi yang baru saja mereka kunjungi.


Azriel : “Hanya melihat sebuah Kerajaan bisnis yang begitu besar, yang telah kehilangan sang Putra Mahkota.” Kemudian matanya beralih ke arah Firman dengan pandangan serius bahkan wajah penuh selengekan menguar entah kemana. Kini wajahnya benar-benar serius tidak seperti sebelumnya.


Kemudian Firman juga ikut menatap ukiran nama besar Perusahaan besar itu. Dia cukup terguncang karena kepergian sahabatnya, lelaki dingin yang tidak tersentuh kecuali jika dengan adik sepupunya. Gadis yang lembut namun tidak bisa dibilang lembut karena ketika bersama dengannya gadis itu akan membuat dirinya kesal dan menjadi korban aniaya oleh Mamanya sendiri.


Firman : "Haach... Semoga apa yang kita pikirkan benar-benar menjadi nyata. Semoga keajaiban itu ada dan segera datang pada kita semua."


Azriel : "Apa.. apa Abang benar-benar merasa kehilangan Bang Dimas?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut jumpling juniornya.


Hey, Azriel pertanyaan macam apa itu? Siapa yang tidak merasa kehilangan, meski lelaki itu super super dingin tapi lelaki itu adalah sahabatnya.

__ADS_1


Firman : "Apa maksud pertanyaan mu itu?" Tanya Firman dengan heran, jangan lupakan suaranya yang berubah menjadi mode serius juga seperti Azriel.


__ADS_2