Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 129 Keberangkatan Dimas


__ADS_3

Drrttt... Drrttt...


Dimas : "Ya halo?" Jawabnya datar.


Nona Wang : "Maaf mengganggu Tuan Muda, lusa Tuan Lee akan melakukan perjalanan ke Tingkok. Sepertinya beliau ingin melakukan pencairan dana yang sudah digelapkan." Wajah Dimas berubah semakin dingin, rahangnya yang kokoh langsung mengeras.


Dimas : "Siapkan keperluan saya selama disana. Pastikan mereka tidak akan bisa terbang." Jawabnya dengan aura dingin.


Nona Wang : "Baik Tuan Muda, seluruh keperluan akan kami siapkan. Saya juga sudah mengirim beberapa file di e-mail pribadi milik Tuan. File itu berisi tentang penggelapan seluruh dana proyek yang sudah berjalan, dana yang seharusnya menjadi milik para Investor termasuk saham Anda atas nama Investor gelap." Jelas Nona Wang.


Dimas : "Hemmm, baiklah. Terimakasih sebelumnya, dan pastikan mereka tidak melakukan perjalanan."


Panggilan langsung terputus. Dimas kini berfokus pada ponsel pintar miliknya. Membuka file yang sebelumnya sudah dikirim oleh karyawannya.


Yayak : "Loe jadi berangkat lusa kan Dim?" Dimas menatap Yayak.


Dimas : "Saya akan berangkat besok." Jawabnya singkat. "Kalian istirahatlah, saya keatas dulu."


Dimas langsung beranjak dari sana meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terdiam.


Yayak : "Maaf Tuan Firman Rangga Wijaya, saya harap Anda bisa menjaga ucapan Anda. Tolong jangan memperkeruh hati sahabat saya, jangan sampai Raja Es itu benar-benar menjauh karena bukan hanya dia yang akan terluka tetapi adikmu juga. Terimakasih saya pamit undur diri menemui trio jumpling terlebih dulu." Yayak bangun lalu meninggalkan Firman yang masih diam ternganga setelah mendengar ucapan formal dari sahabatnya.


* * *


🎵


Kau tahu, tak mudah bagiku lupakanmu


Aku hanya ingin mencintamu dan dicinta olehmu


Sungguh tak ada yang lebih meyakinkanku


Bila 'ku harus mencintaimu tanpa hadirnya dirinya.*


*Lirik lagu Ungu- "Tanpa Hadirmu"


Penggalan lirik itu seakan menjadi gambaran dua hati yang saat ini berpisah, demi orang lain. Meski rasa cinta masih ada, namun semua harus ia lakukan entah seberapa sakit yang ia rasakan.


Pagi ini, Dimas sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Pakaian kerja berwarna navy itu menempel sempurna ditubuh Dimas yang kokoh. Tubuh yang tegap, berbadan atletis membuatnya terlihat gagah. Kaum hawa pun pasti akan semakin menggilai pewaris kerajaan Adhitama itu.


Pastu, Yayak dan para sahabatnya kini tengah berkumpul diruang tengah. Mereka menunggu Dimas yang masih didalam kamar, sedangkan Shekar sudah berada diantara mereka.

__ADS_1


Tap.. Tap.. Tap..


Mereka menoleh kesumber suara. Dimas beralan menuruni tangga, seluruh keperluannya sudah disiapkan selama berada di Negeri Ginseng itu.


Dimas : "Apa semua sudah siap?" Menatap Shekar, Shekar langsung mengangguk.


Andre : "Apa saya tidak perlu ikut?" Entah sudah keberapa Andre menanyakan itu.


Dimas : "Kamu tetap disini, dampingi Om Pastu. Shekar akan menangani urusan disana." Andre mengangguk pasrah, entah kenapa kepergian Dimas kali ini mengganggu fikirannya. "Kau tidak perlu khawatir Andre." Andre menghela nafas, lalu mengangguk.


Septian : "Aaab.bang.." Cicitnya pelan. "Bisakah berangkatnya ditunda?" Dimas masih diam. "Entah kenapa gue merasa berat lepas loe berangkat kesana. Gue ngerasa loe akan lama disana dan tidak tahu kapan pulang." Ternyata perasaan Septian juga Andre sama, padahal mereka bukan saudara kandung.


Dimas : "Saya akan kembali, karena masih harus sidang. Meski belum tahu kapan pulang, bisa satu minggu atau satu bulan bahkan lebih." Jelasnya, hal itu membuat para sahabatnya terkejut.


Pastu : "Jam berapa pesawat berangkat?" Tanya Pastu mengalihkan.


Shekar : "Jam 9:15 pesawat sudah terbang, dan sekarang sudah hampir jam 8." Pastu mengangguk paham. "Oh iya, Tuan Muda Wijaya pamit pulang terlebih dahulu karena dia ada urusan, jika sempat dia akan ke Bandara." Dimas mengangguk.


Amar : "Bang, jangan lupa balik ya. Gue pasti bakan kangen sama mata tajam loe." Dimas mengernyit.


Ilham : "Enggak usah sok deh loe, bilang aja loe seneng kan karena enggak ada yang ngasih tatapan mematikan?"


Indra : "Dim, selama disana loe mesti hati-hati ya terutama untuk berhadapan dengan Yoosung."


Yayak : "Iyaa, jangan sampai orang itu kabur dengan mudah. Tenang aja, bisnis disini biar gue sama Indra yang handle seperti biasa." Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban.


Shekar : "Oke, sekarang kita pergi dulu. Kalian tidak perlu mengantar kami sampai Bandara." Putus Shekar dengan suara datar, kembali pada dirinya yang asli. Datar juga dingin sama seperti Andre


*Bandara Soekarno-Hatta...


Dimas dan Shekar kini berada di ruang tunggu Bandara, setelah mereka menempuh perjalanan selama dua puluh menit kini mereka menunggu untuk keberangkatan.


Disaat kedua lelaki itu sedang fokus dengan ponselnya. Tiba-tidak terdengar suara lembut memanggil Dimas.


"Kak Dimas?" Dimas yang merasa namanya dipanggil menoleh kesumber suara.


DEG. Dimas duduk terpaku disana, tidak bereaksi ataupun mengubah ekspresinya.


Shekar yang merasa Dimas diam ikut mendongak, dihadapannya ada seorang gadis berambut panjang dikuncir, berlesung pipit, mata yang indah, hidung mancung, wajah yang menggemaskan. Namun dibalik itu semua, nampak kesedihan disana.


"Sory, gue bawa Mara kesini." Orang itu tidak lain adalah Firman.

__ADS_1


Flashback On...


Firman memasuki pelataran rumah bergaya sederhana dihadapannya. Kini matanya tertuju pada pintu masuk rumah itu, Ia segera turun dan langsung melangkah cepat memasuki rumah tersebut tanpa salam. Hal itu membuat Bi Narti terkejut, karena sepagi ini sudah ada orang yang datang tanpa salam.


Firman : "Dimana kamar Amara?" Tanya Firman saat melihat Bi Narti.


Bi Narti : "Ada dilantai atas, dipintunya ada namanya Den." Jawab Bi Narti setelah tahu siapa yang datang sepagi ini.


Firman langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Dinda. Arul yang berada di dapur keluar.


Arul : "Siapa Bi yang datang sepagi ini?"


Bi Narti : "Oh itu ada Den Rangga mencari Non Dinda." Arul mengangguk.


Arul : "Aku kira siapa, ternyata Kak Rangga. Tapi untuk apa dia mencari Kakak?" Gumamnya pelan.


Sementara dikamar.


Setelah Firman menemukan kamar Dinda, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Hal itu membuat siempunya kamar berjingkat.


Adinda : "Ya Allah, Kakak kenapa sih datang-datang enggak ketuk pintu dulu? Aku kaget tahu enggak." Firman tak menanggapi, malah berdiri menatap manik mata Dinda serius. "Kakak kenapa sih, aneh banget." Gerutunya.


Firman : "Ayo loe harus ikut gue. Kita enggak punya banyak waktu lagu, kita harus segera kesana sebelum pesawatnya terbang." Adinda termangu.


Adinda : "Kita? Memang kita mau kemana Kak? Kenapa Kakak ajak Dinda?"


Firman : "Mara, please jangan banyak tanya kita sudah enggak punya banyak waktu. Sekarang bersiaplah, tidak perlu mandi cukup kamu rapikan saja wajah kamu."


Meski masih bingun Adinda tetap menuruti perintah Firman. Setelah menunggu 10 menit, Firman langsung menggandeng tangan adiknya itu keluar dari kamar menuruni tangga. Namun langkahnya terhenti...


Arul : "Kakak mau bawa Kak Dinda kemana sepagi ini?" Firman menatap bocah itu.


Firman : "Gue mau bawa dia cari bubur ayam diluar sekalian cari bakso. Tiba-tiba pagi ini gue pengen ngajak dia. "Jawabnya cepat. "Ayo Amara, nanti kita telat."


Tanpa menunggu jawaban dari Dinda dan Arul, Firman menarik Adinda dan segera keluar rumah lalu memasuki mobilnya. Bahkan Firman tidak menghiraukan panggilan Arul.


"Pasang seatbelt loe, gue mau ngebut soalnya. Gue takut ketinggalan pesawat." Ucapnya memerintah. Adinda menurutinya, segera Firman langsung tancap gas keluar dari rumah.


Adinda : "Kak? Kakak mau ajak Mara kemana? Ini kita sudah kelewat yang jual buburnya. Lagipula untuk apa kita ke Bandara? Ingin lihat pesawat? Atau Om dan Tante akan pergi, kenapa enggak ajak Arul sekalian?"


Firman : "Jika ada anggota PPA yang bilang loe itu lembut juga kalem bakal gue laksban mereka." Adinda mengernyit. "Soalnya aslinya loe itu cerewet banget, didepan yang lain loe lembut tapi giliran sama gue loe persis kaya Vanya sama Mama." Adinda langsung mendelik mendengar hal itu, saat ingin melayangkan protes ia terdiam mendengar perkataan Firman. Sebuah ucapan yang membuat hidupnya mulai runtuh meski belum seluruhnya. "Hari ini, dia akan pergi Mara."

__ADS_1


__ADS_2