
Pastu : "Iya, baiklah aku akan usahakan untuk menyelesaikan urusanku disini dan kembali secepat mungkin agar bisa hadir di acara itu. Setelah semua selesai, aku akan langsung terbang ke Indonesia. Sekarang segera matikan panggilan ini, karena kau benar-benar mengganggu waktu istirahatku Riya!." Ucapnya dengan ketus, bahkan nada datarnya sudah kembali muncul.
Mendengar hal itu, Septa langsung tertawa. Namun sedetik kemudian berhenti dan menetralkan suara tawanya.
Septa : "Hecmmm baiklah, aku akan mematikannya sesuai keinginanmu karena sebentar lagi aku akan ada kelas. Baik-baiklah selama disana, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu." Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Septa langsung memutuskan panggilannya, karena bisa dipastikan bahwa orang diseberang sana sudah melanjutkan tidurnya yang sudah terganggu.
Sedangkan diseberang sana, Pastu segera melihat jam beker yang berada dimeja ranjang.
Pastu : "Subuh konon, bahkan disini masih tengah malam. Untung saja hari ini tidak banyak pertemuan, jadi bisa istirahat dengan cepat, dasar Riya pengganggu." Gerutunya kesal. Kemudian ia melanjutkan tidurnya setelah meletakkan jam beker itu.
Pastu, diusianya yang masih 22 Tahun ia sudah menjadi Alumni dari Nusa Bangsa, ia sebelumnya juga Alumni dari Mahakarya. Nama aslinya adalah Pangestu Ramadhan, namun ketika masuk SMU sapaannya berubah menjadi Pastu dengan alasan agar akrab dengan yang lain, meski sebenarnya susah untuk akrab dengannya dengan sikap dingin itu.
Pastu merupakan angkatan pertama dalam PPA, dan ia juga yang pertama kali memperjuangkan organisasi ini agar lebih maju dan dikenal oleh yang lain terutama dikenal hingga penjuru kota. Berbekal keberanian dan kepercayaan, ia berhasil meyakinkan para Petinggi Kampus terutama Rektor. Awal kehadiran UKM ini sebelumnya belum diterima oleh Mahasiswa yang lain, karena bagi mereka itu hanya membuang waktu saja. Bahkan para Petinggi Kampus masih kekeuh menolak karena beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dengan baik salah satunya yaitu jika mengikuti pendakian banyak yang tersesat bahkan menelan korban, alasan inilah yang membuat UKM tersebut dulunya belum diterima.
Namun berkat kegigihan serta tekad yang kuat akhirnya Pastu berhasil menambah anggota baru yang memang sudah satu tujuan dengan dirinya. Setelah berbagai penolakan yang mereka terima, akhirnya para anggota yang lain berjuang keras dalam berbagai event yang ada, mereka selalu mengikuti setiap event dan hasilnya mereka yang selalu menjadi juara berkat prestasi itulah UKM ini benar-benar diterima dilingkungan Kampus dan penjuru Kota. Dialah Pangestu Ramadhan penggagas PPA dimasa itu, karena dia pula PPA saat ini menjadi primadona Kampus.
Tidak berbeda jauh dengan Pastu, Septa Mauriya juga angkatan pertama di PPA. Dia merupakan asisten PPA pada masa itu dan sahabat Pastu dari SMU, tawaran wakil ketua ia tolak dengan alasan jika dia menjadi wakil maka dia tidak akan selalu bersama Pastu. Meski tetap satu kampus dan satu Fakultas tetap kesibukannya akan berbeda. Setelah wisuda mereka berdua terpisah jarak namun bukan berarti komunikasi mereka terputus, malah sebaliknya komunikasi antara mereka semakin erat hingga saat ini. Pastu yang tegas dan dingin disandingkan dengan Septa yang ceria dan selengekan menjadi kombinasi yang sempurna marena saling melengkapi.
Namun satu hal yang harus diingat, meski mereka bersahabat tetapi Septa belum mengetahui kehidupan Pastu yang sesungguhnya termasuk latar belakang seorang Pangestu Ramadhan. Ketika lulus kuliah barulah Septa mengetahui siapa sahabatnya itu, meski belum sepenuhnya ia tahu. Meski dikenal dingin, dan beasal dari keluarga kaya Pastu tetaplah sederhana dan apa adanya ia tidaklah sombong dan membantu serta berteman dengan siapapun tanpa melihat dari status sosial maupun derajatnya. Hal itulah yang membuat Septa bangga memiliki sahabat seperti Pastu.
Septa : "Hecmm jika ingat siapa Pastu sebenarnya, aku pasti minder sejak awal kenal. Tetapi dia memanglah berbeda dari yang lain karena hidup sederhananya yang membuat dia beda dari kabanyakan anak orang kaya diluaran sana. Meski aku sendiri belum mengetahui sepenuhnya tentang dia terutama keluarganya tapi syukurlah jika dia baik-baik saja selama berada di Kanada."
Gumam Septa dalam hati, kemudian ia bersiap-siap untuk keluar dari ruangannya karena ia harus segera masuk kelas sebelum jam mengajarnya habis sia-sia.
Memang Septa belum mengetahui seluruh keluarga Pastu, karena yang ia ketahui hanya sang Kakak kandung Ivanka yang saat itu hadir bersama keponakannya yang berusia 5 Tahun ketika acara wisuda. Sedangkan untuk kakak iparnya, ia belum mengetahui karena Beliau selalu dinas ke Luar Kota maupun ke Luar Negeri, dan saat wisuda ia datang terlambat jadi belum saling bertegur sapa, hanya dari cerita Pastu ia mengetahui siapa kakak ipar dari sahabatnya. Seorang lelaki yang merupakan pengusaha besar bernama Tama, hanya itu yang ia ketahui bahkan nama lengkap dari Tama sendiri ia tidak mengetahuinya.
Bahkan dia sendiri sudah tidak ingat bagaimana wajah kakak dan keponakan dari Pastu, karena setelah kelulusan itu Pastu dan keluarganya pindah ke Semarang dan ketika mendengar bahwa Ivanka dan suaminya meninggal Septa sedang berada di Luar Negeri liburan bersama istri dan anaknya serta menghadiri pesta pernikahan dari saudara sepupunya. Hal itu yang membuatnya masih merasa bersalah karena tidak berada disamping Pastu ketika ia mengalami duka tersebut.
__ADS_1
Karena hal itu pula yang membuat dia belum mengetahui siapa dan apa hubungan sahabat baiknya dengan ketiga Mahasiswanya itu, yang tak lain Dimas, Andre dan Septian.
* * *
Setelah kegiatan dalam Aula beberapa waktu lalu usai termasuk rencana kegiatan di Puncak kini semua kembali seperti sediakala.
Berbagai aktivitas mereka lalui dengan suasana hati yang tenang seperti sebelumnya. Kegiatan di PPA juga off karena sudah memasuki ujian tengah semester, hanya saja tetap berkumpul untuk bersenda gurau.
Setelah 3 Minggu berada di Luar Negeri kini Dimas kembali ke Indonesia dan dia sudah pulang 1 minggu lalu karena tesisnya sudah selesai dan berhasil meraih gelas Master dari Negeri Kincir Air itu, dan lulus dengan cumlaude. Selama itu pula baik Dimas maupun Adinda belum bertemu, karena bisa dipastikan Adinda saat ini sedang dalam persiapan untuk pelaksanaan Ujian Nasional. Kini Dimas juga disibukkan dengan skripsi dan perusahaannya. Bahkan selama 3 minggu di London Dimas benar-benar fokus dalam tesisnya dengan harapan ia bisa kembali ke Indonesia dan melanjutkan untuk mengembangkan Perusahaan.
Adinda dan Arul kini sudah kembali ke Rumahnya, setelah bujukan dari Om Arya akhirnya mereka bersedia untuk pulang. Dua hari setelah kepulangan Adinda dan Arul, kedua orangtua Adinda memutuskan untuk kembali ke Benua Biru. Setelah diskusi yang begitu panjang, akhirnya mereka setuju dan menerima keputusan kedua anaknya yang lebih nyaman untuk tinggal menetap di Indonesia. Karena kehadiran Rahmad dan Randa pula yang membuat Melinda terpaksa setuju, karena ia tidak ingin membuat kedua buah hatinya semakin kecewa dengan mereka.
Meski Arul masih kecewa tetapi rasa kecewa itu kini berangsur mulai pulih, dan kini ia hanya berharap tidak akan lagi merasakan rasa sakit seperti ini nantinya.
Disinilah mereka saat ini, Yayasan Mahakarya. Tepatnya mereka kini berada di taman batas. Karena sebelumnya mereka sudah melaksanakan Ujian Sekolah, kini mereka harus mempersiapkan untuk Ujian Nasional yang akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Karena Mahakarya adalah sebuah yayasan, Ujian dilaksanakan secara serempak dengan SMP maupun SD.
*Taman batas : Taman yang berada diperbatasan antara SMU dan SMP.
Amel : "Huuh, akhirnya sebentar lagi kita Ujian dan pergi dari Sekolah ini." Mereka yang mendengar langsung mengernyitkan dahi.
Vania : "Maksud loe apa Mel?" Sahut Vania.
Adit : "Wajar saja jika dia merasa senang, karena dengan begitu dia akan selalu ketemu sama gue." Jawabnya dengan percaya diri.
Amel : "What! Enggak kebalik tuh Dit, bukannya loe yang seneng karena dekat sama gue?"
Adit : "Tentu saja tidak salah, haha. Tetapi kita tetap akan satu Kampus."
__ADS_1
Amel : "Maksud loe kita satu Kampus?"
"Nusa Bangsa!!" Jawab Vania, Geraldi dan Adit secara kompak. Mendengar hal itu, Amel langsung mendengus kesal. Sedangkan yang lain langsung tertawa melihat wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaga kesehatan kakak,
__ADS_1
Salam hangat dari Author untuk kakak semua😄