Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 23


__ADS_3

Amel yang jengah dengan rengekan Azriel hanya mengabaikannya, hal itu membuat Azriel semakin gencar merengek.


Amel : "Haissh! Bisa diem enggak loe?! Pengang kuping gue dengerin suara loe yang enggak bagus-bagus amat itu."


Azriel : "Makanya jangan aduin gue ke Mama, kalau loe aduin gue juga bakalan bilang ke Mama kalau loe itu ikut kegiatan ini buat cari cowok adja."


Amel : "Berani loe ya sama gue! Awas adja sampe loe bilang ke Nyokap."


Azriel : "Makanya ayolah kita baikan deh cari aman, gimana?" Rayunya pada Amel yang kemudian diangguki olehnya.


Restu : "Waaah! luluh juga loe sama nih bocah. Hahaa." Yang lain ikut tertawa melihat mereka berdua.


Amel : "Abis gimana? Kesian juga kan gue sama nih bocah, nanti kalau gue diaduin juga gimana? Enggak manfaat lagi donk nih mata cantik gue buat lihat yang bening-bening?" Geraldi yang mendengar langsung menggetok keningnya dan membuat Amel mengaduh kesakitan. PLETAK. "Aawww! Sakit jidat gue loe getok nih, nanti enggak cantik lagi gue."


Geraldi : "Lagian itu mulut kalau ngomong enggak direm. Mata loe beneran minta dicolok sama kanvas lukisnya Restu deh."


Restu : "Tenang bro, besok gue bawain buat nyolok itu mata biar enggak jelalatan lagi." Amel menatapnya tajam.


Amel : "Kagan enggak mau belain gue?" Tanyanya pada MBA. Namun yang ditanya hanya tersenyum. "Ok gue ngerti, lalu nama Kagan siapa? Kok kita baru lihat dan baru ketemu.?"


MBA : "Nama saya Muhamad Bayu Akbar, biasa dipanggil Akbar tapi jika di PPA banyak yang panggil MBA singkatan dari nama panjang gue." Mereka mengangguk.


Deril : "Tapi kenapa baru sekarang Kakak dateng kesini?"


Azriel : "Iya, yang lain ada yang udah kemari beberapa kali tapi Abang baru kelihatan."


MBA : "Saya satu minggu ada urusan di Bandung jadi off dulu dan baru gabung satu minggu ini. Ada pertanyaan lagi yang lain?"


Amel : "Kagan udah punya cewek belum?"


MBA : "Kenapa? Kamu mau mencalonkan diri jadi pacar saya?"


Amel : "Uuuh mau donk Kak, buat pamer ke Adinda biar dia juga dapet pacar."


MBA : "Memang dia enggak punya pacar? Gadis secantik dia?"


Amel : "Mana ada pacar, gebetan adja dia enggak punya. Kagan suka sama dia?" Selidik Amel setelah melihat perubahan diwajah Akbar yang terkadang memperhatikan Adinda. "Kak...?"


MBA : "Eh, enggak saya hanya tanya saja."


Azriel : "Jangan berani deketin dia Bang." Yang lain ikut mengangguk. Sedangkan MBA menautkan kedua alisnya. "Karena Kak Dinda itu dijaga sama Arul, dan dia juga udah ada yang punya." Celetuknya yang membuat kelompok kecil itu langsung menatap kearahnya seakan meminta penjelsan.


Amel : "Eh tong tau darimana luh, hah?!"


Azriel : "Loe enggak perlu tau gue dapet info darimana dan tau darimna, yang jelas jangan deketin dia karena yang ada dideket dia itu orang yang mengerikan." Sambil melirik kesalah satu anggota PPA.

__ADS_1


Geraldi : "Siapa maksud kamu Riel?"


Azriel : "Cukup gue yang tahu, suatu saat kalian pasti juga akan tahu sendiri siapa orang itu. Yang jelas gue hanya bisa kasih info itu." Yang lain hanya diam, sedangkan MBA setelah mendengar itu langsung menatap kearah Adinda dan disadari oleh Azriel. "Kalian akan kaget siapa orang yang dekat dengan Kak Dinda, dan ketika kalian tahu pasti kalian akan heboh terutama loe Memel, dan Arul gue harap dia enggak menghalangi hubungan Kak Adinda dengan Bang Dimas. Karena gue setuju jika mereka punya hubungan seperti sekarang ini meski harus sembuny**i dari dunia." Gumam Azriel dalam hati.


Flashback On. . .


Dipusat kota tepatnya disebuah taman yang notabennya selalu ramai kini sedikit sepi karena banyak dari mereka yang melakukan aktivitas didalam ruang tapi tidak untuk kedua sejoli yang masih hangat-hangatnya menjalin suatu hubungan. Mereka Adinda juga Dimas, siang ini setelah Adinda sibuk dengan urusan rumah dan Dimas yang sibuk dengan urusan kantor mereka memutuskan untuk bertemu dan melepas rindu yang sudah tertahan. Namun sebelum keluar rumah Adinda harus melewati tembok besar terlebih dahulu, dan dengan berbagai alasan akhirnya ia bisa keluar rumah. Saat ia tiba di taman. . .


Adinda : "Kakak sudah lama nunggu disini?" Tanya Adinda yang baru datang.


Dimas : "Tidak, baru saja sampai setelah urusan di kantor. Duduklah. "Adinda pun duduk disebelah Dimas. "Apa kau memiliki alasan lagi hari ini?"


Adinda : "Ya hari ini Arul hanya di rumah jadi aku harus kasih dia penjelasan tanpa buat dia curiga." Melihat Dimas yang hanya terdiam membuat Adinda menunduk. "Maaf. . ." Cicitnya.


Dimas : "Maaf? Maksud kamu maaf untuk apa sih dek?"


Adinda : "Maaf karena kita harus bertemu dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini."


Dimas : "Hei, itu bukan masalah buatku yang penting kamu nyaman dan itu enggak ganggu kamu. Sekarang senyumlah, aku sungguh rindu senyum kamu dek."


Adinda : "Kau sungguh malaikat yang tidak kusangka kehadirannya, awalnya aku memang ragu untuk menerimamu dengan segala sikal juga sifatmu, tapi sekarang aku yakin kau memang terbaik untukku karena kau menerimaku dengan segala kekuranganku. Aku sungguh beruntung karena kehadiranmu." Gumam Adinda dalam hati.


Dimas : "Kenapa kau jadi diam?" Adinda hanya tersenyum. "Hei jangan tersenyum seperti itu, dan ingat jangan tunjukan itu pada lelaki lain!". Katanya dengan tegas.


Adinda : "Iyaa Adinda mengerti, jadi Kakak jangan khawatir karena Adinda itu hanya milik Kakak. Adinda yang cantik ini akan selalu ada untuk Kakak dan akan selalu cinta sama Kakak." Seketika ia sadar dengan apa yang baru ia ucapkan. "Oops keceplosan."


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kedekatan mereka berdua dan yang membuatnya semakin terkejut adalah sikap Dimas yang berubah hangat tapi ketika dengan orang lain ia akan dingin. Jangan lupakan mereka yang tampak bahagia seakan dunia hanya ada mereka berdua yang hidup didalamnya.


"Bukankah itu Kak Dinda? Bersama siapa dia, apa dia bersama Arul tapi dari postur tubuhnya itu bukan Arul." Dengan rasa penasaran, ia mendekat namun tidak begitu dekat, dan seketika ia terkejut siapa lelaki yang bersama Adinda. "Bang Dimas! Dia anggota PPA dari bidang humas! Apa hubungan mereka? Jika dilihat dari kedekatan mereka pasti mereka punya hubungan. Jangan-jangan mereka pacaran, tapi bagaimana dengan Arul, apa dia sudah tahu dan tidak marah? Atau jangan-jangan mereka bersembunyi" Begitu fikirnya. "Tapi mereka terlihat bahagia, bahkan Kak Dinda terlihat lepas dan tanpa beban dan Bang Dimas dia terlihat hangat." Gumam orang ini yang tak lain adalah Azriel teman sekelas Arul sekaligus anggota baru di PPA.


Flashback End. . .


Deril : "Loe kenapa bengong gitu sih? Lagi mikirin sesuatu loe?" Azriel tidak menjawab namun langsung menghadap Akbar.


Azriel : "Menurut Abang, Bang Dimas itu seperti apa sih orangnya?" Celetuknya dengan tiba-tiba.


Restu : "Heh bocah, kenapa loe jadi tanya kaya gitu sama Kak Akbar sih? Sekarang waktunya kita bahas tentang bidang kita ini."


Amel : "Iya ih, ini malah tanya sesuatu yang enggak masuk ketopik pembicaraan."


MBA : "Enggak apa, kita santai saja seperti ini anggap saya ini kawan buat kalian." Akbar berfikir harus mulai dari mana ia menjawab pertanyaan Azriel. "Dimas Aditya itu lelaki yang baik, dia temen gue dari kita jadi maba dulu hingga sekarang satu organisasi." Berhenti sejenak. "Maaf nih jadi pake loe gue." Yang lain mengangguk senang. "Dia tipe orang yang pendiam tapi juga kritis, dia cuek sangat cuek bahkan sama gue, Yayak ataupun yang lainnya, dia juga dingin pada siapapun baik itu sama perempuan maupun laki-laki, itulah kenapa ada yang memberikan ia julukan es balok, manusia kutub, dan yang paling terkenal itu Raja Es Nusa Bangsa. Dia itu lelaki yang pintar, pandai, itulah kenapa dia lebih cepat dari kami karena ia sudah mulai menyusun skripsinya. Namun meski dengan sifat dan sikap yang seperti itu dia tetap baik kepada kami, dia orang yang akan membela temannya yang tertindas dan mendukung temannya saat temannya terpuruk, lalu jangan lupakan mode dingin dan datarnya apalagi matanya yang tajam seperti elang yang seakan siap menerkam mangsanya. Tapi meski begitu ia tetap digemari para perempuan disini."


Amanda : "Apakah dia dari dulu memang dingin?" Celetuk siswa SMP itu dan jawaban dari pertanyaan itu membuat yang lain juga penasaran.


MBA : "Sebenarnya memang dari dulu lebih tepatnya sejak gue kenal dia mempunyai sifat seperti itu namun tidak seperti sekarang, dulu meski dingin dan datar dia masih bisa tertawa dengan kami meski hanya sedikit dan sebentar. Tapi setelah kejadian itu dia berubah menjadi sangat dingin tidak seperti dulu."

__ADS_1


Amel : "Maksud Kagan kejadian apa?" Kini Amel yang bertanya karena ia sangat penasaran dengan sosok Dimas yang mendapat julukan si raja es itu.


Vania : "Apa rumor itu bener? Tentang orangtua Kak Dimas yang tiada karena kecelakaan?"


MBA : "Ya itu benar, dan sejak kejadian itu sifatny semakin dingin dan datar."


Amanda : "Tapi kenapa harus terus dingin, bukankah seharusnya dia itu kembali seperti dulu ketimbang berubah?"


MBA : "Kalian tidak tahu tentang kehidupan Dimas, setelah orangtuanya tiada dia diberika tanggung jawab yang besar bahkan belum tentu orang lain bisa menjalaninya. Dia harus mengurus semua perusahaan yang ditinggalkan, meskipun ada adik dari Mamanya tapi tetap semua yang bertanggung jawab adalah dia. Dia harus menghadapi client yang ingin bergabung dan berusaha menjatuhkan bisnis keluarganya."


Geraldi : "Apakah perusahaan dari Kak Dimas itu besar? Sampai-sampai banyak yang menginginkan itu?"


MBA : "Kalian tahu Aditama Company?" Mereka mengangguk. "Itu adalah milik keluarganya lebih tepatnya sekarang itu adalah milik Dimas." Mereka yang mendengar hanya tercengang tidak percaya. "What???!" Jawab mereka kompak dengan suara sedikit tinggi.


Bagaimana mereka tidak terkejut, Aditama Company adalah perusahaan terbesar di Indonesia bahkan cabangnya ada diberbagai negara, seperti Jerman, Perancis, Singapura, Inggris, Jepang dan saat ini Perusahaan tersebut sedang merencanakan perluasan di Korea.


Aditama bukanlah keturunan orang biasa, keluarganya adalah orang terpandang di Indonesia sedangkan istrinya juga termasuk jajaran keluarga kaya di Jerman maupun di Perancis. Namun hidupnya yang sederhana membuat mereka bertekad untuk membangun Perusahaan sendiri tanpa harus membebani keluarga.


Aditama Company adalah Perusahaan yang memulai bisnisnya dari bawah dengan menawarkan berbagai produk buatan sendiri dimulai dari bidang pangan, yang kemudian merambah bidang properti, hingga bidang ekspor dan impor barang dan tidak hanya itu kini juga ada rumah sakit baru yang statusnya milik keluarga Aditama. Dimulai dari suatu kerja keras dan kejujuran membuat Perusahaan itu dipercaya dan semakin berkembang hingga saat ini.


Restu : "Apa Kak Akbar yakin?"


Amel : "Perusahaan sebesar itu?"


Azriel : "Wow!! Enggak nyangka ternyata dibalik sifat dingin dan datarnya, ternyata Bang Dimas anak dari pengusaha terkenal."


Alan : "Bokap gue juga kerja disana." Semua menoleh kesumber suara.


Deril : "Serius loe?!" Alan mengangguk. "Apa bener Bang Dimas pemimpin saat ini?" Alan mengangkat bahunya.


Alan : "Aku sih kurang yakin, tapi Papa pernah bilang sekarang pemimpin dikantor sudah diganti oleh tuan muda anak dari pemimpin sebelumnya. Karena pemimpin sebelumnya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu." Jawaban Alan semakin membuat teman dalam kelompoknya tercengang.


MBA : "Ya yang dibilang teman kalian ini benar, Dimas Aditya adalah tuan muda Aditama yang Ayahnya maksud. Dia adalah anak tunggal dari Surya Aditama."


Vania : "Tapi kenapa nama lengkal dia bukan Aditama tapi Aditnya? Juga dia berpakaian seperti orang biasa dan tidak terlihat mewah."


Amel : "Benar kata Vania, ya meskipun barang yang dipakai itu branded semuanya tapi dia tetap bersikap biasa meskipun cuek datar dan dingin."


MBA : "Itu adalah kehidupan dia yang lain, apa kalian tahu nama belakang Dimas sebenarnya?" Mereka menggeleng. "Nama dia sebenarnya Dimas Aditama, tapi karena dia ingin hidup sesuai dengan keinginannya, nyaman tanpa ada wartawan yang membuat kehebohan. Karena itu ia mengubah beberapa huruf dalam namanya menjadi Aditya hingga sekarang." Mereka mengangguk paham.


"Hei kalian!" Jangan ikut campur atau mencari tahu tentang kehidupan seseorang terutama kehidupan orang yang kalian bicarakan tadi. Karena jika orang itu tahu, kalian akan melihat sisi lain dari orang itu." Mereka menengok kesumber suara lalu menatap Dimas yang sedang berbicara dengan anggota barunya. Setelah itu, mereka menunduk. MBA hanya tersenyum.


MBA : "Jangan membuat mereka takut, karena mereka hanya ingin tahu dan tidak ada tujuan tertentu." Orang tersebut langsung mengangguk.


Yayak : "Kalian tenang saja, Andre orangnya memang seperti itu, dia tidak suka jika ada yang mengusik tuannya." Celetuk Yayak yang baru melewati kelompok itu, ia berhenti dan menghadap ke mereka dan berkata . . . "Apa kalian tahu siapa Andre sebenarnya?" Mereka menggeleng. "Andre adalah asisten pribadi dan tangan kanan Dimas yang ditunjuk oleh adik dari Mamanya untuk membantu Dimas dalam hal apapun dia adalah orang kepercayaan Dimas. Karena Dimas dulu pernah menyelamatkan Andre dan orangtuanya membantu keluarga Andre hingga saat ini sejak saat itu keluarga Andre ingin balas budi dengan setia kepada keluarga Aditama. Oke stop sampai disini, sekarang kalian bahas tentang bidang kalian sendiri, ingat jangan kepo dengan Dimas atau Andre akan membayangi kalian." Mendengar itu mereka meneguk saliva mereka masing-masing.

__ADS_1


Mendengar itu, mereka mulai membicarakan dan membahas bidang mereka, MBA menjelaskan dengan sedetail mungkin agar mereka paham apa dan bagaimana yang harus dilakukan dalam bidang kesehatan. Begitupun dengan kelompok yang lain, setiap ketua bidang menjelaskan apapun yang anggotanya pertanyakan.


__ADS_2