Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 125 Welcome to Jakarta


__ADS_3

Mereka langsung bergegas masuk dalam Bus, menempati bangku mereka masing-masing. Tak berselang lama, Bus berjalan meninggalkan Villa besar itu dengan hati-hati.


Enam puluh menit perjalanan, keadaan Bus masih sepi tak ada suara seperti saat keberangkatan.


Azriel : "Apakah kita tidak bisa bersenang-senang? Gabut gue ini, perjalanan yang membosankan." Gerutunya kesal.


Yayak : "Sini loe ikut gue aja, kita main gitar sambil berdendang." Dengan semangatnya Azriel langsung menghampiri Yayak.


Amar : "Okelah, kuy kita bersenang-senang. Tinggalkan yang galau dan sebagainya."


Adinda, Arul juga Septian yang sejak masuk hanya diam kini mereka tetap sama. Yaa masih sama-sama diam.


Ilham : "Lagu apa yang loe mau?" Tanyanya pada Azriel.


Geraldi : "Hecmm gue aja deh Bang yang main gitar, sekalian ngasah kemampuan gue."


Firman : "Loe bisa main gitar?" Geraldi mengangguk. "Gue fikir hanya bisa makan." Ledeknya.


Adit : "Waah Abang, jangan diperjelas donk. Itu privasi kita, hehee. Oh iya, Abang kok msuk Bus sini?" Tanyanya heran.


Amar : "Iyaaa, loe orang asing. Sana loe pergi dari Bus sini, tiba-tiba gue enggak kenal."


Firman : "Hasyemm memang kalian orang. Sudah sekarang main gitar, masih ada waktu 2 jam lagi kita disini."


Jreeeeeng. Amar juga Geraldi memainkan gitar ang mereka pegang.


Amar : "Stop, kita mau nyanyi lagu apa?" Ucapnya berhenti.


Azriel : "Aaah, gue tahu lagu apa." Azriel membisikkan sesuatu pada Yayak.


🎵


*Kawan, dengarlah yang akan aku katakan


Tentang dirimu setelah selama ini


Ternyata kepalamu akan selalu botak


Eh, kamu kaya gorila.


Cobalah kamu ngaca tu bibir balapan


Daripada gigi lo kaya kelinci


Yang ini udah gendut suka marah-marah


Kau cacing kepanasan.


Tapi 'ku tak peduli


Kau selalu di hati.


Kamu sangat berarti, istimewa di hati.


Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing


Ingatlah hari ini.


Ketika kesepian menyerang diriku


Nggak enak badan, resah nggak menentu

__ADS_1


Kutahu satu cara sembuhkan diriku


Ingat teman-temanku.


Don't you worry, just be happy


Temanmu di sini.


Kamu sangat berarti, istimewa di hati


Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing


Ingatlah hari ini.


Don't you worry, don't be angry


Mending happy-happy.


Kamu sangat berarti, istimewa di hati


Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing


Ingatlah hari ini.


Kamu sangat berarti, istimewa di hati


Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing


Ingatlah hari ini.


Kamu sangat berarti, istimewa di hati


Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing


Ingatlah hari ini.*


*Project Pop - "Ingatlah Hari Ini"


Lagu yang dibawakan oleh Azriel dan seniornya itu langsung membuat penghuni Bus bernyanyi bersama. Adinda berusaha tersenyum karena tingkah Azriel membuatnya sejenak melupakan tentang permasalahan kedua orang yang menjerat hatinya.


Yayak : "Bagaimana lagunya? Enak bukan? Sekarang ayoo giliran siapa yang bernyanyi, Amel atau Vania mungkin?"


"Jangaaaaa!!" Larang Azriel, Alvin juga Nauval. Sedangkan yang lain mengerutkan dahinya


Amel : "Kenapa memang kalau gue nyanyi? Suara gue bagus kok."


Alvin : "Bukannya gitu Kak Memel, kita bertiga sejujurnya sudah begitu bosan dengar Kakak bernyanyi. Karena sudah terlalu sering Kakak cerewet ke kami." Amel mendelik tajam mendengar pernyataan itu.


Azriel : "Waduuuh, jangan diperjelas donk Vin. Nanti kalau ada yang ngamuk gimana?"


Nauval : "Waah, tiba-tiba gue lupa ingatan." Ucap Nauval pura-pura. Seketika ia langsung mendapat pukulan dari Azriel juga Alvin yang membuatnya mengaduh sakit.


Firman : "Sudaah, kalian ini malah berantem. Sini biar gue aja yang nyanyi." Ucapnya sambil merebut gitar yang dipegang Geraldi. "Septian? Loe enggak ikut beraksi? sini deh gabung" Semua mata mengarah pada si bontot.


Septian menggeleng malas pertanda ia tidak ingin ikut bergabung.


Geraldi : "Bang Septian kenapa Bang?"


Yayak : "Ssstt, biarkan saja. Dia belum dapat uang jajan dari Dimas tadi." Geraldi dan Adit mengangguk paham.


Mereka menghabiskan waktu dengan bercanda, bernyanyi bahkan ada pula yang melakukan standup disana. Siapa lagi pelakunya jika bukan jumpling junior.

__ADS_1


Tanpa sadar mobil sudah memasuki pelataran Nusa Bangsa tempat dimana PPA bernaung.


Angel : "Huaaaah akhirnya sampai juga, welcome to my home, Jakarta." Ucapnya ketika sudah turun dari Bus. "Sayaaaaaaaang?!" Suaranya langsung memekikkan telinga seseorang yang ada didekatnya termasuk yang ia panggil.


"Sayaaaaaaang?!" Balas Amar juga Ilham meledek.


Amar : "Masjid tempat gue butuh toaaak." Tak berselang lama Amar langsung mendapat pukulan dikepalanya.


Angel : "Rasain tuh jurus baru gue, loe orang pertama yang dapat."


Ilham : "Apakah sakit?" Amar mengangguk masik mengusap kepalanya. "Sini gue tambahin." Lanjutnya, Amar mendelik.


Amar : "Loe, gue. End! Enggak punya temen kaya loe gue mah." Ilham juga Yayak hanya terkekeh.


Yayak : "Sayang, lain kali jangan seperti itu lagi yaa, kasihan kepala Amar hanya satu." Amar langsung mencebikan bibirnya.


Shinta : "Itu kenapa muka si bontot ditekuk?" Tanya Shinta yang baru ikut bergabung.


Keempatnya langsung menoleh kesumber yang dimaksud.


Amar : Sejak tadi dia mah, entah kenapa sejak masuk Bus jadi seperti itu."


Yayak : "Mungkin karena Dimas tidak akan pulang." Jawabnya pelan, yang lain menoleh penuh tanya. "Ya Dimas akan ada perjalanan dinas ke Korea urusan Yoosung. Mungkin saja karena itu."


Ilham : "Oh iya, tadi Bang Pastu bilang di grub kita kalau pulang ini kita langsung ke Mansion. Firman, Indra juga Arya sudah diinfoin juga."


Angel : "Kok gue enggak diajak sih. Pokoknya gue harus ikut kesana." Gumamnya dalam hati. "Sayang aku ikut kesana yah." Yayak mengangguk. Karena jika tidak diperbolehkan maka Nininya itu akan berbuat apapun agar diperbolehkan, merengek sekalipun.


Shinta : "Baiklah, aah yaa aku duluan deh. Sudah ditunggu PJ sama Rara." Melihat kedua wanita yang berada diparkiran.


Amar : "Oke, hati-hati deh loe Shin. Salam ke Mami ya, bilangin maaf calon mantu enggak bisa anterin." Shinta hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya.


Mereka yang berada disana sudah berhambur setelah seluruh perlengkapan dikeluarkan dari Bus dan dirapikan di basecamp.


Ilham : "Yosssh! Ayo kita langsung berangkat ke Mansion utama, gue sungguh sangat laparrr."


Septian yang melewati mereka hanya diam saja, bahkan moodnya belum kembali.


Angel : "Itu muka enggak usah ditekuk deh Sep, lebih baik kita berangkat sekarang hari sudah semakin siang." Mereka mengangguk, melangkah langsung menuju parkir dan segera tancap gas.


* * *


Disaat mereka lepas landas menuju Mansion Adhitama, berbeda jauh dengan Adinda juga Arul yang saling berdiam didalam taxi. Yaa saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang.


Arul memutuskan menolak ajakan MBA yang ingin mengantarnya pulang dengan alasan ingin mampir ke suatu tempat dahulu.


Arul : "Kak kita sudah sampai." Ucapnya setelah taxi itu berhenti dipelataran mereka. "Kakak?" Panggilnya namun tidak ada respon. Arul menghela nafas. "Kakaaak?" Arul mengusap bahu sang Kakak dan itu berhasil membuat wajah Kakaknya menoleh. "Kita sudah sampai." Adinda mengangguk.


BRAK!! Arup menutup pintu mobil dan langsung melangkah, membiarkan taxi itu melaju.


Arul : "Biar Arul saja yang membawa tas Kakak, lebih baik Kakak segera masuk." Adinda menghentikan langkahnya mengangguk dan langsung melangkah masuk.


Bi Narti : "Eeh atuh Non sama Aden sudah pulang? Alhamdulillah tidak kurang suatu apapun." Arul tersenyum sedangkan Adinda hanya mengangguk saja. "Non Dinda kenapa?" Arul menatap Kakaknya.


Adinda : "Adinda baik-baik saja Bi, oh iya Dinda langsung masuk kamar yah Bi. Badan Dinda sudah lengket." Bi Narti hanya mengangguk dan diam melihat gadis itu menghilang dibalik pintu.


Bi Narti : "Ya sudah Aden masuk ke kamar saja, Bini siapin makanan dulu. Tas milik Non biar Bibi saja yang taruh." Aru menggeleng.


Arul : "Eeh tidak usah Bi, biar Arul saja yang bawa keatas sekalian ke kamar. Arul ke kamar dulu ya Bi."


Bi Narti : "Ada apalagi dengan mereka? Ya Allah semoga tidak ada hal buruk yang terjadi." Gumam Bi Narti dalam hati

__ADS_1


__ADS_2