Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 41


__ADS_3

Adinda yang mendengar tertegun sekaligus terkejut dengan ucapan Arul. Ia sangat tahu apa maksud dari Adiknya itu, hal ini yang ia takutkan jika kedua orangtuanya berpisah maka akan mengubah sifat asli Arul secara perlahan.


Wajahnya memang terlihat baik-baik saja, ia memperlihatkan wajah biasa seperti sebelumnya seakan sudah melupakan apa yang baru saja terjadi, tapi jauh dalam hatinya ia merasakan sakit yang tak tertahankan. Sebuah rasa sakit yang sudah sejak lama ia biarkan terbuka dan menganga hingga akhirnya menumpuk sampai sekarang.


Adinda : "Kamu jangan bicara seperti itu sayang, bagaimana pun mereka tetaplah orang tua kita. Kakak tahu apa yang kamu rasakan, Kakak juga merasakan semuanya Dek, tapi jangan seperti ini. Kakak tidak ingin Adik kesayangan Kakak berubah menjadi egois." Pintanya pada sang Adik sambil mengusap kepala Arul dengan lembut.


Arul : "Arul enggak bermaksud begiti, tapi sesekali boleh kan jika Arul bersikap egois saat ini. Hal ini sebagai bentuk pertahanan dari hati Arul Kak, Arul tidak ingin seperti kemarin ataupun tadi lagi. Arul sudah lelah, Arul capek dengan semua ini dengan mereka, bahkan Arul sudah muak dengan sikap mereka selama ini."


Arul melepaskan pelukannya pada Adinda, dan menaiki ranjangnya. Tanpa ingin mendengar jawaban Adinda, Arul langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hal itu membuat Adinda mengerti bahwa sang Adik tidak ingin dibantah lebih jauh lagi. Karena jika sudah seperti itu dan dibantah, Arul akan semakin memberontak lebih jauh.


Adinda : "Baiklah, Kakak kembali ke kamar Kakak sendiri ya, kau istirahatlah." Adinda mulai beranjak namun tangan Arul lebih dulu meraih pergelangan tangannya. Adinda membalikan tubuhnya...


Arul : "Kakak tidur disini, temani Arul tidur..." Rengeknya dengan suara manja. Melihat hal itu Adinda hanya tersenyum mengangguk dan menuruti keinginan dari sang Adik. Bagaimaapun sikap Arul saat sedang marah, ia tetap akan manja pada Adinda.


. . .


Dilain tempat Dimas sedang berdiri dibalkon kamarnya, memandang langit malam yang terlihat sedikit sendu. Dimas kini sedang menahan rasa yang ia pendam, sedikit kecewa dengan Adinda karena rasa tidak percayanya namun ia hanya bisa diam dan mencoba untuk tidakk lagi memikirkannya meski sebenarnya itu susah untuk dihilangkan.


TOK...


TOK...


TOK...


Pintu terbuka nampaklah seorang lelaki diujung pintu sedang berdiri, dia tidak lain adalah Yayak sahabatnya sendiri.


Dimas : "Ada apa?" Tanyanya pada Yayak, dan jangan lupakan sikap dinginnya.


Yayak : "Ditungguin sama Septian juga Andre, segeralah kebawah, makanan sudah siap." Dimas hanya mengangguk namun masih setia ditempatnya berdiri. "Apa kau ada masalah?" Dimas menggeleng. "Apa ada hubungannya dengan gadis itu.?" Selidik Yayak, sementara Dimas masih diam.


Dimas : "Aku akan segera kebawah, kau duluan saja." Ucap Dimas yang meminta Yayak turun terlebih dahulu sebelum ia semakin bertanya lebih jauh lagi.


Yayak : "Jika hubungan kalian sedang dalam masalah selesaikan dengan baik, jangan saling diam Dim. Loe sendiri yang mutusin untuk menerima syarat itu, jadi sekarang lanjutkan saja semua ini." Dimas tak bergeming, melihat itu Yayak mengurungkan niatnya untuk kelantai dasar dan langsung berjalan kearah Dimas dan berhenti tepat disampingnya. "Apa loe nyesel?" Ucapnya tiba-tiba, membuat Dimas menoleh.


Dimas : "Tentang apa?" Yayak hanya diam. "Hubungan gue dengan dia memang karena syarat itu dan gue juga menerima, gue hanya ingin menjadi orang yang bisa dipercaya oleh orang yang gue sayang." Dimas menghela nafas begitu panjang. "Dalam hidup ini gue enggak pernah minta lebih, gue hanya minta bisa secepatnya kembali bersama Mama dan Papa merasakan kehangatan mereka lagi." Ucapan itu membuat Yayak terkejut dan langsung menatap Dimas. "Memajukan perusahaan yang Papa bangun sejak awal, tak lupa juga membahagiakan Adinda, meski nantinya bukan sama gue."


Yayak : "Apa maksud loe? Ucapan loe, semua itu apa Dim?" Selidik Yayak.


Dimas : "Apa?" Dimas memicingkan matanya.

__ADS_1


Yayak : "Enggak usah belagak b*g* deh loe Dim, apa maksud loe pengen bahagiain Adinda meski bukan sama loe? Dan ya satu lagi, loe ingin segera kembali dengan Om dan Tante? Loe ingin segera nyusul mereka dan ninggalin kita?!" Sarkas Yayak yang membuat Dimas tersenyum penuh arti. "Kenapa loe senyum?!"


Namun bukannya menjawab, Dimas langsung keluar dari kamar dan melangkah menuju lantai bawah menghampiri kedua adiknya, yaa adik-adiknya Andre dan Septian.


Sedangkan Yayak yang melihat itu langsung gusar karena ia tahu jika Dimas bersikap seperti itu maka ia tidak pernah main-main dengan kata-katanya dan ini menyangkut kebahagiaan Dimas sendiri.


"Apa maksud anak itu, kenapa dia selalu menyembunyikan semua yang dia rasakan?" Gumam Yayak dalam hati.


Sementara dibawah, Septian dan Andre memiliki rencana untuk menyambut kedatangan Dimas dengan harapan mereka bisa makan bersama seperti dulu sebelum kesibukkan datang.


Dimas sampai diruang makan, ia melihat kedua adiknya sedang tertawa mereka terlihat akur dan tidak bertengkar seperti biasa. Sifat Andre tidak sedingin ketika berada diluar, didalam rumah ia berubah total menjadi lebih hangat. Melihat itu Dimas mengembangkan senyumnya, sungguh ia merindukan saat-saat seperti ini.


Septian yang menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka, ia segera menoleh...


Septian : "Abaaaaaaang!" Teriak Septian yang kemudian mendapat pukulan dibahu dari Andre.


Andre : "Loe bisa diem enggak! Suara loe itu bikin gendang telinga gue mau pecah."


Septian : "Suara gue ini merdu Ndre, lagipula gue cuma nyambut Abang gue." Jawab Septian dengan sedikit kesal.


Andre : "Halah alasan aja loe, udah ah ayo kita makan. Gue udah laper nih."


Septian : "Bang loe mau makan make apa?" Tanya Septian sambil mengambilkan nasi ke piring yang ada dihadapan Dimas. "Ada opor tadi Bibi bikin opor ayam kesukaan loe dan ada capcai, ada tumis kangkung ada ikan goreng, pilih yang mana?" Cerocosnya tanpa jeda. Namun Dimas hanya diam saja.


Andre : "Bang! Loe sakit? Atau ingin makan yang lain?" Kini giliran Andre yang bertanya. "Aku panggilin Bi Arum ya.." Saat Andre ingin beranjak Dimas mulai mengeluarkan suaranya.


Dimas : "Tidak perlu, makan saja apa yang ada dimeja. Bi Arum sudah lelah memasak, jadi segeralah makan." Keduanya hanya mengangguk. Septian mulai mengambil lauk untuk Dimas, namun. . . "Kau tidak perlu mengambilkan untukku Sep, segera makan makananmu itu."


Septian : "Tapi aku ingin mengambilkan lauk untukmu, selama ini kau yang selalu menyediakan keperluanku." Ucapnya dengan suara lemah.


Yayak : "Hei! Kenapa dengan wajah kalian? Apa ada masalah? Ada yang sudah gue lewatin?" Ucap Yayak yang baru tiba dan duduk diberhadapan dengan Septian.


Septian : "Ayolah, sekali ini saja Bang." Pintanya dengan sedikit memohon. Andre hanya diam, sedangkan Yayak yang merasa didiamkan langsung mendengus kesal.


Yayak : "Kyaaaaa!! Sebenernya ada apaan sih Ndre, loe juga Sep ditanya enggak dijawab malah pada diem semua." Dengus Yayak.


Andre : "Hanya soal makanan." Jawabnya singkat, hal itu sukses membuat Yayak melongo.


Yayak : "What!! Hanya karena makanan?" Yayak hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Septian : "Diem loe, berisik." Ucap Septian menanggapi Yayak, dan kembali menoleh pada Dimas. "Ayolah Bang." Dimas yang melihat akhirnya mengalah dengan Septian, karena jika tidak dituruti Septian akan semakin merengek seperti bocah yang minta jajan. "Yeeeii! Oke loe mau makan make apa?" Dimas, Yayak, dan Andre hanya tersenyum melihat si bontot mereka bertingkah seperti itu, karena ini sangat langka mengingat Septian sering kabur.


Dimas : "Ambilkan capcai dan ikannya saja." Ucap Dimas pada Septian.


Septian : "Apa kau tidak ingin opor ayam?" Dimas hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak. Sedangkan Septian langsung mengangguk dan mengambilkan apa yang Dimas inginkan.


Akhirnya setelah perdebatan itu mereka makan dengan nyaman, meski terkadang masih berisik karena tingkah Septian yang kadang membuat Yayak dan Andre kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah bisa update lagi, setelah kerjaan malesnya selesai..


Jaga kesehatan untuk kakak semuanya.


Jangan lupa vote, like, and comment ya kakak semua.

__ADS_1


Salam hangat dari Author.


__ADS_2