
Arul : "Maksudnya? Kalian tadi bicara sama siapa? Kagan? Siapa itu?" Tanya Arul sambil mengernyitkan dahinya.
Amel : "Oh maksudnya itu kakak ganteng, dia MBA. Jadi dia tadi kesini nawarin buat antar pulang. Tapi yah loe tahu sendiri kan, Adinda nolak alasannya sudah pesan taksi." Arul langsung menatap Adinda.
Arul : "Apa itu benar Kak?" Tanyanya penuh selidik. Adinda mengangguk, namun sesaat kemudian ia langsung berkata. . .
Adinda : "Tapi Kakak tolak karena Kakak sudah pesan taksi."
Amel : "Jadi kalau belum pesan taksi diterima donk Din?" Ucapnya tiba-tiba sambil cengengesan. Sedangkan Adinda langsung mendelikan matanya pada Amel.
Adinda : "Memel jangan buat masalah kamu, aku tetap akan menolak karena kita ini sudah lelah. Oh iya, sudah jam segini baik kita segera pulang, mobil taksi sudah menunggu didepan." Arul dan Amel mengangguk.
Amel : "Loe yakin nih sama taksi pulangnya, enggak sama gue aja gitu Din." Adinda menggeleng pertanda menolak. "Hemm baiklah, gue langsung keparkiran deh si Azriel pasti sudah disana."
Arul : "Oke, kita duluan ya Kak Memel. Hati-hati dijalan jangan ngebut. Tapi jangan kaget ya sama ban mobilnya, hihi." Amel langsung memutar kepalanya mengarah Arul.
Amel : "Ada apa dengan ban mobil gue? Loe bikin mobil gue rusak ya Rul."
Arul : "Eitss Arul hanya kasih tahu, awas ban mobilnya bulat." Setelah mengatakan itu Arul langsung lari menyusul Adinda. Sedangkan Amel setelah sadar dikerjai oleh adik sahabatnya ia langsung berteriak...
Amel : "Jumpliiiiiiiiiiiiing!! Dasar loe ya, loe ngerjain gue!." Teriak Amel berkacak pinggang.
Kemudian mereka berpisah, setelah sampai didekat mobil taksi Adinda dan Arul langsung masuk.
Adinda : "Pak kealamat yang saya kirim ya." Sang sopir menoleh kearah belakang kemudi.
Sopir taksi : "Baik Neng." Ucapnya sambil mengangguk.
Arul : "Kak, sekarang kan weekend apa kita bisa jalan berdua? Ehmm, tapi Arul capek."
Adinda : "Ehmm kita tunda dulu saja, hari ini kita puasin untuk istirahat, bagaimana?" Arul mengangguk dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Adinda. Adinda langsung mengusap kepala adiknya dengan sayang.
Kembali ketempat dimana Amel berada yaaa. . .
Alvin dan Nauval melihat sikap Amel yang kesal terbukti dari dia menghentakan kedua kakinya secara bergantian, dan menggerutu entah apa pikir mereka. Karena hal itu, mereka langsung berniat mengerjainya.
"Kecoaaaaaaaaa!!" Teriak mereka kompak. Sedangkan Amel. . .
Amel : "Aaaaaaah! Mana kecoanya mana?!" Teriak Amel dengan berjingkat-jingkat jijik dengan hewan itu. Alvin dan Nauval langsung tertawa puas melihat reaksi Amel.
Alvin : "Hahaa lihat tuh Kak Memel, lucu banget lihat itu muka." Ucapnya tak lepas dari tawanya.
__ADS_1
Nauval : "Bener banget, untung banget Kak Dinda udah balik. Kalau enggak kita pasti kena omel lagi." Alvin yang mendengar langsung mengangguk.
Seketika Amel tersadar dengan sikapnya, dan dia langsung berhenti namun ia masih mendengar suara tawa dari orang didekatnya.
Amel : "Oh ternyata mereka yang kerjain gue, lihat aja gue beri hukuman kalian. Kali ini kalian enggak akan lepas dari gue." Ucapnya dalam hati, tak lupa seringainya yang seakan siap untuk menerkam mangsanya.
GREP!! Seketika Alvin dan Nauval langsung berhenti tertawa karena ada seseorang yang memegang telinga mereka, keduanya langsung menoleh pada sang empunya.
Alvin : "Hehee eh Kak Memel." Ucap Alvin dengan senyum yang dibuat-buat.
Nauval : "Kak lepasin donk kuping kita, ini udah siang loh. Kita pengen cepat pulang." Ucapnya dengan sedikit memohon.
Amel : "Bagus ya kalian, tadi ngerjain gue sekarang mohon-mohon sama gue loe yaah." Keduanya langsung menunjukan deretan giginya yang putih. "Kali ini gue enggak bakal lepasin kalian berdua. Sebagai hukuman untuk kalian, ehmm kalian harua bawa semua barang gue sampai ketempat dimana mobil gue diparkir."
"What!!!" Jawab keduanya kompak.
Amel : "Apa?! Udah gih sana kerjain hukuman dari gue, daripada gue tambahin hukuman kalian, dan ya gue bakal aduin kalian ke Adinda." Keduanya langsung menatap Amel dengan wajah memohon, karena orang yang ia takuti setelah orangtua mereka adalah Adinda. Entah ada apa dengan Adinda sehingga membuat dua remaja itu takut. Jadi kini mereka hanya pasrah dan terpaksa menerima hukuman dari Amel. Sedangkan Amel jangan ditanya lagi, dia sangay senanh karena bisa mengerjai mereka.
. . .
Sementara ditempat lain. . .
"Ini sudah siang, sudah dzuhur tapi kenapa mereka belum juga kembali. Apa mereka ada dirumah Ibu?" Ucap seorang wanita yang berada diruang tamu.
"Itu bukan urusanmu." Jawabnya ketus. "Jika bukan karena kau yang memaksa aku untuk ke Jakarta, aku tidak akan ada disini sekarang. Aku sibuk banyak pekerjaan, tapi karena kau aku harus meninggalkan urusanku disana."
"Semua ini untuk kedua anak kita. Mereka pasti merindukan kita, karena kita tidak pernah pulang. Apa kau tidak merindukan anak-anakmu? Kenapa kau masih memikirkan pekerjaanmu saat akan bertemu dengan putra putrimu? Kau masih sama saja, tidak peprnah berubah sedikitpun, hanya karir yang kau fikirkan bahkan dari dulu tetap seperti itu."
"Apa maksudmu bicara seperti itu, kau sendiri bagaimana, Huh?! Harusnya kau ingat, kau yang membuatku seperti ini, kau selalu menuntutku. Sedangkan kau tahu aku ini memang wanita karir. Apa kau tau semua itu membuatku menderita, tapi kau. . . " Kata-katanya terhenti karena ucapan seseorang yang baru datang.
"Apa kalian masih ingin bertengkar seperti ini?" Ucapnya dengan dingin. Kedua manusia yang tengah berdebat itu langsung menatap kearah pintu untuk melihat siapa yang telah berani mengganggu pembicaraan mereka.
"Arya!" Jawab keduanya kompak. Ya orang yang baru saja tiba adalah Arya, Om dari Adinda juga Arul. Sedangkan dua orang lainnya adalah Reyhan juga Melinda orang tua Arul juga Adinda. Mereka kembali ke Indonesia sesuai kesepakatan mereka sebelumnya.
Arya : "Kapan kalian sampai?" Tanya Arya yang kemudian menatap kearah Bi Narti. "Bi tolong buatkan saya kopi ya." Bi Narti mengangguk dan melangkah kearah dapur. "Kapan kalian sampai?" Ulangnya.
Reyhan : "Semalam kami sampai. Tapi Amara juga Arse tidak di rumah." Jawabnya.
Melinda : "Ya kami sampai jam 11.15 tapi mereka tidak di Rumah. Kata Bi Narti mereka ada acara diluar. Apa kau tahu itu?"
Arya : "Ya mereka sedang ada kegiatan diluar, dan siang ini selesai." Jelas Arya pada Reyhan dan mantan kakak iparnya. "Aku sarankan, jangan sampai kalian bertengkar didepan mereka berdua. Kalian itu terlalu egois untuk soal karir juga keluarga."
__ADS_1
Melinda : "Kenapa kau mengatur hidup kami Arya. Itu urusan kami berdua, mereka juga pasti mengerti kesibukan orangtuanya, lagipula ini juga untuk mereka, yang penting kami selalu mengirim uang pada mereka. Sekarang ini jika tidak ada materi maka tidak akan dihargai, maka dari itu aku selalu berusaha untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan." Sedangkan Reyhan hanya diam dengan jawaban mantan istrinya itu, dia tidak membenarkan juga tidak menyalahkan.
Arya : "Tidak semua dinilai dari materi Mbak, apa kalian pernah bertanya pada mereka? Apa mau mereka, apa keinginan mereka, harapan mereka, apa yang mereka butuhkan? Pernah kalian bertanya seperti itu?" Keduanya terdiam mendengar hal itu. "Kalian itu egois, sama-sama mementingkan ego kalian sendiri dan sekarang anak kalian yang jadi korban."
Melinda : "Jangan mengajari kami apa yang baik dan apa yang tidak untuk anak kami Arya. Kamu sama dengan Kakakmu itu, kalian sama saja hanya bisa menyalahkan wanita, wanita harus ini harus itu. Dari awal aku wanita karir, semua itu juga penting untuk hidupku. Aku bekerja juga untuk hidup anak-anakku Arya, apa kau pernah bertanya pada Kakakmu apa yang ia berikan pada keluarganya? Dia selalu pulang larut malam setiap hari tanpa bertanya bagaimana keadaan kami dirumah."
Reyhan : "Apa yang kau katakan Melinda?! Aku bekerja juga untuk kalian, untuk mencukupi kebutuhan kalian. Selama itu aku bekerja keras untuk kalian, aku hanya memintamu untuk menjadi seorang ibu yang baik, mendidik mereka menjadi anak yang baik, menjadi istri yang selalu bisa bersikap hangat pada suaminya yang lelah bekerja. Tapi apa yang kau lakukan, kau bahkan melakukan segalanya sesuai dengan keinginanmu hingga membuatku selalu tidak betah berada dirumah."
Seketika pertengkaran mereka kembali terjadi, mereka menuruti ego mereka sendiri dan melancarkan berbagai perkataan untuk merendahkan satu sama lain, untuk menyalahkan satu sama lain, saling melempar berbagai kata agar salah satunya tersudut.
Jika salah satunya tersudut, maka yang lain akan senang dan merasa menang. Mungkin begitu fikir mereka selama ini. Mereka seakan berlomba untuk menunjukam siapa yang terbaik dalam hal ini, namun dari semua itu mereka tak menyadari apa yanh anak mereka rasakan selama ini.
Tanpa mereka sadari ada sebuah pasang mata yang melihat juga mendengar pertengkaran mereka. Awalnya mereka terkejut mendengar suara yang sudah lama tidak mereka dengar, namun semakin dekat suara itu semakin jelas.
"STOP!!!!" Teriak seseorang yang baru melangkah kearah ruang tamu. Mereka langsung terperanjat dan menoleh pada orang itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa ya kira-kira yang berani berteriak ditengah perdebatan mereka??
Kuy tunggu kelanjutannya ya Kakak. . .
Jangan lupa like, vote, and comment yaah😄😄
__ADS_1
Salam hangat dari Author untuk kakak semua. . .