
Dimas : "Mungkin, akan lebih baik jika kita tidak bersama. Kita sudahi saja hubungan ini." Ucapnya dengan tegas.
DEG!! dada Adinda berdetak dengan cepat, ucapan Dimas seakan menghantam jantungnya hingga tak tersisa.
"Bukan maksudku untuk tidak memperjuangkan hubungan ini, seperti yang aku katakan sebelumnya perjuangan harus dilakukan bersama bukan hanya satu pihak. Ik hou van je* Din, tetapi akan ada hati yang terluka jika kita tetap melanjutkan semuanya. Saya tidak ingin Arul marah ataupun kecewa padamu, mungkin MBA lebih baik dari saya. Saya diam, bukan berarti tidak peduli atau perhatian justru kediaman saya itu memperhatikan hubungan kalian kedepannya. Maka dari itu, inilah keputusan yang harus saya ambil untuk kamu juga Arul. Saya harap kamu mengerti semua ini, jadi mari kita sudahi saja." Ucapnya panjang lebar, namun matanya tidak menatap Adinda.
Lalu bagaimana reaksi Adinda?
*Bahasa Belanda yang artinya aku sayang kamu.
* * *
Seluruh penghuni Villa dibuat panik karena Adinda yang terjatuh pinsan dengan wajah pucat pasi, bahkan tidak hanya Villa perempuan saja melainkan Villa laki-laki. Banyak dari mereka yang penasaran, kenapa gadis itu bisa jatuh pingsan dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seseorang yang membopong Adinda tidak lain itu Dimas.
Seorang Raja Es yang tidak mengenal wanita malam ini dengan wajah khawatir dia membopong seorang gadis, ya dia primadona dari Mahakarya.
Dimas : "Hei, Adinda. Sayang bangunlah, aku mohon bangunlah." Ucapnya khawatir.
Drap.. Drap... "Dimana kamar Adinda?!" Tanyanya saat melihat Amel. Amel yang masih melamun terkejut mendengar suara tegas yang sedikit meninggi dari Dimas.
Vania : "A.ada disini Kak. Dia satu kamar dengan kami." Vania menunjukkan kamar Adinda dengan cepat.
Sesampainya di kamar, Dimas langsung menurunkan Adinda dengan pelan.
Amel : "Adinda kenapa Kak? Dia baik-baik saja kan? Kenapa dia bisa pingsan?"
Flashback On. . .
*Taman Keluarga
Dimas : "Mari kita sudahi saja hubungan ini Din, biarkan Arul memilih dia untuk bersanding denganmu."
Ucapan itu terngiang di otak Adinda, semua terasa tak nyata hal ini yang membuat dirinya diam tak bisa menjawab.
"Aku tidak ingin membuatmu dan Arul menjauh hanya karena satu orang yang baru masuk dalam kehidupan kalian. Berat, tapi ini harus aku lakukan untuk kalian berdua Din." Lanjutnya.
Adinda : "Mak.sud Kakak kita berakhir? Hubungan ini berakhir disini?" Adinda tersenyum getir, rasa sesak didadanya menyeruak begitu saja. Air mata yang ia tahan kini meluncur juga. "Adinda mohon jangan lakukan hal ini, Adinda akan usahain untuk bicara dengan Arul tapi jangan seperti ini Kak, hiks. Adinda mohon."
Dimas : "Hei, jangan menangis sayang. Jangan keluarkan air matamu untukku, karena aku belum berharga dalam hal ini." Ucapnya mendekat dan menghapus air mata Adinda. "Mengertilah dek, aku tidak ingin membuat hubungan kalian terbelah bahkan terpecah, aku tidak ingin dia marah dan kecewa padamu karena hubungan ini. Aku percaya, dia sudah memiliki seseorang yang pantas untukmu." Ucap Dimas tersenyum mengangguk.
Adinda : "Ti.tidak Kak. Bukan ini yang Adinda inginkan." Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Isak tangisnya kini semakin deras.
__ADS_1
Dimas : "Aku mohon jangan menangis Din, aku tidak bisa melihatmu sepeti ini." Dimas memeluk Adinda erat. "Sekarang, hapus air mata ini. Aku antar kau kembali ke Villa, karena angin malam ini tidak baik untuk kesehatanmu."
Adinda masih saja terisak, dadanya terasa sesak dengan ucapan lelaki dingin itu. Dimas langsung membawa Adinda keluar taman, namun ketika ia akan melangkah tiba-tiba Adinda terjatuh pingsan.
Bruk!!
Dimas : "Adinda!!" Teriaknya panik. "Sayang bangunlah." Ucapnya khawatir.
Dimas langsung mengangkat Adinda dan dengan cepat membawanya ke Villa.
Flashback End. . .
Tanpa menjawab, Dimas memeriksa nadi gadis itu. Tampak normal, ia meminta Vania memanggil MBA.
Dimas : "Kamu harus bangun sayang." Gumamnya pelan yang diperhatikan oleh Amel. "Segera panggil Akbar untuk memeriksa Adinda, cepat!" Vania langsung berlari keluar kamar.
Tak berselang lama, MBA datang diikuti Arul dan sahabatnya dibelakang.
MBA : "Apa yang terjadi dengan Adinda? Kenapa dia bisa pingsan Dim?" Hening, tidak ada jawaban dari lelaki dingin itu. "Biarkan aku periksa terlebih dahulu." MBA yang juga khawatir langsung memeriksa Adinda, bahkan Dimas masih tetap berada disana.
Amel : "Dindaa, loe harus bangun. Jangan buat kita khawatir seperti ini. Hiks."
Kedua sahabat Adinda itu hanya bisa menangis sambil berpelukan.
Arul : "Kakak, ayo Kakak harus bangun. Jangan buat Arul semakin khawatir."
MBA selesai memeriksa Adinda, ia menghela nafas pelan.
Dimas : "Bagaimana keadaannya?" Sambarnya cepat bahkan mendahului Arul.
MBA : "Alhamdulillah dia tidak apa-apa, badannya terasa begitu dingin dan sepertinya dia sedikit mengalami syok saja. Biarkan dia istirahat sebentar, kita tunggu saja semoga sebentar lagi dia segera sadar."
Amel : "Apa yang membuat Adinda syok Kak?" MBA hanya menggeleng.
Vania : "Selama kami bersahabat, dia tidak pernah seperti ini apalagi sampai syok." Ucap Vania menambahi.
MBA : "Apapun itu hanya dia yang tahu, kita hanya bisa berdo'a semoga ia baik-baik saja. Lebih baik kita keluar sekarang, agar dia bisa istirahat."
Dimas diam ditempat, membuat yang ada disana heran karena dia tidak beranjak sedikitpun.
Bahkan para sahabatnya yang ada diluar kamar dibuat terkejut dengan sikapnya, kecuali Andre, Yayak dan Firman yang memang mengetahui hubungan keduanya.
__ADS_1
Disaat MBA dan yang lain akan keluar, terdengar suara lenguhan dari Adinda. "Euugh..." Dimas langsung berbalik menghampiri Adina.
Dimas : "Sayang kau sudah sadar?" Ucap Dimas tanpa sadar.
DEG!! Semua yang berada didalam kamar tersentak kaget mendengar panggilan Dimas pada Adinda.
Perlahan Adinda membuka kedua mata indahnya, dengan pelan matanya terbuka. Hal yang ia lihat pertama adalah Dimas dan kemudian Arul. Ia kembali menatap lelaki dingin yang tadi dengan tega mengucapkan kata perpisahan padanya.
Dimas mendekati ranjang dengan pelan, tanpa diduga ia langsung mengecup kening gadis cerobohnya itu. Bahkan ia seakan melupakan dan menganggap tidak ada orang disana.
Cup. . .
Dimas : "Aku mohon jangan seperti ini lagi, jangan membuatku khawatir Din. Kenapa kau begitu ceroboh sekali." Gumamnya pelan yang masih bisa didengar.
Dengan lembut ia mengusap kepala Adinda,tak lupa juga sesekali ia mengecup pelipis gadis itu. Seakan hanya ada mereka berdua.
Mereka yang melihat adegan itu hanya tercengang, termasuk Yayak dan Firman. Mereka tak menyangka, Dimas benar-benar bisa berubah didepan gadis SMU itu.
Yayak : "Itu benar-benar Dimas kan? Gue lagi enggak mimpi." Ucapnya bermonolog sendiri. "Fir, tolong loe cubit gue. Bilang kalau ini hanya mimpi saja." Bisiknya pada Firman yang memang ada disebelahnya.
Firman : "Please Yak, gue bahkan akan mukul loe sampai babak belur jika perlu. Jadi jika loe teriak berarti gue juga enggak mimpi." Jawabnya dengan nyeleneh.
Yayak : "Apa kau ingin dihajar oleh Nini ku Fir?" Ucapnya kesal.
Firman : "Kau yang memintaku untuk mencubitmu, jadi kenapa aku harus mencubitmu jika aku bisa mengahajarmu." Belanya santai.
Andre yang ada dibelakang mereka hanya diam saja, kenapa dia memiliki sahabat absurd seperti mereka fikirnya tidak cukupkah ketiga jumpling saja? Kenapa harus bertambah dua?
Arul : "Apa kalian bisa menjelaskan semua ini?" Ucapnya dingin.
Dimas langsung menatap kearah Arul, dimana aura bocah SMP itu kini berubah dingin. Adinda yang kini sudah sadar sepenuhnya menatap Arul dengan mata sendunya, ada perasaan takut juga khawatir disana.
MBA, Amel dan Vania yang awalnya akan keluar kini mereka menetap di kamar. Rasa penasaran mereka menyeruak bersama sikap Dimas yang begitu khawatir pada Adinda.
Hening, hanya keheningan yang ada diruangan itu. Berbagai pikiran menjadi satu disana. Kini hanya ada Dimas, Arul, Adinda juga Amel dan Vania disana, kedua gadis itu memutuskan tetap disana bersama Adinda. Setelah beberapa saat, Dimas bersuara.
Dimas : "Apa yang ingin kamu dengar dari saya, maupun Adinda?"
Arul : "Semuanya, yaa semua yang sudah terjadi tadi maupun sekarang." Jawab Arul dengan tangan mengepal menahan kemarahan, ada rasa kecewa diwajahnya.
Dimas : "Seperti yang kamu maupun yang mereka lihat. Kami, memiliki hubungan." Jawabnya singkat namun juga tegas.
__ADS_1