
#Dua bulan kemudian...
Amar : "Apa kalian sudah dapat kabar dari Dimas?" Tanya Amar pada Ilham, Yayak, Indra juga Firman.
Ilham : "Gue belum dapat kabar sedikitpun tentang dia. Gue sudah suruh orang kepercayaan Bokap untuk mencari kabar tentang dia."
Indra : "Apakah Arya juga belum mendapat kabar darinya?"
Yayak : "Arya sudah gue tanya, dia juga belum mendapat kabar dari Angga maupun Nona Wang."
Firman : "Angga ada di Korea?" Yayak mengangguk. "Sejak kapan dia disana?"
Yayak : "Angga sudah terbang kesana tiga minggu lalu satu bulan setelah Dimas dan Shekar berangkat."
Amar : "Terhitung sudah dua bulan dia ke Korea, terakhir dia kasih kabar di Grub saat dia berada di Seol untuk memasuki Yoosung. Setelah itu dia tidak ada kabar lagi, dan sekarang sudah masuk bulan ketiga."
Ilham : "Loe salah Mar, satu bulan lalu dia menghubungi Andre untuk urusan pemindahan saham ke Perusahaan Tante Ivanka yang ada di Berlin juga di Paris."
Indra : "Apa kalian sudah lihat Septian?" Mereka menggelengkan kepala.
Amar : "Sejak dapat kabar jika Dimas hilang kontak, dia langsung berubah jadi dirinya yang asli. Septian langsung melakukan segala cara untuk menemukan Dimas, bahkan Andre juga melakukan hal yang sama."
Ilham : "Disaat seperti ini mereka langsung terlihat kompak seperti kakak ber-adik, itupun karen Dimas jika bukan mereka pasti bertengkar." Celetuk Ilham yang dianggukki para sahabatnya.
Amar : "Yaa, dan gue bangga karena mereka tetap bersama meski selalu seperti itu."
Firman : "Gue sudah kerahin anak buah gue yang ada di Australia, meski mereka anak buah Papa tapi gue yang jadi atasan mereka. Kita tunggu saja kabar selanjutnya."
Yayak : "Ada yang tahu kabar Shekar?" Mereka langsung menatap Yayak, lalu menggeleng.
Firman : "Sebenarnya satu minggu yang lalu Shekar hubungi gue. Dia bilang jika Dimas masih tidak bisa dihubungi, gue sempat tanya apa yang terjadi tapi dia tidak menjawab dan langsung memutskan panggilan." Mereka menghela nafas kasar.
Saat ini mereka tengah berada di Kampus, sejak Dimas pergi mereka selalu bersama. Sekarang sudah lebih dari dua bulan Dimas pergi, itu tandanya Adinda dan para sahabatnya juga sudah masuk di Nusa Bangsa.
Sejak kepergian Dimas, mereka sangat jarang berkomunikasi. Hingga saat ini Dimas dinyatakan hilang kontak membuat para sahabatnya kelimpungan mencari keberadaan lelaki dingin itu. Banyak yang belum mengetahui perihal ini, karena baru para sahabat yang tahu.
"Permisi..." Suara itu membuat mereka menoleh kesumber suara. "Adinda." Gumam mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
Firman : "Eeh, kamu dek. Ada apa kok kesini? Perasaan disini enggak ada sahabat loe deh."
Yayak : "Adinda ada perlu apa?" Yaa suara itu berasal dari Adinda yang mendatangi mereka.
Adinda : "Ehmm, boleh Adinda tanya sesuatu?" Tanyanya tampak ragu. Yayak dan Indra mengangguk. "Apaa... Kak Dimass.. baik-baik saja?" Amar dan Ilham langsung menatap wajah gadis itu.
Amar : "Maksud loe?" Kini Amar yang bersuara. "Maksud gue, kenapa loe tanya seperti itu?"
Adinda : "Ehmm sejak beberapa hari lalu.. perasaan aku enggak enak. Apaa terjadi sesuatu dengan dia?"
DEG.
Pertanyaan Adinda membuat mereka tersentak, apakah gadis dihadapan mereka ini tahu sesuatu, atau memang hati mereka sudah terpaut hingga apa yang terjadi pada Dimas gadis ini bisa merasakannya?
Ilham : "Loe masih perhatian sama Abang gue dek?" Kini Ilham bersuara, Adinda diam sebagai jawaban.
Firman : "Mara, are you oke?" Tanya Firman sedikit khawatir karena melihat wajah Adinda yang sedikit berubah. "Hei, Amara?" Tangan Firman mengusap bahu Adinda.
Adinda : "Ah, eeh. Mara baik-baik saja kok Kak. Hanya saja.. bisa enggak kita bicara sebentar?" Firman mengangguk lalu beranjak pergi diikuti oleh Adinda dibelakangnya.
Mereka kini tepat berada sudut taman dekat dengan pohon rindang diatasnya, dibawah pohon itu terdapat bangku, dan disanalah keduanya.
Adinda : "I.iya. Apa Kakak ada kabar tentang dia? Beberapa hari ini perasaanku enggak enak, apakah terjadi sesuatu? Dua hari yang lalu, aku bermimpi dan dalam mimpi itu Kak Dimas bersama satu orang laki-laki dan wanita cantik, mereka juga tersenyum padaku, dan Kak Dimas juga tersenyum dengan wajah pucat." Matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Aku dekati dia, tangannya terasa dingin saat aku pegang. Kemudian saat aku tanya, dia hanya tersenyum lalu bilang kalau dia sayang sama Mara, dia cinta sama Mara. A.aku enggak tahu apa maksudnya, tap.pi set.telah mimpi itu perasaanku enggak enak sampai sekarang. Hiks... apa terjadi sesuatu padanya? hiks.. hiks."
Firman termangu mendengar penuturan Adinda, lalu ia terkejut melihat mata adiknya yang sudah basah itu.
Firman : "Heei, kenapa kamu menangis Mara? Jangan nangis nanti dikira gue apa-apain kamu. Sudah ya, kamu tenang saja." Ucapnya sambil mengusap wajah Adinda, tangannya merengkuh tubuh gadis itu untuk memberi ketenangan.
"Kenapa perasaanku juga ikut tidak enak seperti ini sih? Sebenarnya apa yang terjadi? Loe dimana sih Dim?!" Gumamnya dalam hati, lalu ia melihat kearah sahabatnya yang juga memperhatikan dirinya, lalu ia melihat Septian mendatangi sahabatnya dengan wajah serius.
"Kamu tenang dulu Mara, itu ada Septian. Gue kesana dulu, loe balik ke kelas aja pasti Amel sama Vania cariin kamu sekarang. Tenang aja, nanti kalau sudah ada jawaban gue kabari." Adinda mengangguk.
Setelah mengatakan itu Firman langsung meninggalkan Adinda, sedangkan Adinda masih melihat kearah Firman. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi, namun apa ia belum tahu.
#
__ADS_1
Septian : "Gue mau pamit sama kalian." Ucap Septian saat sudah disana.
"Maksud loe?!" Amar dan Ilham bertanya. Sedangkan Indra dan Yayak masih diam.
Septian : "Gue sama Andre siang ini harus terbang ke Korea."
Firman : "Sep, ada apa?" Tanya Firman yang baru saja sampai.
Septian : "Gue sama Andre akan terbang ke Korea siang ini. Untuk itu gue pamit sama kalian, sory Andre enggak bisa kesini. Dia masih harus mengurus keperluan untuk disana."
Indra : "Kalian sudah dapat kabar tentang Dimas?" Septian menggeleng lemah. Wajahnya berubah sendu, matanya tampak lelah seakan tidak istirahat sedikitpun.
Septian : "Saat ini Shekar masih mencari keberadaan Dimas. Baru kemarin dia memberi kabar jika menemukan titik koordinat dari GPS yang terpasang di Mobilnya."
Ilham : "Lalu kuliah loe? Loe enggak akan masuk lagi? Berapa lama Sep?"
Septian : "Saat ini, gue hanya ingin Dimas dan bukan yang lain Ham." Jawabnya pasti.
Firman : "Kita harus menemukan dia secepatnya." Mereka menatap Firman.
Yayak : "Kita pasti menemukan Dimas Fir, oh iya dek Din tadi bilang apa?"
Firman : "Dia hanya bilang beberapa hari ini perasaannya tidak enak dan beberapa hari lalu dia sempat bermimpi bertemu Dimas. Dia bilang di mimpi itu Dimas terlihat tersenyum hangat, wajahnya terlihat pucat dan suhu tubuhnya terasa dingin."
"Dia disana dengan seorang pria dan wanita cantik yang gue yakini itu pasti Om dan Tante, mereka berpakaian serba putih." Mereka yang mendengar itu tersentak kaget terutama Septian yang notabennya sudah kehilangan orangtuanya.
Septian : "Gue balik duluan, gue pamit sama kalian semua." Septian langsung beranjak.
Ada rasa takut yang saat ini ia rasakan, bahkan perasaannya yang memang sudah tidak enak kini semakin terasa tidak enak setelah mendengar cerita Firman.
"Bang, loe dimana sih?! Jangan buat gue takut, jangan buat gue dan Andre kehilangan sosok orangtua lagi." Ucapnya pelan. Kemudian ia langsung tancap gas meninggalkan pelataran Kampus itu.
Septian : "Halo Om?" Jawab Septian ketika ponselnya bergetar. "Ada apa Om menghubungiku?"
Om Pastu : "Segeralah pulang, tapi setelah dari Kampus langsung ke Bandara jangan pulang ke Rumah. Om dan Andre saat ini menuju Bandara." Ucap Pastu diseberang sana.
Septian : "Baiklah, aku langsung kesana sekarang. Kebetulan aku sudah keluar Kampus." Mereka lansung memutus panggilan.
__ADS_1
Mobil yang Septian tumpangi langsung membelah keramaian di jalan raya, bahkan ia tidak peduli dengan berbagai seruan orang yang begitu memekakan telinga.