
Kembali keruang tamu. . .
Arya yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.
Arya : "Apa kalian sudah berhenti berdebat?" Tanya Arya tanpa menanggapi ucapan mantan kakak iparnya itu. Seketika Reyhan dan Melinda menatapnya, Melinda kini menunjukan wajah tak bersahabat. "Jangan menunjukkan wajah itu didepanku, karena itu tidak akan berpengaruh." Lanjutnya sambil menatap Melinda. "Satu lagi Mbak, jangan mencoba untuk mencari kesalahan orang lain apalagi orang yang ada disekitar mereka, karena bisa saja hal itu terjadi karena masalah pribadi mereka sendiri terhadap seseorang maupun terhadap suatu hubungan, baik itu percintaan, pertemanan, pertengkaran maupun perceraian orangtuanya." DEG! ucapan terakhir Arya itu seketika membuat kedua orang yang berada didepannya terdiam.
Melinda : "Apa maksud perkataanmu itu Arya?!" Ucapnya yang kembali dengan suara tinggi. "Apa maksudmu mengatakan itu?! Kamu kira ini karena perceraian kami? Semua gara-gara kami? Bukan Arya, tapi ini semua pasti karena teman mereka dan lingkungan mereka ini, semua membawa pengaruh buruk untuk kedua anakku, aku tidak akan membiarkan mereka berada dilingkungan seperti itu lagi."
Reyhan : "Apa maksudmu Melinda? Jangan berfikir macam-macam, tujuan kita kembali untuk melihat keadaan mereka, membuat mereka senang karena kepulangan kita ini."
Arya : "Lalu, meninggalkan mereka lagi." Gumam Arya pelan namun bisa didengar oleh Reyhan, Arya yang melihat itu hanya acuh pada sang Kakak. "Oke, sekarang apa yang akan Mbak lakukan? Membawa mereka pindah, membawa mereka ikut kalian keluar? Setelah itu meninggalkan mereka untuk bekerja dan mencari uang, selalu pergi kemana-mana dengan alasan sibuk karena kerja, ada pertemuan atau yang lain. Lalu apa bedanya dengan sekarang? Kalian sama-sama meninggalkan mereka dan sibuk dengan pekerjaan mereka." Sarkas Arya pada Melinda dan Reyhan.
Seketika mereka terdiam karena melihat Adinda yang menuruni tangga, sampai dianak tangga terakhir Adinda langsung menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan pesanan sang Adik, omelet dan soup daging. Reyhan, Melinda dan Arya hanya melihat Adinda yang diam tak bersuara, bagaimana bisa Adinda diam saja, kenapa dia tidak marah atau menanggapi perdebatan mereka, karena mereka yakin saat turun tadi pasti dia mendengar dengan jelas pertengkaran itu. Begitulqh fikir mereka saat ini.
Untuk mengalihkan itu semua, Melinda melangkah kearah dapur, ia tersenyum menghampiri Putrinya yang sedang menyiapkan bahan masakan.
Melinda : "Sayang?" Panggil Melinda saat hampir dekat dengan Adinda. Namun Adinda rak menanggapi, berbicara dengan Bi Narti.
Adinda : "Bi, tolong iris dagingnya sedikit kecil saja ya, biar cepat empuk takutnya Arul nanti berkomentar seperti biasa karena dagingnya kurang empuk saat digigit." Bi Narti hanya tersenyum ketika ingat bagaimana Arul ngambek saat daging yang ia makan sedikit alot dan terlalu besar irisannya.
Bi Narti : "Benar, Bibi jadi ingat wajah Aden ketika merasakan soupnya itu, hihi." Mereka tertawa bersama seakan tidak ada beban, namun sedetik kemudian mereka terdiam karena kehadiran Melinda didapur.
Adinda yang awalnya berwajah ceria kini sedikit menunjukkan wajah seriusnya saat mengetahui Melinda ada disana. Sedangkan Bi Narti hanya diam dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Melinda : "Kamu lagi bikin apa sayang? Sini biar Mama bantu yah, atau biar Mama saja yang memasak, kamu pasti capek baru pulang terus masak untuk Arse." Melinda mencoba mengambil alih, namun sebelum Adinda menahannya dan mengatakan sesuatu, Arul langsung berkata...
Arul : "Arul enggak mau tahu semua harus Kakak yang masak, karena saya ingin masakan Kak Dinda." Ucap Arul saat tiba didapur untuk mengambil minum, kata "saya" membuat Adinda mengerti bahwa ia tak ingin sang Mama memasak untuknya.
Melinda : "Eeh sayang, kamu udah selesai yah. Biar Mama saja yang masak, kamu pasti rindu dengan masakan Mama kan. Jadi sekarang biar Mama yang memasak untuk kalian." Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Arul : "Saya sudah katakan, saya ingin masakan Kakak." Jawabnya tegas tanpa ingin ditolak sedikitpun. Sedangkan Melinda setelah mendengar itu langsung diam dan mencoba untuk mengalah pada Putranya, untuk nanti malam maka dia yang akan menyiapkan begitu fikirnya.
Kemudian Melinda kembali keruang tamu yang dimana masih ada Arya juga mantan suaminya Reyhan. Mereka masih dalam posisi diam karena sebelumnya melihat Arul yang turun menuju dapur dengan menenteng gelas kosong ditangan kanannya.
Melinda : "Ada apa dengan kalian berdua?" Melinda mngernyit bingung. Namun karena yang ditanya hanya diam, Melinda memutuskan untuk membahas hal lain. "Bagaimana keadaan Ibu?" Sambil menatap pada Arya.
Arya : "Alhamdulillah Ibu baik, yah meski terkadang kondisinya menurun. Kalian bisa menjenguk Ibu."
__ADS_1
Melinda : "Yah akan aku usahakan untuk menjenguknya."
Arya : "Kalian bisa datang bersama jika mau, dan itu akan lebih baik karena akan terlihat akur." Ucapnya tiba-tiba.
Reyhan : "Apa selama ini kami berselisih Arya? Lagipula Mas sudah menghubungi Ibu untuk datang kesana lusa." Arya mengangguk setuju.
Melinda : "Baiklah aku akan ikut kamu lusa, dan kita bisa membawa anak-anak kesana." Ucapnya tersenyum senang, hal itu tak lepas dari penglihatan Reyhan.
Arya : "Tapi. . ." Reyhan dan Melinda menoleh. "Ehmm maksudnya jangan membawa mereka, karena mereka sebentar lagi ujian jangan membuat mereka sering izin, itu akan berpengaruh pada hasil ujian." Keduanya mengangguk paham.
Kemudian mereka berbincang-bincang membahas hal lain, seperti sudah tidak ada lagi beban atau masalah yang membuat peetengkaran mereka kembali mencuat. Sampai akhirnya mereka berhenti karena panggilan dari Bi Narti.
Bi Narti : "Maaf Pak, Bu makanan sudah siap." Ucapnya dengan menunduk.
Reyhan : "Oh iya Bi. Apa anak-anak sudah disana?"
Bi Narti : "Sudah Pak, Aden juga Non Dinda sudah dimeja makan."
Melinda : "Baiklah kami akan segera kesana. Terimakasih ya Bi." Jawabnya tersenyum, sedangkan Bi Narti langsung mengangguk.
Bi Narti undur diri dan ketiganya langsung berdiri dan menuji keruang makan, karena mereka tidak ingin membuat kedua anaknya menunggu terlalu lama.
Sungguh pemandangan yang sudah lama tidak pernah terjadi, dimana keluarga itu terlihat harmonis dan utuh. Jika orang lain yang melihat mereka pasti memuji keluarga ini, tapi sayang apa yang dilihat bukanlah seperti yang kita fikirkan.
Mereka menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulut. Hening, itulah yang terjadi saat ini hanya ada suara dentingan sendok juga garpu yang mengisi.
Arya : "Masakanmu masih sama Din rasanya, luar biasa ya meski hanya makanan sederhana." Puji Arya pada ponakannya itu.
Reyhan : "Jadi ini kamu yang masak sayang?" Tanya Reyhan yang tidak percaya jika Putrinya pintar memasak. "Waaah! Papa senang ternyata Putri Papa jago masak. Baiklah Papa akan menghabiskam makanan ini." Adinda hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
Melinda : "Ternyata Putri Mama sudah besar yah, sudah pintar memasak." Ucapnya senang. "Bagaimama jika kamu membuka Restoran saja sayang?"
Adinda : "Tidak perlu Mah, Adinda hanya ingin memasak untuk keluarga Adinda saja terutama untuk Arul." Tolaknya dengan halus.
Namun disaat mereka tengah menikmati hidangan, seketika pecah saat mereka mendengar ucapan Melinda...
Melinda : "Mama sudah putuskan akan membawa kalian ke Jerman." Seketika mereka yang ada disana menatapnya dengan tajam, tak terkecuali Arul juga Adinda.
__ADS_1
Reyhan : "Apa maksudmu Melinda? Kau tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak seperti ini!" Tegas Reyhan pada mantan istrinya itu.
Melinda : "Aku tetap akan membawa mereka, kau setuju atau tidak aku tak peduli." Ucapnya dan melihat kedua anaknya. Sedangkan Adinda langsung melihat Arul yang berhenti makan karena ucapan sang Mama. "Kalian mau kan ikut Mama ke Jerman, kalian tidak perlu disini. Lingkungan disini tidak baik untuk kalian. Bagaimana Arse, Amara?"
Reyhan dan Arya nampak geram dengan sikap Melinda. Sebelum Arul dan Adinda menjawab, Reyhan terlebih dahulu menyela.
Reyhan : "Apa yang kau lakukan?! Hentikan sikapmu itu Linda!" Ucapnya sedikit meninggikan suara.
Arya : "Mbak enggak bisa ambil keputusan seperti itu. Apa alasan Mbak melakukannya? Karena lingkungan sekitar itu maksudnya? Setiap lingkungan berbeda Mbak, semua tergantung pada diri mereka sendiri. Mba enggak bisa seperti ini." Jawab Arya dengan tegas.
Melinda : "Aku tidak butuh saran dari kalian, aku hanya butuh pendapat dari anak-anakku." Jawabnya dengan ketus.
Mereka masih bertengkar di meja makan, mereka tidak sadar bahwa kedua anak muda itu sudah geram, terlebih Arul yang sudah mengepalkan tangannya dengan erat. Apa tidak ada tempat lain untuk berdebat fikir mereka berdua.
KLONTEEEEEENG!! Arul membanting garpu kepiringnya. Seketika langsung membuat ketiga orang dewasa itu berhenti, dan menatap kesumber suara.
Arul : "Apa kalian tidak bisa menghargai makanan disini?! Apa kalian tidak bisa berhenti sejenak, dan tidak bertengkar lagi?! Jika kalian tetap ingin bertengkar jangan disini, carilah tempat lain!" Ucap Arul yang sudah muak dengan pertengkaran mereka.
Adinda : "Arul!" Ucap Adinda dengan tegas. "Kakak tidak mengajari kamu untuk tidak sopan seperti ini Dek. Kakak mohon kendalikan emosi kamu." Mohon Adinda pada sang Adik sambil mengusap bahu Arul. Meski sebenarnya ia juga takut jika Arul lepas kendali, tapi saat ini hanya ini yang bisa ia lakukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salam hangat dari Author...