
Andre : "Loe sudah makan Arya?" Tanya Andre yang baru saja turun dari lantai 2. Dia sudah berwajah segar terlihat dari rambutnya yang masih basah.
Arya : "Sudah, ini lihat banyak makanan sampai kenyang gue disini."
Andre : "Hey bontot, ajak Arya ke kamar tamu. Biarkan dia bersih-bersih dulu." Septian yang masih menikmati potongan pizza mendengus kesal, saat ia akan membantah langsung diurungkan karena melihat sang pemilik mata elang sedang menuruni anak tangga.
Melihat itu, dengan segera Septian langsung bangun dan menarik tangan Arya agar mengikutinya. Septian langsung melangkah dengan cepat sebelum sang Abang lebih dekat. Mereka yang menyadari itu langsung menatap kesumbernya.
Ilham : "Pantas saja dia langsung kabur." Celetuknya pelan.
"Dasar bontoooott." Ucap Yayak dan Firman dengan lantang.
Sedangkan Septian yang melihat para sahabatnya tertawa langsung menunjukkan mata nyalangnya, namun tetap saja dia melangkah sebelum bertambah parah.
Dimas yang melihat tingkah sahabat dan adiknya itu hanya menggelengkan kepala saja meski tetap datar dia masih bisa menyunggingkan senyumnya meski tipis.
Andre : "Bang, apa kau ingin makan? Biar gue siapin makanan buat loe."
Amar : "Sory makanannya habis karena kedatangan kita." Ucapnya sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Dimas : "Tidak perlu Ndre, biar saya sendiri yang menyiapkannya. Duduklah." Tanpa menjawab ucapan Amar, Dimas langsung mengambil alih dapur yang akan dimasuki oleh Andre. Namun Andre tetap mengikuti langkah Dimas.
Amar : "Dasar loe Dim, kebiasaan yang sungguh menjengkelkan." Gerutunya kesal. "Kalian enggak usah ketawa, gue enggak suka." Mereka semakin tertawa lepas.
Septian : "Wah ada apa nih rame bener sih?" Ucapnya yang baru datang setelah mengantar Arya ke kamar tamu.
Ilham : "Biasa, ada yang baru dicuekin sama Si Boss tuh." Jawabnya sambil melirik Amar.
Septian : "Rasain loe, tahu rasa kan." Ucapnya dengan senyum mengejek.
Sedangkan di dapur, Dimas tengah membuat nasi goreng untuknya malam ini. Dia membuat banyak, karena bisa dipastikan para sahabatnya akan membuat keributan jika ia hanya menyiapkan 3 porsi saja.
Aroma nasi goreng yang harum menyeruak hingga keruang keluarga dimana para sahabatnya berada disana. Saat itulah Amar, Septian dan Ilham langsung bertolak ke dapur setelah mencium aroma itu.
"Abaaaaaaaaang?!" Teriak ketiga lelaki tampan itu dengan kompak.
Klontaaaaaang.
Sebuah sendok langsung mendarat kelantai setelah mengenai tubuh mereka bertiga.
Amar : "Andreeee, loe ya. Kenapa sih loe sensi banget sama kita berdua." Ilham mengangguk setuju.
Andre : "Siapa yang suruh kalian datang kemari, hem?"
Septian : "Lagian kita kesini bukan buat loe tapu buat Dimas." Andre menaikan salah satu alisnya.
Ilham : "Yapss betul sekali. Kita kesini untuk nasi goreng Dimas." Ucapnya dengan polos.
Sedangkan Amar dan Septian yang mendengar jawaban polos Ilham langsung menepuk jidat mereka sendiri. Kenapa sahabatnya bisa seb**** ini fikirnya. Andre yang tahu maksudnya langsung berkata.
Andre : "Tidak ada jatah untuk kalian bertiga." Ucapnya datar, sedangkan ketiga lelaki itu langsung menoleh pada Andre dengan cepat. "Yaa memang kalian tidak dapat jatah, nasi goreng itu buat kami berdua dan Arya. Karena kami belum makan." Ketiganya menatap tajam.
"Abaaaaaang." Rengek ketiga pemuda itu pada Dimas dengan wajah yang dibuat memelas. Sedangkan Dimas hanya menggelengkan kepala saja.
Yayak : "Kalian bertiga kenapa sih? Jangan manja deh kalian nih." Ucap Yayak yang langsung mengambil sebuah piring dan menyendok nasi goreng yang baru saja matang disusul juga oleh Firman.
__ADS_1
Kegiatan Yayak dan Firman yang tanpa dosa itu menjadi perhatian ketiga jumpling. Bagaimana bisa mereka yang terlebih dulu datang dan dilarang sedangkan Yayak dan Firman yang baru saja masuk dapur langsung mengambil makanan itu bahkan dengan menunjukkan wajah tanpa dosanya.
Firman : "Wah ini dia yang selalu gue tunggu. Sungguh sudah lama loe enggak bikin nasi goreng ini Dim, rasanya gue rindu berat."
Yayak : "Betul syekaliiiii. Gue sungguh rindu ini nasi goreng ala Chef Adhitama. Eh sini loe Ndra, Ar kebetulan masih banyak." Yaa saat ini Arya sudah ikut bergabung dengan mereka.
Mereka langsung duduk di bangku meja makan. Dimas yang melihat itu hanya berwajah datar bahkan tidak berubah sedikitpun. Andre langsung menyendokan nasi tersebut kedalam piring, namum sebelum itu ia menghidangkan untuk Dimas terlebih dahulu.
Amar : "Semuanya loe hidangin Ndre, kenapa kita bertiga enggak?"
Ilham : "Iya ih curang loe Ndre, seakan kita bertiga ini anak tiri." Ucapnya dengan wajah dibuat melas.
Septian : "Andreeee, gue mau donk." Bujuknya dengan suara manja.
Andre : "Kaliam bisa ambil sendiri. Enggak usah manja deh yaa." Ketiganya mendengus kesal dan langsung mengambil sendiri. Sedangkan Yayak dan Firman hanya terkekeh saja.
Mereka makan dengan tenang meski masih ada senda gurau tapi tidak berlebihan karena mengingat Dimas hanya butuh ketenangan saat makan. Dimas yang memang sudah selesai langsung berdiri.
Yayak : "Dim loe udahan? Makanan masih banyak tuh."
Dimas : "Tidak, saya sudah kenyang. Kalian lanjutkan saja makannya." Jawabnya. "Arya kamu menginap saja disini bersama mereka, saya akan keruang kerja." Lanjutnya. Sedangkan Arya hanya mengangguk patuh.
Dimas langsung melangkah menaiki tangga menuju ruang kerja miliknya. Karena masih ada beberapa email yang harus ia cek sebelum disetujui dan dikirim untuk para client. Sedangkan yang lain setelah kepergian Dimas, mereka langsung bercanda dan saling berebut makanan terutama ketiga jumpling.
Memang sudah sangat lama Dimas tidak memasak karena kesibukannya di Perusahaan membuatnya tidak sempat masuk dapur apalagi untuk memasak seperti malam ini. Jadi ketika ia memasak maka para sahabatnya akan berisik seperti sekarang karena makanan yang dimasak Dimas memang menggugah selera meski hanya sederhana saja.
Indra : "Apa ada masalah di Kantor Ndre?" Pertanyaan itu meluncur saja dari mulut Indra.
Sedangkan mereka yang memang penasara juga ikut menunggu jawaban.
Firman : "Apa kecoa itu perlu dibasmi? Kebetulan Gue beberapa hari lagi sudah masuk Kantor, setelah lama cuti."
Yayak : "Jadi selama ini loe cuti dari Wijaya Grub?" Firman mengangguk. "Kenapa?"
Firman : "Yaa biasa soal kampus, jadi Papa minta gue cuti dulu."
Indra : "Bagaimana Arya? Apakah memang ada kecoa yang ingin tumbuh besar?"
Arya : "Seperti yang dikatakan Andre tadi, hanya seekor kecoa yang sedang mencoba mencari mangsa saja."
Ketika mereka sedang serius membicarakan tentang Perusahaan, berbeda dengan ketiga jumpling yang masih saja menikmati makanan mereka tanpa menghiraukan sahabatnya.
Firman : "Gue sempat dengar perihal orang yang menjadi perwakilan Yosuung Grup yang akan datang ke Indonesia ketika liburan nanti." Arya dan Andre memang sedikit terkejut namun berusaha menormalkan wajah mereka. "Apa itu ada hubungannya?" Tanya Firman dengan mata penuh selidik.
Indra : "Yosuung Grup? Gue kayanya pernah dengar deh tentang Perusahaan itu dari Om gue. Bukannya Perusahaan itu saat ini sedang merosot?"
Yayak : "Yakin loe Yosuung Grup sedang merosot Ndra?" Indra mengangguk. "Apa kedatangannya kemari untuk mencari korban?"
Firman : "Yaa itu bisa saja terjadi Yak, karena hanya beberapa orang saja yang mengetahui perkembangan Yosuung. Hanya orang tertentu, dan gue yakin Adhitama Company juga mengetahui termasuk kalian."
Indra : "Jadi berita itu benar Ndre? Apa ketiga jumpling itu harus melakukan sesuatu?"
Andre : "Ya yang kalian bicarakan memang benar adanya, pihak Yosuung akan datang ke Indonesia untuk mendapatkan investor yang bisa menyuntikan dana dengan besar. Terutama untuk putrinya itu."
Indra : "Mereka akan menumbalkan kedua Putri Yosuung? Apa hanya cara itu yang mereka punya?"
__ADS_1
Firman : "Ya berita itu sepertinya memang benar adanya Ndra. Apa Adhitama yang mereka jadikan sasaran?" Andre dan Arya hanya diam. "Jadi apa yang gue bilang ini benar?"
Yayak : "Yaa sepertinya ketiga jumpling itu akan mendapat sasaran yang empuk." Ucapnya penuh seringai
Arya : "Jangan macam-macam Yak, Tuan Muda bahkan hanya menanggapinya dengan tenang."
Septian : "Kenapa dengan tenang? Kenapa enggak kita lawan saja sampai ke akarnya." Amar dan Ilham mengangguk setuju.
Ternyata ketiga jumpling itu meski tidak begitu memperhatikan tetapi telinga mereka masih sangat intens untuk bekerja.
Ilham : "Apa kita bertiga harus kembali ikut menangani masalah ini?"
Amar : "Haruskah kita juga ikut turun tangan?" Tanyanya dengan polos. Septian dan Ilham hanya menatapnya jengah. "Hehe sory deh kan gue hanya tanya saja."
Andre : "Kalian tenang saja, tidak perlu khawatir berlebihan. Jangan sampai Dimas merasa bahwa kalian akan bertindak melebihi batas yang memang sudah kita tentukan sebelumnya." Ucap Andre memberi peringatan.
Firman : "Oke baiklah kita kembali seperti semula saja dengan tingkah yang konyol. Gue akan memulai langkah awal setelah masuk Kantor." Indra dan Yayak ikut mengangguk.
"Terus kita?" Tanya ketiga jumpling itu dengan wajah polosnya.
Indra : "Kalian tetap diposisi kalian saja. Jika memang ada hal yang serius pasti kalian akan langsung bekerja." Ketiganya mengangguk setuju.
Sedangkan Arya yang memang belum mengetahui siapa orang yang ada disekeliling Dimas inipun hanya diam, yang ia ketahui tentang mereka hanya latar belakang keluarga saja yang memang masih keturunan orang kaya, selain itu ia tidak tahu. Karena ia hanya akan melakukan apa yang Bossnya minta saja, jadi ia akan tetap berada di zonanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira siapa mereka sebenarnya?
Hanya sekelompok Mahasiswa yang tergabung dalam UKM Kampus, atau sekelompok teman bermain, atau malah sekelompok orang yang tidak penting?
.
.
.
__ADS_1
Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya😄