
Sesampainya Adinda dipelataran rumah Arul sudah tertidur di bangku sebelahnya. Adinda langsung mengusap kepala Arul dengan lembut.
Adinda : "Adek, bangun yuk ini sudah sampai rumah." Masih tetap mengusap kepala sang adik. Tetapi Arul semakin terlelap nyaman ketika menerima sentuhan sang kakak. "Hei, ayo bangun masuk ke rumah bersih-bersih shalat dulu nanti baru lanjutin tidur lagi." Arul menggeliat. Ketika Adinda ingin keluar, tangannya ditahan. . .
Arul : "Apa Kakak punya hubungan dengan senior PPA itu? Kenapa kalian bertukar nomor?" Seketika Adinda terkejut dengan pertanyaan adiknya, ditambah wajah serius Arul saat menanyakan itu.
Adinda : "Hei apa yang kamu katakan? Hum. Kakak enggak ada hubungan dengan dia kami hanya bertukar nomor saja karena kakak juga suka dalam kesehatan kamu tahu itu, jadi kami hanya bertukar nomor saja karena ya kakak anggap itu sebagai teman baru asal dia memang positif dalam berteman." Arul mengangguk paham lalu keluar mobil dan masuk ke rumah.
Sebelum melangkah kedalam kamar, Arul menahan lengan Adinda.
Arul : "Ehmm apa Arul boleh minta sesuatu?" Adinda mengangguk. "Arul belum ingin Kakak punya kekasih untuk saat ini, bukan maksud Adek buat melarang kakak tapi Arul enggak ingin . . ." Kata-katanya terhenti dengan usapan lembut diwajah Arul.
Adinda : "Sayaaang, ssstt sudah ya jangan diterusin lagi, kamu itu adik kakak sekalipun mereka tidak ada waktu untuk kita tapi percayalah Kakak akan selalu ada buat kamu." Arul langsung memeluk Adinda dengan erat bahkan air matanya tak terbendung lagi mengingat kedua orangtuanya yang sudah berpisah dan tidak lagi ada waktu untuknya. Sakit itu yang mereka rasakan. "Apa kau akan marah jika tahu Kakak memiliki hubungan dengan dia? Maaf jika kakak sudah membohongi mu dek, kakak tidak ada maksud lain karena kamu tetap prioritas utama untuk kakak. Gumam Adinda dalam hati. "Sekarang bersiaplah, kakak akan membuatkan nasi goreng kesukaanmu." Arul mengangguk.
Mereka masuk kedalam kamar, setelah beberapa menit adzan maghrib berkumandang mereka melaksanakan shalat terlebih dahulu. Sesaat Adinda selesai melaksanakan shalat kemudian ia kedapur untuk menyiapkan nasi goreng kesukaan adiknya.
Adinda : "Aruuuul! Segeralah turun karena makanan sudah siap."
__ADS_1
Arul : "Baiklah sebentar lagi adek turun, Kakak jangan makan dulu." Kemudian ia segera turun keruang makan.
Adinda : "Duduklah Kakak akan ambilkan nasi gorengnya." Arul mengangguk. "Ayo sekarang makanlah yang banyak lalu kerjakan tugasmu karena sebentar lagi ujian, ingat jangan lupa shalat isya." Arul mengangguk dengan penuh semangat. Namun saat mereka menikmati makanan, Adinda menghentikan aktivitasnya kala mendengar pertanyaan dari Arul
Arul : "Apa mereka tidak pernah menghubungi Kakak?" Adinda yang mendengar terkejut dengan pertanyaan adiknya ia langsung terdiam. "Jadi mereka tidak pernah menghubungi?" Melihat perubahan wajah sang Kakak itu ia sudah dapat menyimpulkannya sendiri. "Apa kita bukan anak mereka?" Adinda tersentak dengan pertanyaan itu.
Adinda : "Hei, apa yang kau katakan? Bagaimanapun mereka tetap orangtua kita, kakak dan kamu tetap anak mereka dek. Jadi jangan bicara seperti itu lagi." Mohon Adinda pada adiknya itu.
Arul : "Tappi kenapa mereka seakan mengucilkan kita, mereka memutuskan berpisah tanpa bertanya terlebih dahulu pada kita padahal kita anak mereka, mereka terlalu egois dengan kehidupan mereka sendiri, mereka egois mikirin diri mereka sendiri. Apa ini yang mereka bilang bahwa kita tetap akan jadi yang utama buat mereka? Mereka bilang bahwa mereka akan selalu ada buat kita, mereka bilang akan selalu mengunjungi kita, akan selalu menghubungi kita, akan selalu mencintai kita. Tapi apa? Mereka sibuk dengan hidup baru mereka, mereka egois, mereka enggak pernah sayang sama kita kak, Arul benci Arul enggak mau sama mereka lagi." TAK. Arul menghempaskan garpu dan sendok keatas piring lalu pergi ke kamarnya.
Bukan, bukan materi yang dibutuhkan keduanya melainkan perhatian juga kasih sayang yang mereka butuhkan. Karena setelah mereka berpisah mereka sudah jarang sekali berkomunikasi, bahkan mereka sudah lupa kapan ulang tahun kedua anaknya.
Selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring serta perkakas dapur, suara adzan menggema ditelinga ia segera melaksanakan shalat isya setelah selesai ia menuju ke kamar adiknya.
TOK... TOK... TOK...
"Apa kakak boleh masuk?" Tanya nya ketika sudah berada di depan kamar. Adinda membuka pintu secara perlahan. Ia melihat adiknya duduk termenung, terlihat sajadah yang masih dilantai Arul baru selesai melaksanakan shalat. Akhirnya Adinda ikut duduk di ranjang berukuran besar itu dengan terus menatap adiknya.
__ADS_1
Adinda : "Kamu sudah selesai shalat?" Arul mengangguk. "Apa kau ingin sesuatu? Kita jalan keluar?" Arul hanya menggelengkan kepala pertanda tidak mau. Adinda menghembuskan nafas secara perlahan.
Tiba-tiba Arul merebahkan tubuh atletisnya dan meletakan kepalanya dipangkuan sang Kakak. Adinda langsung mengusap dengan lembut kepala adiknya itu, membelai setiap anak rambut yang menutupi kedua matanya yang indah yang membuatnya terlihat tampan.
Arul : "Bisakah Kakak tidur disini, untuk malam ini?" Mintanya pada Adinda. Adinda masih setia mengusap kepala adiknya. "Apa Kakak tidak ingin?"
Adinda : "Apapun akan kakak lakukan, asal kamu jangan seperti tadi. Jangan emosi seperti tadi, kakak ingin kamu selalu bisa menahan setiap emosi yang hadir." Arul yang paham maksud sang kakak hanya diam, ia tidak meng-iyakan juga tidak menolak. "Apa kau menolak?"
Arul : "Apa ketika Arul tidak emosi mereka akan kembali kesini, dan kita akan kembali seperti dulu lagi?" Pertanyaan yang menohok itu seakan menusuk bagi Adinda, karena ia sendiri juga tidak yakin semua itu akan kembali seperti dulu. Melihat wajah sendu sang kakak, Arul segera membelai wajah Adinda dengan lembut. "Kakak enggak perlu khawatir, Arul akan berusaha dan belajar untuk menahan emosi dan tidak akan bersikap seperti tadi. Tapi janji, kakak harus selalu tersenyum jangan menangis karena mereka lagi." Adinda tersentak.
Adinda : "Apa yang barusan kau katakan? Kakak baik, untuk apa kakak menangis jika kakak menangis maka kakak tidak akan cantik lagi lalu Amel akan bawel dan marah." Adinda sedikit bercanda untuk adiknya.
Arul : "Kyaaa! Itu tidak akan terjadi, Kak Memel enggak boleh marahin kakak. Kakak akan selalu cantik untuk Arul." Hening. "Arul tahu kakak sering nangis karena mereka, kakak enggak bilang karena enggak pengen Arul khawatir tapi Arul janji akan selalu buat kakak bahagia." Arul tersenyum setelah mengatakan itu dan langsung duduk kemudian memeluk Adinda dengan erat seakan tak ingin kehilangan. Kemudian Adinda segera membalas perlakuan adiknya.
Arul kembali merebahkan kepalanya dipangkuan Adinda, dan Adinda mengusap kepala Arul hingga tanpa sadar terdengar suara dengkuran halus berasal dari adiknya.
"Kau sudah dewasa, meski usiamu masih 15 tahun tapi caramu berfikir tidak seperti anak di usiamu. Tetaplah seperti ini, tetap menjadi adik kakak yang lucu dan menggemaskan." Gumam Adinda pelan sambil membelai kepala adiknya.
__ADS_1