Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 31


__ADS_3

Flashback On...


Dimas : "Apa yang membuat kalian ingin jadi anggota PPA?"


Syanas : "Yah karena kami pengen punya pengalaman baru juga Bang sekalian cuci mata juga hehee." Dimas mengangguk tanpa senyum.


Satya : "Halaah itu mah loe aja yang keganjenan pengen tebar pesona."


Dimas : "Lalu apa arti teman untuk kalian? Partner, kawan juga sahabat?" Mereka tampak berfikir.


Alya : "Semua samalah Bang, tidak ada yang beda karena kadang sahabat juga ada yang ember mulutnya, cewek cowok sama aja kalau lagi ember." Jawab Alya yang diketahui kelas XII IPS. Yang lain ikut mengangguk membenarkan kecuali para lelaki.


Angga : "Enak bae, gue enggak begitu ya meski gue cowok tapi mulut gue enggak ember."


Syanas : "Halaaaah, biasanya juga itu mulut ember kemana mana sama sih Restu terus Geraldi itu orang."


Angga : "Itu mah mereka aja yang ember, mulut gue masih alim." Dengusnya kesal. Sedangkan Dimas tetap diam dengan datar, sambil sesekali melirik Adinda.


Dimas : "Menurut kamu?" Menunjuk Adinda, sedangkan yang ditunjuk terkejut.


Adinda : "Teman, partner, kawan juga sahabat semuanya sama, mereka sama sama selalu berada disisi orang yang mereka sayang. Banyak definisi dan berbeda pendapat tentang itu, tapi seperti itulah mereka menurut saya. Meskipun memang masih ada diantara keempat nama itu yang terkadang berbuat tidak baik pada diri kita bahkan sampai fatal. Tapi mereka tetap sama, mereka melakukan hal itu semata mata ingin diperhatikan, sebenarnya jauh dihatinya mereka baik tapi karena ego yang tinggi yang membuat mereka berubah." Yang lain ikut mendengarkan penjelasan Adinda.


Dimas : "Apa termasuk seorang lelaki juga seperti itu?"


Adinda : "Aah itu juga termasuk, bahkan terkadang mereka juga cenderung karena adanya rasa suka. Karena tidak mungkin dalam keempat hal itu tidak ada lawan jenis."


Dimas : "Jika ada seorang lelaki yang jatuh hati padamu, satu sisi kau sudah memiliki kekasih tetapi disisi lain ada orang lain yang juga jatuh hati padamu yang berasal dari partner mu sendiri, dan ternyata ia sudah dekat dengan keluargamu, apa yang akan kamu lakukan?" Yang lain masih fokus mendengarkan obrolan kedua orang tersebut, tanpa ada yang ingin melerai karena mereka menganggap hal itu hanya obrolan biasa saja.


DEG. . . Pertanyaan itu membuat Adinda terdiam, hingga ia berfikir harus mencari jawaban untuk menghindar dari pertanyaannya.


Adinda : "Maaf tapi saat ini kita sedang ada disebuah diforum, dimana hal ini harusnya membicarakan tentang setiap kegiatan dari setiap bidang." Adinda tampak sedikit kesal karena Dimas bertanya sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi karena tidak ada yang akan jatuh hati padanya dengan alasan ia sudah memiliki kekasih dan tidak dipungkiri bahwa Dimas lah kekasihnya, itulah yang ada difikiran Adinda.


Dimas : "Kenapa? Apa kau keberatan menjawab pertanyaan ku?" Selidik Dimas karena ia juga penasaran dengan jawaban Adinda, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


Adinda : "Maaf tapi aku tidak akan menjawab hal itu, dan bagiku keluarga ku adalah segalanya untuk ku." Akhirnya Dimas pun mengerti dan tahu jawaban dari Adinda. Dimas hanya tersenyum tipis, hingga tidak ada yang bisa melihat. Sedangkan Adinda langsung terdiam ketika menyadari apa yang ia katakan, bahkan ia juga melihat perubahan pada wajah Dimas.


Dimas : "Aku tahu jawaban itu yang akan keluar dari mulut mungilmu." Gumam Dimas dalam hati. "Oke kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, dan kembali ke bidang kita ini."


Sejak saat itulah mereka terlihat canggung, bahkan sampai saat ini Dimas masih tetap diam.


Flashback End. . .


Amel : "Hei, kenapa loe ngelamun sih Din? Loe sakit ya?" Mendengar hal itu semua langsung melihat kearah Adinda.

__ADS_1


Ilham : "Loe sakit dek?" Tanya nya sok perhatian.


"Sok perhatian loe!!" Seru Septian dan Amar. Sedangkan Ilham hanya cengengesan.


Adinda : "Aah tidak. Enggak kok Mel, aku enggak sakit hanya sedang mengingat ingat ada yang ingin dicari apa enggak mumpung masih disini." Amel mengangguk, sedangkan Dimas hanya diam saja.


Arul : "Ohiya Kakak tadi bilang ingin cari buku kan di toko biasanya." Adinda mengangguk tersenyum, sedangkan Azriel yang mendengar langsung melihat Dimas.


Azriel : "Apa Kak Dinda sering kesana? Soalnya aku juga sering kesana cari buku."


Amel : "Halaaaaah loe mah kesana bukan cari buku tapi nambah gebetan."


Azriel : "Eeh enak aja loe bilang gue kesana cari gebetan, gue kesana cari buku."


Yayak : "Sudah, kenapa kalian selau saja bertengkar katanya saudara, saudara itu harua baik bukannya ribut terus."


Amar : "Halaah itu mah kedok mereka aja ngaku sodara yang baik padahal setiap hari beuuuuh gelut terus tuh bedua."


Azriel : "Kaya kalian berdua ya Bang?" Azriel menaik turunkan kedua alisnya.


Ilham : "Waaah nih bocah udah berani sama kita yaa, kuy kita beri aja nih bocah." Disaat Amar dan Septian ingin bangun dari duduknya ia langsung berhenti setelah mendengar suara dingin dan datar dari Dimas.


Dimas : "Bisakah kalian diam untuk sementara? Kenapa kalian selalu bertingkah seperti itu ketika bersama." Septian Amar juga Ilham meneguk saliva dengan susah karena tatapan dingin Dimas.


Amar : "Iya bang, seharusnya loe belain kita saat kaya gitu, ini malah kaya gini terus. Kita loe anggep apa sih Bang, Ya Allah gini amat yak punya Abang yang super sibuk."


Septian : "Lebay lu Mar." Amar langsung mendelik. "Lagian Loe kenapa sih Bang? Selalu aja begitu kita kesini kan buat refresh otak nih, buat seneng seneng biar enggak cepet tua. Nah loe malah fokus sama kerjaan loe aja, makan juga enggak apalagi ketawa." Dengus Septian kesal dengan Dimas. Sedangkan Andre yang notaben selalu bersama dengan Dimas hanya menatap Septian tajam. "Kenapa loe ikut natap gue kaya gitu, Ndre? Enggak suka? Loe sama aja kaya Dimas."


Andre : "Seharusnya loe ngerti posisi kita berdua Sept." Andre kembali fokus dengan benda pipih miliknya. Andre memang sudah tidak memiliki tugas kantor karena ia sudah menyelesaikannya tetapi berbeda dengan Dimas yang harus selalu sibuk dengan urusan kantor.


Seketika suasana disana berubah sedikit panas dan sedikit canggung karena perdebatan yang Septian buat, hingga akhirnya Indra mencoba mendinginkan suasana agar tak terlihat canggung.


Indra : "Sudah kalian kenapa jadi kaya gini sih, Dim selesein kerjaan loe jangan peduliin kita dan loe Sept jangan seperti bocah gede yang merengek minta mainan, kita kesini pengen happy bukan pengen ribut. Lagian malu ada mereka berempat yang enggak seharusnya melihat kita berselisih begini."


Yayak : "Lagian ya kita kesini kan untuk makan-makan setelah itu mah bebas mau apa, tapi jangan debat lagi apalgi urusan pribadi. Inget kita punya prinsip sendiri dengan hidup kita." Sela Yayak agar tidak bertambah canggung.


Seketika suasana kembali diam namun Amel langsung berinisiatif untuk memecahkan suasana kembali seperti semula.


Amel : "Udah eoy! Kenapa jadi diem begini sih, loe sih Bang ah, kuy kita seneng-seneng lagi dah, bosen gue diem terus nih mulut serasa make lem bukan lipstik." Cerocosnya hingga membuat Ilham melempar tisu. "Aww, loe yah bang cari gara-gara loe sama Amelia Putri si Putri cantik kelas XII IPA 1."


Azriel : "Heleeeh cantik dari mana loe?! Gue kalau disuruh milih mending milih Kak Adinda, coba aja dibandingin sama Kak Dinda jauuuuuh."


Amar : "Waaaah mulai lagi nih drama saudara sepupu." Amar cekikikan melihat tingkah anggota barunya.

__ADS_1


Amel : "Itu mah loe aja yang belum tau, gue itu cantik dari lahir bahkan sebelum loe jadi orok gie udah cantik."


Yayak : "Cewek sedikit bar-bar kaya loe siapa yang suka?" Pertanyaan itu langsung membuat yang lain tertawa apalagi saat melihat wajah Amel yang berubah merah padam.


Amel : "Kyaaaaaaa! kalian yaa awas aja bakalan gue bales. Loe ya Kak, ternyata selama ini loe sembunyiin itu mulut loe yang pedesss?! Sekalinya ngomong langsung nusuk." Yayak langsung tertawa melihat reaksi Amel.


Amar : "Loe itu belum tahu kita gimana, ini aja belum semua. Kami masih banyak anggota dan masih banyak lagi yang belum terlihat."


Azriel : "Ya Allah Azil enggak pengen kaya mereka, mending jadi diri sendiri aja deh."


Arul : "Tutup itu mulut kamu, sebelum mereka memberi pelajaran baru." Pinta Arul pada temannya itu. Sedangkan Azriel langsung cengengesan.


Mereka yang mendengar langsung menoleh mencari jawaban dari perkataan Azriel. Sedangkan Azriel nampak heran.


Azriel : "Kenapa tuh muka kalian gitu?"


Amar : "Maksud doa loe tadi apaan?" Tanya nya penuh selidik.


Azriel : "Ooh itu, gue cuma pengen waras setelah masuk di PPA gue enggak pengen ikutan jumpling kaya kalian."


Ilham : "Ooh, gue kirain apa. Ternyata gitu." Yang lain hanya menepuk jidat mereka mendengar pemaparan Ilham. Namun seketika Ilham sadar. "Tunggu maksud loe waras? Loe bilang kita gak waras hah." Ilham menjewer telinga Azriel. "Bagus loe ya bocah baru berani loe yaaa." Yang lain tertawa.


Azriel : "Iiih kan aku enggak bilang, Abang sendiri loh yang bilang. Awww sakit Bang. Lagian kalian disebut jumpling berarti kan sedikit enggaaaak..."


Amar : "Engak waras maksud loe?!" Azriel langsung tersenyum kikuk. Hingga ia mendapat toyoran di kepalanya.


Mereka akhirnya bersenda gurau tanpa ada rasa canggung seperti diawal mereka bertemu. Bahkan merasa terasa seperti keluarga yang telah lama tidak bertemu hingga akhirnya bertemu karena rindu.


"Saya permisi duluan." Suara bariton itu langsung membuat mereka menoleh kesumbernya.


Indra : "Loe mau kemana Dim? Masih siang juga."


Yayak : "Iya, loe mau kemana? Kita baru kumpul setelah sekian lama, masa loe balik duluan."


Dimas : "Saya masih ada kerjaan, besok harus meeting dengan client." Beralih memandang Andre. "Kamu bisa disini dulu dengan mereka"


Andre : "Apa Tuan Muda tidak ingin saya antar, saya masih banyak waktu?" Amel, Azriel, Arul juga Adinda terkejut dengan panggilan yang disematkan Andre pada Dimas. Sedangkan Dimas langsung menatapnya tajam, seketika Andre baru ingat dengan ucapannya. "Maaf." Andre menunduk.


Dimas : "Sudah aku katakan berulang kali padamu Andre." Dimas menghembuskan nafas dengan kasar, hal itu membuat Adinda, Andre, Yayak juga Indra berfikir sejenak dengan keadaan Dimas. "Tinggallah disini dengan mereka, aku pulang dulu. Bersenang-senanglah karena kamu jarang libur." Andre mengangguk.


Mereka melihat kepergian Dimas dengan berbagai pikiran yang bercampur aduk. Bahkan terlihat adanya kekosongan dalam diri Dimas.


Adinda : "Apa terjadi sesuatu dengan Kak Dimas, kenapa punggung itu tampak kosong bahkan tampak sepi." Gumam Adinda dalam hati dengan wajah sendunya, hal itu tak lepas dari penglihatan Yayak.

__ADS_1


__ADS_2