Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 108 Kepergian Wanita Ular


__ADS_3

Andre : "Sudah, hentikan tingkah kalian. Lebih baik kita kembali fokus dengan mereka, aku tidak ingin kondisi Perusahaan semakin ditekan karena kehadiran dua wanita ular itu."


Seketika Firman dan Shekar menghentikan tingkah mereka dan kembali fokus dengan layar yang ada didepannya. Padahal mereka baru saja bertemu, tetapi sudah terlihat begitu akrab dan saling mengerti. Ketiganya kembali melihat cctv yang berada dilobi Perusahaan, terutama ditempat kedua wanita ular itu berada saat ini.


TING!!!


Buru-buru Andre melihat ponsel yang ada diblik saku jas miliknya. Ia langsung melihat layar, terdapat satu pesan disana.


_Abang Es


"Apa pekerjaan kalian sudah selesai? Jika memang belum, segera selesaikan dan berangkat ke Puncak. Aku akan segera menyelesaikan kedua wanita itu."


Shekar : "Siapa yang mengirim pesan padamu Ndre?" Tanya Shekar yang melihat perubahan wajahnya. Andre masih diam belum menanggapi pertanyaan Shekar.


Firman : "Apa Dimas yang mengirim pesan? Apa yang ia katakan?" Andre masih tetap sama. Seketika Firman merebut ponsel yang masih dipegang oleh Andre. "Apa dia yakin ingin segera menyelesaikan wanita ular itu? Apa buktinya sudah ada ditangan kita?" Ucapnya dengan terkejut, ia langsung menunjukkan pesan itu pada Shekar.


Andre : "Kita ke ruangannya sekarang." Andre langsung beranjak dan melangkah pergi, diikuti Shekar juga Firman.


TOK. . . TOK. . . TOK. . .


"Masuk!" Ucap seseorang dari dalam.


Andre, Shekar dan Firman langsung masuk namun wajah ketiganya langsung serius setelah melihat Dimas.


Andre : "Apakah Anda yakin ingin melakukannya Tuan? Bahkan ini masih terlalu dini untuk membasmi mereka, apa kita tidak akan bermain terlebih dahulu?."


Hening. Tidak ada suara setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Andre. Dimas menghela nafas dengan pelan juga tenang.

__ADS_1


Dimas : "Nona Wang sudah mengatakan bahwa kedua wanita itu hanya akan berada disini selama satu minggu, terhitung sejak kedatangan mereka tiga hari lalu dan hari ini berarti waktu mereka tinggal tiga hari lagi. Jelasnya dengan tenang pada Andre. "Nona Wang juga telah mengirim hal yang saya minta sebelumnya, bukti bahwa mereka hanya menginginkan database Perusahaan dan juga ingin menjebak Pimpinan Adhitama agar bertekuk dengan mereka. Apa kau lupa Shekar? Kau yang telah mengirim Nona Wang masuk kesana, lalu kenapa wajahmu masih tegang seperti itu?" Dimas kemudian langsung menatap Shekar.


Shekar : "Jadi maksudmu rencana kita berhasil? Karena setelah aku berangkat ke sini, Nona Wang belum memberi kabar lebih lanjut." Dimas masih diam.


Dimas : "Seharusnya memang sudah berhasil dan sudah selesai jika sejak tadi kalian tidak bermain didalam ruang cctv." Sindirnya pada ketiga pria didepannya.


Firman : "Sejak tadi kami sedang melihat tingkah kedua wanita itu Dim, bahkan kami juga melihat bagaimana Yulia membuat mereka marah dan kesal." Belanya.


Bukannya menanggapi, Dimas hanya diam dan kemudian ia meletakkan sebuah amplop besar berwarna coklat keatas meja dan tepat berada dihadapan Andre.


Dimas : "Berikan amplop coklat itu pada dua gadis yang masih tetap berada diluar. Jika memang ia tidak ingin menerimanya kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan Andre." Andre mengangguk.


Sedangkan Firman yang semula kesal kini kembali serius ketika melihat amplop coklat yang diserahkan pada Andre.


Firman : "Apakah yang ada didalam ini asli? Apa orang suruhanmu benar-benar membereskan segalanya?"


Dimas : "Saya sudah melihat isinya dan yang asli masih ada disini." Ucapnya datar sambil menunjuk pada laptop miliknya.


Setelah mendengar penuturan dari atasan sekaligus Kakaknya itu, Andre langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang Dimas.


Firman : "Apa yang akan kau lakukan jika Tuan Lee tidak terima dengan apa yang telah kau kirimkan padanya melalui kedua putrinya?"


Dimas : "Kau bisa langsung datang kesana untuk menawar saham yang masih ia miliki saat ini Tuan Muda Wijaya." Ucapnya datar.


Firman yang mendengar itu hanya bergidik ngeri, pasalnya Dimas tidak akan memanggilnya seperti itu jika bukan karena pekerjaan dan itu sebagai tanda bahwa Pengusaha Besar itu tengah dalam mode serius dan tidak ada candaan disana.


Firman : "Kenapa Wijaya Grub harus membeli saham yang Perusahannya sebentar lagi akan rata? Meskipun mereka sedang dalam proyek baru dan membutuhkan suntikkan dana, tapi tetap saja banyak yang mengatakan Yoosung akan rata. Apa Anda bisa menjelaskannya Tuan Muda Adhitama?"

__ADS_1


Dimas : "Seperti yang saya katakan, bahwa saya masih memiliki saham disana sebesar 45% atas nama Investor Gelap yang bahkan mereka sendiri tidak tahu siapa orang tersebut, karena yang mereka tahu Investor itu hanya seorang pemuda yang memiliki tiga cabang Restauran saja. Jika Anda berhasil menawar harga saham milik Nyonya Lee maka saya dan Wijaya Grub bisa memajukan Yoosung dengan pesat, bahkan kita bisa mengganti nama itu dengan yang lain. Karena sejujurnya Adhitama tidak memiliki saham disana, karena saham yang saya miliki adalah saham pribadi saja, meski kami memang memiliki kerjasama dalam pembangunan proyek tetapi hanya Direktur bagian Pemasaran yang datang kesana untuk meng-handle itu, karena rasa penasaran yang tinggi mereka ingin saya datang kesana dengan alasan belum yakin. Saya bisa saja membangun Perusahaan itu kembali, tapi saya tidak ingin orang lain terutama Tuan Lee curiga maka dari itu saya meminta Anda untuk menawar saham mereka. Saya tidak mungkin membuat Anda berada dalam pilihan yang rumit mengingat kita sudah kenal dan bersahabat sejak lama." Jelasnya panjang lebar.


"Saya bahkan masih diam meski saya tahu bahwa dana proyek itu sudah menipis karena adanya penggelapan dana disana. Tetapi bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa hanya belum, karena saya masih ingin bermain dengan mereka ya dengan cara mengikuti permainan mereka terlebih dahulu. Untuk sekarang saya hanya ingin kedua wanita itu pergi dari sini." Lanjutnya lagi masih dengan suara datar dan dinginnya.


Shekar yang memang sudah tahu akan hal itu hanya diam, dan tidak terkejut karena sejatinya memang begitulah sifat Dimas sebenarnya, tidak hanya datar dan dingin tetapi bisa lebih dari itu jika ada yang dengan sengaja mengganggu dirinya.


Firman : "Ehmm baiklah, akan saya fikirkan terlebih dahulu saran Anda. Saya harap Anda masih bisa menunggu jawabannya, dan bisa saya pastika tidak akan lama." Ucapnya tegas.


Disaat ketiga lelaki tampan itu tengah serius berbeda lagi dengan Andre yang kini sudah ada dilantai dasar.


TINK!!


Suara lift pertanda sudah sampai, pintu dari kotak berwarna hitam itu terbuka. Nampaklah lelaki tampan yang tak lain adalah Andre.


Seluruh karyawan yang melihat Asisten Dimas itu langsung menunduk hormat, meski tahu hanya akan dibalas anggukkan saja tapi mereka tetap menghormati Andre. Karena jika bermasalah dengan Andre sama saja bermasalah dengan Dimas.


Dengan langkah tegap, dan wajah datarnya Andre menghampiri ketiga wanita yang sejak tadi masih berdebat. Yulia yang menyadari kehadiran Andre langsung diam dan menunduk hormat padanya.


Andre : "Apa kalian sudah selesai? Jika sudah kamu kembali keruangmu Yulia." Mendengar nada dingin itu, Yulia langsung kabur dari hadapan Andre. "And for the two of you!" Menunjuk dua wanita cantik asal korea dihadapannya. "Please leave this company now. Don't make a fuss here if you don't want to get into further trouble." Ucapnya dengan tegas dan dingin.


Kim Shera : "What do you say? who are you to dare to kick us out?" Sarkas anak bungsu Tuan Lee pada Andre.


Kim Nisha : "Don't you know? I'm the fiancé of the owner of this company, so be careful if you don't want me to be fired." Mendengar itu Andre hanya diam bahkan wajah datarnya berubah menjadi dingin, kedua kakak beradik itu langsung bergidik melihatnya.


Andre : "Leave this company now! Or you won't be able to imagine what will happen if you don't leave immediately." Ucapnya dingin tak lupa seringainya yang sangat jarang ia perlihatkan.


Tubuh kedua wanita itu langsung bergetar ketakutan, bahkan hal itu tak lepas dari mata tajam Andre. Andre langsung mendekat kearah Kim Nisha dan membisikkan sesuatu disana, entah apa yang ia katakan karena setelah itu Andre lansung menyerahkan amplop berwarna coklat pada wanita itu, mereka segera melihat isinya. Wajah keduanya terkejut berubah pucat, dengan tubuh yang semakin bergetar mereka langsung pergi begitu tahu isinya.

__ADS_1


__ADS_2