
Alvin dan Nauval melanjutkan langkah mereka. Sedangkan Azriel masih menatap Arul.
Azriel : "Cukup kita jadikan ini sebagai pelajaran, dan semoga masih ada keajaiban." Ucapnya sok bijak.
Arul yang mendengar itu hanya tersenyum dengan samar.
Keempat sahabat itu langsung melanjutkan langkah mereka untuk menuju ditempat dimana para tetua PPA berada.
.
.
.
.
Sementara itu ditempat terpencil tepatnya di sebuah Desa, di ujung Kota Seoul seorang lelaki tampan keturunan Asia-Eropa tengah menatap hamparan tanaman yang ada didepannya.
"Apakah tanaman itu terlihat sangat cantik? Hingga kau tidak memandang kearah lain?"
Lelaki itu langsung menatap ke sumber suara. Seorang pria keturunan Korea melangkah ke arahnya.
"Apa kau tidak lelah menatap semua ini setiap hari, Tuan Muda?" Tidak ada jawaban. "Kenapa kau hanya diam saja Ditya? Bahkan setiap aku datang, kamu selalu memandang tanaman itu. Apa, kau sedang memikirkan keluarga mu di sana?" Tanyanya dengan ragu.
Lelaki keturunan Korea itu hanya menghela nafas kasar, ia merutuki sikapnya yang menjadi ramah seolah lupa bahwa lelaki di depannya ini adalah lelaki dingin.
"Untuk apa kau datang kemari, Logan? Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain disini? Ucap lelaki didepan Logan itu.
Logan : "Jangan coba untuk mengalihkan pertanyaanku, Tuan Muda Ditya." Ucapnya tegas. "Lagipula Desa ini itu Desa kelahiran Eomma, jadi terserah padaku jika ingin kesini atau tidak."
Ditya : "Terserah kau saja." Balasnya dingin.
Logan menghela nafas, saat ini ia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa.
Logan : "Jika kau rindu, maka kembalilah, jangan membuat dirimu tersiksa. Tidak hanya kamu yang terluka tapi juga mereka. Saat ini mereka pasti benar-benar berfikir jika kamu sudah tidak ada."
Tidak ada jawaban sedikitpun dari lelaki itu.
"Aku sudah mengerjakan apa yang kau minta. Mereka tidak akan menemukan siapa pemilik id asli itu."
Ditya hanya berdehem sebagai jawaban.
"Baiklah aku pergi dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan." Ditya hanya menganggukkan kepalanya.
Logan langsung melangkah keluarga dari pekarangan rumah itu, hingga tubuhnya kini tidak nampak lagi karena ia sudah mengendarai kuda besi miliknya.
Ditya : "Semoga semua seperti yang aku inginkan. Meski aku tidak yakin tentang id itu." Gumamnya pelan. "Dia pasti tidak akan menyerah untuk mencari tahu tentang id itu." Ucapnya dalam hati.
#
Sementara di belahan bumi yang lain tepatnya di Universitas Nusa Bangsa. Para Pecinta Alam masih berkutat dengan rencana kegiatan yang sudah terjadwal sebelumnya.
Tepatnya hari ini adalah kegiatan pertemuan antar pengurus Unit Kegiatan tersebut. Termasuk Adinda maupun Arul yang juga ada didalamnya.
__ADS_1
MBA : "Bagaimana Dek Din? Apa untuk kegiatan selanjutnya PPA bisa melaksanakan program kegiatan di daerah itu?
Adinda : "Bisa Kak, kemarin saya sudah pastiin kalau pihak disana menerima kehadiran PPA untuk program belajar bagi anak yang kurang mampu." Jawabnya tegas.
Raka : "Wah dek Dinda, Gue baru mau tanya soal itu. Eeh sudah dijawab."
Amar : "Lah si ege, lagak loe mau tanya."
Raka : "Ka. Perlengkapan gue ini kalau loe lupa Mar." Belanya.
Indra : "Yaa, lebih baik kamu segera lengkapi yang masih kurang. Pembina hanya ingin mendengar kegiatan kita berjalan lancar."
Raka : "Beres itu, serahin semua ke gue. Anggota gue akan melaksanakan tugas yang diberikan." Indra dan yang lain mengangguk.
Mereka kembali berkutat dengan berbagai rencana kegiatan yang sudah mereka susun. Hingga kemudian...
Adinda : "Maaf Kak, kalau sudah selesai, aku ingin pamit untuk ke Perpustakaan. Ada buku yang ingin aku pinjam disana."
Amel : "Oke deh, gue juga ikut. Ada buku yang mesti gue balikin, sekalian cari novel."
Adit : "Eeeh, bentaran eui. Gue sama Geral juga mau kesana.
Restu : "Kalian enggak ngajakin gue?" Restu menunjuk dirinya sendiri.
Adit : "Ogah gue ngajak loe, mending loe bareng sama mereka berempat." Menunjuk Azriel cs. "Para jumpling junior."
Alvin : "Lah, kenapa kita berempat dibawa-bawa sih Bang Dit? Bang Restu biar ikut kalian, kita berempat ada bisnis sendiri."
Geraldi, Adit dan Restu langsung memicingkan mata mereka. Seolah bertanya bisnis apa yang sedang mereka kerjakan.
Azrel : "Saat ini PPA sering ada kegiatan. Jadi kita berempat berencana untuk buka bisnis."
Ketiga sahabat itu asik menjelaskan. Sedangkan Arul hanya diam memperhatikan sikap sang Kakak yang memang kini berubah menjadi lebih diam. Tidak hanya di Rumah, tapi di Kampus juga tetap sama.
Adinda : "Dek, Kamu nanti langsung pulang yah. Kakak masih ada kelas, sekarang mau ke Perpustakaan dulu." Ucapnya seraya mendekat kearah Arul.
Arul : "Arul nunggu Kakak disini saja, lagipula mereka bertiga juga masih ingin disini." Menunjuk Azriel, Alvin dan Nauval. "Mereka juga sudah pesan untuk menjaga Kakak."
Adinda : "Mereka?" Adinda hanya tersenyum. "Mereka yang kamu maksud itu Papa dan Mama. Jangan bersikap seperti itu lagi, hem?" Arul mengangguk pasrah.
Adinda langsung pergi dengan Amel. Vania yang memang sedang ada acara Keluarga tidak berada di Kampus, jadi mereka hanya berdua.
Langkah keduanya langsung diikuti oleh Geraldi, Adit juga Restu yang sejak tadi merengek ingin ikut.
.
.
.
Setelah kepergian Adinda dan sahabatnya...
Ilham : "Hari ini gue mau ke Adi Resto." Ucapnya yang membuat Septian menghela nafas kasar.
__ADS_1
Amar : "Haaah, sudah lama banget gue enggak masuk kesana. Apalagi sejak lelaki itu pergi."
Andreas : "Kebetulan malam ini gue sama Raka mau kesana. Kalian mau gabung enggak?"
Raka : "Lah, memang kita ada rencana untuk kesana ya Yas?"
Andreas : "Dasar sok lupa loe! Drama." Dengusnya kesal yang langsung mendapat jawaban tawa dari Raka. "Jadi, bagaimana?"
Yayak : "Yaa kita lihat itu nanti deh. Lagipula kita juga belum tahu jadwal sesudah ini apa." Yang lain mengangguk.
Sedangkan Septian hanya diam tidak ikut menanggapi, karena hatinya sendiri sampai saat ini masih kalut dan belum menerima.
Firman yang sejak tadi juga ikut terdiam kini ia mulai sedikit gusar. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.
MBA : "Loe kenapa Fir? Gue perhatiin muka loe kelihatan gusar gitu?"
Firman : "Enggak ada, hanya kepikiran kerjaan di Kantir aja." Jawabnya sedikit berbohong. "Oh iya, bagaimana hubungan kamu dengan Adinda?"
MBA mengernyitkan dahinya. Saat ini mereka sedang duduk berdua, sedikit jauh dari anggota yang lainnya.
MBA : "Maksud loe hubungan yang seperti apa?" Tanyanya heran.
Firman : "Sudah lama gue ingin bahas soal ini, tapi belum sempat keluar. Bukan maksud gue untuk ikut campur urusan kalian, terutama urusan loe. Gue hanya sekedar ingin tahu." MBA masih diam mendengarkan Firman.
"Dimas pernah berpesan untuk hubungan loe dan Adinda, meski gue sedikit terkejut saat lelaki itu memutuskan hal tersebut. Jadi sekarang gue tanya sama loe, karena sebelumnya gue belum pernah bertanya soal ini dengan Dimas. Bahkan tidak akan pernah bisa."
MBA hanya menghela nafas dengan kasar. Bahkan dia sendiri juga tidak tahu jawaban apa yang akan ia berikan pada Firman.
Disatu sisi ia memang senang karena sebelumnya Arul sudah memberikan izin untuk mendekati Adinda, karena sebelumnya ia belum tahu hubungan gadis itu dengan temannya.
Namun disisi lain ia merasa tidak mungkin untuk masuk kehati gadis itu yang hingga sekarang masih menyimpan nama lelaki lain, selain itu lelaki itu adalah temannya sendiri.
MBA : "Sebenarnya gue sendiri juga bingung, disatu sisi gue senang Arul menyetujuinya tapi disisi lain. Dimas itu teman gue Fir, enggak mungkin gue merusak hubungan mereka. Apalagi hati keduanya masih terpaut."
Firman : "Tetapi saat ini bukankah Dimas sudah tidak ada Bay? Adinda sudah bebas dari lelaki dingin itu." Ucapnya tersengum getir. "Lelaki itu tidak akan kembali lagi sekarang. Kamu bisa menarik perhatiannya."
.
.
.
.
.
.
.
Alhamdulillah bisa up lagi.
Salam hangat dari enthor untuk Kakak semuanya.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa😄😄